
Mata Diana masih sangat terasa berat ketika ia merasakan seseorang tengah berbisik di telinganya. Mau tak mau, ia memaksa sepasang matanya untuk terbuka lebar meski sebenarnya terasa sangat sulit.
"Bangun, Ratu!" bisik Ashlan sekali lagi.
"Iya, aku sudah bangun," jawab Diana serak.
Ashlan menatap lekat ke wajah Diana yang tetap terlihat cantik meski dalam keadaan ngantuk. Ia bahkan tak mampu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan hanya terus fokus pada wajah polos tanpa make up dihadapannya.
"Ayo bangun, Sayang! Kau harus mandi dan dandan yang cantik malam ini," ucap Ashlan sedikit mendesak sembari bertopang dagu di tepi tempat tidur.
"Kita mau kemana?" tanya Diana yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Rasanya terlalu nyaman untuk beranjak dari tempat tidur mahal milik sang pujaan hati.
"Kakek sengaja mengadakan makan malam bersama beberapa kerabat dan rekan kerja dalam rangka memperkenalkanmu sebagai salah satu calon anggota keluarga Arlen, Sayang," jawab Ashlan sambil mengusap pelan pipi lembut Diana.
Rasa kantuk Diana seketika menguap mendengar penuturan Ashlan. Perempuan berambut kecoklatan itu bangkit dari tidurnya dengan wajah panik luar biasa.
"Acaranya dimulai jam berapa?" tanya Diana tak sabaran.
" Jam delapan malam," jawab Ashlan santai.
"Sekarang jam berapa?"
Ashlan menatap arloji mahal yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. "Jam 6.45" sahut Ashlan.
"Arrgghhh!!! Kenapa baru bangunkan sekarang, Ash? Kita bisa telat!" gerutu Diana sambil menjambak rambutnya.
"Aku harus mandi dan bersiap. Dimana kamar mandinya?"
Ashlan menghela napas. Senang sekali menyaksikan kepanikan Diana. "Di sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah kamar mandi berada.
Tanpa aba-aba, Diana langsung saja berlari masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri secepat mungkin namun tetap teliti menggosok badan sampai ke wilayah yang sulit di jangkau. Beruntung, di dalam kamar mandi Ashlan, segala perlengkapan untuk mendukung kegiatan mandi kilatnya tersedia dengan lengkap. Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dengan mimik kebingungan . Bagaimana tidak? Diana baru ingat bahwa ia tak mempunyai pakaian yang pantas untuk dikenakan di acara nanti.
"Ash!" panggilnya pelan.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Ashlan yang sedang sibuk memeriksa laporan melalui ponsel pintarnya.
"Iya. Tapi... Aku pakai apa?" cicit Diana kebingungan.
Ashlan mendongakkan kepala menatap gadis yang hanya mengenakan bathrobe berwarna hijau botol yang tengah berdiri dihadapannya. Secarik senyum simpul terbit di wajah tampannya.
"Sudah ku siapkan semua, Ratu! Ada di sana!" tunjuk Ashlan ke arah walk in closet pribadinya.
"Di-sana?" Diana memastikan dengan ragu.
Ashlan mengangguk. "Buka pintu yang disebelah kiri. Di bagian sana terisi penuh dengan pakaian dan perlengkapan pribadimu,"
"Hah? A-Apa?" Diana melongo. Ia merasa sedikit linglung setelah mendengar penuturan Ashlan.
"Sebentar lagi kita akan merayakan pernikahan untuk yang kedua kali. Tentu saja, setelah itu kau akan tinggal disini bersamaku. Makanya, dari sekarang, sudah ku persiapkan segala keperluan yang kau butuhkan di rumah ini. Kalau pun nanti ada yang kurang, kita tinggal membelinya bersama setelah perayaan pesta pernikahan," terang Ashlan dengan entengnya.
"Bagaimana dengan pakaian dalam?"
Ashlan menyeringai genit. "Tentu saja semuanya sudah tersedia lengkap dengan berbagai macam model." Ia mengerling nakal ke arah Diana.
"Kenapa otakmu makin lama makin mesum, Ash?" tanya Diana. "Lalu, memangnya kau tahu ukuranku?" imbuhnya dengan tangan bersedekap.
Ashlan mengulum senyum sambil memperhatikan Diana dari ujung kaki ke ujung kepala. Hal tersebut sedikit membuat Diana risih dan reflek menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Bukan tahu lagi. Tapi, sangat hafal!" jawab Ashlan dengan kedua tangan yang membentuk gestur seperti sedang meremas squishy.
Merasa tak tahan dengan tingkah pria itu, Diana memutuskan menuju ke walk in closet untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan malam ini. Gadis itu berdecak kagum kala melihat ada belasan gaun malam dari berbagai brand rumah mode terkenal tergantung rapi didalam sana. Dua diantaranya bahkan sengaja di taruh di manekin dan menjadi objek utama kala Diana memasuki bagian ruangannya sendiri. Sepatu, tas, perhiasan dan perlengkapan lainnya juga tertata rapi didalam etalase kaca. Diana bahkan merasa bahwa masuk ke ruangan itu sudah seperti masuk ke dalam toko berkelas yang ada di mall-mall.
"Cantik sekali," puji Diana pada salah satu gaun berbahan satin berwarna putih gading dengan aksen serut di bagian pinggang.
