Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kecurigaan Kaisar Sean



"Yang Mulia membentakku?" tanya Duchess Levrina dengan mata berkaca.


"Ya. Aku membentakmu! Perempuan tak tahu diri yang begitu lancang membantah perintahku!" angguk Kaisar Sean penuh amarah.


"Y-Yang Mulia? Anda kenapa? Tidak biasanya Anda begini." Duchess Levrina berupaya mendekat. Namun, suara Kaisar Sean yang menakutkan kembali menghentikan langkahnya.


"Levrina!" bentak Kaisar Sean. "Aku sedang ingin menikmati kebersamaan dengan putri dan menantuku tanpa gangguan siapapun. Apa kau tidak mengerti?"


Duchess Levrina langsung menatap sinis ke arah Diana yang sedang menatap angkuh ke arahnya. Melihat tatapan itu, Duchess Levrina langsung berdecak dengan tangan terkepal.


"Sejak kapan Anda menerima anak sial ini, Yang Mulia? Apa Anda lupa, siapa penyebab adikku meninggal? Karena dia!" Duchess Levrina mengarahkan telunjuknya dengan angkuh ke arah Diana. "Dia yang membunuh adikku. Istri kesayangan Yang Mulia!"


Seluruh tubuh Kaisar Sean memanas seketika. Darahnya mendidih hebat melihat betapa angkuhnya Duchess Levrina mengacungkan telunjuk pada wajah putrinya. Wanita itu bahkan terang-terangan menunjukkan sikap kurang ajarnya dihadapan Kaisar Sean tanpa takut sama sekali.


"Siapa kau hingga berani mengacungkan tangan ke arah keluarga kerajaan, Levrina?" tanya Kaisar Sean dengan suara rendah. "Pengawal!" teriaknya pada 2 orang pengawal yang berdiri dibelakang Levrina.


"Kami, Yang Mulia!" sahut salah satu pengawal tersebut.


"Seret wanita kurang ajar ini ke penjara! Potong telunjuk yang telah berani ia acungkan ke wajah putriku! Ke wajah pewaris sah Kerajaan Timur sekaligus permaisuri kerajaan Barat."


"Tidak!" teriak Duchess Levrina histeris. "Jangan begini, Yang Mulia! Aku Levrina. Orang yang selama ini menemanimu dan bersedia berbagi rasa kehilanganmu selama ini. Kau tega padaku?"


Kaisar Sean bergeming. Tak ada sedikitpun keinginan untuk merubah titah yang telah ia keluarkan. Sementara, Diana pun tak bereaksi apa-apa. Ia hanya ingin tahu, sampai batas mana sang Ayah akan melakukan apapun demi menebus 24 tahunnya yang telah hilang.


"Yang Mulia!" jerit Duchess Levrina histeris saat pengawal benar-benar menyeretnya kasar untuk keluar dari sana.


Sementara, Lady Verona hanya mampu mematung didepan pintu. Terus terang, ia syok melihat Ibunya yang diseret seperti itu. Ia bergeming ditempatnya berdiri karena tak tahu harus berbuat apa.


Melihat keberadaan Verona didepan pintu, Kaisar Sean dengan dingin meminta pengawal lain untuk menutup pintu. Ia juga berpesan, jika masih ada orang yang ngotot ingin menerobos masuk, maka sakiti saja.


"Kenapa Bibi dan Verona datang kemari?" tanya Diana setelah suasana mulai tenang kembali.


"Ayah tidak tahu. Levrina hanya bilang bahwa dirinya diceraikan oleh Duke Hendrick. Mengenai permasalahannya, Ayah tidak tertarik untuk bertanya."


"Dimana dia tinggal selama kembali ke sini?"


"Di rumah Kakekmu. Tapi, setiap hari dia dan putrinya selalu disini dan memerintah seenaknya seperti seorang Ratu." Wajah Kaisar Sean sedikit terlihat kesal saat mengucapkan itu.


"Mungkin saja, dia ingin mendekati Ayah?" tebak Diana.


Kaisar Sean mengendikkan bahunya. "Ayah sudah menebak sama sepertimu sejak lama, Di! Bahkan, sebelum kau lahir."


"Maksud, Ayah?" tanya Diana tak mengerti.


Kaisar Sean tertawa kecil. "Dia sudah berusaha menggeser posisi Ibumu sejak dulu. Akan tetapi, dia tak pernah berhasil karena Ayah tidak pernah tergoda dengan siasat liciknya."


