Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Buka Hatimu



"Periksa setiap sudut istana! Jangan sampai ada yang terlewat!" teriak Ksatria Bennett kepada para pasukannya usai seluruh penghuni istana akhirnya tunduk tak berkutik dalam belenggu mereka.


Ya, perang akhirnya dimenangkan kubu Kerajaan Barat usai menerima perlawanan yang sangat sengit dari Kerajaan Timur. Namun, berbekal bocoran dari pihak dalam, tentu mereka lebih diuntungkan walaupun Ashlan sepenuhnya sadar bahwa Kaisar Sean dan pasukan perangnya bukanlah gerombolan orang-orang yang mudah diremehkan.


Ketangguhan para prajurit Timur tak bisa dibantah lagi. Baik di darat maupun laut, pasukan Kaisar Sean dikenal sebagai Naga perang. Ashlan mengakui kemenangannya terjadi karena ia menyerang di waktu yang sangat tepat. Ketika hampir setengah dari prajurit tangguh Kerajaan Timur tengah berperang melawan perompak buron dari negeri Tan dibawah kepemimpinan tangan kanan Kaisar Sean, Jade Martinez. Andai tidak begitu, mustahil Ashlan mampu menaklukkan kerajaan yang kuat itu.


"Tidak ada apa-apa lagi selain yang kalian lihat disini!" ucap Kaisar Sean yang kini pasrah dalam keadaan tangan terikat dibelakang tubuhnya.


"Ada sebuah kamar di bagian istana sana," lapor seorang prajurit sambil menunjuk bagian istana yang tampak suram dan terasing.


Kaisar Sean membelalakkan matanya. Lelaki tua itu tahu betul kamar siapa yang prajurit Ashlan maksud.


"Jangan kesana! Kalian tak akan menemukan sesuatu yang berharga secuil pun di tempat itu!" cegahnya.


Mendengar ucapan Kaisar Sean, Ashlan malah makin penasaran. Ditambah lagi, sosok perempuan yang menurut informasi sebagai Putri satu-satunya Kaisar Sean belum juga tampak diantara banyaknya tawanan yang berada di ruangan itu.


"Periksa!" kata Ashlan dingin kepada Ksatria Bennett.


Ksatria Bennett mengangguk. Dia dan 5 prajurit lain bergerak cepat masuk ke dalam sana. Hanya berselang sepuluh menit, lelaki berambut ikal itu kembali sambil menyeret seorang gadis bermata hijau dengan rambut panjang kecoklatan yang terlihat sangat ketakutan. Ia bahkan tak mau mengangkat wajah cantiknya dihadapan orang-orang.


"Angkat kepalamu!" perintah Ashlan sembari mendekat kepada gadis yang kedua tangannya sedang gemetar hebat.


Kulit putihnya berubah pucat. Keringat dingin membasahi dahi dan telapak tangannya. Ia duduk di lantai. Di dekat seorang wanita yang Ashlan perkirakan sebagai pelayan pribadinya. Terbukti, dari cara wanita paruh baya itu menenangkan sang gadis.


"Jangan takut, Putri! Saya disini!" ucap pelayan itu sambil membelai rambut panjang sang gadis.


"Angkat kepalamu!" perintah Ashlan untuk kedua kalinya. Gadis itu tersentak kaget. Tubuhnya makin menunjukkan respon ketakutan yang luar biasa. Dengan air mata berlinang,gadis itu menuruti keinginan Ashlan. Ia mengangkat kepalanya dan balas menatap Ashlan meski hanya bertahan tak sampai 5 detik.


"Jangan bunuh orang lebih banyak lagi! Aku mohon," lirih gadis itu dengan bibir bergetar. Dipandanginya ke sekeliling yang terasa sangat mencekam. Orang-orang mati bertebaran. Sementara, yang masih hidup diikat tangannya dengan tali dan leher mereka dipasung kayu yang terdiri dari 8 orang tiap satu pasung kayu yang panjang.


"Menikahlah denganku!"


Baik Diana maupun Kaisar Sean tersentak mendengar perkataan lelaki bernetra abu tersebut. Namun, bedanya Diana hanya diam sementara Kaisar Sean reflek memberontak dengan wajah memerah marah.


"Tidak!" geleng pria tua itu. "Kau boleh mengambil apapun tapi tidak dengan putriku!"


