
"Pinggangku...," ringis Diana yang melangkah sudah seperti robot hendak kembali ke kamarnya. Tangan sebelah kiri sibuk menopang pinggang yang terasa sakit. Sementara, tangan kanannya berpegangan pada lengan Mulanie yang setia menuntunnya dengan sabar.
"Apa dia pikir aku ini robot, Lanie? Dia bahkan tidak mengizinkan aku istirahat makan siang sama sekali. Dasar penjajah!"
"Yang Mulia ingin saya pijat?" tanya Mulanie yang merasa prihatin kepada kondisi Ratunya. Tadi pagi, sang Ratu masih berpamitan padanya dengan senyum lebar serta pakaian berwarna krem yang bersih tanpa noda. Namun, setelah petang, Diana malah meminta dijemput di tempat latihan dalam kondisi yang begitu memprihatinkan.
Senyum lebar itu pudar sudah. Seluruh pakaiannya kotor terkena lumpur di tempat latihan. Wajahnya juga cemong.
"Itu ide yang sangat bagus, Lanie. Kau tahu? Ping-gang-ku... mungkin se-dikit me-ngalami keretakan," jawab Diana dengan susah payah.
Ternyata, yang dimaksud Ashlan dengan meningkatkan kemampuan dengan cepat adalah ini. Fionn sama sekali tak membiarkan Diana beristirahat. Pria itu bahkan dengan leluasa membentak, memaksa Diana untuk mencoba lagi dan lagi jika Diana gagal. Fionn sosok yang benar-benar otoriter. Diana bahkan sempat berpikir bahwa mungkin Fionn diam-diam sedang balas dendam atas kekalahannya.
"Apa makan malam Ratu ingin dibawakan ke kamar saja?"
Diana mendelik. Ia menatap Mulanie dengan tatapan tak suka. "Menurutmu, apa aku masih sanggup makan malam dengan kondisi seperti ini, Lanie?"
Mulanie lekas tertunduk. "Ma-maaf, Yang Mulia!"
Diana menghela nafas. Melihat respon Mulanie, dia jadi merasa bersalah terhadap gadis itu. "Aku yang seharusnya minta maaf. Padahal, aku kesalnya pada penjajah itu, tetap kenapa malah ku lampiaskan padamu?"
"Tidak apa-apa, Yang Mulia!" Mulanie tersenyum. Perubahan mood-nya cepat sekali.
Tiba dikamar, Diana di sambut dengan senyum sang suami yang merekah dibalik pintu. Ashlan meminta Mulanie untuk kembali saja. Diana akan ia urus sendiri.
"Yang Mulia jahat!" kata Diana sembari masih memegangi pinggangnya.
"Jahat kenapa?" tanya Ashlan kebingungan. Karena kondisi sudah aman, topeng yang seharian ia pakai akhirnya di lepas juga.
"Kenapa Yang Mulia memberikan guru sejahat Fionn? Yang Mulia tahu apa yang dilakukannya seharian ini? Dia benar-benar puas menyiksaku!" ujar Diana sebal.
Ashlan tertawa. Tubuh Diana ia rengkuh dengan erat. "Ratu marah padaku? Benarkah?" bisiknya sambil mengecup pipi Diana beberapa kali.
"Anda benar-benar menyebalkan," cebik Diana yang seketika luluh karena tingkah manis Ashlan.
"Ingin ku pijit?" tanya Ashlan dengan wajah sumringah.
"Yang Mulia bisa memijat? Benarkah?" Diana menatap Ashlan penuh keraguan.
"Ratu meragukan kemampuanku?"
"Tentu saja," angguk Diana yakin.
"Baiklah!" Ashlan kembali memeluk tubuh sang istri. "Akan ku buktikan sejago apa aku dalam hal memijat. Tapi, sebelum itu, Ratu lebih baik terlebih dulu. Lihat, wajah Ratu sedikit cemong. Dan...," Ashlan menjauhkan dirinya.
"Ratu sedikit bau," imbuhnya yang sengaja ingin menggoda Diana.
Mendengar ucapan sang suami, reflek mata Diana membulat. Diangkatnya kedua tangannya. Mencium ketiak yang memang sedikit berbau asam. Tanpa mengingat lagi sakit pinggangnya, Diana mengambil langkah seribu menuju ke tempat permandian. Sementara, Ashlan hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan Diana.
Saat menunggu Diana selesai bersih-bersih, Ksatria Bennett tiba-tiba datang dengan wajah yang tegang. Ashlan langsung membawa sang sepupu untuk menjauh dari area kamar. Khawatir jika Diana mendengar perbincangan mereka dan malah menjadi kepikiran lalu berakhir menjadi tidak fokus dengan latihannya.
