Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Tentang perasaan orangtua



Setelah menggantikan baju Ashlan serta menyelimuti tubuh pria itu, Diana memutuskan untuk kembali ke aula utama. Sebagai seorang Ratu, ia menggantikan tugas Ashlan untuk menutup acara malam itu. Para duta negara lain tampak sangat puas dengan pelayanan kerajaan Timur kali ini. Mereka memuji keramahan sang Ratu serta nuansa kamar tempat mereka menginap dan juga aneka makanan yang baru pertama kali mereka coba.


Jelas, untuk masalah makanan, Diana sudah terlatih karena pada dasarnya ia memang koki yang handal. Tak hanya mendalami ilmu sebagai 'Saute Chef', Diana juga ahli di bidang membuat kue-kue yang enak karena ia sangat menyukai makanan manis. Daripada membeli, Diana lebih suka membuat sendiri karena takaran gula untuk mendapatkan rasa yang sesuai dengan lidahnya bisa ia sesuaikan.


Sempat ada kecemasan ketika harus meninggalkan Ashlan sendirian dalam keadaan tak sadar. Namun, Ksatria Bennett meyakinkan bahwa Ashlan akan baik-baik saja karena di bagian istana tempat mereka tinggal, sudah dilingkari sihir pelindung yang sangat kuat.


"Kenapa mereka pulang dengan terburu-buru?" tanya Diana dalam hati kala melihat keluarga Duke Hendrick meninggalkan pesta sebelum acara benar-benar selesai.


"Lebih baik biarkan saja. Justru bagus jika mereka pergi," imbuhnya seraya mengendikkan bahu.


Selesai menutup acara, Diana kembali ke kamar untuk beristirahat. Senyum terpancar di wajah ketika melihat betapa damainya Ashlan yang masih tertidur lelap. Wajah tampan itu terlihat semakin tampan.


"Andai aku tak punya ingatan masa lalu, mungkin aku sudah jatuh cinta pada pria sepertimu," ucapnya lirih.


*


Saat pagi kembali menyapa, Diana dibuat heran dengan ketiadaan Mulanie seperti biasanya. Alis perempuan berambut kecoklatan itu mengernyit. Ia memaksakan tubuh yang lelah untuk bangun meski matanya masih tertutup rapat.


"Selamat pagi," sapa seseorang yang membuat Diana berhasil membuka mata ngantuknya.


"Yang Mulia?"


Ashlan tersenyum. Topeng yang biasa ia pakai, masih belum dikenakannya. Rambut yang terlihat basah entah kenapa membuatnya kelihatan jadi... seksi?


Sontak, Diana menepuk wajahnya keras saat pikirannya kembali 'traveling' kemana-mana. Aih! Kenapa akhir-akhir ini ia selalu berpikiran mesum saat melihat sosok Ashlan? Apakah pengaruh hormon atau memang dirinya yang memang memiliki pikiran kotor terpendam?


"Untuk Ratu," kata Ashlan sembari menyodorkan segelas susu hangat kepada Diana.


"Terimakasih," ucap Diana canggung. Ia meminum susu hangat pemberian Ashlan dengan memalingkan wajah. ke arah lain. Sedikit risih karena pandangan Kaisar tak ingin lepas dari dirinya.


"Terimakasih untuk yang semalam," ucap Ashlan.


"Memangnya, apa yang ku lakukan?" tanya Diana bingung.


"Ratu sudah bersedia mengurusi aku yang sedang mabuk. Padahal, aku yakin bahwa itu pasti sedikit merepotkan."


"Tidak apa-apa. Lagipula, Ksatria Bennett banyak membantu."


Mendengar nama sang sepupu di ungkit, alis Ashlan mendadak mengernyit heran. "Alarick?"


Diana mengangguk. "Dia yang menggendong Yang Mulia sampai ke kamar."


Ashlan tersenyum kecil. Rupanya, sang sepupu masih sama perhatiannya dengan yang dulu. Tapi, kenapa rasa curiga itu enggan pergi dari hatinya?


Memilih untuk tidak membahas Ksatria Bennett, Ashlan akhirnya mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


"Ratu tidak marah mengenai masalah semalam?"


"Tentang Verona?" tebak Diana.


Ashlan mengangguk membenarkan.


"Tentu saja marah," jawabnya sedikit ketus. Wajah Ashlan langsung berubah tegang. Ia kemudian menggenggam tangan sang Ratu dengan erat.


"Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa terhadapnya. Sumpah!"


Diana berdecak sebal. Gampang sekali para kaum lelaki bersumpah seperti itu. Entah, dari zaman manapun mereka berasal, lelaki sepertinya memang ahlinya dalam bersumpah.


