Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Syarat Tuan Vernand



Mendengar pertanyaan dari sang istri, Ashlan berusaha untuk tetap bersikap biasa. Mustahil ia memberi tahu sesuatu yang genting seperti itu kepada Diana. Dia tak ingin istrinya jadi ikut merasa was-was dan khawatir berlebihan nantinya.


"Tidurlah! Pasti Ratu lelah!" lirihnya sambil mengusap pelan wajah lembut istrinya.


"Yang Mulia belum menjawab pertanyaanku," protes Diana dengan bibir mengerucut.


Ashlan memalingkan wajah. Ia mencoba untuk menetralkan nafas yang terasa berat. Persoalan yang ia hadapi bukanlah kasus sederhana. Bukan sesuatu yang mudah diselesaikan sekalipun posisinya berada di puncak teratas susunan kasta kerajaan. Dibalik gelar yang ia dapat, ada gerombolan bangsawan yang ikut andil dalam pemerintahan. Diantaranya masih ada keturunan pendiri kerajaan terdahulu yang kekuatan keluarganya juga tak bisa dianggap remeh. Terlebih lagi, jika mereka sudah berkolusi dengan keluarga lain dan membentuk kekuatan mereka sendiri. Kekuatan gabungan itu cukup melengserkan tahta Raja jika memang Raja yang berkuasa dianggap tidak becus dan tak pantas menduduki tahta.


"Ratu hanya salah dengar. Tidak ada yang membahas mengenai perang," kilah Ashlan.


Diana mengangguk. Posisi tidurnya ia perbaiki lalu menarik satu tangan Ashlan untuk digenggamnya dalam dekapan.


"Jangan kemana-mana lagi. Tetaplah disini. Saya benci sendiri," lirihnya sambil memejamkan mata.


Ashlan tersenyum. Namun, netranya tampak mengembun. Bahagia ini terlalu indah untuk disebut nyata. Tak adakah tempat untuk dirinya dan Diana untuk berdua saja tanpa harus disuguhi beragam polemik dan perang? Sungguh! Ashlan hanya ingin hidup tenang. Sekalipun, hanya menjadi orang biasa, asal ada Diana disisinya pasti akan jauh lebih menyenangkan dari hidupnya yang sekarang.


"Tidurlah! Selamat bermimpi indah, Ratuku!" gumam Ashlan disertai kecupan di pucuk kepala sang istri.


Diana yang masih belum sepenuhnya terlelap hanya bisa tersenyum kecil. Ia merasa sangat disayangi dan dicintai. Egoiskah dia jika tak berminat lagi untuk kembali ke dunianya?


*


Keesokan harinya, Diana dikejutkan dengan kedatangan Penyihir agung ke istana. Kikuk, itu yang dirasakan Diana saat pertama kali berjumpa dengan pria tua penuh wibawa tersebut di ruangan yang hanya ada mereka dan juga Mulanie.


"Salam untuk Yang Mulia Ratu!" ucap Penyihir agung dengan senyum di wajah keriputnya.


"Silahkan duduk, Tuan Vernand!" Diana mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Penyihir agung tersenyum lagi. Ia duduk sesuai perintah Diana. Sepasang matanya terus memperhatikan Diana dengan lekat. Hal itu membuat Diana jadi gugup sendiri.


"Sebentar lagi Yang Mulia Kaisar akan datang. Silahkan! Cicipi kue dan tehnya terlebih dulu," ucap Diana sembari mempersilahkan Penyihir agung mencicipi teh serta kue yang sudah terhidang.


"Ini enak sekali, Yang Mulia!" Penyihir agung terkekeh senang memuji kue yang baru saja ia makan.


"Apa saya boleh membawanya pulang? Maklum, di menara tidak ada makanan enak seperti ini." Dia terkekeh lagi.


Diana ikut tersenyum. Rasanya menyenangkan ada yang memuji kue buatannya seperti ini. Walau keahliannya yang diakui adalah Saute Chef, namun dalam dunia pastry, Diana juga cukup mahir dalam melakukannya.


"Tentu saja boleh. Saya bisa membuatkan yang baru jika Anda memang berniat membawanya untuk pulang."


"Yang Mulia yang membuat kuenya sendiri?" Mata Penyihir agung membelalak.


