
"Uhuukkk!!"
Darah menyembur dari mulut pria yang baru saja terkena tusukan pedang tepat di perutnya. Sambil memegangi pedang yang menancap dan tembus hingga ke belakang punggungnya itu, ia mendongak menatap si pelaku dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
"Uhuuukkk!"
Sekali lagi, ia menyemburkan darah hitam pekat dari mulutnya sebelum tangannya yang gemetaran berusaha meraih ujung baju pelaku yang telah melukainya.
"Ri-Rick???" gumam Damian dengan air mata menetes tak percaya.
Tangannya semakin erat menggenggam ujung baju putra semata wayang yang telah menancapkan pedang di perutnya. Tak pernah dia sangka bahwa malaikat maut yang akan mengakhiri hidupnya yang penuh kegelapan adalah putra kandungnya sendiri. Putra yang dia besarkan penuh cinta kasih namun berakhir menjadi musuh karena berbeda visi dan misi.
"Rick?"
Ashlan memanggil Alarick yang tampak syok dengan mulut yang masih setengah terbuka. Seluruh tubuhnya bergetar. Dia melangkah mundur hingga pegangan tangan sang Ayah terlepas dan perlahan menundukkan kepala kemudian tak bergerak lagi.
"A-aku membunuh Ayahku sendiri, Ash?" tanya Alarick setengah tak percaya pada apa yang baru saja ia lakukan.
Ashlan langsung memeluk tubuh Alarick dengan erat. "Semua bukan salahmu, Rick! Tenanglah!" ucapnya menenangkan.
Ya, bukannya Ashlan tak tahu bahwa tadi Damian berniat untuk menyerangnya. Ashlan sengaja membiarkan karena tahu bahwa serangan itu tak akan memberikan efek yang fatal karena lemahnya kondisi Damian kini. Namun, tanpa di sangkanya, ternyata Alarick yang juga melihat itu reflek menusuk perut Ayahnya yang sebenarnya sudah tak bisa apa-apa.
"Tenanglah, Rick! Ku mohon!" lirih Ashlan yang membiarkan sepupunya menangis sesenggukan didalam pelukannya.
"Yang Mulia!" Jax datang menghampiri. Ia menyeret Leon palsu yang tadi sempat berniat untuk kabur namun berhasil digagalkan oleh beberapa penyihir yang juga kondisinya telah membaik.
Melihat tatapan Ashlan yang tak bersahabat kepadanya, Leon palsu lekas memasang wajah mengiba. Berusaha melemahkan pendirian Ashlan dengan dalih persaudaraan.
"Aku kakakmu, Ash! Apa kau tega menghukum bahkan membunuhku, hah?"
Ashlan diam. Ia menepuk bahu Alarick yang berusaha menghapus jejak air matanya dan kembali fokus pada permasalahan yang belum selesai.
"Apa seorang Kakak pantas untuk melakukan rencana sekeji ini terhadap adiknya sendiri?"
Leon palsu gelagapan. Sesekali, ia melirik jasad Damian yang sudah tak lagi bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Ia terlalu takut. Takut jika dia harus berakhir sama dengan Damian sementara selama puluhan tahun dirinya sudah berhasil lolos dari kematian berkali-kali bahkan memiliki kekasih yang usianya jauh lebih muda serta menggairahkan seperti Verona.
"A-aku seperti ini karena pengaruh Paman Damian, Ash! Ku mohon! Percayalah padaku!" kata Leon palsu berdalih.
Diana yang penasaran akan wajah pria itu segera menerobos kerumunan dan berdiri tepat di samping Ashlan. Sepasang netra hijaunya tampak memicing menatap wajah yang sangat jauh berbeda dari wajah suaminya itu. Bisa dibilang, wajah Leon lebih dominan dan mirip dengan Raja terdahulu. Berbeda dengan sang suami yang memiliki rupa seperti Ibu kandungnya.
"Apa Paman Lucas tidak merindukan Bibi Rosemary?" tanya Diana kepada pria itu.
Mendengar pertanyaan Diana, jantung Leon palsu alias Lucas langsung berdebar kencang. Tak pernah terlintas dalam benaknya akan ada seseorang yang tahu mengenai identitas aslinya. Terlebih lagi, itu adalah Ratu Diana.
"Paman Lucas?" Alis Ashlan mengernyit heran.
Diana menoleh lalu menganggukkan kepala. Dengan santai, ia mengacungkan telunjuknya ke wajah Lucas sembari berkata," Ya, dia adalah Lucas. Mantan kekasih Bibi Rosemary yang telah diam-diam mencuri tubuh Pangeran Leon demi mencapai ambisinya bersama Paman Damian."
Wajah Lucas langsung pias. Dirinya mulai menerka-nerka, sampai mana Diana tahu akan rahasianya.
"Bagaimana mungkin?" tanya Ashlan syok.
Diana menghela napas panjang. Ia menatap iba kepada sang suami yang beberapa saat lalu kemungkinan sudah merasa senang karena tahu bahwa saudaranya masih hidup. Namun, sayangnya, kesenangan itu tak bertahan lama karena mau bagaimanapun, sudah kewajiban Diana untuk menyampaikan kenyataan yang sebenarnya walaupun pahit.
"Maaf, Yang Mulia!" lirih Diana. "Sebenarnya, Pangeran Leon sudah meninggal di hari penyerangan itu. Dan, tubuhnya sengaja di bawa ke hutan oleh Paman Damian agar bisa di ambil alih oleh Lucas yang sekarang masih berada didalam tubuh Pangeran Leon sampai sekarang."