"Dia sudah sadar," lapor Alarick.
"Dia mengamuk dan memaksa untuk dibebaskan dari penjara."
"Apa ada bangsawan yang datang menemuinya?"
Alarick mengangguk. "Tiga perwakilan keluarga besar bangsawan sudah datang menjenguk. Saya sendiri tidak tahu darimana mereka bisa mengetahui persoalan ini. Dan, jika Duke Hendrick tidak dibebaskan, mereka mengancam akan mengumpulkan seluruh keluarga bangsawan yang menentang Yang Mulia untuk melakukan pemberontakan dan memaksa Anda untuk turun tahta."
Ashlan meninju tembok yang ada disampingnya. Emosinya memuncak mendengar berita yang disampaikan oleh Alarick. Sekarang, harus bagaimana? Semuanya bahkan terjadi jauh lebih cepat dari antisipasi yang ia bisa.
"Apa tidak ada cara untuk menghentikan aksi mereka?"
"Satu-satunya cara hanya dengan mengambil jalan damai. Yang Mulia harus melupakan masalah ini dan menganggapnya tak pernah terjadi."
"Dia hampir membunuh istriku, Rick! Bagaimana mungkin ku lepaskan?" geram Ashlan penuh emosi.
"Sayangnya, Duke Hendrick pintar memutarbalikkan fakta. Beliau justru mengatakan bahwa dirinyalah yang nyaris dibunuh oleh Yang Mulia Ratu. Apalagi, posisinya, justru memang dialah yang terluka sangat parah. Sementara, Ratu...," Alarick tak lagi melanjutkan kata-katanya. Ia yakin, bahwa Ashlan mengerti akan maksudnya.
"Andai dia tidak mengancam nyawa Ratu duluan, mustahil Ratu melakukan perlawanan." Ashlan menengadah menatap langit-langit. Pikirannya benar-benar buntu. Menghadapi pria licik dengan pasukan yang kuat tanpa senjata ampuh sungguh membuat Ashlan kelimpungan.
"Bagaimana dengan dua orang suruhannya?"
Alarick menghela nafas berat. "Justru itu, Yang Mulia!"
Ashlan menatap sang sepupu dengan sorot mata yang tajam. "Ada apa, Rick? Jelaskan!"
"Mereka berdua ditemukan mati setelah menenggak racun didalam penjara!"
"Sial!" Ashlan berteriak mengumpat.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Apa Yang Mulia mau melepaskan Duke Hendrick seperti permintaan para keluarga bangsawan besar itu?"
Ashlan menggeleng tegas. "Tidak akan pernah, Rick!"
"Anda memilih berperang?" Alarick mencoba menebak isi pikiran sang Kaisar.
"Apa kita punya pilihan lain?" Ashlan balik bertanya. "Kita memang sudah terlalu lama hidup dibawah doktrin Duke Hendrick. Bahkan, aku pun tumbuh dan besar dalam pengasuhan dan pola pembelajarannya. Tapi, apa kita harus terus mengalah dan mengikuti mau mereka, Rick? Menuruti kaum-kaum serakah yang bahkan tak pernah memikirkan nasib rakyat kita?" Ashlan menggeleng dengan tegas. "Waktunya kita melawan, Rick! Orang-orang itu harus tahu bahwa sekalipun dikurung didalam kandang selama puluhan tahun, singa tetaplah singa. Ada waktunya dia memberontak dan justru memakan tuannya sendiri jika dalam situasi terjepit."
*
Setelah bertemu dengan Alarick, Ashlan memutuskan kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Diana sudah tertidur dengan lelap di atas pembaringan. Perlahan, Ashlan mendekat ke sisi ranjang. Duduk di sana dalam diam sembari mengelus rambut panjang milik sang istri. Sebuah kecupan agak lama ia daratkan di dahi Diana. Ia berusaha mencari ketenangan yang belakangan begitu mudah ia dapat jika berada disisi wanitanya.
"Mungkin memang sudah saatnya, Di! Akan tetapi, andai aku gugur dalam peperangan ini, apa kau akan tetap baik-baik saja?" gumamnya dengan mata memerah.
"Perang apa?"
Ashlan terkesiap sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Diana. "Ratu belum tertidur?" tanyanya sedikit terkejut.
"Tadinya sudah. Tapi, ketika mendengar anda berbicara, aku jadi terbangun."
Tangan lembut itu menyentuh pipi Ashlan. "Katakan! perang apa yang Yang Mulia maksud?"