
Sihir.
Satu kata itu masih menganggu di benak Diana. Sejak pulang dari hutan sore itu, Ashlan mulai bertekad mengajarinya cara untuk membangkitkan dan menggunakan sihirnya. Namun, sayang. Sudah hampir satu Minggu dia belajar tapi belum memiliki kemajuan apa-apa.
"Fokus, Ratu! Pikirkan dengan penuh konsentrasi. Rasakan energi itu mengalir dari dalam tubuh kemudian berkumpul di satu titik yang Ratu kehendaki. Bayangkan, seperti apa bentuk alirannya lalu pancarkan sesuai keinginan Ratu!"
Hah!!
Diana jengah dengan kalimat yang hampir sama setiap hari. Lebih menyebalkan lagi karena Ashlan mengucapkannya dengan sangat galak. Tidak ada kelembutan sama sekali dalam perkataan lelaki itu. Bahkan, Ashlan jauh lebih galak dari guru matematikanya semasa junior high school saat Diana lupa mengerjakan PR atau malah ketiduran di jam pelajaran.
"Ratu dengar?" tegur Ashlan yang melihat Diana hanya melamun ditempat.
"Iya," jawab gadis itu sedikit ketus.
"Apa Ratu bisa sedikit serius? Lihatlah! Semua orang ditempat ini berusaha sekuat tenaga mereka. Tapi Ratu? Ratu sama sekali tidak benar-benar mencoba berusaha seperti mereka."
"Aku tidak mau belajar lagi!" ketus Diana pada akhirnya. Wanita itu menghentakkan kaki sambil berusaha menahan airmata yang mendobrak hendak keluar saat Ashlan menudingnya 'sama sekali tidak pernah benar-benar berusaha'. Dia memutuskan kabur dari tempat latihan dibawah pandangan belasan pasang mata Ksatria yang juga ikut berlatih ditempat yang sama dengannya.
"Yang Mulia!" panggil Mulanie pelan. Diantara sekian banyaknya orang, hanya gadis itu yang akan selalu berlari pertama kali untuk menemuinya dan memastikan keadaannya. Saat ini, Diana sedang meringkuk sambil memeluk kedua lututnya dibawah pohon ek tua dibelakang istana.
"Memangnya dia siapa, bisa menilai usahaku seperti itu, Lanie?" Diana memulai sesi curhat tanpa diminta. Dan, seperti biasa, Mulanie diam mendengar tanpa mau menyela sebelum kalimat Diana benar-benar tuntas.
"Aku sudah berusaha dari pagi sampai malam hari. Terkadang, aku sampai terjaga di tengah malam demi melatih sihirku. Tapi, aku bisa apa kalau sihir itu memang benar-benar tidak ada di diriku,Lanie? Mungkin, yang kalian lihat hari itu hanya kebetulan. Bisa jadi, Ray yang sebenarnya mengeluarkan sihir itu dan bukan aku."
"Tapi, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Yang Mulia! Sihir itu benar-benar milik Anda!" kata Mulanie dengan yakin. Membantah mentah-mentah keraguan Diana terhadap dirinya sendiri tanpa ragu.
"Tapi, kenyataannya sihirku sekarang tidak pernah muncul lagi, kan?" Diana bersuara sedikit keras.
Mulanie menghela nafas panjang. Ia menyentuh lembut pundak Diana yang enggan menatapnya. "Mungkin, ada sesuatu yang Anda lupakan sehingga sihir Anda tidak bisa digunakan."
Perkataan Mulanie yang terakhir sukses membuat kepala Diana yang sedari tadi terbenam dikedua lututnya kini mendongak. Kedua alis tebalnya tampak mengkerut. Ia tampak berusaha mengingat sesuatu yang pernah ia dengar didalam mimpi.
'Terima dirimu apa adanya!'
Ah! Apa maksud dari kalimat itu adalah bahwa Diana harus benar-benar meleburkan diri dengan pribadi Diana Emerald? Sosok dirinya di masa lalu dan masa sekarang, haruskah ia mulai menerima sepenuhnya takdir itu? Tapi, jika Diana benar-benar melakukannya, apakah artinya dia tidak akan pernah kembali ke kehidupan aslinya?
Masih sibuk berkutat dengan pikirannya yang pelik, tiba-tiba saja Mulanie terlihat buru-buru berdiri dan menyambut kedatangan seseorang. Ya, Ashlan. Lelaki itu rupanya juga menyusul Diana dan meminta Mulanie untuk meninggalkan mereka berdua.
