
Sepanjang jalan, Diana tak henti-hentinya menarik nafas untuk melegakan paru-paru yang mendadak sesak. Ingin rasanya ia berteriak sekeras yang ia bisa namun tak sanggup. Suaranya hilang. Tenggorokannya serak saat Duchess Levrina menyebutkan satu nama yang selama ini ia anggap sebagai Ibu keduanya namun ternyata menjadi salah satu bagian terpenting dalam rencana pelenyapan sang Ibunda.
"Apa semua ini nyata? Atau Bibi Levrina hanya sengaja mengadu domba?"
Langkah Diana terhenti sejenak. Dua pengawal yang mendampinginya ia minta untuk sedikit menjaga jarak. Ada bening yang hendak keluar. Bukan karena ia lemah, namun justru karena terlanjur kecewa. Segitu kotornya kah dunia yang ia tinggali?
Entah dunia yang sekarang, atau dunia yang dulu, semuanya di penuhi sekumpulan orang munafik yang gemar menyakiti.
"Putri ....," panggil seorang pelayan.
Diana lekas mengusap air matanya. Berbalik menghadap sang pelayan untuk menanyakan tujuan pelayan tersebut mencarinya.
"Ada apa?"
"Yang Mulia Kaisar Sean dan Yang Mulia Kaisar Ashlan sepertinya sedang bertengkar," lapor si pelayan.
"Bertengkar?" Diana jelas terkejut mendengar aduan si pelayan. "Dimana mereka?"
"Masih di ruang makan," jawab si pelayan.
Terburu-buru langkah Diana terseret menuju ruang makan. Masalah yang tadi sejenak ia lupakan. Kepala wanita itu rasanya ingin pecah. Namun, begitu sampai di ruangan yang dituju, Diana hanya berdiri mematung menyaksikan pemandangan dihadapannya.
"Ka-kalian sedang apa?" tanya Diana bingung.
"Kami? Hanya sedang bersantai sambil berbicara dari hati ke hati, Ratu," jawab Ashlan mewakili.
Kaisar Sean tersenyum mengiyakan. Lengannya menggandeng bahu sang menantu. Dan, Ashlan tentu saja balas menggandeng bahu Kaisar Sean. Terbit senyum di wajah keduanya. Aih! Harmonis sekali hubungan keluarga ini.
Diana berbalik menatap si pelayan yang melapor tadi. Dan, wanita yang sepertinya masih berumur 20-an awal tersebut langsung menunduk ketakutan. Namun, jelas bahwa sirat matanya sedang mengisyaratkan kalau semua yang dia ucapkan tidaklah bohong.
Diana memindai ke sekeliling ruangan. Sedikit agak berantakan dari terakhir ia berada di tempat itu. Beberapa pelayan yang berada di ruangan tersebut juga seperti sedang sangat tegang. Beberapa dari mereka bahkan tak mampu menyembunyikan tangan mereka yang gemetaran.
Sebenarnya, apa yang terjadi? Diana mencoba menebak.
"Kalian baik-baik saja?" selidik Diana pada dua orang pria hebatnya.
Keduanya saling berpandangan dan kompak tertawa. "Memangnya, kami kenapa?" balas Kaisar Sean dengan mata sedikit melotot saat menatap sang menantu.
"Apa kalian berkelahi?" Mata Diana memicing.
Lagi, dua orang pria hebat itu tertawa. "Mana mungkin, Ratu. Aku sangat menyayangi dan menghormati Ayah mertuaku. Mana mungkin aku mau meladeni Ayah mertua bertengkar sekalipun dia berniat memulai pertengkaran? Ayolah! Aku bukan anak kecil."
Kaisar Sean kembali melotot pada sang menantu. Cengkraman di bahu Ashlan sengaja ia tekan agar Kaisar muda yang telah merebut putrinya tersebut jadi kesakitan.
