Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Menengok calon bayi



Diana meraung seperti orang gila. Peter yang berada di dekatnya kebingungan untuk menenangkan gadis itu. Wajah paniknya tak mampu disembunyikan.


"Kau kenapa ,Sayang?" tanya Peter.


"Kenapa dia pergi begitu cepat? Kenapa dia tega meninggalkan aku sendirian?" ucap Diana di sela tangisnya.


Peter menampakkan raut bingung. "Apa maksudmu, Di? Siapa yang pergi?"


"Kenapa berisik sekali?" keluh seseorang menyela percakapan Peter dan Diana.


Tangis Diana mendadak terhenti. Kepalanya mendongak menatap pria yang terbaring di ranjang. Beberapa kali ia mengerjap. Mencoba meyakinkan diri bahwa lelaki itu benar-benar bergerak.


"Ah, kau sudah bangun, Ash? Ada Diana disini," kata Peter diiringi helaan napas lega. Setidaknya, ia tak akan bersusah payah menenangkan calon menantunya yang entah kenapa mendadak histeris. Pria tua itu berjalan menuju ke tepi ranjang. Duduk disana untuk mengurangi letih karena harus berjalan tanpa bantuan tongkatnya yang tertinggal di luar.


Diana masih diam tak bergerak. Ia terus mengamati tingkah Ashlan yang kini sudah bangun dan bersandar di kepala ranjang sembari menyunggingkan senyum ke arahnya.


"Kemarilah, Ratu! Biarkan aku memelukmu! Aku rindu," pinta Ashlan dengan tatapan sendu sarat permohonan.


Menyadari bahwa dirinya hanya akan menjadi 'obat nyamuk', Peter lekas berdiri kembali dan berjalan tertatih meninggalkan dua sejoli itu sambil tersenyum tipis.


"Dasar anak muda!" gumamnya pelan.


"Ratu? Kenapa masih disitu? Ratu tidak rindu padaku?" tanya Ashlan dengan tampang memelas.


Diana kembali menumpahkan tangis. Tanpa aba-aba dua kali, dia sudah berlari dan melompat ke dalam pelukan Ashlan. Pria itu sedikit meringis. Masih terasa nyeri di bagian lengan ketika harus digerakkan.


"Syukurlah... Ku pikir kau meninggalkan aku untuk kedua kalinya," kata Diana sambil terus menumpahkan tangis dalam pelukan Ashlan yang berbalut piyama berwarna putih tulang.


"Maksud Ratu apa? Meninggalkan bagaimana?"


Diana mengurai pelukan mereka. Gadis itu mengusap jejak air matanya menggunakan kedua tangan.


"Ja-hat!" ucapnya terbata. Tak lupa, tangan kanannya memukul lengan pria yang telah nyaris membuatnya benar-benar gila.


"Akh..," Ashlan meringis. Pukulan Diana telak mengenai lukanya.


"Kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Diana panik.


Ashlan terkekeh kecil. "Ratu memukul lukaku," jawabnya.


"Be-benarkah? Maaf! Aku tidak tahu," ujar Diana.


"Tidak apa-apa, Ratu! Lukanya tidak parah kok. Hanya sedikit terkena goresan pisau di bagian sini," terang Ashlan sembari memegang lengan atas bagian kiri.


"Bagaimana bisa? Sebenarnya ada apa?"


Ashlan mendesah samar. "Empat hari yang lalu, entah kenapa tiba-tiba Paman Shernon yang seharusnya berada di sel tahanan malah muncul di Dubai dan nyaris mencelakai aku. Tapi, untung saja, seorang Nenek tua penjual buku sengaja melemparkan buku dagangannya ke arah Paman Shernon sehingga tusukannya meleset dan hanya melukai lenganku."


Diana jelas terkejut mendengar penjelasan Ashlan. Sedikit banyak, dia sudah tahu siapa Shernon berdasarkan cerita dari mulut Ashlan. Sama seperti sang kekasih, Diana pun tak habis pikir, bagaimana caranya Shernon bisa kabur dari penjara dan berhasil sampai ke Dubai tanpa kecurigaan siapapun. Namun, bukan itu yang menjadi fokus utama Diana. Melainkan sosok Nenek tua penyelamat Ashlan.


"Nenek tua penjual buku?"


"Ya. Aku juga tidak tahu darimana munculnya Nenek tua itu. Tiba-tiba saja dia mendadak berdiri dihadapanku dan melempar buku dagangannya sambil berteriak 'awas'. Andai bukan peringatan dan bantuan darinya, pasti leherku sudah di tikam Paman Shernon dari belakang. Sayangnya, saat Paman Shernon sudah berhasil di tangkap oleh beberapa anak buahku, aku berusaha mencari keberadaan Nenek itu tapi aku gagal menemukannya dimana-mana."


