
"Darimana saja kau?"
Ucapan menggema memenuhi ruang tamu yang hanya di terangi cahaya dari lampu berdiri yang terletak disudut sofa membuat langkah Ashlan terhenti. Tak lama, terdengar tepukan tangan sebanyak dua kali, dan lampu di ruang tamu rumah megah itu kompak menyala nyaris bersamaan.
Tepat di sofa tunggal, seorang pria tua dengan rambut putih dan jambang yang berwarna senada sedang duduk sambil memegang tongkatnya. Wajahnya mengeras. Tampak geram melihat kelakuan cucu satu-satunya yang semakin hari menurutnya semakin susah untuk diatur.
"Kenapa kau masih berani pulang ke sini, hah? Bukannya kau sudah lupa bahwa kau masih punya seorang kakek disini?" bentaknya sembari mengetukkan tongkatnya ke permukaan lantai.
Ashlan membalas kemarahan sang Kakek dengan satu senyuman. Tak berselang lama, lelaki tampan itu berlari dan berlutut dihadapan sang Kakek sembari memeluk erat pinggang pria tua itu.
"A-apa-apaan ini?" tanya Peter gugup sekaligus heran.
"Kakek... Aku sedang sangat senang," tutur Ashlan.
Amarah Peter langsung surut begitu saja mendengar penuturan sang cucu. Ditambah lagi, senyum yang terbit diwajah tampan Ashlan yang ia wariskan, benar-benar menyentuh sudut terdalam dari hati pria tua itu. Entah sudah berapa lama, ia tak melihat senyum selebar itu di wajah cucunya lagi. Apakah sejak orangtua cucunya meninggal atau mungkin jauh sebelum kecelakaan itu terjadi.
Ashlan tumbuh di lingkungan elit yang membuatnya harus belajar bisnis sedari kecil. Bermain menjadi nomor ke sekian dalam kamus hidupnya yang sudah terencana jauh sebelum dia ada. Kedua orangtuanya jarang berada di rumah. Bahkan, untuk sekadar makan malam bersama saja, bisa dihitung jari hanya berapa kali dalam setahun.
Orangtuanya selalu beralasan sibuk. Bertemu dengan klien penting, pejabat bahkan sekadar menghadiri pesta orang-orang kelas atas atau reuni yang tak jelas. Ashlan mereka percayakan sepenuhnya kepada pengasuh. Hanya sang Kakek, yang terkadang peka akan kesepian yang di rasakan oleh cucu satu-satunya itu. Ashlan bahkan tak memiliki saudara lagi karena Ibunya beralasan tak mau bentuk tubuhnya menjadi jelek seperti dulu karena kelebihan bobot kala mengandung dan melahirkan Ashlan. Bagi wanita itu, cukup melahirkan satu penerus, itu sudah sangat membanggakan dan merupakan pengorbanan terbesar dalam hidupnya. Sementara, sang suami juga setuju dengan anggapan sang istri. Ia juga tak mau jika bentuk tubuh istrinya menjadi kelebihan bobot lagi seperti dulu karena baginya itu hal yang memalukan.
Hingga, pada suatu hari, mereka sedang menghadiri acara di salah satu mansion milik seorang bangsawan. Sepulang dari sana, dalam keadaan mabuk berat, Ayah Ashlan memaksa untuk membawa mobil sendiri dan malah memarahi supir yang menolak mengizinkannya. Alhasil, sang supir akhirnya pasrah memberikan kunci mobil setelah mendapat satu pukulan tepat di rahangnya.
Ayah Ashlan akhirnya pulang dengan membawa mobil sendiri bersama istrinya. Di tengah perjalanan, mobil yang melaju kencang merosot ke dalam tebing curam setelah menabrak pembatas jalan. Keduanya ditemukan tewas setelah selama empat hari dinyatakan hilang.
Mengingat kenangan buruk itu, tentu Peter sangat bersyukur jika akhirnya sang cucu mampu menemukan alasan untuknya kembali tertawa.
"Sebenarnya ada apa? Jelaskan pada Kakek. Dan.. kemana saja kau, sampai jam segini baru sampai ke rumah," tanya Peter penasaran.
Ashlan mengurai pelukannya. Ia mendongak menatap Peter dengan wajah yang masih di hiasi senyum.
"Jika aku mengatakan ingin menikah, sudikah Kakek merestui?"
Deg!
Pertanyaan itu membuat jantung Peter benar-benar terkejut. Sepasang mata sayu miliknya langsung berbinar bahagia. Setelah merencanakan berkali-kali perjodohan dan semuanya di tolak mentah-mentah oleh sang cucu, kini cucunya sendiri yang kini mengatakan bahwa dia akan menikah.
"Tentu, tentu saja Kakek akan merestui, Ash!" jawab Peter bersemangat.
"Sekalipun... perempuan itu bukan dari kalangan atas seperti kita?" tanya Ashlan sedikit ragu.
Peter menarik napas panjang. Diusapnya puncak kepala sang cucu sambil menggelengkan kepala.
"Nenekmu dulu juga berasal dari keluarga yang sederhana, Ash. Tapi, kedua orangtua Kakek menerimanya dengan tangan terbuka. Jadi, tidak alasan untuk Kakek menolak pilihanmu jika memang itu yang terbaik menurutmu." Peter menghela napas sumringah. "Bagi pria tua ini, kebahagiaan cucu satu-satunya adalah yang terpenting dibanding segala apapun yang ada didunia ini."
Mendengar ucapan sang Kakek, Ashlan kembali membenamkan wajahnya di pangkuan pria tua itu. Jujur, dia terharu. Ia tak menyangka jika restu semudah ini akan dia dapatkan.