"Ayah juga tidak mungkin berkelahi dengan menantu Ayah sendiri, Di. Sekalipun, dia menikahimu dengan cara yang curang," imbuh Kaisar Sean tak mau kalah. Sengaja, ia menekankan kata 'curang' agar si menantu tahu diri.
Ashlan menganggukkan kepalanya. Rupa-rupanya, sang mertua masih belum ikhlas melepas putrinya untuk menikah.
"Apa ada yang mengatakan bahwa kami bertengkar, Ratu?" tanya Ashlan penasaran. Walau Kaisar Sean masih menekan bahunya dengan kuat, namun ia sama sekali tak berniat menunjukkan wajah kesakitannya dihadapan Diana.
"Tidak ada," jawab Diana cepat.
"Lalu, kenapa Ratu mengira kami sedang bertengkar?"
Diana tersenyum kikuk. Otaknya harus segera mencari alasan agar pelayan yang melapor tidak terkena imbasnya. Lagipula, Diana yakin bahwa si pelayan mustahil berbohong. Hanya saja, dua pria dihadapannya pasti sedang menyembunyikan fakta tersebut.
Ayolah! Menyembunyikan fakta kematian seseorang saja, pasti bukan sesuatu yang sulit bagi kedua Kaisar beda generasi itu. Apalagi jika hanya pertengkaran kecil yang Diana yakin belum terselesaikan saat ia memasuki ruangan.
"Bukankah hubungan Yang Mulia dan Ayah saya sedikit tidak baik? Saya hanya asal menebak," jawab Diana berkilah.
Dua orang pria itu mengangguk paham.
"Sampai kapan kalian akan saling merangkul seperti itu?" tanya Diana kepada Ashlan dan Kaisar Sean.
Keduanya kompak saling berpandangan lalu melepas rangkulan dengan perlahan. Mata Kaisar Sean masih memelototi Ashlan yang dibalas Ashlan dengan senyum tipis yang mengejek.
"Putriku selamanya akan tetap milikku!" Begitu ucapan Kaisar Sean beberapa saat yang lalu.
"Jangan bermimpi, Yang Mulia! Putrimu sekarang adalah milikku! Suaminya!" balas Ashlan memperjelas statusnya.
"Menantu kurang ajar!" umpat Kaisar Sean.
"Mertua egois!" balas Ashlan.
Dan, aksi tarik menarik kerah baju pun terjadi. Para pelayan yang berada di sana seketika histeris. Mereka panik karena takut akan menjadi korban salah sasaran serangan sihir yang mulai terjadi.
"Diam!" Kompak, Kaisar Sean dan Ashlan meneriaki para pelayan itu.
Pada akhirnya, salah seorang diantara mereka memberanikan diri untuk menyelinap keluar mencari Diana. Mereka yakin, hanya sang Putri yang mampu mendamaikan dua pria yang sama-sama mengaku memiliki hak kepemilikan terhadap sang Putri.
*
"Kami pulang," pamit Diana terhadap sang Ayah.
Kaisar Sean mengangguk. "Boleh Ayah memelukmu?" tanyanya dengan mata berkaca.
Diana mengiyakan permintaan sang Ayah. Dapat ia rasa bahwa lelaki tua yang selama ini ia anggap telah membuangnya sedang menangis dalam diam. Dan, benar saja. Ketika pelukan mereka terlepas, dapat Diana lihat bahwa sepasang mata tua itu telah memerah.
"Ayah akan merindukanmu, Nak!" lirih Kaisar Sean. Digenggamnya kedua tangan sang putri lalu mengecupnya penuh kasih sayang.
Kaisar Sean mengangguk. Ia tersenyum penuh kemenangan ke arah sang menantu yang sedang memperhatikan.
"Baru segitu, sudah bangga sampai ke langit ketujuh? Heh! Dasar mertua tamak!" sungut Ashlan dalam hati.
"Putri...," panggil seseorang yang terlihat berlari menghampiri mereka.
"Ale..." balas Diana tersenyum.
"Sudah hendak berangkat?" tanya Alejandro.
"Sudah," jawab Diana.
