
"Kemampuan bela dirimu lumayan meningkat, Di!" puji Duke Hendrick di sela pertarungan yang tak seimbang.
Diana tersenyum dengan nafas terengah. Pedang ia jadikan tumpuan agar kakinya tetap berdiri tegak.
"Jangan mengajakku berbicara dulu, Tuan Duke! Lihat, aku sedang sibuk!" jawabnya sembari menahan kembali serangan yang mendatanginya.
Duke Hendrick tersenyum simpul. Lelaki itu mulai bosan melihat pertarungan yang sepertinya akan berlangsung lumayan lama.
"Apa mengalahkan satu perempuan saja, kalian tidak becus? Dasar sampah!" umpatnya kepada anak buahnya.
Dua pria yang mendengarnya saling berpandangan sesaat lalu menyerang dengan jauh lebih beringas. Diana menggertakkan gigi saat menangkis serangan yang jauh lebih kuat. Mau tak mau, menggunakan sihir adalah opsi yang paling memungkinkan untuk melumpuhkan dua pria berbadan besar itu.
"Baiklah! Kita coba!" ucapnya sembari memusatkan pikiran dan membayangkan bentuk sihirnya.
Tak lama kemudian, dua pria tadi langsung terpental keluar jendela akibat serangan sihir Diana yang tiba-tiba. Duke Hendrick yang melihatnya langsung membulatkan mata.
"Kau?" tanyanya sedikit syok.
"Kaget?" Diana bertanya. "Aku juga," imbuhnya yang juga tak percaya bahwa the power of kepepet ternyata seluar biasa itu.
Namun, tiba-tiba, BRUGH!!
Ia terpental dan membentur patung besi tadi. Mulutnya memuntahkan darah ketika Duke Hendrick menyerangnya dengan sihir yang tiba-tiba.
"Aku bukannya berniat membunuhmu, Sayang! Hanya saja, sedari tadi kau membuatku selalu emosi!" kata Duke Hendrick sambil memainkan sihir menyerupai bola hitam kecil ditelapak tangan kirinya.
"Yang Mulia...," Mulanie berlari hendak menolong Diana. Namun, gadis itu seketika terpental saat Duke Hendrick justru menyerangnya juga.
BRUGH!
Mulanie jatuh dan tak sadarkan diri.
"Jangan sakiti dia!" erang Diana penuh kemurkaan.
"Berdoa saja, semoga pelayan pribadimu itu tidak mati," sarkas Duke Hendrick sambil tertawa merendahkan.
Kedua tangan Diana mengepal dengan kuat. Andai melukainya saja, mungkin bukan masalah bagi Diana. Hanya saja, jika sudah melukai orang-orang disekitarnya maka ia tak akan pernah rela.
"Kau memang benar-benar jahat, Duke Hendrick!" geramnya.
"Lalu, kau bisa apa?"
Dada Diana naik turun menahan sesak yang tiba-tiba menyerang. Ia sungguh geram pada aksi Duke Hendrick yang tega melukai Mulanie demikian parah. Padahal, gadis itu sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai masalah mereka.
"Bedebah kau pria tua!" teriak Diana dengan murka.
Cuaca yang awalnya tenang mendadak diterpa angin kencang. Dedaunan kering masuk ke dalam ruangan melalui jendela yang telah rusak. Duke Hendrick menutupi wajahnya dengan telapak tangan demi menghalau angin yang keras menerpa wajah. Dan, sepersekian detik berikutnya, pria itu dibuat keheranan karena Diana tiba-tiba telah berdiri seolah tak pernah terluka dengan rambut yang sudah berubah putih dan mata yang bersinar.
"Kau memang pantas mati, Duke Hendrick!" kata Diana sambil menyerang Duke Hendrick dengan energi sihirnya.
Duke Hendrick melebarkan matanya. Ia menangkis serangan Diana dengan sedikit payah. Beberapa kali, pria tua itu terjungkal karena kepayahan melawan Diana yang mendadak berubah menjadi sosok yang lain.
"Kau harus mati!" ucap Diana saat Duke Hendrick tak lagi memiliki celah untuk melarikan diri.
"Diana! Tolong, jangan bunuh Paman!" pintanya mengiba.
Diana tak menggubris. Sihir menyerupai tombak ia tancapkan tepat ke perut Duke Hendrick tanpa ragu sedikitpun. Dan... Crashhhh... Darah segar mengalir dari perut dan mulut Duke Hendrick secara bersamaan.
"Ratu!" panggil Ashlan yang baru saja tiba.
Mendengar namanya di panggil oleh suara yang tak asing, kesadaran Diana perlahan mulai kembali. Energi sihir yang semula sangat besar perlahan meredup. Dan, ketika ia benar-benar telah tersadar, ia melihat Duke Hendrick sudah tak sadarkan diri dengan perut yang terus mengeluarkan darah.
"Apa aku yang melakukannya?" tanyanya dengan suara bergetar sambil mundur ke belakang.
Tangannya masih sangat bersih. Ia enggan percaya bahwa kondisi tragis Duke Hendrick disebabkan olehnya.
"Apa aku yang melakukannya?" tanyanya sekali lagi.
Ashlan dan Fionn tampak syok melihat kekacauan yang terjadi. Beberapa pengawal terkapar tak sadarkan diri. Pun, dengan satu-satunya pelayan pribadi milik sang Ratu.
"Tenanglah, Ratu!" Ashlan berusaha memeluk Diana demi menenangkan kepanikan wanita itu. Sementara, Fionn bergegas memeriksa keadaan Duke Hendrick.
