Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Gelandangan?



*Sebelumnya Thor minta maaf,,, entah gimana ceritanya bab 84 sama bab 85 bisa ketuker padahal jadwal updatenya beda hari. Padahal seharusnya bab 84 itu bab 85 dan bab 85 itu bab 84. Mohon maaf untuk ketidaknyamanan kalian dalam membaca ya 😅😅


Next...


Tanpa pikir panjang, Gerald lekas bangkit dan menghampiri Vanya. Lelaki itu dengan penuh emosi langsung menyeret kasar Vanya dan mendorong gadis itu hingga nyaris jatuh mencium tanah.


"Jangan kasar padaku, Gerald!" tutur Vanya dengan wajah keberatan.


"Bagaimana mungkin aku tidak kasar terhadap perempuan licik sepertimu! Kau selama ini sudah aku prioritaskan, tapi ternyata kau malah menipuku dan malah membawa kabur semua uang pesangonku. Dasar perempuan tak tahu diuntung!" maki Gerald murka.


Vanya tertunduk. Wajah polosnya nampak bermuram durja. Gadis itu mengusap sudut matanya. Lalu, dengan tatapan mengiba, ia memperhatikan seluruh orang dengan lekat.


"Maafkan aku, Gerald! Aku terpaksa," ucap Vanya.


"Terpaksa kenapa? Karena kau sudah menemukan lelaki lain? Begitu?" cecar Gerald.


"Aku hamil," sergah Vanya. "Dan aku pergi karena tak ingin mengganggu hubunganmu lagi dengan sahabat baikku," imbuh Vanya seraya menatap ke arah Diana.


Jengah. Diana tak mampu berucap apa-apa mendengar sandiwara Vanya. Wajah polos yang dulu pernah menjebaknya namun ternyata mampu menusuk dari belakang itu sudah tak mampu lagi menipu Diana. Kenapa? Karena yang lebih licik dari Vanya sudah pernah Diana temui.


"Apa maksudmu dengan hamil?" tanya Gerald yang jelas sangat terkejut dengan pengakuan Vanya.


"Kenapa kau malah bertanya?" Vanya menatap Gerald dengan air mata yang tumpah. "Bukankah kita memang sudah sering melakukannya?"


Gerald panik. Ditatapnya Diana yang malah memasang tampang datar lalu beralih menatap kedua orangtuanya yang jelas terkejut dengan perkataan Vanya.


"Tidak mungkin itu anakku!" sergah Gerald yang langsung berlari menghampiri Diana dan menggenggam kedua tangan perempuan itu.


"Itu semua tidak benar, Di! Kalaupun dia benar hamil, mustahil itu anakku! Aku selalu pakai pengaman jika berhubungan dengannya. Tidak mungkin dia hamil anakku! Pasti itu anak dari lelaki lain. Aku yakin," ucap Gerald panjang lebar menyakinkan Diana.


Diana tersenyum manis. Kedua tangannya perlahan ia tarik dari genggaman Gerald.


"Terserah itu anakmu atau bukan, Gerald! Yang jelas, aku tidak peduli."


"Di, aku mohon! Beri aku kesempatan sekali lagi," mohon Gerald.


Diana menggeleng. "Sekali tidak, ya tidak!" ucapnya dengan nada meninggi. "Urus saja gundikmu itu dan lekas bawa dia pergi dari halaman rumahku. Aku muak melihat drama kalian berdua!"


"Kau benar-benar tega mengusirku, Di? Apa kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?" lirih Gerald putus asa. Diana adalah harapan terakhirnya untuk bersandar. Dan, jika wanita itu menolak untuk kembali, maka Gerald tak bisa membayangkan bagaimana kelangsungan hidupnya dan keluarganya setelah ini.


"Ya, aku tidak mencintaimu lagi, Gerald!" ucap Diana penuh keyakinan. Ia bahkan sengaja menantang mata Gerald demi membuat lelaki itu sepenuhnya mempercayai setiap kata yang terucap dari mulutnya. "Cintaku sudah mati semenjak aku menemukanmu sedang bertukar peluh dengan gundik murahan itu di dalam flatmu!"


