Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Perburuan



BRAKK!!


Pintu kamar terbuka lebar dan membuat sepasang pasangan haram terlihat kelabakan menutupi tubuh mereka. Wanita penghibur yang menjerit ketakutan langsung turun dari tempat tidur dan memasang bajunya kembali. Dia tak menyangka, pasukan kerajaan akan datang dan mengagetkannya seperti ini.


"Apa-apaan ini? Berani sekali kalian menganggu kesenanganku!" umpat pria paruh baya berbadan tambun yang sedang terburu-buru memakai celananya.


"Siapa yang menyuruh kalian, hah? Siapa?" tanyanya lagi dengan angkuh.


Para pengawal kerajaan hanya diam bergeming. Hingga terdengar langkah kaki mendekat, mereka baru membuka jalan dan membungkuk hormat.


"Ksatria Bennett?" tanya pria itu dengan mata membelalak.


"Maaf karena menganggu kesenanganmu, Duke Folke!" ucap Alarick dengan senyum sumringah.


"A-Ada apa ini?" tanya pria yang di sapa Duke Folke tersebut.


"Keluar dari sini!" usir Alarick terhadap perempuan bayaran Duke Folke yang terlihat sudah mengenakan pakaiannya dengan lengkap.


Tak perlu di usir dua kali, wanita itu langsung mengangguk dan melangkah dengan kaki gemetar pergi dari sana. Dalam hati, dia bersyukur karena dirinya tak diapa-apakan oleh segerombolan pria itu.


"Dan, Duke Folke...." Alarick menatap Duke Folke sedikit meringis. "Tolong kenakan kemeja Anda terlebih dulu. Aku risih melihat Anda dengan penampakan seperti itu," imbuhnya sambil menggaruk belakang telinga.


Duke Folke menatap Alarick dengan wajah merah padam. Dalam hati, ia mengumpati kekurang-ajaran Alarick terhadapnya. Namun, perintah dari Alarick tetap ia tunaikan karena firasatnya mulai mendeteksi hal tidak baik yang sebentar lagi akan menimpa dirinya.


"Nah! Anda jauh lebih terlihat berwibawa jika seperti ini," komentar Alarick setelah melihat Duke Folke selesai mengenakan kemejanya.


"Katakan! Ada apa kau kemari?" tanya Duke Folke to the point.


Alarick menghela napas panjang. Rupanya, para orangtua kolot, memang tak suka membuang waktu.


"Saya membawa perintah penangkapan resmi terhadap Anda, Duke!" ucap Alarick sembari mengeluarkan secarik kertas berstempel resmi kerajaan.


Seketika, mata Duke Folke membulat sempurna. Dia yang awalnya duduk di tepi ranjang langsung berdiri dengan napas yang mendadak sesak.


"Pe-penangkapan? Apa maksudnya ini? Memangnya, aku salah apa?" tanya Duke Folke panik.


"Anda terbukti membantu Duke Hendrick melakukan penggelapan dana pajak serta melakukan pungutan liar di kalangan pedagang tanpa izin resmi dari kerajaan. Selain itu, Anda juga melakukan perdagangan anak-anak di bawah umur dan menjadikan mereka perempuan bayaran tanpa upah."


Duke Folke terkesiap mendengar penuturan panjang lebar Alarick. Dia sama sekali tak menyangka bahwa jejak kejahatannya masih mampu di endus oleh pihak kerajaan. Pasalnya, sejak kabar penangkapan Duke Hendrick tersebar, Duke Folke sudah bergerak dan membayar beberapa orang didalam kerajaan untuk membantunya membersihkan namanya.


"Apa jangan-jangan, orang yang ku bayar tidak melakukan apa-apa? Apa mereka telah menipuku?" geram Duke Folke dengan tangan terkepal.


"Jadi, Anda ingin ikut secara sukarela, atau ingin di seret?" Alarick mengajukan penawaran kepada Duke Folke.


Wajah Duke Folke semakin terlihat semrawut. Berkali-kali, dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan sambil mengambil napas dalam-dalam. Tak berselang lama, dia pun pasrah dan membiarkan pengawal mengikat kedua tangannya dengan tali khusus yang tidak mudah putus lalu menggiringnya menuju keluar.


Sepanjang perjalanan keluar dari bar itu, Duke Folke hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia sangat malu menjadi tontonan pengunjung yang rata-rata merupakan rakyat biasa. Bisik-bisik disertai tatapan tajam menilai dari orang-orang yang memperhatikan sungguh mematikan mentalnya.


"Sudah berapa yang tertangkap?" tanya Ashlan yang mengamati penangkapan tersebut dari sebuah rumah makan yang berhadapan langsung dengan bar tersebut.


"18 orang, Yang Mulia!" jawab pria yang berdiri di sampingnya.


"Sudah ada yang mengaku, siapa nama pemimpin asli mereka?"


Ashlan menatap tajam pria yang sedang di giring masuk ke dalam sebuah kerangkeng yang di bawa oleh seekor kuda dari atas balkon rumah makan itu. Sambil menikmati minumannya, Ashlan tampak menyeringai sinis.


