Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Ashlan Joan Arlen



"Bagaimana?" tanya seorang pria bernetra abu-abu kepada seorang pria berambut pirang ikal yang berdiri dibelakangnya.


"Ini, Tuan!" sang ajudan mendekat dan menyerahkan sebuah MacBook yang memutar sebuah rekaman video.


"Jadi, benar dia pelakunya?" Si pria bernetra abu tersenyum miring setelah menyaksikan video yang merupakan sebuah rekaman yang diambil dari kamera dashboard sebuah mobil.


"Sepertinya, Tuan Shernon ingin menguasai seluruh aset kekayaan keluarga Anda," ucap si ikal.


"Kalau begitu, segeralah bergerak! Sudah cukup kita diam dan membiarkan pria serakah itu bermain-main sesuka hati."


"Baik!"


Tak sia-sia, selama 6 bulan terakhir Ashlan Joan Arlen berusaha terus mencari bukti atas kecelakaan maut yang nyaris melenyapkan nyawanya 9 bulan yang lalu. Akibat kecelakaan itu, dia harus koma selama 3 bulan dan mengalami kelumpuhan pasca terbangun dari koma. Usaha untuk pulih sepenuhnya tak bisa dibilang mudah. Semua ia lalui dengan usaha keras yang terkadang diselingi teriakan putus asa karena merasa telah berada diambang batas kemampuan.


Namun, berkat foto-foto yang terus di kirimkan oleh orang suruhannya semenjak 5 bulan yang lalu, Ashlan perlahan mulai menemukan kembali semangat juangnya. Ia bertekad penuh harus sembuh dan normal kembali demi menemui seorang gadis berambut kecoklatan dengan netra kehijauan yang selama ini ia anggap hanya ada dalam dunia mimpi. Berkat keisengan Erick, ajudan pribadinya yang malah menyuruh seseorang untuk mencari tahu keberadaan gadis itu hanya berbekal lukisan yang digambar Erick berdasarkan deskripsi Ashlan, siapa sangka bahwa sosok gadis dengan paras yang sama persis ternyata benar-benar hidup di dunia nyata. Tersembunyi di sebuah restoran kecil di kota London yang letaknya kurang lebih 118 mil dari pusat kota Birmingham tempat dimana Ashlan berada.


"Mengenai gadis cantik itu, kapan Anda akan menemuinya?" tanya Erick di sela perjalanan menuju ke kantor.


Ashlan yang duduk di bangku belakang tersenyum tipis. Hal yang hanya akan dia lakukan jika sedang membahas gadis yang selama ia koma telah memberinya mimpi yang sangat indah.


"Secepatnya, setelah kita berhasil menyingkirkan Shernon pengkhianat itu."


"Apa Tuan Peter akan percaya pada kata-kata Anda?" tanya Erick ragu. Pasalnya, Shernon adalah tangan kanan Peter, kakek Ashlan yang merupakan keluarga satu-satunya yang pria tampan bernetra abu-abu itu miliki. Bagi Peter, Shernon sudah seperti putra kandungnya sendiri. Peter bahkan tidak segan-segan memberi saham yang lumayan besar untuk Shernon di perusahaan mereka.


"Dia harus percaya karena kita sudah memiliki bukti," jawab Ashlan seraya membuang pandangan keluar jendela.


Perjalanan kembali hening. Satu notifikasi masuk ke ponsel Ashlan yang langsung membuat pria itu tersenyum lebar bahkan tertawa lirih.


"Ada apa, Tuan?" tanya Erick penasaran.


"Gadisku kembali menghajar mantan pacarnya, Rick!" ucap Ashlan.


"Kenapa lelaki itu tetap tidak jera? Benar-benar tidak tahu malu! Padahal, ada istrinya di rumah yang sedang mengandung."


"Sepertinya, ini jauh lebih parah dari yang terakhir, Rick! Bisa kau urus agar dia jangan sampai di tahan oleh polisi seperti biasa?" tanya Ashlan kepada Erick yang sedang fokus menyetir.


"Tentu saja. Hal yang sangat mudah selama kita memiliki uang, Tuan!" angguk Erick sumringah.


"Kau tahu, Rick? Dalam mimpi panjangku bukan hanya gadisku yang ada disana."


