Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Trap



Setiap pasang mata yang berpapasan dengannya, sudah dianggap oleh Damian tak ubahnya bagai predator. Dan dia? Tentu saja seekor mangsa yang berusaha berkamuflase menjadi seperti mereka demi terhindar dari marabahaya. Insiden ledakan Ibukota telah mengusik ketenangan Damian kembali beberapa waktu lalu. Padahal, lelaki itu telah menikmati hidupnya sendirian di pulau pengasingan dengan damai. Namun, putra satu-satunya yang ia miliki tiba-tiba saja memberi kabar bahwa Sang Kaisar sekaligus keponakannya sedang mencari-cari dirinya karena dianggap sebagai dalang dibalik peristiwa berdarah tersebut.


Menyadari hidupnya kali ini mungkin saja benar-benar akan berakhir, Damian pun mengambil langkah tegas untuk lekas kabur dan terus berpindah-pindah tempat demi menghindari para prajurit kerajaan yang mencarinya.


Pada suatu pagi, dia yang sedang sarapan di sebuah tempat makan yang tak jauh dari penginapannya tiba-tiba mendapat surat kaleng yang di letakkan seorang pria tak dikenal. Damian sudah berusaha mengejar, namun pria yang mungkin seumuran dengan putranya itu ternyata sudah menghilang di keramaian. Dan, mustahil ia bisa mengejar karena sudah pasti tempat keramaian adalah tempat dimana prajurit kerajaan sudah pasti tersebar.


"Alarick akan dihukum mati malam ini karena melindungimu!"


Goresan yang terbaca di surat tersebut membuat Damian geram. Ia menggenggam erat kertas yang sudah kusut tersebut dengan mata memerah. Dari tulisan tangan itu, Damian jelas tahu siapa pengirimnya, yaitu Duke Hendrick. Lelaki yang dulu ia anggap sebagai rekan sebelum menusuk dari belakang.


"Rick...," lirihnya sambil berusaha mengendap-endap memasuki istana tanpa ketahuan siapapun.


Sambil terus bersembunyi dan menutupi wajahnya dengan jubah hitam, Damian akhirnya sampai di kamar sang putra. Tentu ia masih mengingat letaknya dimana karena ia pun pernah tinggal lama didalam istana.


"Ayah?" pekik Ksatria Bennett tertahan. Matanya membulat sempurna saat melihat sosok berjubah yang baru saja memasuki kamarnya melalui jendela sudah memperlihatkan wajah.


"Sstt...," Lekas, Damian Bennett menutup mulut sang putra dengan telapak tangannya. "Jangan berisik, Rick! Ayah akan tertangkap jika kau bersuara sekeras tadi "


Alarick Bennett mengangguk. Lalu, bekapan di mulutnya pun ikut terlepas.


"Kenapa Ayah kemari?" tanya Alarick panik.


"Kita harus pergi dari sini sekarang juga!" ucap Damian dengan tegas.


"Pergi? Kenapa?"


"Ayah tidak akan pernah rela kau mati karena kesalahpahaman, Rick!" Damian menggeleng seraya menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.


"Maksud Ayah?"


Damian mengembuskan nafas kasar. Raut wajahnya tampak begitu tegang. "Duke Hendrick mengirim pesan bahwa kau akan dihukum mati oleh Ashlan malam ini."


"Apa?" Alarick tampak terkejut mendengar pernyataan Ayahnya. Sedetik, dua detik, dan lelaki itu baru bisa mencerna segalanya di detik ketiga. "Ini jebakan!" serunya panik.


"Maksudmu?"


"Ashlan tidak pernah mengeluarkan perintah itu, Ayah!"


"Duke Hendrick tidak mungkin berbohong. Dia orang yang paling di percaya oleh Ashlan selama ini. Bahkan, melebihi aku, pamannya dan kau, sepupunya sendiri," dengkus Damian dengan tatapan sendu.


"Hubungan Ashlan dan Duke Hendrick tak sebaik dulu, Ayah! Sepertinya, Ashlan mulai mencurigai lelaki itu sejak lama. Bahkan, baru-baru ini Ashlan dengan lantang menyuarakan persimpangan pendapatnya dengan Duke Hendrick."


Sepasang alis Damian berkerut heran. Ashlan berseteru dengan Duke Hendrick? Hal itu sama sekali mustahil mengingat betapa patuhnya Ashlan selama ini pada lelaki licik itu.


