Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Khayalan Levrina, mimpi Sean



Duchess Levrina dan Lady Verona sejak tadi hanya berjalan mondar-mandir di depan pintu area pribadi Kaisar Sean. Ibu dan anak tersebut sudah berusaha menerobos masuk namun pengawal bersikeras menahan mereka.


"Maaf, siapapun tidak di perbolehkan masuk!" ucap salah seorang pengawal saat Duchess Levrina mencoba untuk menerobos.


"Kau tidak tahu aku siapa? Apa kau tidak takut dihukum jika Kaisar tahu kalian menahanku disini?" sinis Duchess Levrina garang.


"Saat ini, wewenang dipegang penuh oleh Ksatria Martinez. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Duchess dan Lady keberatan, kalian bisa berbicara langsung kepada Ksatria Martinez jika beliau sudah keluar," tegas si pengawal memberi pengertian.


Duchess Levrina dan Lady Verona tak punya pilihan selain menunggu sampai mereka diizinkan masuk. Jika harus berurusan dengan Ksatria Martinez, mereka memilih untuk mundur saja. Bukan apa-apa, keduanya terlalu takut berurusan dengan calon pemimpin keluarga Martinez itu. Meski masih muda, namun ketegasan Alejandro Martinez sudah diakui oleh seluruh penghuni kerajaan. Sedikit saja melanggar perintah lelaki itu, maka siap-siap menerima hukuman yang tidak akan bisa dibilang ringan.


"Kenapa mereka lama sekali, Bu? Apa Paman baik-baik saja?" tanya Verona kepada Ibunya.


Duchess Levrina mengendikkan bahu. "Entahlah! Ibu juga penasaran, kenapa tabib kerajaan datang terburu-buru seperti tadi."


"Apa Paman sakit keras?"


Duchess Levrina terdiam sesaat. Mencoba mengumpulkan memori mengenai sikap dan penampakan fisik Kaisar Sean semenjak mereka datang ke kerajaan Timur sampai hari ini. "Sepertinya tidak. Bukankah Pamanmu selama beberapa hari ini terlihat baik-baik saja?" sangkal Duchess Levrina yakin.


"Bisa saja Paman dan orang-orang itu sengaja menyembunyikan fakta yang sebenarnya," kata Verona tak acuh. "Lagipula, Paman mendadak demam pagi ini juga terlihat janggal," imbuhnya.


"Janggal bagaimana?"


"Yaaa ...," Verona mengangkat kedua bahunya. "katanya hanya demam, tapi tadi saat aku membawakan bubur untuknya, aku melihat sapu tangan yang sengaja disembunyikan Paman dibawah bantalnya terdapat banyak darah. Di sudut bibir Paman juga masih terlihat ada bekas darah yang belum mengering."


Seketika, seringai licik muncul di wajah Duchess Levrina. Wanita tua tak sadar umur itu seperti baru saja menemukan sebuah harta Karun di dasar bumi.


"Apa lelaki bodoh itu benar-benar sekarat sekarang?"


"Sstt...," Verona menempelkan telunjuknya di bibir sang Ibu. "Jangan keras-keras menyebut Paman seperti itu, Bu. Di sini banyak Pengawal. Jika mereka dengar, bagaimana?" tutur Verona setengah berbisik dengan wajah panik sembari melirik para Pengawal disekitar mereka.


Menyadari bahwa mulutnya memang kelepasan, Duchess Levrina lekas menarik lengan sang anak agar sedikit menjauh dari para pengawal. Ia pun merapatkan tubuh putrinya ke dinding lalu menempelkan bibirnya ke dekat telinga sang anak untuk membisikan sesuatu. "Jika lelaki bodoh itu sekarat, maka itu artinya kerajaan ini butuh penerus. Dan, sepertinya kakakmu bisa memiliki celah untuk mengisi tahta dan menguasai kerajaan ini."


"Tapi, Bu... Kakak 'kan sudah lama tidak pulang. Dia juga tidak pernah memberi kabar sama sekali."


"Itu gampang, kita bisa meminta tolong Pamanmu untuk mengerahkan anak buahnya agar mencari keberadaan Kakakmu. Setelah itu, kita bertiga akan mencari perhatian pada lelaki tua bodoh itu agar kita bisa mempengaruhinya memberikan tahta kepada Kakakmu. Bukankah, hanya kita kerabat terdekatnya yang memiliki anak lelaki dikeluarganya?"


Tampaknya, Duchess Levrina makin bersemangat. Tahta yang terancam kosong sungguh menyilaukan mata. Ia tak sabar mendudukkan putranya di singgasana itu agar semua orang yang dulu menghinanya menjadi bungkam bahkan bisa ia redam bahkan dia injak-injak. Hah... Rasanya, ia benar-benar sudah tak sabar menantikan hari itu untuk segera tiba.


Sementara, Verona juga tak kalah bersemangatnya dengan sang Ibu. Jika Kakaknya sungguh menjadi penerus tahta kerajaan Timur, maka kedudukannya juga akan semakin tinggi. Itu artinya, impian untuk bersanding dengan lelaki idaman juga semakin dekat.


