Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kejelasan Identitas



"Siapa Anda hingga berani mendikte tentang hidupku, Tuan Vernand?" teriak Ashlan murka. Tanpa sadar, ia mengerahkan kekuatan sihir dan menyerang Tuan Vernand yang tampak tak siap namun berhasil menghalau serangan dengan baik.


"Yang Mulia...," pekik Diana tertahan. Perempuan itu menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terlalu syok melihat kondisi psikis suaminya kini.


Ashlan terlihat begitu kacau. Lelaki itu menangis dan dengan murka terus menyerang Tuan Vernand membabi buta. Anehnya, dari sekian serangan yang dilancarkan, tak satu pun yang tepat sasaran. Seolah-olah, Ashlan sebenarnya tak ingin benar-benar melukai Tuan Vernand.


"Tenanglah, Yang Mulia! Saya mohon!" pinta Alarick yang dengan sigap mengunci kedua tangan Ashlan dari belakang.


"Dia tak berhak memutuskan apapun tentang hidupku, Rick! Katakan padanya! Seperti apa selama ini aku berusaha bertahan ditengah-tengah manusia yang berpura-pura baik tetapi nyaris setiap malam mengintai menunggu aku lengah dan bersiap memangsa. Tuan Vernand tak tahu itu dan dengan mudahnya dia meminta aku melakukan perintahnya?" Ashlan bernapas dengan cepat. Emosinya terkuras dan berada diambang batas kala Tuan Vernand menghancurkan topengnya tanpa persetujuan.


"Lihat dia!" Ashlan menatap nyalang Mulanie yang bersembunyi didekat lemari tempat penyimpanan pajangan yang ada didalam ruangan tersebut. "Dia saja syok melihat wajahku, bagaimana dengan yang lain? Apa Tuan Vernand ingin kerajaan ini jatuh ke tangan orang-orang jahat gara-gara masalah ini?"


"Yang Mulia..," panggil Diana lirih. Ingin rasanya mendekat, namun kilat amarah di mata Ashlan membuat nyalinya ciut.


"Maaf, karena aku harus bersikap seburuk ini dihadapan Ratu!" balas Ashlan dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah sendu.


"Tolong berhenti! Orang lain bisa celaka jika terkena sihir Anda. Aku mohon!" Diana berusaha mengumpulkan keberanian. Pelan, ia beringsut mendekati sang suami. Hati kecilnya meyakini penuh bahwa Ashlan tak mungkin berlaku kasar padanya walau semarah apapun pria itu.


"Jangan seperti ini, Yang Mulia! Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik. Ya?" bujuk Diana sambil memegang kedua pipi Ashlan.


Deru napas Ashlan masih memburu. Namun, tubuhnya yang tadi sekuat tenaga berusaha memberontak dari kuncian Alarick tampak mulai melemah. Dan, akhirnya perlahan lelaki itu merosot ke lantai seiring kuncian Alarick yang juga ikut terlepas.


"Tolong katakan pada Tuan Vernand bahwa tindakannya salah, Ratu! Beri dia pemahaman bahwa masalahku ini tidak sesederhana itu."


Diana menekuk kedua lututnya agar dirinya bisa menatap wajah sang suami. Lalu, di peluknya Ashlan dengan erat. Membiarkan kesedihan lelaki itu luruh dalam isak tangis yang terdengar menyesakkan.


Tuan Vernand hanya berdiri mengamati adegan didepannya. Wajahnya nampak serius dengan bola mata yang memerah. Entah karena ikut merasa sedih atau justru karena sedang menahan kemarahan.


"Berdirilah, Ash! Tak pantas seorang Kaisar memperlihatkan sisi lemahnya dihadapan orang lain." Perintah Tuan Vernand terdengar tegas.


Ashlan bergeming. Jangankan menuruti perintah sang Penyihir agung, menengadah menatap wajah tua itu saja, tidak.


"Angkat kepala Yang Mulia, jika memang Anda merasa pantas menduduki tahta!" kata Tuan Vernand kembali dengan lantang.


"Dengan wajah ini, aku harus mengangkat kepala?" Ashlan berdecih.


"Apa yang salah dengan wajah itu?" Tuan Vernand bertanya dengan santai.


Ashlan mengelus pipi Diana sesaat sebelum bangkit dengan cepat. Ia menghampiri Tuan Vernand dengan tatapan nyalang dipenuhi kabut kemarahan. Tanpa basa-basi, ia menarik bagian depan baju berwarna putih tulang milik pria itu dengan keras.


"Apa mata Anda buta? Tidakkah Anda lihat bahwa wajah sial ini yang selalu menjadi permasalahan utama?" Geram Ashlan.


"Sekali lagi saya katakan! Anda-putra-kandung-Raja-ter-da-hu-lu!" Tuan Vernand mengeja dengan sabar seperti berbicara dengan bocah kecil.


"Omong kosong! Mustahil seorang anak terlahir tanpa memiliki kemiripan dengan salah satu orang tuanya, Tuan Vernand. Kecuali jika anak itu hanya anak adopsi atau anak pungut!"


"Anda benar anak kandung Raja terdahulu. Hak Anda sama besarnya dengan hak kakak Anda."


"Apa Duke Hendrick tak pernah bercerita tentang rahasia Raja terdahulu?" tanya Tuan Vernand.