"Ada siapa lagi?" tanya Erick penasaran. Jika bagi sebagian orang, cerita Ashlan cukup menggelikan dan tidak masuk akal, namun bagi Erick, semua hal yang keluar dari mulut sang atasan adalah sebuah kebenaran dan keseriusan.


"Kau juga berada disana."


"Benarkah? Apa saya menjadi seseorang yang hebat?" tanya Erick antusias.


Ashlan mengangguk seraya tersenyum tipis. "Ya, kau adalah Ksatria pribadiku sekaligus sepupuku."


Seketika, Erick menegakkan punggung dan tersenyum bangga. "Ya, saya tahu. Mau didunia manapun Anda hidup, saya akan selalu setia mendampingi Anda, Tuan!"


"Kenapa?" tanya Ashlan yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.


"Karena, berkat Anda saya bisa terlepas dari kehidupan jalanan yang keras. Bisa bersekolah di sekolah bergengsi dan mendapatkan pekerjaan yang sangat layak. Ibu saya bahkan berobat di rumah sakit termahal walau pada akhirnya beliau menyerah pada penyakit yang datang mengeroyok secara bersamaan."


Ashlan memajukan sedikit badannya hanya demi menepuk pundak Erick yang pasti akan mendadak sedih jika mengingat sang Ibu yang telah lama berpulang karena penyakit jantung, ginjal dan paru-paru yang datang bersamaan. Sebaik dan semahal apapun rumah sakit yang dipilihkan Ashlan sebagai tempatnya di rawat, tak mampu membuatnya kembali sehat seperti sedia kala. Ibu Erick berpulang tepat ketika usia putranya menginjak 16 tahun. Dan, sejak saat itu, Erick memutuskan untuk mengabdi penuh kepada Ashlan dan menjadi kaki tangan paling dipercaya oleh pria itu.


Sampai didepan sebuah gedung elit perkantoran, Ashlan turun dengan penampilan gagah luar biasa. Sebuah kacamata hitam keluaran brand terkenal bertengger di hidung mancungnya. Setelan jas buatan Italia yang hanya diproduksi beberapa stel saja di seluruh dunia, menjadi pilihannya hari ini. Sepatu kulit mengkilat dengan harga tak kalah fantastis juga ikut menunjang penampilan sempurnanya hari ini. Dia bertekad menyingkirkan Shernon dengan cara yang sadis namun dengan penampilan yang begitu sempurna untuk diingat pria serakah itu seumur hidup.


"Maaf, saya terlambat!" ucap Ashlan santai begitu memasuki ruang rapat.


"Darimana saja kau?" hardik Peter tanpa peduli pada kehadiran dewan direksi yang ada di ruangan tersebut.


"Dari mencari sesuatu sebagai hadiah kejutan untuk ulangtahun Paman Shernon," jawab Ashlan seraya membuka kacamatanya dan menyelipkannya dibalik saku jas berwarna navy yang ia kenakan.


"Itu bukan alasan, Ash!" sergah Peter dengan nada rendah.


"Boleh aku memperlihatkan kadonya didepan semua orang?" Bukannya menanggapi amarah kakeknya, Ashlan malah mengalihkan pembicaraan. Bahkan, tanpa menunggu persetujuan lebih dulu dari kakeknya, ia sudah meminta Erick untuk memutar rekaman kamera dashboard yang memperlihatkan Shernon sedang berdiri mengawasi anak buahnya yang tampak berbaring dibawah mobil Ashlan entah sedang melakukan apa. Tahu-tahu, setelah keluar dan berdiri kembali, ia menerima sebuah amplop coklat dari Shernon lalu bergegas pergi sambil membawa sebuah tang di tangan kirinya.


"Kita sudah hendak memulai rapat, Ash! Sebaiknya nanti saja!" cegah Shernon yang sudah jelas berusaha mencari muka didepan Peter.


"Hanya sebentar, Paman! Aku rasa, yang lain tak akan keberatan jika mengorbankan waktunya selama 5 menit demi membiarkan aku memberikan kejutan kepada Paman. Bukan begitu?" tanya Ashlan yang mau tak mau diangguki oleh para dewan direksi.


Shernon tak berani berkomentar lagi. Sementara, Peter hanya mendengus sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai pertanda kesal terhadap kelakuan sang cucu.


