Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Tanda Kerajaan



"Kenapa tandanya baru muncul sekarang? Tidakkah ini aneh?" tanya Alarick dengan dahi terlipat. Tatapannya fokus memperhatikan Ashlan yang sedang duduk di atas pembaringan sambil sesekali meringis karena hawa panas di bagian punggungnya belum juga reda.


Tabib sudah membuat sebuah ramuan dari tanaman herbal untuk mengurangi hawa panas yang menguar dari dalam tubuhnya. Akan tetapi, tetap saja masih belum memberikan efek yang berarti bagi penderitaan Ashlan.


"Apanya yang aneh?" Tuan Vernand balik bertanya. Senyum di wajahnya tak juga surut sejak tanda kerajaan Ashlan muncul.


"Kenapa tanda Ashlan baru muncul sekarang? Sementara, milik penerus tahta sebelumnya sudah muncul sejak mereka di lahirkan. Tidakkah ini aneh?"


Tuan Vernand tertawa. "Ternyata, pikiranmu tidak secerdas yang ku kira, Rick!" Ditepuknya bahu sang murid. "Kau belum mengerti juga dengan apa yang telah dialami sepupumu, hm?" tanyanya seraya menaikkan sebelah alisnya.


Cukup lama Alarick terdiam sambil berpikir. Berusaha mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan oleh Penyihir agung. Sesekali, otaknya di paksa berkelana membuka satu per satu pintu memori masa kecilnya bersama Ashlan. Berusaha mencari jejak yang mungkin saja bisa menjawab pertanyaannya hari ini.


"Apa mungkin, jika ada seseorang yang dengan sengaja menutup tanda kerajaan Ashlan dengan sihir terlarang?" tanya Alarick terkesiap kala kemungkinan itu muncul begitu saja dalam benaknya.


Lagi, Penyihir agung tertawa sembari memainkan janggut panjangnya. "Otakmu baru jalan, hah?"


"Jadi, itu semua benar?" Mata Alarick melebar sempurna.


"Ya. Dan, itu sepertinya sudah terjadi sangat lama." Ada penyesalan di mata Tuan Vernand saat mengucapkan kalimat itu. Mulutnya bahkan terdengar mendesah prihatin.


"Anda tak pernah berinisiatif membantunya untuk melepaskan belenggu sihir itu?"


"Sudah ku coba beberapa kali tapi selalu gagal."


"Oh ya?"


"Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya sepupumu itu, Rick! Saat ku katakan bahwa ada sesuatu yang janggal dalam tubuhnya, dia selalu bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja. Ditambah lagi, doktrin Duke Hendrick sungguh mempengaruhi pikirannya selama ini. Aku bahkan terang-terangan dia jauhi hanya karena Duke Hendrick memintanya demikian."


Alarick mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda paham pada penjelasan Tuan Vernand. "Tapi, kenapa sekarang tandanya muncul?"


"Kau masih bertanya setelah melihat siapa yang selalu berdiri disampingnya?" tanya Tuan Vernand dengan sepasang mata yang menatap seorang perempuan berambut kecoklatan bergelombang yang sedang membantu Ashlan meminum segelas air.


"Maksud Tuan Vernand, kekuatan sang Ratu yang membuat tanda itu akhirnya muncul?"


"Tentu saja. Siapa lagi? Tidak mungkin kekuatanmu kan, Rick!" seloroh Tuan Vernand sambil terkekeh.


Alarick mencebik sebal mendengar lelucon sang guru yang baginya sama sekali tidak lucu.


"Tapi setahu saya, Ratu tak pernah mengobati Yang Mulia Kaisar selama ini."


"Sihir sang Ratu tidak sesederhana yang kau bayangkan, Rick! Kekuatannya jauh lebih hebat dari yang kau perkirakan selama ini. Dia bisa mentransfer energi melalui alam bawah sadarnya kepada siapapun yang dia kehendaki. Dan, mungkin saja, karena terlalu seringnya mereka terus bersama, maka secara tidak langsung sihir sang Ratu mendeteksi bahaya di tubuh Yang Mulia Kaisar lalu menetralkannya secara perlahan."