"Tidak apa, Fionn! Sepintar apapun seekor tikus bersembunyi, pasti akan keluar juga jika sudah sangat terdesak. Kita tunggu saja! Sampai kapan, dia akan terus bersembunyi di dalam got yang bau dan gelap itu."


*


"Mau apa kau kemari?" sinis Duchess Levrina saat mengetahui siapa yang datang mengunjunginya.


Kondisi Duchess Levrina semakin memburuk. Tangannya yang terinfeksi mulai membusuk karena dia menolak di obati oleh tabib istana yang beberapa kali datang berkunjung atas perintah sang Kaisar. Walau bagaimanapun, meski Kaisar Sean sangat membenci kakak iparnya itu, namun Kaisar Sean juga tak ingin melihat Duchess Levrina mati. Setidaknya, sampai wanita itu mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan cara yang benar kepada putrinya.


"Apa begitu cara Bibi menyambut keponakan satu-satunya?" tanya Diana setelah sempat terdiam sesaat karena tak menyangka kondisi Duchess Levrina akan seperti ini.


Wajah pucat dengan bibir kering yang mengelupas. Tubuh yang terlihat sangat kurus serta bau tak sedap yang menguar dari lukanya yang membusuk. Hal itu, cukup membuat Diana syok melihat perubahan Bibinya yang dinilai terlalu drastis.


"Cih! Kau bukan keponakanku!" sangkal Duchess Levrina sambil meludah.


Diana sama sekali tak tersinggung dengan kelakuan Bibinya kali ini. Sebaliknya, dia malah menatap kasihan kepada Duchess Levrina yang sudah seperti tikus terjepit namun masih berusaha melawan dengan gigitan.


"Ya, itu benar!" angguk Diana. "Aku memang bukan keponakanmu karena kau dan Ibuku tidak ada hubungan DARAH! KAU HANYA SAMPAH YANG KEBETULAN MASUK KE DALAM KELUARGA IBUKU BERKAT KELAKUAN IBUMU YANG JUGA SEPERTI SAMPAH! KAU PAHAM, LEVRINA?"


Sepasang mata Duchess Levrina terbelalak lebar. Dia merasa sangat tak terima dengan hinaan Diana.


"Kau...," Gigi wanita paruh baya itu bergemelatuk. "Jaga bicaramu, anak sial!"


"Kau yang harus jaga sopan santunmu, perempuan hina!" balas Diana tak kalah garang.


Napas Duchess Levrina tersengal mendengar ucapan Diana. Ingin rasanya dia menampar sang keponakan namun tenaganya tak mampu untuk sekadar mengangkat tangannya.


"Bersiaplah, Levrina!" bisik Diana di telinga Duchess Levrina. Bibir perempuan berambut cokelat itu tampak tersenyum sinis. "Karma untukmu sudah tiba."


"Kau tidak berhak memperlakukan aku seperti ini, Diana!" teriak Duchess Levrina ketika Diana mulai melangkah pergi meninggalkannya.


Sementara, Diana hanya tertawa mendengar teriakan sang Bibi. Rasa iba dan simpati itu telah mati untuk Duchess Levrina. Walau dengan menyiksa Duchess Levrina memang tak akan membuat Ibunya hidup kembali, namun setidaknya Ibunya harus mendapatkan keadilan atas kematiannya.


Mengusap air mata yang sempat menetes dari netranya, Diana kembali mengembangkan senyum saat memasuki kamar yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya selama 24 tahun. Disana, telah menunggu seorang wanita paruh baya yang asyik menikmati pemandangan indah dari bilik jendela.


"Lama tidak bertemu, Bibi Rosemary!" sapa Diana dengan senyum yang sarat akan makna.


Mendengar suara yang begitu amat ia kenali, wanita paruh baya itu menengok ke belakang. Senyum bersahaja yang sedari dulu tak luntur dari wajahnya menyambut Diana dengan ramah.


"Apakah waktu untuk menebus semua kesalahan Bibi sudah tiba, Yang Mulia?" tanya Bibi Rosemary lembut tanpa rasa takut.


Demi apapun, Diana berusaha mati-matian untuk menahan kaca-kaca tipis yang mulai berkumpul agar tak terjatuh di hadapan wanita yang menjadi kunci kematian Ibu Kandungnya. Namun, di sisi lain, rasa sayang yang selama 24 tahun ia miliki terhadap Bibi Rosemary mulai menggoyahkan keyakinannya.


Perlahan, Bibi Rosemary mendekat. Dia menggenggam tangan Diana yang terkepal erat lalu mengusap pelan pipi putri yang selama 24 tahun telah ia besarkan layaknya anak sendiri itu.


"Jangan menangis, anakku! Jangan pula goyah akan keputusanmu! Bibi memang bersalah! Sangat...," ucap Bibi Rosemary sambil tersenyum getir. "Hukum Bibi sesuai hukum yang berlaku! Jangan ragu! Lakukan! Kau seorang Putri mahkota! Tegakkan kebenaran yang memang harus kau pegang teguh! Bibi siap mati asal kau yang mengakhiri nyawa Bibi dengan tanganmu sendiri."


"Kenapa?" lirih Diana dengan air mata yang tak mampu lagi ia bendung.


Bibi Rosemary tak menjawab. Wanita tua itu hanya menggeleng sambil mengusap pipinya yang juga telah basah karena air mata.