
"Ratu yakin akan pulang sendiri?"
Mendengar pertanyaan yang sama untuk ke sekian kali, Diana memutar bola matanya malas. Rasanya sudah sangat bosan dia mendengar kalimat itu.
"Sangat yakin, Yang Mulia!" jawab Diana sambil menggenggam kedua tangan Ashlan.
Bibir tipisnya menyunggingkan senyum. Sepasang matanya menatap wajah tampan Ashlan yang kini benar-benar terbebas dari topeng secara lamat-lamat. Dalam hati, Diana sangat berbangga diri bisa mendapatkan suami setampan dan sebucin suaminya.
"Andai kita hidup di zamanku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Gerald dan Vanya jika melihat wajahmu," gumam Diana.
"Apa kepulangan Ratu tidak bisa ditunda? Setidaknya, menunggu sampai eksekusi mati Duke Hendrick selesai?" bujuk Ashlan dengan tatapan penuh harap.
Haahh... Diana nyaris meleleh melihat tatapan itu. Terlalu hangat dan nyaman untuk dilewatkan. Diana merasa benar-benar dibutuhkan dan dicintai. Sekali lagi, karena seseorang, Diana memiliki alasan untuk merasa pantas untuk dicintai walau hidupnya jauh dari kata sempurna.
"Kita harus sama-sama bertindak profesional, Yang Mulia!" Diana memegang pipi kanan Ashlan. "Permasalahan kita harus diselesaikan secara terpisah. Aku tidak ingin antek-antek Duke Hendrick berulah dan mengancam keselamatan rakyat jika mereka tahu Yang Mulia sedang tidak berada di tempat."
"Apa perlu ku minta Alarick untuk mendampingi Ratu?" tanya Ashlan lagi. Rasanya berat membiarkan istrinya berangkat sendiri tanpa pengawasan langsung darinya.
"Jangan," tolak Diana. "Anda jauh lebih membutuhkan Alarick di tempat ini," imbuhnya seraya tersenyum menatap wajah Ashlan yang penuh kekhawatiran.
Sesaat, Diana tergelak. Melihat wajah Ashlan yang sekarang penuh dengan kecemasan mengingatkan dia kembali pada pertemuan awal mereka. Dulu, pria ini selalu menatapnya datar dan dingin. Tapi sekarang? Pria ini justru menatapnya penuh hangat dan cinta.
"Kenapa tertawa?" Ashlan memeluk pinggang Diana dan merapatkan tubuh mereka berdua. "Ratu senang akan meninggalkan aku sendirian disini?"
"Lepas, Yang Mulia! Nanti Lanie melihat," ucap Diana malu seraya melirik ke sekitar. Berjaga-jaga andai Mulanie atau maid yang lain tiba-tiba muncul dan memergoki mereka.
"Biarkan saja. Ini istanaku. Disudut manapun aku ingin bermesraan dengan istriku sendiri, tidak akan ada yang berani protes atau keberatan," balas Ashlan yang semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Diana.
"Yang Mulia," pekik Diana tertahan saat Ashlan mengecup bibirnya singkat.
"Apa?" goda Ashlan dengan sebelah alis yang terangkat.
"Bisakah Anda jangan melakukan hal seperti ini di tempat umum?" bisik Diana sedikit kesal. Pasalnya, mereka sedang berada di perpustakaan. Tentu, beberapa orang terlihat mondar-mandir meskipun tak ada yang berani memperhatikan mereka secara sengaja.
"Kalau di tempat tidur, boleh?"
PUK!
Diana memukul dada Ashlan gemas. Sebal karena pertanyaan frontal tadi diucapkan dengan suara keras nan lantang. Lihatlah! Seorang maid yang sedang membersihkan rak buku tak jauh dari mereka reflek menjatuhkan kemoceng bulu yang dipegangnya.
"Jangan keras-keras, Yang Mulia!"
"Sayangnya, memang sudah keras," jawab Ashlan ambigu.
Sepasang mata Diana sontak memicing. Otaknya masih berusaha mencerna maksud dari ucapan Ashlan.
Sedetik,
Dua detik,
Lalu... PUK! Sekali lagi, Diana memukul dada sang suami. Kali ini, jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Dasar mesum!" cibir Diana kesal.
Ashlan terkekeh melihat pipi Diana yang merona merah karena malu. Rasanya senang menggoda sang istri seperti ini.
"Jadi, bagaimana? Mau sekarang atau nanti?"
"Apanya?"
