
"Saat ini kondisi tubuh Yang Mulia jauh lebih baik. Sepertinya, sebentar lagi kondisi Yang Mulia benar-benar akan pulih sepenuhnya." Tabib istana menjelaskan dengan sumringah. Senyum di wajahnya tak henti-hentinya terpancar kepada setiap pasang mata yang berada didalam ruangan tersebut.
"Apa, Yang Mulia masih harus diobati oleh Putri?" tanya Ksatria Martinez sambil melirik Diana yang duduk di sofa dengan pandangan yang mengarah ke luar jendela.
Sang tabib menghela nafas panjang kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, sepertinya begitu. Dikarenakan kondisi Yang Mulia yang memang sudah sangat parah, maka sihir Putri tadi tidak menyembuhkan secara keseluruhan. Mungkin, butuh dua atau tiga kali lagi terapi penyembuhan yang harus dilakukan oleh sang Putri terhadap Yang Mulia Kaisar."
Hening. Tak ada yang memberi tanggapan lebih. Kaisar Sean pun tampaknya enggan mengatakan apa-apa. Matanya yang berkaca-kaca terus memandang pada putri yang selama ini telah ia sia-siakan hanya karena sebuah alasan bodoh.
'Rasa bersalah'.
Padahal, andai ia benar-benar merasa bersalah, harusnya ia menebus dengan tindakan bukan malah mengabaikan hingga sampai saat ini, kedamaian batin tak pernah ia rasakan lagi. Tidur pun tak pernah nyenyak. Setiap malam ia harus terbangun karena mimpi buruk sama yang terus berulang. Istrinya, Ratu Alesha datang dan mengutarakan kekecewaannya terhadap tindakan bodohnya yang telah menelantarkan sang Putri satu-satunya.
Karena tertekan oleh rasa bersalah, akhirnya penyakit itu pun datang dengan sendirinya. Menggerogoti secara perlahan hingga semakin lama semakin bertambah parah dan baru terendus selama 3 tahun belakangan. Saat diketahui pun, kondisinya sudah sangat parah. Tak lagi bisa disembuhkan dan hanya mampu dihambat penyebarannya menggunakan obat-obatan yang harus rutin di konsumsi.
"Apa kalian bisa meninggalkan aku dan Diana berdua saja?" Tiba-tiba saja Kaisar Sean memberi perintah yang membuat semua orang terkejut kecuali Diana.
Gadis itu tampak menarik nafas panjang dan menabrakkan netranya ke netra kehijauan yang begitu sama persis dengan dirinya. Sedetik kemudian, ia kembali memutuskan kontak mata mereka dengan menundukkan kepala.
"Baik, jika itu keinginan Yang Mulia!" angguk Ksatria Martinez patuh.
Dia dan Tabib istana beranjak keluar. Sementara Ashlan menyusul keduanya setelah mendapat persetujuan dari Diana.
"Tak apa jika aku keluar sebentar?" tanya pria itu lembut pada wanitanya.
Diana tersenyum kecil kemudian mengangguk. "Tak apa jika Yang Mulia menunggu sebentar?" ujarnya balik bertanya.
Ashlan ikut tersenyum. "Asalkan yang kutunggu adalah Ratu, seribu tahun pun tak masalah."
Mendengar jawaban Ashlan yang terdengar 'lebay' dan menggelikan itu, Diana tergelak kecil. Ternyata, gombalan seperti itu bukan hanya ada di zaman modern. Tapi, di zaman kerajaan pun memang sudah ada. Bedanya, di zaman modern yang berucap seperti itu kebanyakan lelaki buaya. Entah, jika di zaman tempatnya terdampar sekarang. Namun, Diana bisa memastikan bahwa Ashlan bukanlah tipe lelaki 'playboy' yang mengumbar kata-kata menggelikan seperti itu kepada sembarang wanita.
KREK!!
Sementara, Diana bersikap tak acuh. Gadis itu memilih bungkam dan menunggu inisiatif Ayahnya untuk memulai pembicaraan. Ia lebih memilih melempar pandangan ke arah jendela. Menyaksikan ranting yang bergoyang karena tiupan angin musim gugur yang sebentar lagi akan berlalu sehingga menimbulkan bunyi yang terdengar berirama.
"Di?" panggil Kaisar Sean lirih. Beberapa kali, lelaki tua itu membasahi bibirnya dengan ludah sendiri karena terlalu gugup.
