Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kisah akhir Levrina



"Bu-nuh sa-ja a-ku se-seka-rang!" lirih Duchess Levrina dengan mata yang sebentar terbuka sebentar tertutup. Ini sudah hari ketiga dia menjalani hukuman. Namun, tampaknya malaikat kematian masih betah melihatnya begitu menderita hingga enggan mencabut nyawanya cepat-cepat.


Tiga hari tanpa makan dan minum di tambah tidur yang tak pernah bisa dia rasakan sungguh membuat Levrina nyaris gila. Dia dehidrasi. Rasa lapar terkadang juga membuatnya mengamuk membabi buta. Dia bisa berteriak kuat hingga seharian. Namun, setelahnya dia akan tertidur atau pingsan selama beberapa waktu lalu menangis histeris setelah terbangun.


"Beri aku makaannn...," teriaknya sekuat tenaga. Namun, sekali lagi ucapannya hanya sebatas angin lalu di telinga para penjaga.


Seringkali, Levrina berdoa agar diturunkan hujan agar dahaganya bisa terobati. Namun, Tuhan juga sepertinya enggan mendengar doa dari orang jahat sepertinya. Hanya serangga atau binatang melata kecil yang bergerak di dekatnya yang menjadi satu-satunya sumber makanan Levrina. Itu pun, harus dengan berdiam dengan sabar selama beberapa jam demi melahap satu serangga yang kebetulan hinggap di bibirnya.


Miris.


Namun, siapa yang akan peduli padanya? Hanya Verona seorang yang mampu ia harapkan namun sayangnya, putri satu-satunya itu menghilang tanpa jejak entah kemana.


"Ibuuu...," Teriakan itu membuat Levrina berusaha membuka mata dengan sempurna.


Ya, itu suara putri yang begitu dia harapkan akan membantunya bebas. Namun, mungkin saat ini ia tak ingin mengharapkan hal itu lagi. Sudah hari kelima semenjak dia menjalani hukuman berat ini. Kepalanya seperti sudah nyaris tercabut dari lehernya karena terlalu lelah menahan beban. Mungkin, ia memang harus berusaha mempercepat kematiannya sendiri. Setidaknya, dengan cara itu penderitaannya di dunia akan segera berakhir.


"Ve-Verona?" lirihnya dengan setetes bening yang meluncur dari sepasang matanya. Rindu tak lagi mampu terbendung.


Namun, bisakah ia diberi kesempatan bertemu dengan putrinya walau hanya sekali? Setidaknya, untuk terakhir kali, ia ingin membingkai wajah cantik Verona dalam ingatan sebelum ajal menjemput.


"Ibuuu...," Lagi, panggilan itu terdengar semakin dekat.


"Ve...," Levrina tak lagi mampu meneruskan kata-katanya.


"Maafkan aku, Bu! Maafkan aku!" ucap Verona yang berhasil mendekati sang ibu dan menangis sambil menjatuhkan diri di dekat sang Ibu yang hanya bisa ia lihat kepalanya saja sementara tubuhnya tertanam didalam tanah.


"Menjauh sedikit, Nak!" kata Levrina. "Jika perangkapnya jatuh, kau juga bisa ikut mati." Ia mencemaskan putrinya.


"Biarkan! Aku tidak peduli," jawab Verona yang justru kini erat memeluk kepala sang Ibu.


"Tapi Ibu peduli!" lirih Levrina kembali. Kesadarannya sudah semakin menipis. Namun, masih bisa dia lihat meski samar-samar bahwa ada Alejandro Martinez yang berdiri tak jauh dari mereka seolah sedang mengawasi pergerakan Verona.


"Kau masih muda. Hiduplah dengan baik setelah ini. Jangan ikuti jejak Ibumu ini, Nak! Masa depanmu masih panjang. Masih banyak waktu untukmu berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang," nasihat Levrina panjang lebar. Waktunya sebentar lagi akan habis. Ia tahu itu. Terasa dari sakit di kulit kepalanya akibat beberapa helai rambut yang semakin banyak tercabut dari sebelum-sebelumnya.


"Tidak," geleng Verona. " Aku tidak mungkin hidup tanpa Ibu. Tidak," tolaknya tegas. Ya, bagaimana mungkin dia mampu hidup sendiri sementara Ibu dan kekasih yang selama ini ia gadang-gadang akan memberi hidup mewah dan makmur sepanjang masa telah berakhir buruk di penjara?


Tak hanya itu, kelak, pasti sang kekasih juga akan mendapatkan hukuman mati seperti ibunya. Belum lagi, desas-desus yang mengatakan bahwa jiwa yang menghuni tubuh pria yang dicintainya ternyata adalah sosok pria tua yang lebih pantas dia sebut Ayah. Rasanya, Verona ingin mati saja daripada harus menanggung malu dan jijik karena telah jatuh cinta dan menyerahkan kehormatannya kepada Lucas si pria tua.