"Sekarang, pergilah Ayah! Jika Fionn tahu Ayah disini, maka keselamatan kita berdua akan benar-benar terancam," imbuh Alarick meyakinkan Ayahnya.


Rahang Damian mulai mengerat. Amarah didalam dadanya sudah lebih dari seharusnya yang ia bisa tampung selama ini. Lagi-lagi, Duke Hendrick mempermainkan dia yang memang sejak dulu terlalu mudah untuk di bohongi.


"Seret mereka ke ruangan rahasia!" perintah Fionn pada anak buahnya.


Damian dan Alarick hanya bisa pasrah. Pada akhirnya, mereka benar-benar telah terjebak oleh permainan licik Duke Hendrick.


*


"Jangan berusaha membohongiku demi keselamatan dirimu, Paman! Itu tidak akan mempan!" tegas Ashlan.


"Dia benar-benar masih hidup, Ash! Paman berani bersumpah!"


Khekk...


Nafas Damian tercekat saat tangan kokoh Ashlan mencengkram erat batang lehernya. Dibanding kesulitan bernafas dan rasa sakit yang menjalar, ia lebih fokus pada nyeri yang berpusat di rongga dadanya. Ya, ia terluka. Sekali lagi ia kecewa karena keponakannya sendiri tak mempercayai kata-katanya.


"Hahhh!" teriak Ashlan frustasi seraya melepaskan cekikannya. Lelaki bernetra abu-abu itu menyugar rambutnya dengan gelisah. Ia bimbang. Emosinya campur aduk. Ia ingin tega namun tidak bisa.


"Kau tahu darimana jika Paman datang kemari dan bertemu Rick secara diam-diam?" tanya Ashlan kepada Fionn.


"Ada seseorang yang mengirimkan surat kaleng kepada Saya, Yang Mulia!" kata Fionn sembari menyerahkan sebuah surat yang baru saja ia keluarkan dari saku bajunya.


"Paman juga diberi surat seperti itu, Ash! Periksalah! Kemungkinan besar, pengirimnya adalah orang yang sama." Damian berusaha mengabaikan rasa sakitnya. Ia merangkak ke arah Ashlan lalu mengarahkan pria itu untuk mengambil surat yang masih ia simpan didalam saku bajunya.


Ashlan dengan ragu mengambil surat tersebut. Dicocokkannya tulisan pada kedua surat itu dan ternyata memang benar sama.


"Bagaimana?" Damian bertanya tak sabaran.


Kebisuan Ashlan sudah cukup menjadi jawaban. Lelaki tua itu tersenyum sumringah. Sementara, Alarick sedari tadi hanya diam memperhatikan. Ada rasa kecewa terhadap Ashlan karena telah memperlakukan Ayahnya sejahat tadi. Padahal, bukankah selama ini Alarick sudah terlalu baik kepadanya? Hanya Alarick yang selalu ada di setiap putus asa dan rapuh menghampiri Ashlan. Bukan orang lain. Tapi kenapa Ashlan justru malah seolah tak ada simpati maupun empati kepadanya?


"Tunjukkan bukti-bukti yang Paman simpan!" pinta Ashlan.


Damian mengangguk dengan cepat. "Tentu. Paman akan membuktikan bahwa Paman sungguh tidak bersalah!"


Ashlan mengangguk. Dari ekor matanya, dapat ia lihat sorot kekecewaan di mata sang sepupu. Ya, Ashlan sadar ia telah salah. Sebenci-bencinya ia pada sang Paman, namun tak etis jika harus menyakitinya didepan Alarick. Ia mengaku khilaf.


*


"Lanie, menurutmu ada urusan apa sampai-sampai Yang Mulia harus pergi dengan wajah setegang itu?" tanya Diana pada Mulanie yang seperti biasa berjalan di belakangnya.


Tak ada jawaban. Membuat Diana jadi mengernyit bingung.


"Lanie?" panggilnya. Ia pun berbalik. Dan, seketika matanya membola menyaksikan pemandangan yang sangat tak ingin ia lihat.


Mulanie sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca sambil menggelengkan kepala. Di belakangnya, sosok pengawal yang tadi katanya merupakan pengawal pengganti tengah meletakkan sebilah pedang di leher Mulanie.


"Yang Mulia...," panggil Mulanie dengan nafas tercekat. "La-ri..."