"Rahasia?" Alis Ashlan berkerut heran.


Tuan Vernand menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Sudah ku duga. Mustahil pria licik itu menjelaskan asal usulmu dengan jelas."


"Apa maksudnya?" tanya Ashlan tak mengerti.


Tuan Vernand melepaskan cengkraman tangan Ashlan dari bajunya. Pria tua itu tersenyum misterius lalu melangkah menuju ke lemari pajangan yang berada tak jauh dari tempat mereka.


Sebuah pajangan berbentuk patung kepala wanita berambut panjang ia putar perlahan. Tak berselang lama, dari balik dinding keluar sebuah lukisan besar seorang perempuan dengan rambut panjang berwarna perak, bernetra abu-abu yang indah serta berparas sangat menawan. Hal itu membuat semua orang jadi terkejut dan membulatkan mata. Sementara, Tuan Vernand justru tersenyum dan membungkuk memberi penghormatan pada lukisan itu.


"Tuan Vernand, apa maksudnya semua ini?" tanya Alarick yang sepertinya menjadi orang satu-satunya yang masih mampu mengeluarkan suara.


"Beliau Ibu kandung Yang Mulia. Beri salam kepada pemaisuri Garnetta!" kata Tuan Vernand tanpa melepas pandangan pada lukisan wanita yang tersenyum anggun namun tak menghilangkan sisi ketegasan dirinya.


"Per-permaisuri?" Diana terpana melihat lukisan itu. Bagaimana tidak? Yang ia lihat adalah lukisan wanita yang seolah adalah duplikat dari suaminya.


"Ya, permaisuri! Beliau selir satu-satunya yang dimiliki Raja terdahulu tetapi meninggal sebulan setelah melahirkan Yang Mulia." Tuan Vernand melirik Ashlan.


Ashlan terduduk di lantai. Kedua tungkainya mendadak lemas menyaksikan kenyataan yang baru saja terkuak hari ini. Dia tak menyangka bahwa Ibu yang selama ini merawatnya penuh cinta kasih dan selalu mengatakan begitu mencintainya ternyata bukanlah Ibu Kandungnya. Akan tetapi, kenapa semua orang ikut merahasiakan? Bahkan, Damian, Ayah dari Alarick dan Kakak dari Ibu sambungnya juga selalu menegaskan bahwa dia adalah anak kandung Ratu dan Raja terdahulu.


Pun, dengan seisi kerajaan. Adilkah ini?


Dan, mengalirlah cerita Tuan Vernand mengenai kisah kehidupan Ayah Ashlan. Permaisuri Garnetta adalah selir tingkat satu atau istri yang memiliki kedudukan dan kepentingan setingkat dibawah Ratu. Dia merupakan gadis bangsawan dari negeri jajahan. Sama seperti Diana. Saat pertama kali melihat parasnya yang cantik seperti seorang Dewi, Ayah Ashlan jatuh cinta dan menikahinya secara diam-diam.


Tak ada bangsawan yang mengetahui pernikahan itu selain beberapa orang kepercayaan Sang Raja, beberapa keluarga dan kerabat dekat serta Ratu sendiri.


Karena di rahasiakan, akhirnya keberadaan Garnetta di istana juga ikut disembunyikan. Dia tak ubahnya seperti tawanan yang selalu di awasi kemana-mana. Semua itu karena Garnetta adalah putri dari kelompok pemberontak yang dimusuhi oleh kaum bangsawan kerajaan Barat. Hingga, suatu hari, tepatnya sebulan setelah dia melahirkan, Garnetta jatuh sakit dan tak lama meninggal dunia.


Kematian itu juga di rahasiakan. Jasadnya di kremasi tanpa sepengetahuan orang luar. Sementara, putranya yang tampan dibesarkan oleh sang Ratu yang sejak awal memang tak pernah membenci Garnetta apalagi bayi tak berdosa itu. Ia membesarkan Ashlan dengan penuh kasih sayang. Tak ada beda antara putra kandungnya sendiri hingga peristiwa pembantaian yang menyisakan Ashlan sendirian itu terjadi.


"Setelah mengetahui kisah yang sebenar-benarnya, apakah masih ada keraguan yang tersisa di hati Anda, Yang Mulia?"


Tuan Vernand menyembunyikan kedua tangannya dibalik punggung sambil bertanya dengan senyuman di wajahnya.


Baru saja Ashlan yang berada di pelukan Diana hendak menjawab, tiba-tiba ia merasakan bagian punggung atas sebelah kanannya seolah terbakar. Reflek, Ashlan mengerang hebat. Ia berusaha menahan suara jeritan yang hendak keluar dari tenggorokannya.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Diana panik.


"Arghh! Jangan sentuh, panas!" erang Ashlan yang merasa semakin kesakitan ketika Diana menyentuh bagian punggungnya yang terasa terbakar.


Tuan Vernand segera mendekat. Baju Ashlan ia sobek tanpa permisi demi membuktikan dugaan yang mendadak terlintas di benaknya. Dan, benar saja! Hal yang ia ingin benar-benar terjadi.


"Tanda kerajaannya muncul. Hahahaha....," Tuan Vernand tertawa menggelegar hingga semuanya terlihat kebingungan.