Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kekasih rahasia Verona



Berderai air mata, Verona terus berjalan menembus hutan belantara tanpa lelah sedikitpun. Hatinya tercabik menyaksikan penderitaan sang Ibu yang saat ini mendekam di penjara dengan kondisi mengenaskan. Jari telunjuknya benar-benar di potong. Dan, akibatnya Duchess Levrina mengalami demam tinggi karena lukanya mengalami infeksi.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari, Verona tiba di sebuah rumah tua yang terletak di tengah hutan. Gadis itu menyeka air mata dan keringatnya. Sambil menghela napas panjang, ia masuk ke dalam rumah tersebut tanpa rasa canggung dan takut.


Verona meletakkan jubahnya di kursi kayu yang terletak di ruang tamu. Pandangannya mengedar menyisir seisi rumah mencari keberadaan penghuni satu-satunya rumah tersebut. Gadis itu memeriksa setiap ruangan yang ada. Namun, sayangnya yang di cari sepertinya sedang keluar.


"Kau mencariku?" tanya seseorang yang tiba-tiba memeluk Verona dari arah belakang tepat ketika gadis itu hendak menutup pintu dapur setelah berjalan-jalan sebentar ke dekat danau yang terdapat di sana.


Verona sedikit kaget mendapati sang pujaan hati yang entah muncul darimana. Namun, tak lama ia langsung tertawa lepas dan membalikkan tubuhnya.


"Kau darimana? Aku mencarimu sejak tadi," tanya Verona manja sambil melingkarkan lengannya di leher pria itu.


"Maaf, Sayang! Aku baru saja mengunjungi seseorang di suatu tempat," ucap pria tersebut.


"Sampai kapan kita akan terus begini, hm? Aku lelah, Sayang. Ibuku juga sudah mendekam di penjara. Aku takut akan bernasib sama dengannya suatu saat nanti," kata Verona lirih dengan netra mengembun.


Si pria mengecup bibir Verona singkat. Dia menyeka air mata yang sudah terlanjur menetes dari sepasang netra coklat sang kekasih.


"Bersabarlah, sebentar lagi. Segera, setelah hakku berhasil ku rebut kembali, kau akan menjadi Ratu yang tidak akan bisa di tindas oleh siapapun," ucapnya memainkan helai rambut Verona.


"Benarkah?" Netra Verona seketika berbinar. "Itu artinya, rencanamu sudah mulai dijalankan?"


Si pria tertegun sesaat. "Tapi, apa kau benar-benar tidak keberatan jika Ayahmu sungguh di korbankan, Sayang?" tanyanya sedikit ragu.


Verona menggeleng. "Aku tidak peduli. Lelaki jahanam itu memang pantas untuk dikorbankan."


"Sekalipun dia ayah kandungmu?"


Verona mengangguk tanpa ragu yang di sambut senyum lebar oleh si pria. "Kau memang luar biasa, Sayang!"


"Apapun demi kau, Sayang!" balas Verona yang kembali menyatukan bibir mereka dengan penuh hasrat.


*


Di dalam penjara, Duke Hendrick mulai gelisah. Tak ada pengumuman kapan eksekusi akan dilaksanakan. Hal tersebut semakin membuatnya frustasi dan tak habisnya menerka-nerka kapan waktu itu akan tiba.


Makan jadi tak enak. Tidur pun tak nyenyak. Setiap kali ia terjaga, napasnya terasa sesak jika membayangkan nasibnya yang akan berakhir di tiang gantungan. Belum apa-apa, dia sudah parno duluan.


"Tuan!" Tiga bangsawan besar yang pernah menemuinya datang kembali.


"Apa saja yang kalian lakukan, hah? Kenapa aku belum juga dibebaskan?" tanya Duke Hendrick tanpa basa-basi.


"Maafkan kami! Tapi, Yang Mulia Kaisar memiliki bukti buku besar yang berisi catatan korupsi Anda selama ini. Kami tak bisa berkutik karena nama kami pun juga ikut terseret."


"Darimana dia mendapatkannya?" tanya Duke Hendrick geram.


Tiga pria itu menggeleng bersamaan.


"Apa dari Damian?" tebak Duke Hendrick. "Tapi, bagaimana mungkin pria bodoh itu memiliki catatan rahasia itu?"


"Entahlah, Tuan! Kami tak peduli lagi. Yang jelas, sekarang kami kemari hanya ingin menyampaikan bahwa Pemimpin besar meminta kami untuk tak terlibat dengan Anda lagi."