Alarick kembali manggut-manggut. Ia menatap kagum ke arah Diana yang masih telaten mengurus suaminya. Mendengar kehebatan Diana yang diakui oleh penyihir agung membuat ia semakin menyukai Diana. Tapi hanya sampai batas itu saja perasaannya. Dia memilih berhenti di kata 'suka' dan enggan melangkah lebih jauh lagi. Alarick cukup tahu diri untuk tidak menginginkan sesuatu yang memang sejak awal sudah digariskan menjadi milik sepupunya.


Setelah merasa lebih baik dan punggungnya tak lagi terlalu panas, tanda kerajaan itu akhirnya terlihat dengan sempurna. Tak lagi samar seperti sebelumnya. Sebuah tanda lahir, berbentuk rasi bintang yang berukuran sepanjang jari kelingking orang dewasa.


Lega, itulah yang dirasakan Ashlan kini. Tak ada lagi keresahan yang tersangkut dalam pikirannya mengenai identitas yang selama ini terombang-ambing dan membawa begitu banyak masalah. Dadanya perlahan mulai terasa ringan. Satu beban yang selama ini menekannya telah resmi terangkat.


"Aku ingin bertemu dengan Duke Hendrick, Rick!" kata Ashlan yang kembali mengenakan sebuah baju lengan panjang berwarna krem.


"Kondisi Yang Mulia masih lemah. Anda yakin?"


"Aku baik-baik saja. Tenagaku sekarang sudah pulih total."


"Yang Mulia yakin ingin menemuinya sekarang?" tanya Diana yang sedari tadi setia menemani sang suami yang meringis kesakitan sampai benar-benar sembuh.


Ashlan menoleh menatap wajah teduh di sampingnya. Senyum kembali tersungging di bibir yang ia miliki. Bibir yang selalu tampak seksi dan membuat Diana seringkali meneguk ludah hanya karena melihatnya. Terlebih lagi, kali ini senyum itu didukung oleh paras yang rupawan. Yang terpampang dengan


"Hukuman untuknya harus cepat di putuskan, Ratu! Jika di tunda, maka bangsawan yang memihak dirinya bisa saja mengambil langkah ekstrem yang tak bisa kita duga."


"Yang Mulia benar. Anak buah Duke Hendrick semuanya licik. Mereka bisa saja menimbulkan masalah yang cukup merepotkan di kemudian hari." Alarick turut menimpali.


"Saya setuju dengan Yang Mulia!" angguk Alarick membenarkan.


Diana mau tak mau hanya pasrah menyetujui rencana Ashlan. Walau sebenarnya, dalam hati ia merasa sedikit ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Apakah nantinya dengan hukuman yang dijatuhkan kepada Duke Hendrick akan membuat suasana menjadi tenang atau malah menjadi semakin kacau? Jujur saja, sebagai manusia yang pernah hidup di masa depan yang penuh dengan kedamaian, Diana sama sekali tidak siap andai benar-benar dihadapkan dengan perang besar.


*


Di dalam penjara, Duke Hendrick tampak terduduk dengan wajah yang pucat. Tatapan matanya terpaku ke arah sebuah lubang angin yang luasnya hanya sebesar telapak tangan yang terletak di bagian atas dinding penjara. Entah apa yang dia pikirkan, namun pria itu masih tetap terlihat angkuh.


"Menikmati liburan yang aku berikan, Duke?"


Duke Hendrick sontak menoleh ke sumber suara. Sedetik kemudian, pria itu berdecak lalu menyeringai sinis. Tak ada raut ketakutan di wajahnya. Sebaliknya, wajah itu masih menunjukkan keangkuhan dan kesombongan yang hakiki.