Ashlan terpaku sesaat. Tatapan matanya nampak kosong setelah mendengar kenyataan yang ada. Dia pun mendekati Lucas. Lalu melayangkan tamparan keras kepada pria itu berkali-kali.
"Ampun, Yang Mulia!" mohon Lucas mengiba.
"Keluar dari tubuh kakakku! Keluar!" bentak Ashlan.
"Ti-tidak bisa!" tolak Lucas.
"Tidak bisa? Kau bilang tidak bisa?"
Ashlan mendorong keras tubuh Lucas hingga terjengkang. Lalu, sekali lagi, dia menarik kerah baju pria itu kemudian mencekik lehernya.
"Hentikan, Yang Mulia!" ucap Diana menengahi.
"Tidak. Sebelum dia keluar dari tubuh kakakku!"
"Dia akan mati dengan sendirinya jika tak kunjung menemukan tubuh baru dalam waktu dekat. Sementara, tubuh yang sekarang perlahan akan membusuk karena tak ada lagi yang bisa memberinya ramuan untuk tetap memperpanjang usia tubuhnya," terang Diana secara detail.
Ashlan menyerah. Dia kembali menghempas tubuh Lucas ke tanah sebelum meminta Jax untuk membawanya ke penjara bersama beberapa orang pemberontak yang masih hidup dan berhasil tertangkap.
Setelah semua selesai, mata Ashlan memindai ke sekeliling untuk mencari seseorang. Melihat semua penyihir dan Ksatria yang terluka semakin membaik berkat bantuan Diana, Ashlan merasa percaya diri bahwa orang kepercayaannya yang satu itu juga pasti akan selamat. Tetapi, wajah penuh harap Ashlan perlahan mulai meredup. Terlebih lagi, wajah murung para Ksatria membuatnya semakin tak enak hati.
"Dimana Fionn?" tanya Ashlan kepada salah satu bawahan Fionn.
Yang di tanya hanya menggeleng dengan mata memerah. "Dia tak selamat, Yang Mulia!"
Deg!
Seperti baru saja di pukul palu Godam tepat di ulu hatinya, Ashlan mendadak tak bisa berkata-kata apa-apa. Otaknya masih berusaha menyangkal ucapan pria itu. Namun, nuraninya telah memberontak dan berusaha menghadapi kenyataan yang penuh kepahitan.
Matahari telah menampakkan diri dari peraduan. Namun, cahaya terangnya tak mampu memberi kehangatan bagi Ashlan yang seolah telah kehilangan sebelah kakinya. Kini, dia merasa berjalan pincang. Setelah sebelumnya, dia menganggap bahwa Alarick dan Fionn adalah sepasang kaki yang tetap membuatnya seimbang.
"Dimana dia?" tanya Ashlan dengan suara bergetar.
"Ada di kuil," jawabnya.
Ashlan lekas berjalan cepat menuju ke tempat tujuan. Diana dan Alarick mengikuti dengan tergesa.Tiba disana, Ashlan langsung jatuh terduduk di samping jasad Fionn yang nampak pucat wajahnya. Sekali lagi, Ashlan harus merasakan kehilangan keluarga yang begitu dekat dengannya. Meski tanpa hubungan darah, sejatinya Fionn sudah seperti kakak kandung bagi Ashlan.
"Kenapa tidur disini, Fionn? Apa kau lelah? Apa lukamu masih belum sembuh?" tanyanya kepada Fionn.
"Yang Mulia!" Diana menyentuh bahu Ashlan. Air matanya ikut menetes melihat Fionn yang kini terbujur kaku didalam peti dengan pakaian Ksatrianya yang selalu terlihat gagah.
Diana merasa sedih karena belum sempat membalas budi kepada Fionn yang pernah menjadi guru untuknya walau hanya sebentar. Namun, setidaknya kenangan singkat itu akan terus Diana ingat. Fionn adalah guru yang hebat.
"Kenapa yang lain sembuh tapi dia tidak, Ratu?" tanya Ashlan kepada Diana.
Diana menggeleng. Dia tak punya jawaban apapun akan pertanyaan suaminya. Walau bagaimanapun, Diana bukan Tuhan. Dia hanya mampu menyembuhkan yang masih bisa di sembuhkan dan harus rela memasrahkan yang memang sekarat atau tak bernyawa lagi seperti Fionn.
"Fionn Ksatria terhormat, Yang Mulia! Jangan membuatnya malu dengan menangisi kepergiannya. Bukankah itu pesan yang selalu dia ucapkan setiap kali di kirim ke medan perang?" ucap Alarick memberi penghiburan kepada Ashlan.
Ashlan mengangguk. Yang dikatakan Alarick ada benarnya.
"Beristirahatlah dengan tenang, Saudaraku! Tugasmu telah selesai. Terimakasih untuk segala pengorbanan dan baktimu yang tak terhingga. Kau akan selamanya di kenang sebagai pahlawan di Kerajaan Barat! Selamanya, namamu akan harum sebagai Ksatria terhormat yang rela berkorban nyawa demi rakyat dan negaramu!"
Mendung di pagi hari mengantar Fionn ke peristirahatan terakhirnya. Makamnya berjejer dengan makam para Ksatria terhormat lainnya. Para bawahan Fionn tak ada yang tak merasa kehilangan. Semuanya berkabung hari ini setelah kepergian pria irit bicara namun selalu melakukan segala usaha secara maksimal sampai titik darah penghabisan.