Seumur hidup, ia tak pernah membunuh orang. Menyakiti memang sering. Namun, mencabut nyawa apalagi dengan cara sekeji ini sama sekali tak pernah terlintas dalam pikirannya. Biar bagaimanapun, ia hanyalah perempuan biasa yang bekerja di sebuah restoran tanpa rekam kriminal berat. Tapi, di dunia yang sekarang ia tempati, ia malah berubah menjadi sosok pembunuh berdarah dingin.
"Dia masih bernafas," kata Fionn kepada Ashlan dan Diana.
Diana menghela nafas lega. Sementara, Ashlan terdiam dengan tatapan entah. Pria itu tahu bahwa kejadian ini akan merubah segalanya. Ketegangan antara bangsawan yang pro kepada keluarga kerajaan dan bangsawan yang pro kepada keluarga Hendrick tak akan bisa dihindarkan lagi.
"Bawa dia ke ruang medis," perintah Ashlan kepada Fionn.
Fionn mengangguk. Sigap, ia menggendong Duke Hendrick menuju ke ruang perawatan agar lekas ditangani.
"Mulanie...," Diana baru teringat pada gadis itu. Ia melepaskan diri dari pelukan Ashlan lalu mencari-cari keberadaan Mulanie melalui sepasang matanya.
"Mulanie...," panggilnya sambil berjalan tergesa mendekati gadis yang masih tak sadarkan diri itu.
"Dia baik-baik saja, Ratu!" ucap Ashlan yang sedang berdiri dibelakangnya.
Diana berjongkok dan mendekatkan telunjuknya ke hidung Mulanie. Deru nafas yang berembus hangat mengenai jarinya membuat Diana sontak menjatuhkan diri dengan lemas sambil menangis tergugu.
"Syukurlah! Aku pikir dia akan mati!" ucapnya terisak.
"Sihir Ratu mungkin menyembuhkannya secara tidak langsung," terang Ashlan.
Diana tersenyum lega. Air matanya ia hapus sembari mengucap syukur berkali-kali.
"Apa yang terjadi?" tanya Ashlan setelah Diana mulai agak tenang.
"Duke Hendrick menuduhku menyembunyikan Bibi Levrina dan Verona," jawab Diana.
"Lalu?"
"Dia tak percaya jika bukan aku pelakunya. Dan, dia meminta dua orang suruhannya untuk menyakiti aku."
"Apa yang terjadi pada dua orang itu?"
Diana menggeleng. "Entahlah! Mereka terlempar ke luar jendela dan aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan mereka di luar sana."
Ashlan mengangguk mengerti. "Pasti prajurit yang berjaga sudah menangkap mereka."
Suasana mulai hening. Ashlan dan Diana sama-sama hanyut dengan pikiran masing-masing.
"Apa yang akan Yang Mulia lakukan pada Duke Hendrick?"
"Dia akan mendapatkan hukuman berat karena telah berani melukai Ratu."
"Tapi... Bagaimana dengan para pengikutnya?"
Ashlan mendengkus. "Itu akan menjadi urusanku!" jawabnya singkat dan ambigu.
Persoalan ini akan menjadi semakin pelik untuk ke depannya. Para bangsawan yang mengikuti keluarga Hendrick sejak dulu akan mulai melakukan pemberontakan secara terang-terangan. Dan, sebelum situasi akan semakin kacau, Ashlan harus menemukan sesuatu yang bisa mengukuhkan posisinya sebagai seorang Raja. Ia harus memiliki bukti bahwa dirinya adalah benar putra kandung Raja terdahulu dan berhak atas tahta. Karena, jika ia gagal membuktikan semua itu, maka ia bisa saja di lengserkan dan perebutan tahta yang kosong akan menimbulkan kekacauan serta korban yang tak sedikit.
Buku harian Raja terdahulu tak akan memberikan bantuan yang cukup. Bisa saja, pendukung Duke Hendrick mengatakan bahwa buku harian itu adalah rekayasa. Dan, sekalipun bisa dibuktikan bahwa catatan itu asli, Ashlan ragu bahwa pengikut Duke Hendrick akan menerima begitu saja.
"Bisakah Yang Mulia mencarikan ku guru beladiri yang andal?"
"Apa Ratu tidak senang berlatih denganku?" tanya Ashlan dengan nada tak rela.
"Bukan," geleng Diana. "Aku hanya ingin menambah guru lagi. Lebih banyak orang yang mengajari, maka kemampuanku pasti juga akan lebih banyak dan cepat meningkat."
"Baiklah!" Ashlan mengangguk mengerti. "Besok,akan ku kenalkan pada guru yang hebat. Tapi, Ratu harus berusaha menyakinkan dia untuk menerima Ratu."
"Memangnya, kenapa?" Dahi Diana berkerut.
Ashlan sedikit meringis. "Dia tidak menerima murid secara sembarang. Bisa dibilang, dia sedikit selektif dalam memilih murid."
"Tidak apa. Saya percaya bisa menyakinkannya."
Ya, Diana sudah bertekad untuk belajar lebih keras lagi dari sebelumnya. Peristiwa tadi benar-benar membuka matanya bahwa dunia ini jauh lebih kejam dari yang sudah ia bayangkan selama ini.
Dirinya yang terlalu lemah dan seringkali takut dan ragu akan berusaha ia tangani sendiri. Ia harus berubah jika ingin dunia ini ikut berubah.