Ashlan menoleh ke arah Kaisar Sean sambil tersenyum miring. "Sayangnya, keputusan bukan lagi ada padamu, Yang Mulia! Semua keputusan kini beralih penuh ke dalam genggamanku! Ku beri dua pilihan!" Ashlan berjalan mendekati Kaisar Sean. "Nikahkan aku dengan Putri yang tak kau anggap itu, atau sisa sandera yang masih hidup didalam istana ini akan ku lenyapkan satu persatu!"


Kaisar Sean mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Mata tuanya menatap sang putri yang sedang ketakutan dengan prihatin. Namun, menyadari bahwa perannya bukan hanya sekadar seorang Ayah melainkan seorang pemimpin yang bertanggung jawab pada ratusan ribu jiwa yang masih hidup, ia akhirnya rela melepaskan sang putri.


Mendengar ucapan sang Ayah yang mengiris hati, gadis yang masih tertunduk diam hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sakit tak berperi menusuk sampai ke tulang. Hatinya yang sudah hancur semakin remuk redam karena perkataan menyakitkan dari sang Ayah yang sampai sekarang tak pernah berani ia tatap langsung.


*


Ashlan terdiam pasrah saat Diana melucuti topengnya begitu saja. Tak ada penolakan apalagi perlawanan. Lelaki yang sebenarnya berparas sangat tampan itu terlalu terpesona pada kecantikan istrinya sendiri. Jika mengingat masa lalu tentang bagaimana cara dirinya menikahi Diana, perasaan bersalah acap kali memenuhi rongga dada Ashlan yang memang sudah sesak sejak awal. Namun, terkadang egois mampu mengenyahkan rasa bersalah itu karena tahu bahwa cinta memang mampu membuat seseorang menjadi berubah 180 derajat.


"Kenapa wajahmu harus disembunyikan?" tanya Diana.


Ashlan tersadar dari lamunannya. Tangan Diana ia raih kemudian menempelkannya ke sebelah pipinya.


"Sewaktu kecil, aku dituduh orang sebagai anak haram hasil perselingkuhan Ibuku dengan pria lain."


"A-apa?"


Ashlan menganggukkan kepalanya. Lelaki itu tersenyum miris. "Aku dan Ayahku tidak memiliki kemiripan apapun dari segi wajah maupun fisik, Ratu!"


"Itu berarti, kau mirip dengan Ibumu?"


Ashlan menggeleng. Bibir pria itu tampak bergetar menahan tangis. "Sayangnya, tidak juga."


Diana diam untuk sesaat. Matanya menatap prihatin kepada pria yang selama ini ia cap sebagai pria kejam. Ia tak menyangka bahwa sosok asli Ashlan adalah pria yang sangat rapuh.


"Apa setiap anak wajib memiliki kemiripan wajah dengan orangtuanya, Ratu?" Mata lelaki itu mulai memerah. "Padahal, Ayahku selalu bilang bahwa aku anak kandungnya. Aku bukan anak hasil perselingkuhan. Tapi, kenapa yang lain tetap menyangkal statusku sementara Ayahku sendiri mau menerimaku tanpa syarat?"


Tak ada yang bisa Diana ucapkan untuk menghibur Ashlan. Gadis itu tahu bahwa kadangkala seseorang hanya butuh untuk didengar tanpa perlu diberi kalimat-kalimat penyemangat yang sebenarnya hanya omong kosong belaka.


"Ayah dan Ibuku di bunuh gerombolan orang-orang berjubah hitam. Mereka mati tepat di hadapanku sementara Kakakku menghilang entah kemana. Aku yatim piatu dalam waktu semalam, Ratu. Aku tiba-tiba sendirian padahal siang harinya kami masih berkumpul dan tertawa bersama." Ashlan menjeda kalimatnya. Lelaki itu menarik nafas panjang kemudian mengembuskannya dengan kasar.


"Awalnya aku takut mencintaimu karena trauma akan kehilangan lagi. Tapi, jika membayangkan kau akhirnya bersama dengan pria lain dan bukan denganku, sungguh! Aku tidak sanggup melanjutkan hidupku lagi, Ratu!"


Air mata Diana menggenang di pelupuk matanya. Hatinya bergetar mendengar pengakuan Ashlan yang terdengar begitu sangat tulus. Namun, tetap saja ketakutan yang seharusnya redam masih menyelimuti dengan rapat. Diana tak akan serta merta lupa bahwa lelaki yang mengaku mencintainya inilah yang menyebabkan Diana Emerald meninggal.


"Jika kau sungguh mencintai Diana Emerald, kenapa justru kau yang menjadi malaikat mautnya, Ashlan?"


"Ratu, apakah Ratu bersedia membuka hati untuk pria seperti aku?"