"Bohong!"


"Aku tidak berbohong sama sekali, Ratu."


"Jika tidak melakukan apa-apa, kenapa baju Verona bisa sampai terbuka seperti itu?"


"Dia membukanya sendiri," jawab Ashlan dengan cepat.


"Lalu, apa Yang Mulia melihat isinya?" tanya Diana dengan mata memicing.


"CK," Diana berdecak. "Sudah ku duga, dimana-mana lelaki memang sama." Ia mengambil kesimpulan sendiri.


"Dia sendiri yang memperlihatkan dan aku juga kebetulan punya mata. Wajar jika aku...," Kalimat Ashlan mendadak hilang di akhir kalimat saat mendapati tatapan tajam dari sang istri.


"Yang Mulia menyebalkan!" tutur Diana sembari meletakkan gelas susu hangatnya di atas nakas sedikit kasar.


"Ra-Ratu...,"


"Minggir, saya ingin mandi!" kata Diana sedikit keras.


Nyali Ashlan menciut. Lelaki itu menggeser sedikit posisinya menjauh agar Diana memiliki ruang untuk turun dari tempat tidur.


"Perlu bantuan?" teriak Ashlan saat Diana sudah hampir mencapai kamar mandi.


"Tidak butuh!" jawab Diana yang semakin bertambah kesal.


Ashlan tertawa melihat tingkah istrinya pagi ini. Ekspresi kekesalan di wajah Diana memberi lelaki itu sedikit kepercayaan diri. Ada untungnya juga semalam Verona datang menggodanya.


"Sepertinya, Ratu mulai cemburu," gumamnya yang tak mampu menahan senyum.


Didalam kamar mandi, Diana masih tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ada sesuatu yang panas tapi bukan api. Atau jangan-jangan, Diana sedang cemburu?


"Hah... Mana mungkin?" ucapnya seraya menertawakan diri sendiri. "Aku cemburu?" imbuhnya tak percaya.


"Arghhh!!! Aku bisa gila!"


*


"Yang Mulia!" sapa Mulanie dengan hormat kepada Ashlan.


"Ada apa?"


"Tuan Fionn datang mencari Anda," jawab Mulanie.


Ashlan menghela nafas. Ia dengan segera keluar dari dalam kamar untuk gegas menemui Fionn. Pasti, Pamannya sudah kembali.


"Pastikan Ratu tak melewatkan sarapan, Mulanie!" pesannya sebelum pergi.


Mulanie mengangguk patuh. Gadis itu tersenyum melihat perhatian kecil yang Ashlan berikan kepada Diana.


"Ash...,"


Sosok pria paruh baya yang beberapa hari lalu diutus pergi untuk mengambil beberapa bukti kini telah kembali. Ditangannya terdapat sebuah kain hitam berisi tumpukan buku-buku tebal.


"Paman sudah membawanya. Di sini, ada banyak catatan pelanggaran yang dilakukan Duke Hendrick berserta bawahannya." Damian membuka ikatan kain tersebut dengan tak sabaran. "Dan juga...," Ia menarik sebuah buku yang ukurannya jauh lebih tipis dan kecil dibanding yang lain. "Ini catatan khusus dari sang Kaisar terdahulu untuk diberikan kepadamu," ucapnya seraya mengangsurkan buku tersebut pada Ashlan.


"Catatan apa ini?" tanya Ashlan seraya mengerutkan alis.


"Semua keraguanmu akan terjawab disana."


Mata Ashlan berkaca-kaca ketika membuka lembaran buku catatan tersebut. Ya, tulisan yang ada disana benar adalah tulisan milik Ayahnya. Ashlan bahkan merasakan sedikit sengatan sihir yang ia pastikan sebagai pelindung buku itu agar tidak mudah hancur atau dibuka oleh orang lain selain dirinya.


"Kau bukan anak haram, Ash! Kau benar-benar putra kandung Ayahmu!"


Tangis Ashlan pecah. Suaranya bahkan menggema memenuhi ruangan rahasia itu. "Tapi, kenapa wajahku tidak mirip dengan wajahnya, Paman?"


Sementara itu, di tempat lain, Diana juga mendadak lemas dan jatuh ke sofa karena menerima sebuah undangan yang tak pernah ia sangka. Tak jauh berbeda dengan Ashlan, Diana juga menangis setelah membaca isi surat itu.


"Pulanglah! Ayah merindukanmu!"


Singkat sekali isi pesan itu namun membuat Diana merasakan sakit yang luar biasa didalam hatinya.


"Kenapa baru sekarang Ayah mengatakan rindu?" lirihnya.