"Ratu ingin mengenakan yang ini?" Entah sejak kapan Ashlan datang, namun lelaki itu tahu-tahu sudah berada di belakang Diana dengan kedua lengan yang melingkar di perutnya.
"Apa menurutmu gaun ini pantas untukku?" tanya Diana ragu. Gaunnya terlalu elegan untuk dirinya yang hanya bekerja sebagai seorang Saute chef di restoran kecil.
"Ratu pantas memakai pakaian apapun. Mau murah ataupun mahal, semuanya terlihat luar biasa jika Ratu yang mengenakan," jawab Ashlan di sertai satu kecupan di pipi sang Ratu.
"Aku jujur."
Sebelum berganti pakaian, seorang wanita seusia Katy tiba-tiba datang menghampiri Diana. Wanita itu sengaja di panggil Ashlan khusus untuk mendandani Diana agar Diana tampil cantik dan mempesona. Walau bagaimanapun, Diana yang akan menjadi bintang untuk acara makan malam itu. Tak mungkin kan, jika dandanannya harus sama seperti hari biasa?
"Nona cantik sekali. Kulit Anda juga sangat sehat. Saya merasa sangat beruntung menjadi orang pertama yang mendandani calon istri penerus keluarga Arlen," kata wanita itu dengan senyum lebar yang bisa dilihat Diana melalui cermin didepannya.
"Te-terimakasih," angguk Diana canggung.
"Sekarang, silahkan Nona berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat!"
Diana mengangguk lagi. Ia meraih gaun yang tadi begitu disukainya dan berjalan masuk ke dalam ruang ganti. Keluar dari sana, si penata rias ternyata sudah menyiapkan perhiasan dan juga heels yang pas untuk Diana kenakan malam ini.
"Wah! Siapa ini? Kenapa ada bidadari yang tersesat di kediaman Arlen?" ujar Erick dengan pandangan kagum ke arah Diana saat wanita itu baru saja keluar dari dalam lift.
Ashlan sendiri masih mematung dengan pandangan tak berkedip menyaksikan penampilan Diana. Malam ini, wanitanya begitu mempesona dengan rambut bergelombang yang digerai indah dengan polesan makeup flawless yang makin membuatnya mirip boneka hidup.
Diana berdecak mendengar sambutan konyol Erick. Gadis itu menghampiri Erick lalu sengaja mencubit lengannya agak keras.
"Ahhhh..," Erick meringis kesakitan. "Kenapa saya malah dicubit?" protesnya.
"Kenapa kau sengaja mengerjai aku dengan mengatakan pada Billy kalau Ashlan sekarat, hah?" tanya Diana yang akhirnya memiliki waktu untuk balas dendam pada orang kepercayaan Ashlan itu.
Erick menggaruk kepala yang tak gatal. Bibirnya tersenyum dengan tatapan memohon ke arah Ashlan yang malah diabaikan sang atasan dengan pura-pura serius menatap layar MacBook ditangannya. Aish! 'Lempar batu sembunyi tangan' gumam Erick dalam hati. Ya, begitulah. Karena sejatinya dia melakukan itu semua juga karena ACC dari Ashlan.
"Maafkan saya! Saya hanya bercanda," jawabnya dengan kedua telapak tangan menyatu.
"Bercanda katamu? Aku hampir saja mati karena serangan jantung akibat ulahmu, Rick!"
"Hehehehe... Maaf! Mana saya tahu, Nona!" ringis Erick.
"Sekali lagi kau berbuat iseng seperti itu, habis kau!" ancam Diana.
Erick mengangguk cepat. Secepat kilat, pria itu berlari menuju ke depan untuk menyiapkan mobil. Tak berselang lama, Diana dan Ashlan juga menyusul langkah pria berambut ikal itu menuju keluar.
"Ratu sangat cantik," puji Ashlan berbisik.
"Aku memang selalu cantik," angguk Diana membenarkan.
"Aku beruntung bisa mendapatkan istri secantik Ratu," kata Ashlan lagi.
"Istri?" Diana menoleh. "Kapan Anda melamar saya Tuan muda Arlen?" tanya Diana jahil.
"Ratu ingin dilamar lagi?"
Diana menggangguk.
"Tapi Ratu sudah jadi istriku."
"Tapi, tetap saja. Sampai sekarang, cincin lamarannya tak pernah melingkar di jari manis ku," sahut Diana yang kini memamerkan jari manisnya di hadapan Ashlan.
Pria itu tersenyum. Ia menggenggam tangan Diana sambil mencium lembut bibir Diana. Jelas, Diana kaget bukan kepalang. Apalagi, Erick tentu bisa menyaksikan dari kaca spion depan.
"Ash? Apa-apaan ini?" tanya Diana yang sedang sibuk mengelap bibirnya setelah ciuman itu selesai.
"Melamar," jawab Ashlan enteng.
"Hanya dengan ciuman? Ck, tidak modal sekali," decak Diana.
"Siapa bilang?" Ashlan tersenyum sambil menatap ke arah jari manis kiri Diana.
Gadis itu keheranan. Namun, ia mengikuti arah pandang Ashlan dan seketika terkesiap sambil menutup mulutnya.
"I-ini? Sejak kapan?" tanyanya bingung ketika melihat sebuah cincin bertahtakan berlian sudah melingkar di jari manisnya.
Ashlan mengendikkan bahunya. "Cincinnya sudah ada, bukan? Jadi, Ratu dilarang mengeluh lagi," ucapnya penuh kemenangan.