Alejandro mengangguk mengerti. Ia lalu menghampiri Ashlan. Memberi hormat kepada pria itu lalu berpesan sesuatu.
"Tolong jaga Tuan Putri kami dengan baik, Yang Mulia!" pintanya dengan sopan sambil membungkukkan badan.
"Tentu saja. Dia istriku. Pasti aku akan menjaganya dengan baik," jawab Ashlan sedikit jengkel.
Aih! Si bibit pebinor terlalu meremehkan dirinya.
"Ale," panggil Diana lagi.
"Ada apa?" tanya Ale.
"Mengenai hal yang ku minta, apakah jika aku berkunjung kembali kemari, semuanya sudah akan rampung?"
"Akan ku usahakan," angguk Alejandro.
"Terimakasih."
"Sudah tugasku."
Setelah berpamitan, Ashlan dan Diana akhirnya kembali menuju ke kerajaan Barat. Ada perasaan senang di hati Diana ketika memandangi istana yang perlahan semakin jauh dari pelupuk mata. Kenangan ketika ia pertama kali diboyong ke kerajaan Barat masih melekat didalam ingatan. Dulu, orang yang ia harap melepas kepergiannya tidak melakukan hal itu. Tapi kini, semuanya sudah berbeda. Sang Ayah bahkan menangis karena harus berpisah dengannya.
"Ada apa, Ratu?" tanya Ashlan kala menjumpai sang istri sedang mengusap air matanya.
Diana menggeleng. "Tidak apa-apa."
"Ratu yakin?"
Diam sejenak, Diana lalu tersenyum lebar. "Aku hanya terlalu senang karena ini pertama kalinya aku pergi ke tempat yang jauh dan ada seseorang yang akan menantiku kembali."
Ashlan mengusap pucuk kepala sang istri. Dibawanya wanita itu ke dalam pelukannya.
"Seterusnya akan seperti itu, Ratu. Kemana pun Ratu akan pergi, selalu ada yang akan menunggu Ratu untuk pulang."
"Bagaimana jika tiba-tiba saya menghilang dari dunia ini begitu saja?" Iseng, Diana bertanya.
"Maka, bahkan melewati ribuan dimensi ruang dan waktu sekalipun, aku yang akan mencari Ratu sampai ketemu."
Diana mendongak. Jawaban Ashlan cukup membuatnya puas.
"Bagaimana jika suatu hari nanti, saya meninggal lebih dulu dari Yang Mulia?"
"Gampang." Ashlan menjawab singkat.
"Gampang?"
"Aku akan menunggu Ratu sampai dilahirkan kembali."
Diana tersenyum tipis. Ia balas memeluk sang suami. "Bagaimana jika ternyata saya dilahirkan dengan wajah yang berbeda? Apa Yang Mulia akan tetap mengenali saya?"
"Tentu saja. Seperti apapun rupa Ratu dikehidupan selanjutnya, pasti dengan mudah akan ku kenali."
"Janji?" Diana menaikkan kelingkingnya.
"Apa ini?" Alis Ashlan berkerut heran.
"Mana kelingking, Yang Mulia?"
Ragu, Ashlan ikut menaikkan kelingkingnya. Lalu, Diana pun menautkan kelingking mereka seraya tertawa senang.
"Kenapa harus begini?" tanya Ashlan tak mengerti sambil menatap tautan kelingking mereka.
"Ini namanya mengikat janji, Yang Mulia!"
"Dengan kelingking?" Ashlan tertawa.
"Memangnya, Yang Mulia tidak pernah mengikat janji seperti ini?" Bibir Diana mencebik.
Ashlan menggeleng. "Aku biasanya mengikat janji dengan tetesan darah."
Sontak mata Diana melebar. Dan itu malah membuat Ashlan tertawa. Diana yang sebal pun tak sadar menarik kerah baju Ashlan. Dan...
"Yang Mulia, kenapa kerah baju Anda bisa robek begini?"
Haruskah Ashlan jelaskan?