
Gadis cantik dengan gaun pengantin yang mirip dengan gaun milik Kate Middleton saat menikah dengan Pangeran William terlihat sedang menatap pantulan dirinya lewat cermin besar yang ada dihadapannya. Ya, hari besar itu akhirnya tiba. Hari dimana, untuk yang kedua kali, Diana dan Ashlan akan mengucap janji suci dihadapan Tuhan untuk selalu bersama dalam keadaan apapun dan sampai kapanpun hingga ajal menjemput.
Rasa grogi tak mampu Diana redam. Berulangkali, gadis itu nampak membasahi bibir dengan liurnya seraya sesekali mengatupkan kedua tangan dan tertunduk merapal doa.
Sedikit ada kekosongan saat menyadari bahwa pernikahannya tak dihadiri orangtua yang memang telah berpulang lama. Rindu seketika menelusup. Menghadirkan getaran di sanubari yang mengundang cairan bening untuk berkumpul di pelupuk mata dan bersiap untuk tumpah.
Diana menunduk. Membuka mulut lalu menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Walau bagaimanapun, impian setiap gadis yang menikah tentu ingin didampingi oleh orangtua. Sesak di dada kian terasa saat ia menatap foto lama kedua orangtuanya yang sedang bergandengan tangan sambil tertawa lepas yang sengaja ia bawa untuk menjadi penguatnya hari ini.
"Ayah... Ibu... Anakmu hari ini akan menikah! Apa kalian senang? Apa kalian bangga?" lirihnya. Tangannya dengan lembut mengusap wajah kedua orangtuanya dalam selembar foto berukuran 4R tersebut.
"Ayah dan Ibu tak perlu cemas lagi. Sekarang, sudah ada orang yang akan selalu menjaga dan mencintaiku. Dia akan dan selalu memperlakukan aku penuh cinta seperti perlakuan kalian selama ini terhadapku." Diana tersenyum di sela tangisnya. Ia mencium potret lawas itu sedikit lama. "Aku... rindu... Rinduuu sekali," lirihnya lagi diiringi isakan panjang.
"Di...,"
Diana terkesiap. Air mata yang tumpah ia usap perlahan lalu tersenyum kepada dua sosok wanita beda usia yang bisa ia lihat melalui pantulan cermin. GREP! Begitu ia berbalik, Katy dan Melanie kompak memeluknya erat.
"Jangan sedih, Di! Aku yakin, mereka tak akan suka jika kau menangis di hari pernikahanmu," hibur Katy.
Diana menggeleng dalam pelukan kedua orang itu. "Aku hanya sedikit rindu, Kak!" akunya.
"Kakak...," Melanie ikut menangis. Ia paham bahwa Diana pasti merindukan kedua orangtuanya. Dan, mungkin bukan hanya Diana. Gadis manapun yang akan menikah, pasti akan teringat orangtua apalagi jika orangtuanya sudah tiada.
KLEK!
Pintu ruangan tersebut kembali terbuka. Ketiga wanita yang sempat larut dalam haru itu kompak menoleh dan menghapus jejak air mata masing-masing. Di sana, berdiri Kepala koki dengan setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya yang dihiasi kumis dan jambang yang sudah memutih tampak tersenyum.
"Lima menit lagi, kita sudah harus keluar, Di! Bersiaplah!"
Diana mengangguk. Katy dan Melanie buru-buru memperbaiki sedikit riasan wajah Diana dan memastikan bahwa penampilan gadis sempurna tanpa cela. Setelah dirasa sudah sempurna, Kepala koki mengulurkan tangannya yang langsung disambut Diana dengan wajah tersenyum.
"Terimakasih karena Chef sudah bersedia mengantarku menuju ke altar," kata Diana saat dia berjalan anggun dengan menggandeng lengan Kepala koki.
Pria tua itu tersenyum. Ia menepuk punggung tangan Diana yang berpegangan di lengannya. "Kau sudah ku anggap seperti putri kandungku sendiri. Tentu, sudah kewajibanku mendampingi dan mengantarmu menuju bahagia, Anakku!"