"Melemaskan sesuatu yang sudah terlanjur keras," ucap Ashlan yang semakin membuat pipi Diana memerah bak kepiting rebus.
*
Tiba waktu keberangkatan, Ashlan melepaskan sang istri dengan segudang petuah yang membuat kuping Diana serasa berdenging.
"Jangan lupa makan!"
"Jangan lupa meminta penjaga memeriksa keadaan sekitar jika berhenti untuk beristirahat!"
Dan, jangan lupa lainnya yang saking banyaknya malah membuat Diana jadi lupa.
"Oh, Ratu! Andai aku bisa ikut dengan Ratu!" ringis Ashlan yang kini merebahkan kepalanya di atas pangkuan Diana didalam kereta kuda yang sudah bersiap berangkat.
Mulanie yang semula hendak naik terpaksa turun kembali. Gadis itu berdiri di dekat kereta kuda dengan canggung.
"Jadi berangkat atau tidak, sih?" gerutu Mulanie dalam hati.
"Turunlah, Yang Mulia! Kami sudah ingin berangkat," bujuk Diana.
"Ratu mengusirku?" tanya Ashlan dengan bibir mengerucut.
"Bukan begitu, tapi apa Yang Mulia tidak melihat Mulanie dan rombongan yang lainnya? Mereka sudah setengah jam berdiri di luar sana menunggu kepastian kapan kami akan berangkat."
"Apa sudah selama itu aku disini?" tanya Ashlan yang malah kaget sendiri mengingat berapa lama dia berada didalam kereta kuda.
"Ya," angguk Diana.
Akhirnya, sang Kaisar bangun dengan malas dari pangkuan sang istri. Untuk terakhir kali sebelum benar-benar melepaskan sang istri pergi tanpanya, ia merentangkan tangan dan meminta Diana masuk ke dalam pelukannya.
"Jangan kencang-kencang, Yang Mulia. Aku kesulitan bernapas," ucap Diana sambil tertawa geli ketika Ashlan dengan sengaja membenamkan wajah di ceruk lehernya.
"Tahan sebentar saja. Aku sedang mengisi ulang energi agar aku tidak kalah menghadapi peperangan ku nanti," kata Ashlan.
"Tentu saja Anda tak akan kalah," Diana balas memeluk Ashlan tak kalah erat.
"Apa Ratu yakin?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah meragukan kekuatan dan kecerdasan suamiku sendiri."
Ashlan tersenyum samar sambil melepaskan pelukannya. Ia lalu mencium pucuk kepala sang istri lalu berkata, "Pergilah! Hati-hati di jalan!"
Diana menganggukkan kepala. Walau berat berpisah dengan suaminya, namun perpisahan ini mereka lakukan juga demi tujuan yang baik. Agar semuanya lekas selesai dan tak lagi menimbulkan kegundahan di hati Diana.
"Jaga diri dan hati Yang Mulia selama aku tidak ada. Mengerti?" peringat Diana yang tahu bahwa beberapa putri bangsawan mulai mencari perhatian terhadap suaminya yang kini tak lagi menutupi ketampanannya dengan topeng.
"Justru Ratu yang harus menjaga diri dan hati Ratu selama disana."
"Memangnya kenapa?"
Ashlan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Diana. "Karena di sana, ada seseorang yang masih menyimpan perasaan khusus untuk Ratu."
*
"Bagaimana? Apa persiapannya sudah selesai?" tanya Ashlan yang sedang bersiap untuk menghadiri eksekusi mati Duke Hendrick di alun-alun kota Bern pagi ini.
"Sudah, Yang Mulia! Saat ini, Duke Hendrick sedang di jemput oleh Fionn dari penjara," jawab Alarick yang membantu Ashlan mengenakan atribut kerajaannya.
Karena hari ini adalah hari yang sangat penting, maka Ashlan berdandan lengkap menggunakan seragam lengkap. Pakaian khusus yang dikenakan sang Kaisar jika sedang menghadiri sebuah acara yang sangat penting.
"Bagaimana respon pengikutnya?"
"Ada yang aneh dengan mereka."
"Aneh bagaimana?"
"Mereka hanya diam. Tidak melakukan protes atau pemberontakan apapun."
Mendengar ucapan Alarick, Ashlan hanya tersenyum sinis. "Jadi, mereka memilih membuang kepala mereka, hah?"
Alarick menganggukkan kepala yang bisa dilihat Ashlan dari kaca besar di depannya.
"Itu artinya, ada kepala lain yang sudah mereka temukan."