"Akh...," Nafas Diana tercekat dan tubuhnya nyaris ambruk andai tangan Ashlan tak sigap menahannya. Ternyata, mengeluarkan energi sihir dalam waktu lama cukup menguras energinya. Terlebih lagi, ia baru pemula. Tentu, kapasitas ketahanan yang dia miliki masih kalah jauh dari penyihir-penyihir lain yang sudah lama berlatih.


"Ratu baik-baik saja?" tanya Tabib khawatir.


Diana menggelengkan kepalanya. Tangan Ashlan yang menahannya juga ia lepas perlahan. "Aku tidak apa-apa. Akan ku coba lagi."


"Jangan terlalu di paksakan. Jangan sampai Putri juga ikut drop karena kelelahan," ucap Ksatria Martinez yang terlihat begitu khawatir terkait kondisi Diana.


"Aku baik-baik saja," tegas Diana yakin.


Gadis itu kembali berkonsentrasi penuh. Ia menggenggam tangan kanan Kaisar Sean lalu memejamkan mata. Kali ini, ia tak ingin gagal lagi.


Harus.


Menyembuhkan Ayahnya adalah suatu keharusan yang wajib dilakukan. Sebelum lelaki tua itu meminta maaf atas kesalahan karena telah menelantarkan anak kandungnya sendiri serta telah menjadi salah satu penyebab luka terbesar dalam diri putrinya, Diana tak akan membiarkan pria tua itu mati. Kaisar Sean harus hidup dan akan terus mengenang kesalahannya dalam waktu yang lama. Ia harus tahu bahwa putri yang dulu ia anggap seperti bayangan telah menjelma menjadi sosok nyata yang dicintai banyak orang. Ia harus tahu bahwa putri yang ia anggap lemah dan tak bisa apa-apa telah menjelma menjadi malaikat penyelamat nyawanya.


"Diana Emerald... Bantu aku!" lirihnya dalam hati.


Berbekal tekad dan kesungguhan, keajaiban akhirnya terjadi. Diana yang awalnya merasa begitu lemas kini merasakan hal yang sebaliknya. Badannya kini justru seolah terisi energi penuh. Terasa sangat ringan hingga bernafas saja rasanya sungguh menyegarkan. Tubuhnya mengeluarkan sinar terang seiring rambutnya yang berubah menjadi putih. Lalu, energi berbentuk cahaya terang itu perlahan merasuk ke dalam tubuh Kaisar Sean. Merambat seperti sulur yang mengisi setiap inci tubuh tua yang ringkih itu.


Ksatria Martinez dan tabib istana tampak begitu takjub. Keduanya termasuk manusia beruntung karena bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keajaiban kekuatan langka milik penerus darah keluarga Emerald yang melegenda.


"Alesha...," panggil Kaisar Sean yang baru saja membuka mata. Sepasang netra itu terlihat berkaca-kaca. Dapat dilihatnya sang istri yang sedang tersenyum kepadanya namun sesaat kemudian tiba-tiba berubah menjadi muram dan kecewa.


"Kau telah menelantarkan putri kita, Yang Mulia! Kenapa kau tega? Apa karena menurutmu dia telah merenggut ku darimu?" Ratu Alesha terlihat menggeleng. "Tidak, Yang Mulia! Dia tidak merenggut ku darimu. Bahkan, andai harus bertaruh nyawa sekali lagi untuknya, pasti akan tetap ku lakukan. Dan, aku tidak pernah menyesal harus berkorban nyawa untuknya. Karena dia putriku. Putri kita. Anak yang ku lahirkan dari rahimku hasil buah cintaku bersama pria yang begitu aku cintai. Tidakkah kau kasihan padanya? Tidakkah kau rindu ingin memeluknya? Aku bahkan iri pada Yang Mulia karena Yang Mulia masih bisa memeluknya dengan leluasa sementara aku tidak."


Lidah Kaisar Sean terasa kelu. Ingin berucap bahwa ia sangat menyesal namun suara seolah enggan keluar dari tenggorokan.


"Jaga dia, Yang Mulia! Karena, seluruh hidupku ada pada dirinya. Jika Yang Mulia sungguh mencintaiku, maka apapun yang terjadi jangan lagi berpaling darinya. Dia putri kita. Bukti cinta kita satu-satunya."


Mata Kaisar Sean membeliak saat sosok sang istri mulai berbalik dan perlahan berjalan menjauh menembus cahaya yang begitu menyilaukan mata.


"Alesha...," teriaknya dengan suara bergetar.


"Yang Mulia?" panggil Ksatria Martinez dan tabib istana secara bersamaan. Mereka menghampiri pria yang telah terbangun dalam posisi duduk dengan nafas terengah-engah itu. Sepasang matanya mengeluarkan airmata.


"Apa Anda bermimpi buruk?" tanya Ksatria Martinez khawatir.