"Apa jangan-jangan dia Nenek Anneth?" gumam Diana dalam hati.


"Nenek itu terlihat aneh. Dia bahkan kenal namaku," imbuh Ashlan kemudian.


"Tapi, jika lukamu memang benar-benar tidak terlalu serius, lantas kenapa Billy mengatakan jika kau sempat kritis?"


Ashlan kembali tertawa. Kali ini sedikit lebih keras. "Dia bilang begitu?"


Diana mengangguk polos.


"Ish!" Diana berdecak sebal seraya memukul dada Ashlan.


"Kalian berdua sama saja. Sama-sama keterlaluan. Apa kalian tidak berpikir bahwa nyaris saja aku mati karena mendengar berita bahwa kau kritis? Bahkan, sesampainya aku disini, ku pikir kau sudah mati karena banyak buket bunga dan Kakek juga bilang kalau kau sudah tidak sakit lagi."


"Apa? Ratu benar-benar berpikir bahwa aku sudah mati?" Lagi, Ashlan tertawa.


"Jahat!" desis Diana yang kesal karena ketakutannya malah ditertawai Ashlan.


"Buket bunga itu pemberian rekan bisnis yang datang menjengukku, Ratu! Dan, perihal kata-kata Kakek, bukankah beliau memang benar? Aku sudah tidak sakit lagi. Aku sudah sembuh. Terlebih lagi, karena sudah ada Ratu disini," pungkas Ashlan yang langsung memeluk Diana kembali.


"Aku benar-benar takut kehilangan Yang Mulia untuk kedua kali. Aku tidak mau," lirih Diana.


"Mana mungkin aku meninggalkan Ratu sementara saat ini benihku sudah tertanam kembali didalam rahim Ratu," balas Ashlan.


Diana kembali berdecak. Dipukulnya dengan sengaja lengan Ashlan yang sakit. Namun, anehnya lelaki itu tak lagi meringis kesakitan.


"Lenganmu sudah sembuh?"


Ashlan mengernyit. Di sentuhnya lengan yang masih terbalut perban tersebut.


"Bagaimana mungkin? Tadi masih sakit, tapi sekarang?" Ashlan pun tercengang. "Jangan-jangan, kekuatan Ratu?"


Ia dan Diana saling berpandangan dengan isi pikiran yang sama.


*


"Sebenarnya, kalung ini berasal darimana?"


Ashlan menatap kalung yang melingkar indah di leher jenjang Diana. Lelaki itu tersenyum kecil. "Ratu tahu? Kalung itu ternyata pusaka keluarga Arlen. Di wariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh nenek moyang terdahulu. Sayangnya, kalung itu tidak sempat di wariskan Kakek pada Ibuku karena terlebih dulu meninggal. Tapi, sekarang bisa diwariskan kepada istriku kesayanganku."


Diana tersenyum. Ia mengecup singkat bibir Ashlan lalu mengelus pipi mulus Ashlan yang bersih tanpa noda.


"Terimakasih karena sudah kembali dalam keadaan hidup!"


Ashlan balas mengecup singkat bibir Diana. "Terimakasih karena tidak berpaling pada lelaki manapun selama aku tak ada,"balas Ashlan.


Diana kembali mengecup bibir Ashlan dua kali. "Terimakasih karena sudah membuatku galau selama dua belas hari."


Tak mau kalah, Ashlan mengecup bibir Diana sebanyak tiga kali.


"Terimakasih karena sudah menghujaniku dengan banyak kata-kata rindu meski baru sempat ku baca beberapa jam yang lalu."


Diana menahan senyum dengan mata membulat. Ia jelas tak mau kalah. Dikecupnya bibir Ashlan sebanyak empat kali yang kembali dibalas dengan kecupan yang jauh lebih banyak oleh Ashlan.


"Ratu memang ahlinya memancing," ujar Ashlan setelah pertarungan kecupan berakhir.


"Memancing apa?"


"Memancing aku untuk menemui calon bayi kita didalam rahimmu," ungkap Ashlan dengan kerlingan nakal.


"Omong kosong! Bayi darimana?"


"Belum ada ya?"


Diana memalingkan wajah yang memerah. "Tentu saja belum."


"Kalau begitu, ayo coba lagi! Siapa tahu yang ini bisa berhasil!" ajak Ashlan antusias.


"Ashlan!" geram Diana tertahan.


"Apa? Sudah tak sabar, ya?"