"Sekarang, Rick!" titah Ashlan seraya menjentikkan jarinya.


Erick mengangguk. Hanya dengan menekan satu tombol pada laptop dihadapannya, video itu sudah tayang di layar besar yang terdapat didalam ruangan tersebut. Jeritan tertahan terdengar memenuhi ruangan. Shernon terkejut hanya mampu mematung dalam diam. Sementara, Peter tampak begitu murka dengan wajah yang perlahan mulai memerah.


"Jadi, kau dalang dibalik kecelakaan cucuku, Shernon?" tuding Peter dengan suara keras. Pria tua itu bangkit dari kursinya dan menatap nyalang orang yang selama ini telah begitu ia percayai.


"Darimana kau dapatkan rekaman itu, Ash?" tanya Shernon dengan mata memerah. "Video itu tak mungkin asli. Itu semua palsu! Rekayasa!"


"Oh ya?" tanya Ashlan santai. "Bagaimana kalau kita tanyakan langsung saja pada pria yang kau berikan amplop coklat dalam video itu Paman? Kita tanya, apa yang dia lakukan di bawah mobilku sambil membawa sebuah tang. Tidak mungkin, dia hanya numpang tidur dibawah sana, bukan?"


Shernon meneguk ludahnya kasar. Ia merasa semakin terpojok kala pria suruhannya ternyata berhasil Ashlan temukan. Dan sekarang, pria itu sudah berada tepat di hadapannya dengan wajah babak belur bekas di hajar orang suruhan Ashlan.


"Apa yang kau lakukan di bawah mobilku waktu itu?" tanya Ashlan dingin dengan tatapan full mengintimidasi.


Pria itu menatap Shernon dengan tatapan takut. Seluruh tubuhnya gemetaran. "Tu-Tuan Shernon meminta saya memutus tali rem mobil Anda, Tuan!" akunya seraya tertunduk.


"Tidak, itu tidak benar!" sergah Shernon. "Jangan berani-berani kau memfitnahku!"


"Fitnah?" Ashlan tersenyum. "Jelaskan saja di kantor polisi, Paman!" imbuh Ashlan seraya memutar sebuah rekaman video lain yang ternyata diambil oleh orang suruhan Shernon tersebut. Hal itu dipersiapkan oleh pria itu untuk mengantisipasi hal semacam ini terjadi. Ia tak mau dihukum sendirian atas sebuah kejahatan yang bukan sepenuhnya salahnya.


"Br*ngsek kau! Jadi, kau menjebakku?" tanya Shernon murka.


"Bukan menjebak Tuan, hanya antisipasi!" kata pria itu.


PLAK!


Tanpa diduga, Shernon tiba-tiba ditampar oleh Peter hingga melangkah mundur sebanyak dua langkah. Lelaki tua itu meski sudah berumur namun tenaganya masihlah sangat kuat.


"Dasar kakek tua jahanam!" Shernon hendak memukul balik Peter namun tongkat Peter jauh lebih cepat memukul ulu hatinya.


Shernon mengadu kesakitan sambil memegang perutnya. Tak berselang lama, beberapa orang polisi datang dan membekuk Shernon dan juga kaki tangannya.


"Saya tidak bersalah! Semua ini salah kakek tua itu! Siapa suruh dia terus saja menunda memberikan saham yang katanya akan diberikan padaku!" teriak Shernon seperti orang kesetanan.


Peter menggeleng. Memang benar, ia akan memberikan saham kepada Shernon. Semua orang juga sudah tahu akan hal itu. Namun, entah kenapa, setahun belakangan Peter mendadak ragu. Dan, ia terus mencari alasan demi menunda memberikan saham tersebut setidaknya sampai ia merasa tenang kembali. Siapa sangka, jika ternyata hal itu berdampak pada Shernon yang murka dan malah melampiaskannya pada Ashlan.


"Selamat ulang tahun, Paman!" ucap Ashlan dengan senyum lebar saat Shernon yang diborgol dan diseret oleh dua orang polisi lewat didepannya.


"Anak kurang ajar! Tunggu pembalasanku!" teriak Shernon murka.


"Sekarang, waktunya aku menemuimu! Tunggu aku, Di..." gumam Ashlan dalam hati.


*Malam ini up dua bab, semoga suka