Hangat. Hati Diana bergetar saat Kepala koki mengucap kalimat itu. Tatapan matanya yang berkaca-kaca terus menatap wajah bersahaja kepala koki yang kini fokus menghadap ke arah depan.
Tiba di tempat tujuan, Diana menarik napas panjang menunggu pintu dihadapannya untuk terbuka. Kepala koki terus menepuk-nepuk punggung tangannya sedari tadi. Menganggukkan kepala memberi isyarat bahwa hari ini akan berjalan sempurna.
Dan, begitu pintu terbuka, riuh tepuk tangan terdengar membahana menyambut kehadiran Diana. Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang lelaki dengan setelan jas putih menunggunya dengan senyum penuh arti. Kegugupan dan rasa panik yang sempat melanda seketika lenyap sudah.
Tiba di depan mimbar, dimana seorang pendeta sudah menunggu, Diana melepaskan pegangannya dari lengan Kepala koki saat uluran tangan dari pria bernetra abu-abu dengan kulit seputih salju menjulur di hadapannya. Di raihnya tangan itu. Lalu, tersenyum ke arah kepala koki yang langsung turun dan duduk di barisan depan, bagian khusus keluarga mempelai. Teman-teman Diana menyusul dengan duduk di deretan bangku kedua dengan wajah sumringah dan tak lepas dari senyum.
Prosesi sakral tersebut berjalan dengan lancar dan penuh haru. Banyak yang menangis kala Ashlan berjanji akan membahagiakan Diana meski mungkin tak akan sesempurna cara kedua orangtuanya membahagiakannya di kala kecil. Katy dan Melanie yang terlihat paling banyak menangis. Sementara, Erick memilih berdiri agak jauh di pojokan karena terlalu malu untuk dilihat orang lain sedang ikut menangis.
*
"Di, heelsnya tak bisa diganti saja?" tanya Ashlan saat mereka sudah bersiap untuk resepsi pernikahan mereka yang bertema fairy tale pada malam harinya. Tema itu sengaja dipilih oleh keduanya agar dapat bernostalgia masa-masa mereka terjebak didunia paralel yang menyatukan cinta mereka dengan cara yang luar biasa ajaib.
Baik dandanan dan dekorasi yang dipilih sengaja disesuaikan dengan keinginan keduanya. Gaun yang di kenakan juga sesuai dengan rancangan sendiri yang tinggal di konsultasikan dengan desainer agar lebih di sempurnakan.
"Memangnya kenapa?"
"Itu terlalu tinggi, Sayang! Aku khawatir akan berdampak buruk pada bayi kita. Lagipula, nanti kau akan cepat lelah jika memakai itu," jawab Ashlan.
Diana mengerucutkan bibirnya sambil memandang heels yang persis seperti sepatu kaca Cinderella yang sudah melekat indah di kakinya dengan perasaan sedih. Sudah sangat lama ia memimpikan akan mengenakan heels tersebut di hari spesialnya. Namun, kondisi yang memang sudah mengandung dua bulan itu, tentu tidak memungkinkan untuk meloloskan keinginannya tersebut. Sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata, Diana pasrah melepaskan sepasang heels cantik itu.
"Hei, kau sedih?" Ashlan berjongkok dihadapan Diana lalu mengelus lembut pipi istrinya itu.
Ashlan menghela napas. "Suatu hari, kau pasti bisa mengenakan heels cantik ini, Sayang!" ucapnya sambil meraih sepasang heels bening itu dan memasukkannya kembali ke dalam kotak. Ia pun bangkit berdiri dan mengambil heels dengan hak yang jauh lebih rendah lalu memakaikannya ke kaki sang istri yang masih duduk di sofa.
"Terimakasih," ucap Diana setelah Ashlan selesai memasangkan heels yang baru.
"Sama-sama," sahut Ashlan sembari mengusap pucuk kepala sang istri.
Pesta berlangsung dengan meriah. Para tamu undangan juga mengenakan pakaian yang senada dengan tema acara. Diana terlihat lebih sering berkumpul dengan teman-temannya. Sementara, Ashlan sesekali sengaja menghampiri beberapa orang penting sekadar untuk menanyakan kabar dan memberi penghormatan.