"Aku bukan gundik," teriak Vanya dengan lantang.


"Lantas apa?" sergah Diana dengan nada suara tak kalah tinggi.


Vanya langsung menciut begitu mendengar bentakan Diana. 5 tahun bersahabat, baru kali ini dia mendengar nada suara Diana yang sekasar itu padanya.


"Pergi kalian semua dari sini! Atau, kalau tidak maka aku tidak akan segan untuk melaporkanmu bersama Vanya atas tuduhan pencurian di rumahku!"


Gerald melangkah mundur dengan mata berkaca-kaca. Hatinya remuk ketika melihat kesungguhan di mata Diana saat mengancamnya. Ia tahu bahwa gadis itu tak mungkin main-main.


"K-kau tahu, Di?" Vanya mendekat dengan tatapan tak percaya.


"Ya, aku tahu!" angguk Diana. "Aku bahkan tahu bahwa kau sudah menyuntikkan sesuatu ke aliran darahku yang menyebabkan aku koma selama beberapa hari."


Deg!


Vanya langsung membulatkan matanya dengan wajah yang memucat. Sementara, Gerald membuka mulutnya lebar-lebar karena tak percaya pada kenyataan yang baru saja Diana ucapkan.


Sebenarnya, Diana hanya menerka-nerka kemungkinan itu berdasarkan penjelasan dokter yang mengatakan telah menemukan zat arsenik yang nyaris tak terdeteksi dalam aliran darah Diana ketika dibawa ke rumah sakit. Namun, anehnya Diana tidak mati walau interval waktu antara ia diberi racun tersebut dengan waktu dia dibawa ke rumah sakit terbilang cukup lama. Bahkan, zat racun itu seperti sengaja terkumpul di satu titik urat nadi Diana dan tidak menyebar sama sekali. Hal cukup aneh yang tak mampu dijelaskan dengan pemahaman medis.


"D-Di...," Vanya berucap dengan suara bergetar.


Vanya mengangguk. "Tapi, Di... Bolehkah aku meminta satu hal lagi padamu?"


Diana mengernyitkan alisnya.


"Berikan Gerald padaku! Anakku...," Vanya memegang perutnya yang masih terlihat rata. "Butuh Ayahnya."


Seketika, Diana tertawa. "Ambillah! Ambil! Aku memang sudah membuangnya! Jika kau memang Sudi memungutnya, maka silahkan! Aku tidak akan melarang," katanya sembari mundur beberapa langkah.


Vanya tersenyum senang. Sementara, Gerald justru menangis sambil menjatuhkan dirinya ke tanah. Ia menangis sesenggukan seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesukaannya.


"Saya masuk ke dalam dulu, Paman, Bibi!" pamit Diana pada orangtua Gerald yang sedari tadi hanya diam menyimak.


Setelah masuk ke dalam rumah, Diana langsung mengunci pintu dan mematikan lampu. Ia berharap, dengan berbuat seperti itu akan membuat para tamunya sadar bahwa kehadiran mereka tak diterima oleh tuan rumah. Kejam? Tentu tidak. Diana hanya tidak ingin membiarkan kawanan serigala yang sewaktu-waktu dapat menerkamnya ketika tidur berkeliaran didalam rumahnya.


*


"Jadi bagaimana, Gerald? Kau mau menikahi aku, kan?" tanya Vanya penuh harap kepada Gerald.


Setelah ditipu mentah-mentah oleh pacar barunya yang malah membawa kabur uang yang dia curi dari Gerald, hidup Vanya terlunta-lunta di jalanan. Berbekal sedikit uang yang tersisa didalam tas, ia nekat ke rumah Diana setelah tahu bahwa dirinya ternyata hamil, yang entah anak siapa.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kala kebingungan mengenai menjalani hidup dengan kehamilan yang tiba-tiba, Vanya malah bertemu Gerald di rumah Diana. Ide pun terlintas dalam benak Vanya. Dia bisa mengkambinghitamkan Gerald sebagai ayah biologis untuk anak dalam perutnya sekaligus memperoleh tempat tinggal dan jaminan hidup sampai melahirkan. Dan, setelah bayi itu lahir dengan selamat, Vanya akan kembali bertualang cinta mencari uang dan kesenangan dan membiarkan anaknya kelak diasuh Gerald. Rencana yang benar-benar sempurna menurut Vanya.


