
Panas. Kehausan. Pusing.
Tiga gejala aneh itu kini diderita Diana ketika dia yang tanpa sadar menganggukkan kepala tanda persetujuan atas permintaan malam pertama yang diminta Ashlan. Ingin ditarik kembali, tetapi ia tak ingin mengecewakan Ashlan yang sudah terlanjur melonjak kegirangan.
Apakah memang segugup ini saat akan melakukan 'itu' dengan lelaki yang benar-benar sah menjadi milik kita? Atau, hanya Diana saja yang terlalu berlebihan dalam menanggapinya?
Aih! Panas dingin di sekujur tubuh. Wajah memerah sudah seperti kepiting rebus. Sialnya lagi, otak seolah tidak memperoleh asupan aliran darah sehingga membeku dan tak bisa memikirkan apa-apa.
Sementara, pria yang menjadi sumber keresahan Diana sendiri sedang duduk dengan posisi membelakangi Diana. Ia seolah syok mendengar persetujuan dari istrinya. Hal yang seharusnya membuat dia senang, malah membuatnya ikut jadi sosok yang begitu pemalu.
"Harus mulai darimana? Kalau aku mengecewakan Ratu, bagaimana?" gumam Ashlan gelisah di dalam hati.
Helaan nafas dari wanita dibelakangnya membuat lelaki itu kemudian berbalik. Ia sadar telah membuang waktu terlalu lama. Wajah cantik itu ia tatap lamat-lamat. Begitu elok menurutnya dan membuat gairah yang terpendam semakin meronta tak karuan.
"Ratu...," panggilnya lirih. Ia tak ingin kehilangan kesempatan ini. Setidaknya, jika malam ini berhasil mereka lalui, maka malam-malam berikutnya pasti tak akan canggung lagi. Ya, setidaknya pengharapan Ashlan sebagai lelaki seperti itu.
"Y-ya?" jawab Diana canggung. Jemarinya seolah tak bisa diam. Berulangkali, ia hanya mengelus bagian leher dan tengkuknya saja. Gugup menjadikannya tak bisa melakukan apa-apa selain itu.
"Haruskah kita mulai?"
"Uhukkk!!" Diana tersedak ludahnya sendiri. Ia tak habis pikir dengan lelaki dihadapannya ini. Jika ingin mulai, bukankah seharusnya dimulai saja? Kenapa mesti bertanya yang malah membuat Diana semakin bertambah gugup.
"Ratu tidak apa-apa?" Ashlan bertanya khawatir.
"Tidak apa-apa," angguk Diana.
Hening sekali lagi. Keduanya kompak membuang pandang ke arah lain. Tangan Ashlan terlihat menggenggam pinggiran kasur dengan sangat kuat. Sementara, pahanya dijepit kuat untuk menutupi sesuatu yang mulai bangkit didalam sana.
"Wahai burung perkutut...
Tidakkah kau merasa sesak karena dihimpit begitu kuat oleh Tuanmu sendiri?"
BLUSH!!
Pipi Diana semakin merona saat tak sengaja melihat ke bagian bawah perut suaminya. Belum lagi, pikiran mesumnya mulai berkeliaran kemana-mana. Pusaka lelaki itu sepertinya sudah meronta minta dibebaskan. Namun, sang pemilik tak juga mengambil inisiatif untuk memulai. Tanpa sadar, Diana menggeleng-gelengkan kepalanya. Prihatin pada nasib si perkutut yang terjepit.
"Ratu!"
"Yang Mulia!"
Keduanya memanggil secara bersamaan. Aih! Kapan terjadinya kalau begini? Dari tadi hanya terjadi tarik ulur yang jika kelamaan malah akan membuat semuanya jadi batal tak terlaksana.
Meraup wajah secara kasar, Ashlan memilih mengalah.
"Ratu duluan saja," ucap Ashlan mempersilahkan.
"Ratu 'kan wanita. Seharusnya, wanita itu harus didahulukan."
"Tapi, Yang Mulia 'kan pemimpin. Seharusnya, Yang Mulia yang harus memulai pembicaraan." Sedikit galak, Diana berucap.
Ashlan masih ingin berbicara, namun terdengar ringisan yang lebih mirip kucing ingin menantang berkelahi dari mulut sang istri yang membuat lelaki itu langsung mengurungkan niatnya.