PRANG!!
Saat sedang asyik tertawa bersama Melanie dan Katy, tiba-tiba saja kegaduhan terjadi tepat dibelakangnya. Seorang perempuan terjatuh dengan pakaian basah kuyup karena terkena tumpahan minuman yang dibawa pelayan. Ditangannya terdapat sebilah pisau lipat yang sudah dalam keadaan terbuka. Seketika, Diana menahan napas saat perempuan itu mendongak dan menatapnya penuh benci.
"Vanya? Kau kenapa bisa disini?" tanya Diana tak percaya. Pasalnya, pestanya dijaga dengan ketat oleh tim keamanan. Tak sembarang orang bisa masuk kecuali tamu yang memiliki undangan dan beberapa panitia yang jelas memiliki tanda pengenal. Namun, melihat name tag yang terdapat di kaos yang Vanya kenakan, Diana sudah bisa tahu kenapa perempuan itu bisa ada dalam pestanya.
Vanya tak menjawab. Perempuan itu lekas berdiri dan bersiap untuk melarikan diri. Namun, pelayan yang sepertinya sengaja menabrak Vanya segera mencekal lengannya.
"Mau kemana kau?" tanya wanita dengan suara yang sangat dikenali Diana itu. Meski parasnya nampak muda, namun suaranya tak berubah sedikitpun.
"Nenek Anneth?" gumam Diana.
Nenek Anneth dalam wujud gadis muda berusia 20 tahunan itu tersenyum lalu menyeret Vanya untuk pergi. Dan, anehnya tak ada yang merasa terganggu dengan kejadian tadi. Seolah-olah, perisitiwa yang kini sedang Diana lihat tak bisa dilihat oleh orang lain kecuali dirinya.
"Kebahagiaanmu tak akan terenggut lagi. Nikmatilah!" pesan Nenek Anneth.
Ralat. Masih ada satu orang yang bisa menyadari peristiwa tadi yaitu sosok pria tampan bernetra abu-abu yang kini menghampiri Diana dengan wajah cemas.
"Kau tidak apa-apa? Kenapa wanita itu bisa disini?"
"Aku tidak tahu," geleng Diana.
"Ratu terluka?"
Diana menggeleng lagi.
"Tidak. Aku baik-baik saja."
Ashlan memeluk Diana singkat lalu berjongkok dihadapan Diana begitu lampu tiba-tiba mati dan terdapat satu lampu sorot yang hanya berpusat pada keduanya.
Tangan kanan pria itu terulur ke arah Diana sementara tangan kirinya bersembunyi dibelakang tubuhnya. Ashlan menampilkan secarik senyum lalu berkata, "Will you dance with me?"
Diana ikut tersenyum lalu menyambut uluran tangan Ashlan. "With pleasure, My lord!"
Dan, pesta dansa pun akhirnya dimulai. Dalam pesta bahagia Ashlan dan Diana malam itu, beberapa kisah cinta lain sepertinya juga mulai ikut terajut. Cinta August akhirnya berbalas saat Katy mabuk dan mengakui perasaan sukanya pada pria itu. Lalu, Erick yang nampaknya juga jatuh cinta pada gadis belia berusia 16 tahun saat ia tak sengaja menolong Melanie yang nyaris jatuh karena terpeleset akibat dorongan dari Katy yang mabuk berat.
"Te-terimakasih kasih, Kak!" ujar Melanie kaku setelah beberapa detik berdiam dalam dekapan Erick.
"Sama-sama," jawab Erick yang langsung melepaskan tubuh Melanie setelah terpesona beberapa saat oleh tatapan mata gadis muda itu.
"Sepertinya, Erick harus bersabar beberapa tahun jika menunggu cintanya bersambut," bisik Ashlan kepada Diana.
"Ya," angguk Diana. "Salah sendiri terpesona pada anak dibawah umur," balas Diana yang disambut tawa oleh Ashlan.
End~