Diana mengangguk malu-malu. Harusnya ekspresinya seperti itu? Membuat Diana jadi kegeeran saja.


"Ya. Saya yang membuatnya."


Riuh tawa Penyihir agung terdengar kembali. "Wah! Sang Kaisar benar-benar pintar memilih permaisuri. Selain cantik, punya keahlian yang unik juga pintar membuat kue yang lezat. Benar-benar paket komplit."


Diana meraba wajahnya yang terasa panas. Aih! Haruskah memuji berlebihan seperti itu? Rasanya Diana dibawa melambung tinggi ke langit ketujuh.


"Tuan Vernand?" sapa seseorang yang baru saja tiba.


Penyihir agung dan Diana menoleh ke sumber suara. Tampak Ashlan yang berjalan memasuki ruangan diikuti Ksatria Bennett yang berjalan selangkah dibelakangnya.


"Yang Mulia Kaisar!" Penyihir agung berdiri dan memberi penghormatan.


"Silahkan duduk kembali!" tukas Ashlan.


"Yang Mulia, dimana guru baruku?" tanya Diana sambil melihat kebelakang Ashlan dan Ksatria Bennett. Kata Ashlan, hari ini akan ada guru baru yang datang. Tapi, kenapa hanya mereka berdua saja yang kemari? Dimana guru baru itu?


Ashlan dan Ksatria Bennett saling berpandangan lalu tersenyum bersamaan. Hal itu menimbulkan tanya dibenak Diana.


"Bukankah Ratu sudah menemuinya?" Ashlan menaikkan sebelah alisnya.


"Hah? Tidak. Aku belum menemui siapa-siapa," geleng Diana.


"Lalu, yang Ratu jamu sedari tadi, siapa?" tanya Ashlan sambil melihat ke arah Penyihir agung yang masih menikmati kuenya. Sudah potongan ketiga yang ia ambil dari piring saji.


"Maksudnya, guru baruku, Tuan Vernand?"


Ashlan mengangguk dan Diana melongo tak percaya.


"Ta-tapi?"


Seketika, suapan Penyihir agung terhenti. Ia mulai tertarik mendengar pembahasan keduanya setelah mulai menyinggung pendapat Ratu jika dia yang mengajari.


Melihat Penyihir agung mulai fokus menunggu jawabannya, Diana jadi kelabakan sendiri. Harus bagaimana dia menjawab agar Penyihir agung tidak tersinggung? Sungguh! Bukan dia keberatan. Hanya saja, dia sedikit tidak percaya diri jika harus belajar pada seorang pria yang tingkat keahlian sihirnya sudah di level legendaris.


"Aku suka, hanya saja...,"


"Berarti Ratu setuju. Masalah selesai!" pangkas Ashlan dengan cepat.


Menjadi murid penyihir agung adalah impian semua orang yang memiliki bakat sihir di kerajaan Barat. Hanya saja, Penyihir agung tidak sembarang menerima murid. Ia termasuk orang yang sangat selektif. Bahkan, jumlah muridnya tak lebih dari belasan orang saja selama puluhan tahun terakhir.


"Tapi, sebelum mengajari Yang Mulia Ratu, bolehkah saya mengajukan syarat?" tanya penyihir agung. Kuenya sudah habis tak bersisa.


"Apa yang Anda inginkan?" tanya Ashlan sumringah. Mendengar kabar bahwa Penyihir agung setuju mengajari Diana saja dia sudah bahagia. Masalah persyaratan pasti bukan sesuatu yang sulit baginya.


Penyihir agung bangkit berdiri. Kali ini, wajahnya terlihat sangat serius. Raut jenaka yang tadi disaksikan Diana pada awal pertemuan sudah raib dari wajahnya.


"Apa Yang Mulia Kaisar bersedia memenuhi apapun permintaan saya?"


Ashlan menatap Diana sesaat kemudian mengangguk. "Tentu saja."


"Sekali lagi, 'apapun'?" ujar Penyihir agung penuh penekanan.


"Ya, apapun asal Anda bersedia mengajari istri saya."


Penyihir agung tersenyum kemudian mengangguk. "Baiklah! Kalau begitu, mulai sekarang, Yang Mulia harus belajar menghadapi dunia tanpa berlindung di balik topeng itu lagi."


