
"Yang Mulia dan Ayah bertengkar?" pekik Diana dengan suara keras. Saking kerasnya, kereta kuda bahkan berhenti dan salah satu Ksatria yang mengawal perjalanan mereka harus mengecek kondisi mereka.
Parahnya lagi, ketika Diana menengok keluar, rupa-rupanya, seluruh pengawal sudah memasang sikap waspada. Bersiap untuk memulai pertarungan karena mengira Raja dan Ratu mereka terkena serangan.
"Bicaralah yang pelan, Ratu!" bisik Ashlan di telinga Diana yang sedang menengok ke arah luar. "Ratu berhasil membuat mereka semua panik."
"Ish...," Diana mencebik. Ia menyikut perut sang suami yang memeluknya dari belakang.
Ashlan tertawa. Lalu, pria itu memberi instruksi agar perjalanan kembali di lanjutkan.
"Kenapa kalian bisa bertengkar? Apa yang terjadi? Apa karena dendam lama? Tapi kenapa? Bisakah kalian berdamai saja?"
Ashlan menahan napas selama rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut sang istri. Wow! Pertanyaannya terlalu banyak dan itu membuat Ashlan menjadi sedikit pusing.
"Bisa tanyakan satu-satu?" tanya Ashlan ragu.
Dahi Diana berkerut. Sepasang kelopak matanya berkedip-kedip keheranan. "Memangnya, aku menanyakan hal yang lebih dari satu?" ujarnya balik bertanya.
Sang Kaisar menepuk dahinya. Serumit inikah wanita? Jika iya, maka di instruksikan kepada seluruh pria yang mengaku mencinta untuk lebih giat melatih kesabaran.
"Kami hanya mempermasalahkan hal kecil, Ratu! Jadi, tidak usah terlalu dipikirkan," terang Ashlan dengan mengabaikan pertanyaan lain yang jujur sudah ia lupakan.
"Hal kecil?" Diana mendelik. "Jika hal kecil saja bisa membuat kerah baju robek begini," Diana memegang kerah baju Ashlan. "Lalu, jika memperdebatkan masalah besar akan seperti apa? Saling bunuh? Begitu?"
"Tidak mungkin aku membunuh Ayah mertuaku, Ratu!" sergah Ashlan cepat.
Diana menarik nafas panjang. "Tapi, mustahil Yang Mulia tidak membela diri seandainya Ayah yang menyerang duluan."
Wajah Diana tampak frustasi. Selesai masalah satu, malah muncul masalah lagi. Dia lupa bahwa Ayahnya tentu masih menaruh dendam kepada suaminya. Biar bagaimanapun, Ashlan adalah pria yang merebut paksa negara dan putrinya sekaligus. Tentu, dendam sebesar itu tak mampu dilupakan begitu saja oleh Kaisar Sean.
Menyadari keresahan yang ada di kepala Diana, Ashlan kembali memeluk istrinya dari samping. Dagunya ia letakkan di pundak sang istri. Dan, kedua lengannya melingkar erat di pinggang sang istri.
"Tenanglah, Ratu! Semua akan baik-baik saja. Mungkin, Kaisar Sean hanya sedikit cemburu padaku."
"Cemburu?"
Ashlan mengangguk. "Mungkin, dia hanya takut jika putrinya lebih mencintaiku dan melupakan keberadaannya."
Diana kembali menghela nafas. Ya, mungkin saja.
*
Ashlan dan Diana tiba di kerajaan Barat setelah hari sudah beranjak petang. Tubuh Diana yang masih belum terbiasa melakukan perjalanan darat yang jauh terasa hampir remuk.
Ksatria Bennett dan Mulanie menyambut antusias kedatangan mereka dengan senyum sumringah. Begitu pula dengan Fionn dan beberapa orang yang masih terlihat asing di mata Diana.
"Dia Pamanku, Ayah dari Alarick." Ashlan memperkenalkan sang Paman yang kini sepenuhnya sudah tinggal di lingkungan istana.
"Diana, Paman!" ucap Diana memperkenalkan diri.
Damian mengangguk sambil tersenyum. Tak lupa, penghormatan ia berikan kepada Diana yang meski merupakan istri dari keponakannya namun tetap saja menyandang gelar yang jauh lebih tinggi darinya.
"Saya sangat senang akhirnya bisa berjumpa dengan Yang Mulia Ratu!" ucap Damian sumringah.
"Terimakasih, Paman!"
Diana hanya berbicara sekenanya dengan Damian. Sejak awal kemunculan pria itu dihadapannya, Diana merasakan sesuatu yang tidak enak. Damian seperti ditutupi asap hitam yang pekat. Bahkan, saking kuatnya aura aneh itu, Diana merasakan sesak di rongga dadanya.
"Bisa kita beristirahat lebih dulu?"
Tiba-tiba saja Diana merasakan tubuhnya semakin melemah. Andai tak berpegangan di lengan Ashlan, mungkin dirinya sudah jatuh ke lantai sejak tadi.
"Baiklah!" angguk Ashlan dengan wajah kebingungan.
Diana turut menganggukkan kepala. Di tariknya Ashlan dengan terburu-buru agar lekas pergi dari tempat itu. Ashlan pun hanya turut dengan pasrah. Pasalnya, pria itu tahu bahwa Diana sedang tidak baik-baik saja untuk saat ini.