"Mau apa sang Kaisar yang terhormat datang kemari?" tanya Duke Hendrick yang cukup hafal dengan suara itu. Walau wajah Ashlan belum tampak karena keadaan penjara yang gelap dan hanya diberi penerangan seadanya, namun ia bisa menebak dengan tepat sasaran siapa pemilik suara tersebut.


Makin lama, langkah kaki Ashlan terdengar semakin mendekat. Dan, mendadak Duke Hendrick membulatkan kedua matanya saat wajah Ashlan kini benar-benar berada tepat dihadapannya. Pria itu meneguk ludahnya kasar. Dia tak percaya bahwa Ashlan berani berkeliaran di area istana tanpa memakai topengnya.


"Di-dimana topengmu?" tanyanya penuh keterkejutan.


Ashlan tertawa. "Apa tidak ada pertanyaan yang jauh lebih penting ketimbang topeng sialan itu, Duke?"


"Kau tidak takut ada seseorang yang akan melihat wajahmu itu?" Duke Hendrick mencoba mengintimidasi.


"Takut kenapa?" Ashlan mengerutkan alisnya.


Lagi, Duke Hendrick sangat terkejut melihat respon Ashlan. Anak yang biasanya langsung tertunduk dan runtuh percaya dirinya jika membahas mengenai wajah sekarang tampak berdiri gagah tanpa beban. Hal itu membuat Duke Hendrick menyimpan sejuta tanya dalam benaknya. Apa yang telah terjadi selama dia mendekam di penjara?


"Anda ingin tahta yang Anda duduki sekarang, di rebut begitu saja? Ingatlah, Anda bukan siapa-siapa di mata para bangsawan dan rakyat jelata tanpa topeng itu."


Duke Hendrick menyeringai penuh kemenangan. Ashlan yang kini mulai diam menjadikan dia merasa naik sebagai pemenang. Akan dia lihat, sejauh mana rasa percaya diri dan sifat membangkang singa kecil yang selama ini tali kekangnya ia pegang dengan erat. Apakah masih akan tetap memberontak walau tali kekangnya di tarik kencang?


"Sebenarnya, aku takut!" aku Ashlan yang kian membuat rasa percaya diri Duke Hendrick melambung tinggi.


"Tapi, itu dulu. Sekarang, tidak lagi," sambung Ashlan yang langsung tersenyum setelahnya.


"Maksudnya?" Gantian, malah senyum Duke Hendrick yang surut.


"Aku sudah tahu sejarah masa laluku, Duke Hendrick. Tentang siapa Ayahku, juga Ibu kandungku."


Kedua tangan Duke Hendrick tanpa sadar menggenggam erat batang jerami yang menjadi alasnya didalam penjara. Gigi-giginya bergemelatuk mendengar penuturan Ashlan.


"Kau sudah tahu bahwa kau putra dari selir Ayahmu, rupanya." Duke Hendrick masih mencoba biasa. "Tapi sayangnya, keberadaan Ibumu bahkan tidak diketahui dan diakui oleh siapapun. Lalu, apa yang bisa kau buktikan dengan semua itu, hah?" Ia tertawa mengejek.


Ashlan mendengkus melihat betapa liciknya pria di hadapannya. Bahkan, penjara sekalipun tak mampu menyurutkan ego dan kesombongannya.


"Bagaimana dengan yang ini?" Ashlan memperlihatkan tanda yang ada di punggungnya.


"Bagaimana mungkin?" lirih Duke Hendrick syok.


"Apa Anda masih berpikir bahwa tanda ini belum cukup sebagai bukti?"


Dan, mulut Duke Hendrick akhirnya benar-benar bungkam.


"Bersiaplah, Duke Hendrick! Anda akan menjadi bangsawan pertama yang akan dihukum mati dihadapan rakyat kota Bern!"


"Kau!" geram Duke Hendrick tertahan.


"Bersiaplah menerima ganjaran atas perbuatanmu selama ini, Duke! Termasuk karena telah diam-diam melenyapkan putra kandungmu sendiri."