"Apa benar itu anakku?" tanya Gerald yang masih ragu akan status anak yang ada didalam perut Vanya.


"Tentu saja. Kau tak ingat bahwa kau pernah sekali tidak memakai pengaman ketika kita melakukannya didalam rumah Diana, kan?"


Gerald mendengkus kasar. Ucapan Vanya memang benar. Kali ini, Gerald tak mampu mengelak.


"Apa benar kau hamil cucuku, Nak?" tanya Paul yang mulai mendekati putranya dan gadis cantik yang ia tahu adalah sahabat baik mantan calon menantunya.


"I-iya, Paman!" angguk Vanya. "Ini anak Gerald!" ucap Vanya berkaca-kaca. Tampang polosnya yang selalu berhasil membuat orang menjadi iba, sepertinya kembali berhasil mengelabui orangtua Gerald.


"Baiklah! Kalau begitu, putraku akan bertanggungjawab!" putus Paul yang langsung membuat Gerald membulatkan matanya.


"Ayah!"


"Diam kau!" bentak Paul. "Berani berbuat maka harus berani bertanggungjawab! Jangan jadi lelaki pengecut, Gerald! Jangan membuat Ayahmu ini menanggung malu dua kali!"


Gerald tertunduk. Ucapan Ayahnya tak mampu lagi ia bantah karena ia sadar bahwa semua memang murni salahnya. Dimulai hanya sekadar mencoba bermain api, hingga akhirnya ia tak sadar bahwa api itu perlahan membesar dan membuat ia harus kehilangan segalanya.


"Baiklah! Aku akan menikahimu!"


Wajah Vanya langsung berbinar senang. Ia memeluk erat Gerald yang hanya menatap kosong pada pintu rumah Diana yang telah tertutup rapat.


"Setelah ini, kita akan pulang kemana? Aku lelah, Gerald! Aku ingin istirahat. Kasihan anak kita." Vanya mulai merengek manja.


"Entahlah, Vanya. Kami pun saat ini kebingungan ingin menginap dimana. Sewa flatku sudah habis. Begitu pula dengan sewa flat kedua orangtuaku. Bahkan, adikku saja harus dititipkan di rumah Bibiku untuk sementara karena kami tak memiliki tempat tinggal lagi," ucap Gerald frustasi. Lelaki itu menyugar rambutnya kasar. Inilah alasan utama mengapa ia kekeh ingin kembali pada Diana.


Hutang-hutang yang menumpuk dengan bunga fantastis telah mengambil hampir seluruh penghasilan kedua orangtuanya. Dan, semenjak covid melanda, usaha orangtuanya malah sepi dan akhirnya bangkrut. Tak ada lagi ladang penghasilan untuk membayar hutang. Mereka bahkan sudah pasrah andai mereka harus dipukuli sampai mati jika sang rentenir marah karena cicilan yang macet dibayar.


"Apa? Ja-jadi bagaimana dengan nasibku? Apa aku harus ikut kalian terlunta-lunta dijalanan, begitu?" Vanya membekap mulutnya tak percaya.


"Mau bagaimana lagi? Atau, jika kau masih memiliki sisa uang pesangon yang kau bawa kabur, maka kemarikan! akan ku gunakan untuk menyewa flat yang lebih murah." Gerald menadahkan tangan didepan Vanya.


"Uangnya sudah habis," ujar Vanya tertunduk.


"Habis? Bagaimana mungkin uang sebanyak itu habis hanya dalam beberapa hari, Vanya!" geram Gerald.


"Ma-maaf!" cicit Vanya.


"Lalu, kita harus tinggal dimana?" teriak Gerald frustasi.