"Boleh kakek menemui perempuan yang sudah berhasil mencuri hati cucu kakek satu-satunya, Ash?" tanya Peter.
Ashlan mengangguk antusias yang disambut gelak tawa oleh pria tua dihadapannya.
"Sekarang, beristirahatlah! Besok kau harus tetap berangkat pagi untuk ke kantor. Tidak ada drama terlambat atau kau akan Kakek pecat agar tak bisa mengumpulkan modal untuk menikah," kelakar Peter yang sengaja menggoda sang cucu.
"Asal banyak uang, yang seperti Kakek pun masih laku jika berniat mencari istri muda di luaran sana."
"Jangan coba-coba, Kek!" ancam Ashlan dengan mata menyipit.
Peter tertawa terbahak-bahak melihat reaksi sang cucu. Ashlan memang paling tak suka jika Peter bergurau mengenai akan menikah lagi dengan daun muda. Padahal, beberapa wanita yang pernah ditolak Ashlan, pernah menawarkan diri untuk menikahi Peter saja. Atau minimal, dijadikan simpanan pun tak apa-apa. Namun, Peter dengan tegas menolak mentah-mentah. Akan tetapi, hal itu selamanya hanya akan menjadi rahasianya yang tak akan pernah ia beberkan kepada Ashlan.
"Sekarang, cepatlah tidur!" titah Peter sembari menepuk bahu sang cucu.
"Baiklah! Tapi izinkan aku mengantarkan Kakek ke kamar Kakek terlebih dahulu," kata Ashlan yang sigap berdiri dan menuntun Kakeknya menuju ke kamar.
*
Pagi ini Ashlan berangkat ke kantor dengan wajah ceria dan penuh dengan senyuman. Setiap pelayan yang ia temui di rumah, ia sapa dengan ramah. Pun, ketika tiba di kantor. Hampir seluruh karyawan yang berpapasan dengannya, ia hadiahi senyum yang selama ini dibilang sangat langka dan merupakan keberuntungan jika ada yang bisa melihatnya.
"Ada apa dengan Tuan muda kita?" tanya seorang pelayan yang tadi pagi bertugas menyiapkan sarapan dan dihadiahi ucapan terimakasih oleh Ashlan setelah selesai membuat segelas jus jeruk.
"Jangan banyak bertanya! Seharusnya kau bersyukur jika akhirnya Tuan muda mau menegur kita," jawab rekannya sembari terus fokus membersihkan kaca jendela.
Selepas menghadiri rapat penting dengan seorang klien asal Tiongkok, Ashlan akhirnya bernapas lega setelah semua agenda hari ini benar-benar selesai. Tersisa beberapa pekerjaan yang masih bisa di handle oleh Ayse, sekretarisnya yang merupakan seorang perempuan asal Turki yang kebetulan menikah dengan pria Inggris dan menetap di Birmingham. Wanita berhijab beranak satu itu cukup bisa diandalkan karena ketelitian dan kecerdasannya.
"Bisa kau hubungkan dengan Diana, Rick?" tanya Ashlan kepada Erick yang setia mengekori langkahnya.
"Tentu," jawab Erick seraya menghubungi Diana melalui ponsel Ashlan yang memang terbiasa ia pegang jika sang Tuan Muda sedang menghadiri rapat penting. Setelah panggilan terhubung, sebuah headset wireless ia berikan kepada Ashlan untuk dipakai pria itu.
"Aku akan ke sana. Tunggu aku! Dan, pastikan Ratu dandan yang cantik hari ini," ucap Ashlan kepada lawan bicaranya.
"Aku ingin kau menemui seseorang yang sangat spesial untukku hari ini, Ratu!" kata Ashlan lagi.
Jawaban dari lawan bicara Ashlan tak bisa didengar oleh Erick. Namun, melihat sang Tuan Muda tersenyum, Erick juga otomatis ikut tersenyum.
"Ah, Ratu rupanya sangat penasaran, ya? Baiklah! Akan ku katakan!" Ashlan masuk ke dalam mobil setelah pintu dibukakan oleh Erick. "Hari ini, kau akan bertemu dengan calon mertuamu, Ratu!"
Diseberang sana, Diana langsung terkulai lemas setelah mendengar ucapan Ashlan. Calon mertua katanya?
"Kau kenapa, Di? Sakit lagi?" tanya Kepala koki yang sigap menghampiri Diana dan menempelkan punggung tangannya di dahi gadis itu.
"Kau benar-benar sakit? Kalau begitu, cepat beristirahat!" kata Katy yang ikut-ikutan perhatian berlebihan.
Diana menggeleng lemah. "Aku tidak sakit," sanggahnya.
"Lalu kau kenapa?" tanya Katy. Jangan sampai calon istri horang kaya jadi sakit. Katy tak mau hal itu terjadi karena tak mau si horang kaya menganggapnya teman yang tak becus menjaga teman.
Ya, sejak di sogok Ashlan beberapa hari lalu dengan uang untuk makan-makan dan bersenang-senang, semua teman-teman Diana mendadak menaruh perhatian lebih kepada Diana. Hal itu membuat Diana sedikit jengah karena hanya melakukan sedikit keteledoran dalam bekerja saja, maka satu dapur akan heboh. Bahkan, sedikit menumpahkan saus saja, maka orang-orang akan berkerumun dan menanyakan apakah Diana pusing atau tidak.
"Kata Ashlan, hari ini aku akan bertemu dengan calon mertua!"
"Apa?"
Dan, seisi dapur kembali heboh bukan kepalang.