Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Pilihan



BRAK!!!


Pintu yang terbuka kasar menjadi atensi dua orang pria hebat yang sedari tadi hanya terjebak dalam diam. Baik Ksatria Martinez ataupun Ashlan tak ada yang tertarik untuk membuka percakapan demi membunuh waktu. Keduanya kompak tak bertegur sapa karena masing-masing dari mereka tahu bahwa perasaan mereka pada Diana adalah sama. Keduanya sama-sama mencintai wanita yang sama, namun sayangnya hanya salah satu dari mereka yang ditakdirkan menjadi pemenang.


"Ada apa?" Ashlan dan Ksatria Martinez sama-sama bertanya kompak. Pun, ketika menghampiri Diana. Mereka melangkah secara bersamaan menuju pada wanita yang terlihat begitu kacau. Sepasang matanya sembap. Hidungnya memerah. Terlebih lagi, raut wajahnya tergambar begitu menyedihkan.


"Ada apa, Ratu?" tanya Ashlan cemas. Ia menangkup wajah Diana dengan kedua telapak tangannya. Menghapus jejak bening yang luruh dari sepasang matanya.


Tidak menjawab, Diana memilih memeluk tubuh tegap Ashlan. Ia menumpahkan tangisnya di dada pria itu. Mulutnya sudah tak sanggup menjelaskan apa-apa.


Tak jauh dari mereka, Ksatria Martinez terlihat membuang pandangan. Sesak sekali rasanya menyaksikan wanita yang dulu selalu menumpahkan kesedihan padanya kini telah menemukan bahu yang baru untuknya bersandar.


"Akan ku periksa keadaan Yang Mulia!" pamit Ksatria Martinez kepada sepasang suami istri itu. Ia memilih menghindar dengan dalih melihat keadaan Kaisar Sean didalam kamar. Pria itu tahu bahwa keadaan Ayah Diana sedang tidak baik. Bahkan, hanya dia yang tahu bagaimana kondisi sang Kaisar yang semakin hari semakin kritis karena penyakit yang dideritanya sejak 2 tahun terakhir.


"Yang Mulia!" pekik Ksatria Martinez dengan mata membelalak saat ia melihat Kaisar Sean terbaring tak sadarkan diri di lantai dekat tempat tidur. Ia berlari dengan cepat ke arah sang Kaisar lalu memeriksa denyut nadinya.


Ashlan dan Diana yang mendengar teriakan Ksatria Martinez turut menghambur masuk ke dalam kamar Kaisar Sean. Keduanya membeku begitu melihat pemandangan yang tersuguh di depan mata mereka.


"A-Ayah kenapa?" tanya Diana panik. Melihat kecemasan di wajah Ksatria Martinez membuat wanita itu tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang genting terhadap Ayahnya.


"Keadaan Yang Mulia kritis. Putri dan Kaisar Ashlan tolong temani Yang Mulia sebentar. Aku akan menemui tabib istana untuk memeriksa keadaan Yang Mulia." Ksatria Martinez dengan sigap mengangkat tubuh Kaisar Sean kembali ke tempat tidur. Di saat itu pula, Diana menyadari bahwa bobot Ayahnya telah berkurang banyak dibanding terakhir mereka bertemu saat ia dan Ashlan mengadakan upacara pernikahan.


'Apa Ayah sakit?' Pertanyaan itu kini memenuhi otak Diana.


Tanpa banyak basa-basi, Ksatria Martinez berlari dengan cepat untuk menemui tabib. Ia tak bisa menyuruh siapapun karena kondisi sang Kaisar sebenarnya bersifat rahasia.Tak ada seorang pun yang boleh tahu keadaan Kaisar Sean karena hal tersebut bisa saja memicu adanya konflik perebutan tahta. Hal itu sangat mungkin karena pewaris tahta satu-satunya hanya seorang anak perempuan yang bahkan kini telah menjadi Ratu di kerajaan lain.


"Ayah kenapa?" tanya Diana kebingungan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Sedari tadi mereka mengobrol, Diana terlalu abai untuk menyadari bahwa wajah sang Ayah memang sudah pucat pasi.


"Tenanglah, Ratu!" ujar Ashlan sembari menyentuh pelan bahu Diana yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Aku takut," lirih Diana. Ia mendongak menatap Ashlan sembari menggigit bibir bawahnya. Setelah itu, ia kembali menatap wajah sang Ayah yang masih belum juga membuka matanya.


"Ayahmu akan baik-baik saja. Dia pria yang tangguh," ucap Ashlan menguatkan.


Diana menganggukkan kepala. Sebisa mungkin ia berusaha mempercayai ucapan Ashlan. Ya, Ayahnya adalah lelaki yang tangguh. Buktinya, ia setia bertahan dalam keegoisan dalam 24 tahun hanya demi terus-menerus menyalahkan putri kandungnya sendiri atas kematian istrinya.