Menimbang sesaat perkataan sang istri, Ashlan mengangguk menyetujui. Ia menggeser posisinya agar merapat ke dekat Diana. Tangannya bergerak ragu merangkul pundak sang istri dan perlahan memutar tubuh Diana agar berhadapan dengannya.
"Apa Ratu tidak akan menyesal jika Ratu tidur bersamaku?"
Diana meneguk ludah. Fokusnya hanya tertuju pada bibir yang bergerak kala berbicara itu. Seksi. Bibir suaminya seksi sekali. Hah... Semakin mesum pikiran Diana dari hari ke hari. Apa ini efek terlalu lama menganggur dan tidak bekerja?
"Ratu?" panggil Ashlan yang langsung membuat wanita itu mendongak dan fokus kembali.
"Kenapa saya harus menyesal?" jawab Diana.
Ashlan tersenyum lega mendengar jawaban istrinya. Baiklah! Jika sudah begini, maka takkan ada lagi yang akan membuatnya merasa berat untuk melakukan hal tersebut.
"Izinkan aku memiliki Ratu seutuhnya," lirihnya sebelum mencium bibir sang istri dengan lembut dan penuh cinta.
Sontak, Diana memejamkan mata. Ia membalas pagutan sang suami sebaik yang ia bisa. Lama kelamaan, ciuman itu semakin terasa liar dan menuntut. Keduanya bahkan sudah tak ingat, kapan mereka telah berada dalam posisi berbaring, dengan Ashlan yang menindih tubuh Diana.
"Apa aku salah jika egois dan menginginkan Ratu?" Sorot mata lelaki itu kembali sendu ditengah rasa asing yang menggebu-gebu. Begitu pagutan mereka terlepas, kalimat itu meluncur dari mulut Ashlan.
"Tidak," Diana menggeleng. Di tangkupnya wajah tampan itu dengan kedua telapak tangannya dengan senyum yang menambah indah pesona dirinya dimata Ashlan. "Saya juga menginginkan Yang Mulia. Jadi, tidak ada yang salah. Saya milik Yang Mulia. Bukan milik yang lain."
Ashlan kembali mencium bibir sang istri. Racauan kenikmatan terdengar lirih dari mulut wanita itu. Ia tak berdaya. Terhanyut dalam arus gairah yang dikendalikan secara penuh oleh lelaki yang ia akui begitu ia cintai. Hingga tangan Ashlan berhasil meloloskan gaun yang ia kenakan, mata wanita itu barulah terbuka dan menatap wajah di hadapannya.
Sedikit mulutnya terbuka. ******* nafas yang memburu masih sama dengan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi pemilik dirinya seutuhnya. Masa bodoh dengan pemikiran-pemikiran aneh mengenai dirinya yang berada di dunia yang lain. Ia hanya ingin menikmati momen ini sebaik mungkin. Andai ia kembali pun, tak akan ada yang Diana sesali.
Dingin yang merasuk saat tubuhnya benar-benar sudah polos di hadapan sang suami membuat Diana menutup tubuhnya dengan kedua tangan. Tampak, ia menggigit bibir bawah saat menyaksikan sang suami melepaskan satu-satunya penutup terakhir dari tubuhnya sendiri. Dan, ketika Ashlan kembali memeluknya, dingin yang Diana rasakan mendadak menguap begitu saja. Berganti hangat dari hasil gesekan kulit yang sama-sama tak mengenakan apa-apa lagi.
"Aku sangat mencintai kamu, Di!" bisik Ashlan di telinga Diana ketika lelaki itu bersiap menyatukan tubuh mereka.
"Ashlan...," pekik Diana ketika bagian bawahnya mendadak perih saat benda tumpul milik sang suami melesak hendak menerobos pertahanannya.
"Akan ku lakukan dengan perlahan, percayalah!" Ashlan menggigit kecil daun telinga sang istri demi mengalihkan sedikit fokus wanita itu.
Cengkraman di kedua sisi lengannya terasa sangat kuat. Meski sedikit sakit, namun rasa itu tak ada apa-apanya dibanding perasaan nikmat yang saat ini ia rasakan ketika penyatuan itu berhasil ia lakukan.
Peluh di dahi sang istri ia usap dengan ibu jarinya. Satu buah kecupan ia daratkan agak lama disana. Lalu, kecupan itu beralih ke kedua kelopak mata Diana yang tertutup,kemudian berpindah ke hidung dan berlabuh kembali di bibir plum sang istri.