"Lalu, kenapa Ayah tidak pernah bertindak tegas dengannya?"


Diana diam mencerna penjelasan dari sang Ayah. Sepertinya, masih banyak hal yang harus ia cari tahu mengenai Duchess Levrina melalui Ayahnya.


"Bibi dan Duke Hendrick, bagaimana ceritanya bisa menikah?" tanya Diana lagi.


"Mereka tak sengaja bertemu di benua Tran dan saling jatuh cinta pada saat itu. Meski hubungan kita dengan Kerajaan Barat sedikit tidak baik, tak ada yang bisa Ayah lakukan selain merestui pernikahan mereka. Semuanya demi keamanan hubungan Ayah dan Ibumu juga demi perasaan Kakekmu." Kaisar Sean menarik nafas dalam. "Ayah pikir, merestui hubungan mereka akan membuat kehidupan Ayah tenang. Tapi, justru malah sebaliknya."


"Kenapa, Ayah?"


Kaisar Sean menatap lamat-lamat wajah sang putri. Ia bimbang tentang perasaannya sendiri. Haruskah ia berbicara masalah ini dengan putrinya atau tidak.


"Bicaralah, Ayah!" pinta Diana.


"Ayah curiga bahwa Duke Hendrick dan Bibimu-lah pembunuh Ibumu yang sebenarnya."


DEG!


Diana menelan salivanya payah. Rupanya, sang Ayah sudah curiga kepada orang itu sejak lama. Tapi, kenapa tindakan Ayahnya justru malah terkesan tak acuh dan tak melakukan apa-apa selama ini?


"Maaf jika Ayah terkesan membuangmu, Nak! Ayah hanya merasa bersalah setiap kali melihat wajahmu. Terlebih lagi, jika dugaan Ayah benar bahwa mereka pelakunya,maka bisa jadi nyawamu juga akan terancam andai Ayah tidak berbuat seperti ini."


Kaisar Sean tertunduk dalam. Penyesalan kembali membayang. Entah sampai kapan dia akan seperti ini.


"Jika Ayah menyelidiki mereka secara diam-diam selama ini, apakah tidak sedikitpun bukti yang Ayah temukan?"


"Ayah sudah berusaha menjaga agar Levrina tetap dekat demi mencari bukti. Tapi, bukti itu tak pernah Ayah temukan. Pembunuhan terhadap tabib dan pelayan yang membantu Ibumu melahirkan sungguh sangat rapi. Tak ada jejak tertinggal sedikitpun mengenai siapa kemungkinan pelakunya."


"Apa tak satu pun dari para pembunuh itu yang ditemukan?"


Kaisar Sean menggeleng. "Bahkan, Paman Dante saja tak bisa menemukan jejak mereka."


Dante Martinez, adalah ayah kandung Alejandro Martinez. Pemimpin pasukan perang sekaligus orang kepercayaan Kaisar Sean waktu itu. Sama seperti Kaisar Sean, Dante Martinez juga sedang tak berada di tempat saat Diana dilahirkan. Beliau ikut berperang bersama Kaisar Sean dan mempercayakan Ksatria terbaiknya untuk melindungi istana. Siapa sangka, jika ternyata sang Ksatria yang dipercaya malah kecolongan dan tertidur tak sadarkan diri bersama puluhan pasukan yang lain setelah meminum air yang dicampurkan sesuatu.


"Ayah!" panggil Diana. Ia baru mengingat kisah itu. Ya, bagaimana mungkin dia bisa melupakan bagian itu.


"Siapa yang memberi minuman berisi obat bius kepada pasukan yang berjaga di istana saat Ibu melahirkan aku?"


"Kau tahu darimana masalah itu, Di?" tanya Kaisar Sean terkejut.


"Jawab saja, Ayah!" pinta Diana.


Kaisar Sean menggeleng. "Kami tidak tahu. Ksatria yang ditanya juga tidak mengenali wajah orang itu."


Pikiran Diana semakin kalut. Bagaimana caranya agar dia bisa membuktikan bahwa Duchess Levrina adalah benar orang yang membunuh Ibunya? Selain kesal dengan kelakuan Bibinya itu, ia juga dendam karena gara-gara bibinya-lah dia harus menjalani 24 tahun sebagai anak yang terbuang. Gara-gara Bibinya pula, ia harus kehilangan sosok Ibu.


"Bibi tunggu saja! Akan ku ungkap rahasia kematian Ibuku secepat mungkin."