"Tolong bawa dia pergi!" pinta Levrina kepada Alejandro.


"Aku tetap ingin disini bersama Ibu. Biarkan kita mati bersama, Bu!" teriak Verona histeris. Pelukan di kepala sang Ibu semakin erat kala dua pengawal berjalan mendekat dan mulai menariknya untuk segera menjauh.


Kepala Levrina bahkan semakin bertambah perih. Dia meringis kesakitan. Namun, tak mampu berbuat apa-apa karena kepalanya di pegang erat oleh Verona. Helai rambut yang tercabut sungguh sangat menyakitkan. Levrina merasa tak sanggup menahan perihnya lebih lama lagi. Semakin terasa sakit, semakin dia meyakini bahwa jebakan yang berada di atas kepalanya sebentar lagi akan terjatuh. Kini, Levrina pasrah. Ia memejamkan mata menanti kematian tragis menimpanya.


Dan...


Sreettt!


Jebakan itu terjadi dan nyaris ikut mengenai Verona andai dua pengawal tadi terlambat menariknya. Verona terdiam. Matanya tak berkedip melihat pemandangan di hadapannya.


Kepala Ibunya tak lagi terlihat. Tertutup jebakan besar seukuran persegi 2x2 meter dengan seratus bilah pedang yang sudah pasti telah mengoyak kepala Ibunya didalam sana.


"I-Ibu...," ucapnya dengan napas tercekat.


Alejandro lekas menghampiri Verona. Begitu sampai di belakang wanita yang sedang terduduk syok itu, ia langsung menarik lengan wanita itu hingga terpaksa berdiri.


Plak!!


Satu buah tamparan Alejandro daratkan di pipi Verona. Gadis itu kembali jatuh terduduk dengan sudut bibir yang berdarah. Namun, tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.


"Bodoh!" hardik Alejandro. "Kau yang membunuh Ibumu dengan kecerobohanmu sendiri. Setelah ini, kau ingin menyalahkan siapa lagi atas takdir burukmu ini, hah? Aku? Dua pengawal itu atau malah sang Putri?"


Verona membisu dengan tatapan kosong menatap tanah yang ada dibawahnya. Air matanya tumpah. Sebelah tangannya memegang pipi yang terasa panas karena tamparan Ksatria berpangkat paling tinggi di kerajaan Timur.


*


Setelah dua hari usai merenungkan perkataan Tuan Vernand alias penyihir agung, Alarick memantapkan hati untuk kembali ke kerajaan. Penampilannya terlihat jauh lebih dewasa. Terdapat bulu-bulu halus yang kini memenuhi garis rahangnya yang tegas. Pun dengan rambut yang semakin memanjang dari sebelumnya dan ia putuskan untuk diikat tinggi saja. Seperti penampilan Fionn yang dulu selalu ia ejek karena menurutnya terlihat seperti wanita.


Padahal, Fionn sama sekali tak terlihat seperti wanita. Dia tampan meski wajahnya selalu datar dan terlihat bengis. Jika ditanya kapan akan menikah, maka jawabannya akan selalu sama.


"Jika Yang Mulia memintaku menikah maka aku akan menikah! Tentunya, dengan wanita pilihan Yang Mulia."


Meraup wajahnya kasar, Alarick melangkah cepat menuju ke makam Fionn sebagai tempat pertama yang akan dia kunjungi. Di sana, dia sedikit tersenyum karena melihat makam Fionn yang dipenuhi bunga-bunga diatasnya. Sepertinya, bukan hanya Alarick saja yang datang berkunjung hari ini. Mungkin, Ksatria lain sudah lebih dulu datang. Bahkan, mungkin bukan hanya hari ini. Melainkan hari-hari sebelumnya juga.


"Maaf karena aku baru sempat berkunjung, kawan!" ucap Alarick dengan suara bergetar di akhir kalimat. "Lihat! Aku mengikat rambutku seperti rambutmu. Tapi..." Ia menggigit bibir bawahnya. "Sepertinya aku tidak cocok dengan gaya rambut seperti ini. Rambutku yang ikal lebih mirip sarang tawon jika ku panjangkan dan ku ikat begini. Andai kau masih hidup, apa kau akan menertawaiku?"


Alarick tersenyum getir. Dihapusnya kristal bening yang menggenang di sudut mata. Sebelum matahari benar-benar meninggi, ia harus sudah berada di istana.


"Aku pamit! Lain kali, aku akan berkunjung lagi kemari!"