Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kabar bahagia?



"Ada seseorang yang tadi mencari Yang Mulia kemari," lapor Mulanie begitu pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta itu keluar dari dalam kamar. Alis Ashlan perlahan mengernyit. Mencoba mencari tahu kelanjutan kalimat Mulanie tentang siapa gerangan yang dimaksud oleh pelayan pribadi istrinya itu.


"Siapa?" tanyanya dingin.


"Ksatria Bennett."


Mendengar nama itu disebut, Ashlan membulatkan kedua matanya. Gurat kerinduan tergambar jelas lewat kaca-kaca tipis yang terlihat mulai menggenang di sudut matanya. Diana yang berdiri sembari menggenggam erat jemari kokoh itu langsung menyunggingkan senyum kala tatapan Ashlan terpatri padanya.


"Pergilah! Temui Ksatria Bennett! Anda perlu menyelesaikan semua masalah jika ingin hubungan kalian kembali seperti semula."


Ashlan mengangguk. Satu kecupan mendarat di dahi Diana. "Aku akan segera kembali," lirihnya sebelum melepaskan genggaman tangan mereka lalu berjalan dengan langkah lebar mencari keberadaan sepupunya.


"Dimana Alarick?" tanya Ashlan kepada Jax dan beberapa Ksatria lain yang sedang latihan di lapangan panahan.


"Maaf, Yang Mulia. Kami tidak lihat," jawab Jax setelah sebelumnya membungkukkan badan memberi penghormatan kepada pemimpin tertinggi kerajaannya itu.


Ashlan menghela napas panjang. Di tepuknya bahu Jax sebelum kembali melangkah mencari keberadaan sang sepupu. Hampir setengah jam mengitari area istana, akhirnya keberadaan Alarick berhasil ia temui di dalam perpustakaan. Pria itu tampak serius membaca sebuah buku yang Ashlan kenali sebagai buku yang berisi silsilah keturunan keluarga kerajaan dari masa ke masa.


"Rick," panggil Ashlan.


Alarick mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke sumber suara lalu mengembangkan senyum sembari berlutut di hadapan sang Kaisar. Suaranya bergetar ketika dia melaporkan bahwa dirinya telah kembali dan siap mengemban tugas kembali.


"Dasar! Kenapa perginya lama sekali, hah?" gerutu Ashlan seraya memukul pundak Alarick dengan keras.


Alarick tersenyum tipis. Masih dalam posisi berlutut, ia membiarkan Ashlan memukulnya beberapa kali.


"Maaf jika saya membuat Yang Mulia khawatir," ucapnya.


"Kau pikir dengan maaf saja cukup?" tanya Ashlan. "Berdirilah!" titahnya yang langsung dituruti Alarick tampak banyak bicara.


Kedua saudara itu saling bertatapan sebentar dengan mata yang sama-sama berkaca-kaca. Selang beberapa detik, mereka berpelukan erat dalam haru sembari memikul beban yang sama.


"Maaf, karena aku meragukanmu!" ucap Ashlan penuh penyesalan.


Alarick terdiam. Pria itu menangis dalam diam sembari menggigit bibir bawahnya. Sungguh! Hanya Ashlan yang kini tersisa dan mampu menjadi sandarannya. Ia tak akan mampu jika saudaranya itu tega mengikis kepercayaan atas dirinya hanya karena dia putra dari seseorang yang begitu kejam seperti Damian.


"Apa kau terluka?" tanya Ashlan cemas.


Alarick tertunduk dalam. Pria itu menggeleng. "Tidak."


"Apa kau baik-baik saja?"


Alarick diam.


"Kau ingin melihat dimana makam Ayahmu?"


Deg!


Hati Alarick kembali berdenyut nyeri kala nama itu disebutkan Ashlan. Pria berambut ikal itu memalingkan wajah. Kebencian jelas tersirat di sepasang mata yang ia miliki. Entahlah! Alarick tak mampu mendefinisikan perasaan yang tergambar dalam dirinya jika mengingat satu nama itu.


Menyadari bahwa luka hati sang sepupu belum sepenuhnya sembuh oleh pengkhianatan ayah kandungnya sendiri, Ashlan hanya bisa menarik napas dalam kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan ke pokok bahasan lain.


"Kau ingin menemaniku untuk menemui Lucas?"


Mata Alarick sontak membulat mendengar satu nama itu. "Dia belum mati?" tanyanya setengah terkejut.


Ashlan menggeleng. "Tidak. Dia masih hidup. Bahkan, aku dan Ratu tidak habis pikir kenapa dia masih bisa bertahan tanpa ramuan yang selalu dia minum."


Alarick tampak berpikir sejenak. Ia mencoba menganalisis permasalahan dengan pengetahuannya yang tak terlalu banyak mengenai sihir terlarang.


"Apa ada seseorang yang diam-diam memberinya ramuan itu kembali?"


Dengan cepat, Ashlan menampik asumsi Alarick dengan gelengan kepala. "Tidak mungkin, Rick. Dia dikurung di dalam penjara khusus. Mustahil ada seseorang yang bisa bebas menemuinya sementara penjagaan di sana sangat ketat."


"Lalu, kenapa dia masih bisa hidup? Bukankah ini sudah lewat dari dua minggu?"


"Lebih baik kita cari tahu," jawab Ashlan.