Diana enggan berbalik. Namun, rungunya masih mampu mendengar jelas apa yang dikatakan lelaki tua itu selanjutnya.
"Ayah bukannya membencimu. Sama sekali tidak, Sayang!" ucap Kaisar Sean sambil menggelengkan kepala. "Hanya saja...," Ia menggigit bibir bawahnya. Tak kuat untuk menyambung kalimat yang akan kembali mengoyak luka lama yang bahkan belum mengering sampai hari ini.
Menarik nafas dalam, Kaisar Sean tertatih menyambung kalimatnya. "Hanya saja Ayah merasa bersalah. Andai Ayah berada di samping Ibumu saat melahirkanmu, mungkin Ibumu saat ini masih akan tetap hidup. Karena Ayah...," Kaisar Sean tertunduk dengan air mata yang kian mengalir deras. "Kau harus kehilangan Ibumu. Maaf!"
"Bodoh!"
Wajah Kaisar Sean terangkat saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Diana. Matanya sedikit melebar seakan tak percaya bahwa putrinya mampu mengucapkan kata sesarkas itu kepadanya.
"Ayah adalah lelaki terbodoh yang pernah ku kenal," imbuh Diana seraya berbalik menatap Ayahnya. "Jika Ayah memang merasa bersalah, harusnya Ayah membesarkanku dengan baik. Harusnya Ayah melimpahkan kasih sayang Ayah secara penuh. Kalau perlu, dedikasikan hidup Ayah setengahnya untuk diriku. Tapi, kenapa Ayah justru mengabaikan ku bahkan mengurungku dengan kejam dan tanpa perasaan? Apa Ayah pikir, cara seperti itu sudah benar? Apa Ayah pikir tindakan seperti itu sudah bijak?"
Kaisar Sean semakin tergugu dalam tangisnya. Ia seperti baru saja dihempas dengan keras ke dalam lumpur hidup oleh putrinya sendiri. Perlahan namun pasti, lumpur hidup itu semakin menelan dirinya. Sangat lambat namun mematikan.
"Maaf! Maafkan Ayahmu yang bodoh ini, Sayang! Hanya karena Ayah tak mampu melihat wajahmu yang terlampau mirip dengan Ibumu, Ayah jadi berbuat hal yang paling fatal. Ayah sungguh bodoh!" ucap Kaisar Sean sambil memukul kepalanya sendiri berkali-kali.
Ya, alasannya enggan melihat putrinya sendiri adalah karena wajah sang putri begitu mirip dengan istrinya. Mereka bak pinang di belah dua. Perbedaannya hanya terletak pada warna bola mata karena Diana mewarisi warna bola mata miliknya. Ciri khas keturunan murni keluarga kerajaan.
Diana menengadah ke langit-langit kamar. Sekuat apapun ia berusaha untuk kuat, namun pertahanannya tetap kalah. Bohong jika dia tak merasa lega mendengar pengakuan Ayahnya. Namun, 24 tahun hidup yang dilalui Diana Emerald dalam kesunyian dan kegelapan tak mampu membuat hatinya serta merta menerima sepenuhnya pengampunan yang di pinta oleh Ayahnya.
"Katakan! Apa yang harus Ayah lakukan agar Ayah bisa membuang beban yang berat ini dari dada Ayah, Nak? Apa?" tanya lelaki tua itu sambil menepuk keras dadanya sendiri.
"Tetaplah hidup," ucap Diana mantap. Ia menatap tajam Ayahnya dengan penuh keyakinan. "Ayah harus menyaksikan dengan mata kepala Ayah sendiri bahwa anak yang dulu Ayah anggap tak berguna kini telah menjelma menjadi sosok yang hebat. Ayah harus mengakui kekalahan Ayah dengan terus melihatku yang akan terus bersinar dari hari ke hari. Ayah harus melihat putri yang Ayah biarkan hidup kesepian selama 24 tahun bisa dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintainya. Dan, Ayah juga harus bisa membayar kembali 24 tahun hidupku yang telah Ayah rampas dariku."
Diana menyeka air matanya. "Aku tidak butuh maaf dari Ayah. Yang ku butuhkan adalah bagaimana caranya Ayah membuktikan bahwa perkataan Ayah bukanlah bualan semata. Jika Ayah sungguh menyesal telah membuang ku selama ini, maka bayar kembali waktu 24 tahun ku yang telah Ayah sia-siakan."