Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Babak Baru



Duke Hendrick termenung setelah kepergian Ashlan. Pria itu tak habis pikir darimana Ashlan tahu mengenai kematian putranya yang selama ini telah berusaha dia sembunyikan rapat-rapat. Tak ada yang tahu mengenai masalah ini selain dirinya dan para perkumpulan rahasianya. Bahkan, istri dan putrinya pun tak tahu bahwa anak dan saudaranya sudah tiada.


"Dia tahu mengenai kematian putraku, Tuan!" ucap Duke Hendrick dengan gelisah kepada seseorang yang datang menemuinya.


"Tolong, tolong selamatkan saya! Saya tidak mau dihukum mati oleh orang itu. Saya masih ingin hidup!" mohon Duke Hendrick seraya berpegang erat pada jeruji besi yang menjadi penghalang dirinya dengan dunia luar yang bebas.


"Kau memang ceroboh! Sudah ku bilang berhenti mengusik sang Ratu tapi kau malah membangkang! Kau sudah merusak rencanaku!" ujar pria misterius yang menemui Duke Hendrick.


Duke Hendrick tertunduk. Ya semua memang salahnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia juga sudah nyaris gila karena mencari keberadaan anak istrinya yang entah kabur kemana. Dua wanita itu berhasil membuatnya gelisah dan uring-uringan karena telah lancang mencuri sebagian hartanya lalu kabur entah kemana.


"Saya akan menebus semuanya. Tapi, sebelumnya, keluarkan saya dari sini! Saya mohon!"


Tak ada jawaban. Pria misterius itu justru malah pergi dan meninggalkan Duke Hendrick begitu saja.


"Tunggu! Jangan tinggalkan saya seperti ini! Tolong!" teriak Duke Hendrick yang tetap di acuhkan oleh pria misterius tersebut.


Sementara, di tempat lain, Diana mendapatkan sebuah surat yang baru saja tiba dari Kerajaan Timur. Wanita itu menerimanya dengan antusias. Terlebih lagi, saat membaca siapa nama pengirimnya, Diana semakin tak sabar untuk membukanya.


"Pelan-pelan Yang Mulia!" ucap Mulanie ketika melihat Diana membuka kop surat dengan terburu-buru.


Diana tak menjawab. Dia terlihat fokus mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop lalu membacanya. Beberapa menit kemudian, ia meletakkan surat itu ke atas meja lalu menatap lurus ke luar jendela.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Mulanie kebingungan.


Diana tak menjawab. Dan, Mulanie berinisiatif mengambil surat yang tadi diletakkan Diana begitu saja. Sesaat setelahnya, alis Mulanie mengernyit heran karena tak paham akan isi surat itu.


"Bibi Rosemary? Dia siapa, Yang Mulia?" tanya Mulanie penasaran.


"Dia pengasuhku sejak kecil."


Mulanie mengangguk paham.


"Sekaligus, orang yang juga terlibat dalam kematian Ibuku!" imbuh Diana


Mata Mulanie sontak membulat mendengar kelanjutan kalimat Diana. Gadis itu bahkan menutup mulutnya saking syoknya. Sementara, Diana hanya tersenyum getir melihat respon Mulanie.


Baginya, jika Mulanie saja merespon sekaget itu, apa kabar dengan dirinya sendiri? Tentu dia jauh lebih syok bahkan nyaris hancur. Diana bahkan tak tahu apakah dia sanggup menatap wajah Bibi Rosemary yang selama ini telah ia sayangi layaknya Ibu kandung sendiri.


"Anda akan kembali ke kerajaan Timur?" tanya Mulanie.


"Ya, masalah ini harus cepat selesai, Lanie. Aku tak ingin arwah Ibuku jadi tak tenang karena orang-orang yang telah membunuhnya masih berkeliaran dan menikmati hidupnya dengan nyaman."


"Saya harap, masalah Yang Mulia bisa segera selesai."


"Mudah-mudahan, Lanie."


"Bibi Rosemary... Akhirnya kita akan bertemu!"


*


Kasak-kusuk perbincangan mengenai wajah Ashlan yang kini tak tertutup topeng menjadi perbincangan hangat seluruh orang yang sudah melihatnya. Mereka tak menyangka bahwa wajah yang selama ini mereka klaim buruk rupa ternyata setampan itu. Hanya saja, mereka tidak melihat kemiripan sedikitpun dengan Raja ataupun Ratu terdahulu.


"Jadi, apa benar jika Yang Mulia Kaisar adalah anak haram hasil perselingkuhan sang Ratu?" bisik salah seorang bangsawan kepada teman di sebelahnya.