Hanya berkisar 10 menit, Ksatria Martinez kembali ke ruangan sang Kaisar bersama seorang pria tua berjanggut putih yang tampak kesusahan mengimbangi langkahnya yang cepat dan lebar. Sebelum menutup pintu, Ksatria Martinez berpesan kepada para pengawal yang berjaga untuk tidak membiarkan satu orang pun masuk ke dalam kamar pribadi sang Kaisar. Tentu, para pengawal akan patuh, mengingat, Ksatria Martinez adalah pemegang tahta kedua di kerajaan mereka setelah Raja.


"Hah...," Tabib menghela nafas usai memeriksa secara keseluruhan kondisi sang Kaisar.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Diana terburu-buru. Bahkan, Ksatria Martinez yang hendak bertanya lebih awal jadi mengurungkan niatnya.


"Kondisi Yang Mulia semakin parah. Saya khawatir, Yang Mulia tidak akan mampu bertahan untuk melewati musim dingin nanti."


"Putri...," Ksatria Martinez memanggil Iirih. Dan, sontak saja Diana langsung menuju pria itu lalu memegang erat kedua lengannya.


"Ale, sebenarnya ada apa? Jelaskan padaku!" pinta Diana dengan gigi yang bergemelatuk. Kedua tangannya mencengkram erat lengan Ksatria Martinez. Matanya menyorot tajam menagih penjelasan pada pria yang tanpa sadar ia panggil 'Ale' tersebut.


Ya, Diana tak sadar memanggil pria itu begitu. Tiba-tiba saja mulutnya menyebut nama panggilan tersebut seiring memori tentang dirinya dan Alejandro Martinez berkelabat dalam ingatannya.


"Yang Mulia sakit parah sejak dua tahun yang lalu, Putri. Bisa dibilang...,"


"Apa? Lanjutkan!" desak Diana saat Ksatria Martinez justru menjeda kalimatnya di poin yang paling penting.


Ksatria Martinez menarik nafas panjang. Matanya terpejam sesaat. "Beliau sekarat," imbuhnya dengan suara yang begitu berat.


Dalam sepersekian detik, dunia seolah terguncang tapi hanya untuk Diana seorang diri. Ia berusaha menjaga keseimbangan agar tak terjatuh. Namun, sekuat apapun ia berusaha, kedua kakinya sudah terlalu lemas untuk diajak bekerja sama. Ia nyaris terkulai andai Ksatria Martinez tidak menahannya.


"Ratu tidak apa-apa?" Ashlan dengan sigap mengambil alih tubuh istrinya. Pandangannya tajam memberi isyarat kepada Ksatria Martinez agar tak menyentuh wanitanya lebih dari yang barusan lelaki itu lakukan.


"Ayahku sekarat?" Diana masih kesulitan mencerna kenyataan yang ada. "Kenapa lelaki jahat itu harus sekarat, hah? Dia bahkan belum menebus kesalahannya kepadaku. Kenapa dia harus mati secepat ini?" Diana menatap nanar ke arah sang Ayah. "Tidak."Ia menggelengkan kepala. "Dia tidak boleh mati secepat ini. Dia tidak boleh pergi begitu saja sebelum menebus semua dosanya kepadaku."


"Ratu, tenanglah! Aku mohon!"


"Tidak," teriak Diana keras. "Bukankah aku bisa menyembuhkannya?" Tiba-tiba saja ia teringat pada kekuatannya. "Ya, aku bisa menyembuhkannya."


"Ya, Ratu bisa menyembuhkannya. Tapi, tolong tenang dulu. Kekuatan Ratu tidak akan bisa digunakan jika Ratu panik seperti ini," bujuk Ashlan.


"Apa maksudnya?" celetuk Ksatria Martinez dengan mata memicing.


Diana hanya bungkam sambil menatap wajah pucat sang Ayah. Hanya Ashlan yang bersedia menjelaskan situasinya kepada Ksatria Martinez.


"Ratu sudah bisa menggunakan kekuatannya," tutur Ashlan.


Sontak, mata Ksatria Martinez jadi terbelalak. Ia tak menyangka bahwa Diana ternyata memiliki sihir. "Putri memiliki kekuatan sihir? Benarkah? Tapi, bukankah selama ini Putri...," Ksatria Martinez tidak meneruskan kalimatnya.


"Sihirnya muncul baru-baru ini saat ada insiden yang terjadi di ibu kota." Ashlan memberitahu karena tahu apa yang ada dipikiran Ksatria Martinez mengenai Diana. Semua orang mengklaim bahwa Diana adalah putri yang lemah dan terlahir tanpa kekuatan sihir selama ini.


"Tapi, apa hubungannya sihir Putri dengan kesembuhan Yang Mulia Kaisar?" Ksatria Martinez menghela nafas. "Aku sudah pernah mencobanya, tetapi gagal. Penyakit Yang Mulia tidak bisa disembuhkan dengan kekuatan sihir biasa."


"Apa dengan sihir penyembuh, tetap tidak bisa?"


Kali ini, bukan hanya Ksatria Martinez yang terbelalak, tetapi sang tabib yang sedari tadi menyimak juga ikut terkejut.


"Sihir penyembuh? Yang Mulia Putri Diana memiliki sihir penyembuh?" tanya Tabib antusias.