Seluruh mata membelalak mendengar permintaan Penyihir agung. Bagaimana bisa? Mereka semua tahu sebesar apa pentingnya topeng itu bagi Ashlan. Mustahil, sanggup Ashlan lepaskan begitu saja.


"Tuan Vernand, ini tidak mungkin," ucap Alarick mewakili Ashlan untuk menjawab.


"Diamlah, Alarick! Sampai kapan kau akan terus membantu sepupumu menjadi seorang pengecut?" tanya Penyihir agung dengan tegas.


"Tapi...,"


Penyihir agung menaikkan telapak tangannya. "Kau suka melihat sepupumu jadi bahan tertawaan para pengikut Duke Hendrick? Kau suka jika harga diri seorang Kaisar diinjak oleh kaum serakah itu sesuka hati?"


"Itu semua karena...,"


"Karena gosip bahwa Ashlan bukan keturunan Raja terdahulu?" pangkas Penyihir agung lagi. Kali ini, ia berbicara bukan lagi sebagai seorang Penyihir agung. Melainkan sebagai guru yang belasan tahun mendidik Ashlan dan Ksatria Bennett.


Ashlan memalingkan wajahnya. Diana terlihat terkejut. Sementara, Ksatria Bennett masih berupaya membela sang sepupu yang seolah tersudutkan.


"Anda tahu sendiri apa alasan Yang Mulia enggan melepaskan topengnya, Tuan Vernand!" Ksatria Bennett memelas putus asa.


"Ya, aku tahu, Rick! Sangat tahu! Karena dia pengecut. Dia takut menghadapi dunia dan membuktikan dirinya sendiri. Seperti itulah pemimpin negara kita yang kukenal!"


"Tuan Vernand...,"


"Yang Mulia Ratu, tidak usah khawatir!" Penyihir agung memotong kembali ucapan seseorang. "Dia muridku. Sikap pengecutnya terbentuk juga karena salahku yang terlalu mengedepankan rasa kasihan di atas segalanya. Andai dulu aku bisa lebih tega, ide memasang topeng yang diajukan Duke Hendrick pasti bisa ku gagalkan. Alhasil, penyesalan itu selalu menghantuiku karena melihat Ashlan yang selalu tunduk seperti boneka dihadapan Duke Hendrick."


"Tidak bisa," tolak Ashlan lirih. Kedua tinjunya mengepal erat. Mustahil ia memenuhi permintaan Tuan Vernand untuk tak memakai topeng lagi.


Situasi sudah genting karena ia nekat memenjarakan Duke Hendrick. Semua akan semakin bertambah ruwet jika para bangsawan dan rakyatnya melihat wajahnya yang asli. Wajah yang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan Ayah ataupun ibunya. Bahkan, tanda kerajaan yang biasanya ada ditubuh garis keturunan sang Raja terdahulu juga tidak ada di dirinya. Lalu, apa yang akan terjadi? Tak ada jalan apapun untuk dia membuktikan dirinya pada semua orang kecuali buku harian sang Ayah yang bahkan terlalu lemah untuk dianggap sebagai bukti penting.


"Cobalah lebih berani, Ash!" geram Penyihir agung.


"Apa Tuan Vernand sedang berusaha menghancurkanku?" teriak Ashlan putus asa.


"Justru aku sedang berusaha membantumu!"


"Omong kosong!" sergah Ashlan tak terima.


CTASS!


Topeng yang dikenakan Ashlan terbelah dua dan jatuh begitu saja.


"Hadapi kenyataan, Ash! Kau putra kandung Raja terdahulu! Dan, putra kandung Raja terdahulu tidak mungkin memiliki sifat pengecut dan rasa takut," tegas Penyihir agung yang baru saja melepas topeng Ashlan secara paksa dengan sihirnya.


Mulanie yang baru pertama kali melihat wajah sang Kaisar memekik tertahan. Ia menutup mulutnya dengan tangan kala menyaksikan sendiri wajah yang selama ini menjadi desas-desus dikalangan orang banyak. Wajah yang katanya buruk rupa akibat rusak saat berperang ternyata omong kosong besar. Wajah itu terlihat nyaris sempurna. Hanya saja, memang tak mirip dengan Raja ataupun Ratu terdahulu.