Mendengar ucapan salah satu rekan yang selama ini selalu setia mengikutinya, Duke Hendrick langsung membulatkan mata tak percaya.


"Dia membuangku? Begitu maksud kalian?" tanya Duke Hendrick syok.


Duke Hendrick merasakan persendiannya lemas seketika. Pria paruh baya itu menatap nanar lantai penjara yang beralaskan jerami kering yang mulai sedikit hancur karena belum di ganti semenjak dia datang.


Tak lama, ia tertawa sendiri. Menertawakan nasibnya yang tak ubahnya benda sekali pakai yang jika tak di perlukan lagi langsung dibuang ke tong sampah.


"Setelah semua yang sudah ku lakukan untuknya, dia malah membuangku seperti ini?"


Lagi, tawa Duke Hendrick mengudara memenuhi ruangan pengap nan gelap itu. "Br*ngsek!" Dia mengacak-acak jerami kering dengan kedua kakinya.


Ketiga bangsawan tadi langsung pergi karena tak nyaman menyaksikan Duke Hendrick yang mengamuk seperti orang kesetanan. Seperti kata pemimpin besar mereka, tinggalkan Duke Hendrick karena dia tak lagi berguna.


Di tempat lain, Damian sedang diobati oleh Diana yang sebentar lagi akan berangkat menuju ke kerajaan Timur. Beberapa kali, terdengar jeritan dari mulut Damian karena menahan sakit yang seolah hendak membelah dua tubuhnya.


"Paman tidak apa-apa?" tanya Diana cemas setelah pengobatan selesai.


"Tidak, terimakasih," jawab Damian yang masih berusaha menetralkan napas.


Kondisinya berangsur membaik. Meski terkadang perasaan sakit itu masih sering kambuh, namun setidaknya tidak separah dulu sebelum diobati oleh Diana.


"Saat aku pergi, Paman harus jaga diri. Minta pada Alarick untuk memberi kabar jika kondisi Paman tiba-tiba memburuk lagi," pesan Diana dengan perasaan khawatir.


Entahlah! Diana juga tak tahu mengapa dirinya tak pernah bisa tenang jika berdekatan dengan Paman dari suaminya itu. Mungkin, karena keberadaan sihir gelap terlarang memang semenyeramkan yang dikatakan orang-orang.


"Yang Mulia Ratu tidak usah mengkhawatirkan saya. Selesaikan saja urusan Anda agar bisa cepat kembali. Saya yakin, selama Anda berada di kerajaan Timur, pasti ada seseorang yang akan uring-uringan setiap hari di sini," kata Damian sambil melirik sang keponakan yang sedari tadi fokus membaca buku di dekat jendela.


Merasa sedang di bicarakan, Ashlan melirik sinis sambil berdecak sebal. Sementara, Damian hanya tertawa melihat tingkah Ashlan yang sekarang menggeser posisi kursinya agar membelakangi dia dan Diana.


"Lihatlah! Suamimu itu masih seperti anak-anak," kata Damian berbisik.


"Aku bukan anak kecil lagi, Paman!" sanggah Ashlan setengah kesal tanpa berbalik.


"Dia dengar?" tanya Diana takjub kepada Damian.


"Tentu saja. Telinga suamimu memang peka," angguk Damian.


"Mirip telinga anjing?"


"Mungkin lebih peka lagi."


"Wah, hebat!"


"Kalian masih berani membicarakan aku?" Jengah, akhirnya Ashlan menutup bukunya dan menghampiri sang istri dan juga pamannya.


"Lihat 'kan? Dia masih bisa mendengar walau suara kita sudah lebih kecil dari sebelumnya," ujar Damian terkekeh.


Diana memegang kedua daun telinga Ashlan. Wanita itu memperhatikan dengan seksama sambil sesekali menariknya pelan. Ashlan hanya pasrah sambil memutar bola matanya malas. Kedua tangannya terlipat di depan dada seraya bersabar akan tingkah laku sang istri kepadanya.


"Padahal, ukurannya normal. Aku pikir, akan selebar telinga anjing," gumam Diana polos.


Mata Ashlan seketika mendelik sebal. Di tangkapnya tubuh Diana lalu menggelitik perut sang istri dengan gemas.


"Ratu menyamakanku dengan anjing? Berani sekali!"


"Ampun... Hahahahahaha... Maksudku tidak begitu, Yang Mulia!" ujar Diana sambil tertawa.