Memang, Ashlan sedang mengumpulkan beberapa perwakilan bangsawan dan rakyat biasa didalam aula utama. Tujuannya, tentu saja menegaskan siapa dirinya dan meluruskan gosip miring yang selama ini telah menerpanya puluhan tahun.


Berbagai suara-suara sumbang yang mengejek dan menghina terdengar jelas di rungu Ashlan. Namun, dia mencoba untuk mengabaikan. Akan ada waktunya dia membungkam mulut-mulut rombeng tersebut dengan fakta yang tak bisa dibantah siapapun lagi.


"Diam!" teriak Alarick menginterupsi kebisingan yang memenuhi aula.


Seketika, suasana langsung mendadak tenang.


"Hari ini, seperti yang kalian lihat! Yang Mulia Kaisar pertama kali secara resmi menunjukkan wajahnya di hadapan kalian semua. Tujuannya adalah agar tak ada lagi desas-desus ataupun gosip miring mengenai status Yang Mulia Kaisar."


Riuh kembali. Semua yang hadir berkomentar dengan persepsi mereka masing-masing.


"Jadi, benar jika Yang Mulia Kaisar adalah anak haram Ratu terdahulu?" tanya seorang bangsawan yang di kenali Ashlan sebagai salah satu antek Duke Hendrick.


"Kami tidak berkata seperti itu," sangkal Alarick.


"Tapi, buktinya mengatakan iya. Lihat saja! Wajah Yang Mulia Kaisar sangat berbeda dari wajah kedua orangtuanya," ucap orang itu lagi.


Beberapa bangsawan dan rakyat biasa sepertinya mulai terprovokasi ucapan dari lelaki itu. Mereka mulai terpancing dan tak segan menyuarakan untuk meminta Ashlan mundur dari tahta.


Namun, Ashlan masih diam membisu. Ia membiarkan Alarick yang berbicara kepada mereka.


"Ada yang harus kalian lihat!" kata Alarick pada akhirnya.


Dia mendekati Ashlan lalu memohon izin untuk menunjukkan tanda kerajaan yang ada di punggungnya. Tanpa ragu, Ashlan mengizinkan Alarick melakukannya dan langsung di sambut riuh kembali oleh semua yang hadir.


"Ba-bagaimana bisa tanda kerajaan muncul di tubuhnya jika memang beliau bukan putra kandung Raja terdahulu?" tanya seseorang dengan wajah yang tampak begitu syok.


"Tapi, wajahnya?"


"Apa Yang Mulia Kaisar titisan dewa?" sambung yang lain.


Dan, kembali terdengar ramai saat titisan dewa ikut di sebut-sebut. Pada akhirnya, Alarick kembali mengambil alih dan menjelaskan semua cerita secara lengkap tanpa ditutup-tutupi. Tentang siapa permaisuri Garnetta dan juga hubungannya dengan Raja terdahulu. Beruntung, Damian, menyimpan sebuah bukti penting tentang keabsahan permaisuri Garnetta sebagai selir yang selama ini di sembunyikan. Sehingga, semua yang hadir tampak menerima dengan lapang penjelasan Alarick walau beberapa diantara mereka tetap menentang Ashlan yang menduduki posisi sebagai seorang Kaisar.


"Jangan di pikirkan lagi, Ash!" kata Damian sambil menepuk bahu keponakannya. "Maaf, jika selama ini Paman ikut menutupi. Hanya saja, Paman tak bisa berbuat apa-apa karena Duke Hendrick selama ini mengancam Paman. Sekali lagi maaf, karena Paman sudah menjadi pecundang."


"Bagaimana kondisi Paman?" tanya Ashlan kepada sang Paman.


"Sudah lebih baik. Yang Mulia Ratu juga sudah berjanji untuk membantuku sampai benar-benar sembuh," jawabnya dengan senyum di wajah tuanya.


Ashlan mengangguk. Ia lega karena identitasnya kini tak akan di usik lagi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan untuk memanfaatkan kekurangannya tersebut. Duke Hendrick juga sebentar lagi akan di eksekusi mati. Satu-satunya masalah yang bersiap untuk ia hadapi sekali lagi tinggal satu. Yaitu pemberontakan yang sudah pasti akan pecah setelah hukuman Duke Hendrick dilaksanakan.


"Apa kau benar-benar akan mengeksekusi mati Duke Hendrick?" tanya Damian yang mendengar kabar itu dari putranya.


"Iya, Paman!"


"Kau siap berperang melawan pengikutnya yang tentu tak akan terima begitu saja?"


"Ya. Aku harus siap, Paman! Sudah waktunya aku menyelesaikan semuanya."