Kedua pria hebat itu lalu melangkah pergi menuju ke tempat dimana Lucas di penjara. Sepanjang perjalanan hanya dipenuhi kalimat protes Ashlan yang begitu membenci penampilan sang sepupu saat ini. Sementara, Alarick hanya pasrah dan sesekali meringis mendengar ocehan nyelekit Ashlan yang menohok. Bagi pria berambut ikal itu, ia tak punya kuasa apapun untuk melawan balik menghina fisik Ashlan yang sejatinya memang tak ada cacat sedikitpun.


"Aku tidak mau tahu, Rick! Potong rambut dan jambangmu jika masih ingin bekerja sebagai Ksatria pengawal utamaku," peringat Ashlan.


"Iya, iya," jawab Alarick malas.


Melangkah pelan memasuki area penjara khusus yang biasanya digunakan untuk mengurung penyihir hebat yang berbuat kriminal, Ashlan dan Alarick sontak bersembunyi saat mendengar ringisan pria yang mereka duga sebagai Lucas. Terdengar Lucas menjerit kesakitan dan meminta kepada seseorang untuk dilenyapkan saja.


"Kau nenek tua iblis! Tega sekali kau membuatku seperti ini," lolong Lucas menahan kesakitan.


Tubuhnya sudah membusuk bahkan sudah dipenuhi belatung di beberapa bagian. Betis kanan, dada bagian kiri, wajah sebelah kiri dan juga sepasang tangannya benar-benar sudah menguarkan bau busuk yang sangat menganggu indera penciuman. Namun, tampaknya nenek tua yang berdiri di hadapannya sama sekali tidak terpengaruh. Malah, dia terlihat senang melihat Lucas yang begitu tersiksa karena hidup dalam tubuh yang sejatinya telah lama mati.


"Itu hukuman untuk pria lancang yang berani menggunakan tubuh anggota keluarga kerajaan demi melancarkan aksi kejahatannya. Lihatlah! Bahkan, sihir gelap dalam tubuhmu tak bisa membantu untuk sekadar menyingkirkan belatung yang ada pada lukamu," ejek nenek tua itu sarkas.


"Kau benar-benar iblis nenek tua. Akh!!!" ringis Lucas kala luka membusuk miliknya terasa berdenyut nyeri seolah baru saja ditusuk ribuan jarum.


Nenek tua itu menyeringai puas melihat penderitaan pria itu. "Selamat menikmati konsekuensi dari penggunaan sihir gelap, pria tua!"


"Tunggu! Mau kemana kau, hah? Tolong, obati lukaku! Aku mohon!" teriak Lucas panik ketika nenek tua itu mulai melangkah pergi. Namun, bukannya peduli, si nenek tua terus berjalan tanpa berniat menoleh sedikitpun.


"Kenapa Anda berada disini?" tanya Ashlan yang langsung mencegat langkah si nenek tua.


"Apa ada larangan bahwa aku tak boleh ada disini?" Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya. Tak ada raut terkejut atau merasa panik dengan kehadiran Ashlan dan Alarick yang tiba-tiba. Sebaliknya ia berlaku tenang seolah yang dia lakukan saat ini bukanlah pelanggaran berat.


"Nyonya menemui seorang tahanan yang tak boleh di kunjungi oleh siapapun. Jelas, itu tak dibolehkan."


"Lalu?" Sebelah alis itu terangkat. "Apa Yang Mulia Kaisar keberatan?"


Ashlan menghela napas. Meski kedudukannya adalah seorang Kaisar, namun berbicara dihadapan nenek tua itu tak boleh berlaku kurang ajar atau semena-mena. Biar bagaimanapun, Nenek Anneth adalah penyihir legendaris yang dihormati oleh semua orang termasuk dirinya.


"Tergantung pada penjelasan Nyonya."


Nenek Anneth mengangguk paham seraya terkekeh. "Aku hanya memberinya sedikit konsekuensi atas tindakannya yang berani menggunakan sihir hitam di area pengawasanku."


"Jadi, Nyonya yang membuat dia terus bertahan hidup?"


"Jangan khawatir!" Nenek Anneth menghela tangan keriputnya ke udara. "Tak lama lagi, dia akan mati karena sekarat. Tubuhnya saja sudah membusuk dan dipenuhi belatung."


"Bagaimana jika...,"


"Tak ada yang perlu kau cemaskan," potong Nenek Anneth dengan cepat. "Dia memang memiliki sihir gelap tapi tidak sehebat yang dimiliki oleh Ayah pria ini," ucapnya seraya menoleh menatap Alarick. "Aku jamin, dia tak akan bisa kabur kemana-mana sampai ajal menjemput."


Ashlan mengangguk mengerti. Kemudian, Nenek Anneth kembali melanjutkan langkahnya untuk segera pergi dari sana.


"Oh iya, sebaiknya Yang Mulia Ratu jangan dibiarkan melakukan hal yang berat-berat!"


"Maksud Nyonya?" tanya Ashlan bingung.


Nenek Anneth terkekeh. "Kasihan bayi kecil yang berada didalam perutnya."


Sontak, Ashlan membulatkan kedua matanya dengan binar penuh kebahagiaan. Pun, dengan Alarick. Ia juga tak kalah terkejut dan senangnya dengan kabar gembira ini.


"Aku akan jadi Ayah sebentar lagi, Rick!"


"Selamat Yang Mulia!"


Sementara, Nenek Anneth kembali melangkah kakinya pergi dari tempat itu. Perlahan wajah tersenyum itu mulai berubah datar. Entah apa yang sedang ia pikirkan, namun itu bukanlah sesuatu yang baik untuk Diana maupun Ashlan.