"Wajah Yang Mulia Ratu pucat. Apa Anda sakit?" tanya Damian khawatir.
"Tidak, Paman! Mungkin, hanya sedikit kelelahan," jawab Diana yang mencoba tersenyum.
"Ratu baik-baik saja?" tanya Ashlan begitu mereka sampai didalam kamar.
Diana menggeleng. "Perasaanku hanya sedikit tak enak," jawabnya jujur.
"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiran Ratu?"
Diana diam. Wanita berambut kecoklatan tersebut sedang mencoba untuk berpikir. Haruskah ia jujur? Akan tetapi, dirinya pun belum yakin tentang apa yang sekilas sempat dilihatnya dalam diri Paman suaminya.
"Tidak ada, Yang Mulia! Saya hanya sedikit kelelahan saja."
"Kalau begitu, berbaringlah! Akan ku minta Mulanie untuk menyiapkan secangkir teh dan juga makan malam untuk Ratu didalam kamar," kata Ashlan yang bersiap menemui Mulanie.
"Yang Mulia...," cegah Diana.
"Ada apa? Ratu menginginkan hal yang lain?"
"Jangan lama-lama. Dan... bisakah Yang Mulia menemani saya makan disini?" pintanya sedikit mengiba.
"Tentu saja," jawab Ashlan tanpa berpikir.
Setelah sang suami beranjak pergi, Diana membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Pikirannya kini berkecamuk hebat. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk mungkin sebentar lagi akan terjadi. Dan, itu mungkin saja berkaitan dengan Paman sang suami.
Selesai makan malam bersama, Diana terpaksa harus menemui seseorang yang katanya hendak mengatakan sesuatu yang sangat penting. Padahal, wanita itu sudah sangat ingin memejamkan mata. Namun, permintaan itu juga tak bisa ia tolak begitu saja.
"Yang Mulia!" sapa Grand Duke Windsor begitu Diana datang.
"Grand Duke Windsor, ada apa Anda ingin menemui saya malam-malam begini?" tanya Diana to the point. Pada nada bicaranya, tersirat kekesalan karena waktu istirahatnya harus terganggu oleh ulah pria muka datar dihadapannya.
"Sepertinya Yang Mulia Ratu kesal sekali?" tanyanya sedikit tersenyum mengejek.
"Anda meminta bertemu malam-malam seperti ini, apakah baik?" Diana sengaja menyinggung pria hebat itu.
"Dan, meninggalkan tamu yang Anda undang datang dari negeri yang jauh, apakah jauh lebih baik?"
Diana mendengkus sebal. Menyebalkan juga pria ini, pikirnya.
"Maaf!" Akhirnya Diana meruntuhkan egonya. "Saya harus pergi karena Ayah saya sedang sakit parah," jawabnya jujur.
"Apa sekarang beliau baik-baik saja?"
"Ya, sedikit lebih baik."
Hening. Tak ada percakapan lagi. Grand Duke Windsor hanya menatap lurus pada Diana seperti hendak menyampaikan sesuatu namun tak kunjung berbicara.
"Jadi, kenapa Grand Duke meminta untuk bertemu?" tanya Diana lagi.
"Saya berniat pamit kepada Yang Mulia Ratu!"
"Grand Duke Windsor ingin pulang?" tanya Diana sedikit terkejut. Mereka bahkan belum membahas apa-apa mengenai inti dari undangannya.
"Ada sesuatu yang mendesak yang harus segera saya selesaikan. Jadi, saya tidak bisa berlama-lama disini."
"Tapi, kita bahkan belum membahas apa-apa," kata Diana sedikit panik.
Negara Grand Duke Windsor adalah target utama dari kerjasama perdagangan yang diinginkan Diana. Dan, andai kerjasama ini gagal, maka itu sama saja Diana melepaskan kesempatan emas untuk memajukan perekonomian Kerajaan Barat terutama rakyatnya.
"Yang Mulia Ratu tenang saja," ucap pria itu tersenyum. "Kerjasama apapun yang Yang Mulia Ratu tawarkan, akan saya terima."
"Benarkah?" Diana tersenyum dengan mata berbinar.
Grand Duke Windsor mengangguk. "Karena saya sangat menyukai Yang Mulia Ratu, maka tolong jangan kecewakan saya! Kita jalin hubungan baik antar negara dan saling berbagi keuntungan yang besar di masa depan."
Diana menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengar ucapan pria dihadapannya. Suka? Apa maksudnya itu? Kenapa juga pria yang katanya sulit di ajak bekerjasama itu malah menerima ajakan Diana bahkan sebelum ia menjelaskan apa saja yang ditawarkan dan yang diinginkan Diana? Aneh! Diana benar-benar tak habis pikir.
Setelah melangkah beberapa meter, Grand Duke Windsor kembali berbalik menatap Diana. Wajah pria itu sedikit menegang.
"Yang Mulia Ratu, Paman Yang Mulia Kaisar sepertinya terjerat energi sihir yang sangat jahat. Berhati-hatilah! Atau, minta Yang Mulia Kaisar mencari seseorang untuk menyembuhkannya sebelum semua terlambat."