Netra kehijauan itu masih menyimpan dendam kepada Ashlan. Lelaki itu tahu dan hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia pun memilih untuk duduk di sisi Diana meski gadis itu segera menggeser posisinya agak menjauh saat Ashlan berada didekatnya.
"Ratu masih marah?" tanya pria itu lembut. Pribadi yang sangat berbanding terbalik saat dia mengajar Diana beberapa saat yang lalu.
"Maaf!" Ashlan berucap lembut dan membuat darah Diana seketika berdesir. Ada perasaan aneh yang sialnya terasa nyaman saat Ashlan mengucapkan kata itu.
"Jika perasaan Ratu masih kacau, kita bisa beristirahat untuk beberapa hari. Bagaimana?"
Masih tak ada jawaban. Diana tetap kukuh pada pendiriannya untuk tak menengok wajah pria itu.
"Ratu..,"panggil Ashlan. Ia meraih tangan Diana kemudian mengecup punggung tangan wanita itu. "Aku tahu aku terlalu banyak menuntut. Tapi, ketahuilah! Semuanya aku lakukan demi kebaikan Ratu sendiri. Bukannya aku sudah bilang bahwa orang yang mengincar Anda akan semakin banyak? Saya hanya ingin Ratu bisa melindungi diri sendiri karena saya belum tentu bisa selalu berada di sisi Ratu."
Kali ini, Diana tak tahan untuk tidak berbalik. Matanya yang sembap membuat Ashlan seketika merasa bersalah. "Tapi, apa harus marah-marah dihadapan para Ksatria? Aku malu menjadi tontonan gratis bagi mereka."
"Maaf!" Lembut sekali suara itu hingga Diana tak bisa menyimpan amarahnya terlalu lama. "Mulai sekarang, kita akan belajar sesuai keinginan Ratu. Kapan dan dimana, mulai sekarang Ratu yang tentukan."
"Benarkah?"
Ashlan tersenyum. Anak rambut Diana yang tertiup angin ia rapikan kembali. "Tentu."
Diana ikut tersenyum. Sejak kejadian di hutan waktu itu, hubungan mereka memang kian hari semakin intens. Ashlan yang biasanya pendiam dan dingin mulai berceloteh banyak hal jika berdua saja dengan Diana. Pun, wanita itu. Ia selalu menanyakan keberadaan suaminya jika terlambat pulang dan juga selalu memastikan suaminya makan di waktu yang tepat.
"Lihat ini, Ratu!" Ashlan membentuk sebuah kelopak bunga mawar dari energi sihir berwarna biru di telapak tangannya. Mata Diana langsung berbinar cerah. Mulutnya terbuka karena terlalu bersemangat melihat keajaiban yang selama ini tak pernah ia bayangkan benar-benar ada.
"Ratu suka?" tanya Ashlan.
Diana mengangguk antusias. "Bagaimana cara membuatnya?"
"Seperti yang selalu ku bilang. Konsentrasi, bayangkan energi itu mengalir dari seluruh tubuh kemudian pusatkan pada bagian tubuh yang diinginkan. Bayangkan seperti apa bentuk dan warnanya lalu...,"
Belum selesai kalimat Ashlan, sepasang mata bernetra abu-abunya sudah menangkap sesuatu yang mengejutkan. Diana, baru saja menciptakan percikan di telapak tangannya. Terlihat seperti kembang api yang berukuran sangatlah kecil.
"Yang Mulia...," lirih Diana tak percaya.
Hening sesaat. Diana masih memandang telapak tangan kanannya dengan rasa tak percaya.
"Ratu berhasil!" kata Ashlan sembari memeluk erat tubuh ramping gadis itu.
Entah sudah yang ke berapa kali Diana terperangah dengan banyaknya kejadian tak terduga hari ini. Dan, dia mengira bahwa keterkejutannya hanya akan berakhir sampai disini. Pada kenyataannya, hal itu sangat jauh melenceng karena setelahnya, bukan hanya terkejut. Jantung Diana bahkan seolah berhenti memompa untuk beberapa detik karena Ashlan yang begitu tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir Diana.
"Sudah ku bilang, kan? Ratu pasti akan berhasil!" kata Ashlan sesaat setelah pagutan mereka terlepas.