
Diana berdiri dengan risih sambil berusaha menghindari tatapan sengit dari seorang pria yang sepantaran dengan suaminya. Sempat terbersit rasa sesal di hati karena telah meminta Ashlan mencarikannya seorang guru. Andai tahu, akhirnya akan begini, Diana lebih baik belajar otodidak atau bersama Ashlan saja.
Saat bangun tadi pagi, Diana begitu bersemangat mengenakan pakaian yang berbeda dari biasanya. Ia bahkan melompat kegirangan dan berkali-kali sengaja melakukan lari di tempat saking sukanya dengan outfit hari ini. Ya, dia mengenakan celana panjang serta kemeja pas body yang terasa nyaman. Tak ada gaun semrawut yang berat dan tatanan rambut yang memerlukan waktu berjam-jam.
Ia menghela nafas dengan sumringah. Rindu mengenakan pakaian yang mendekati normal seperti di dunia aslinya bisa sedikit terobati. Akan tetapi, begitu sampai di tempat latihan, senyum semangat Diana luntur sudah. Saat tahu siapa yang akan menjadi gurunya, entah lari kemana jiwa pejuang itu dari dalam dirinya.
"Sampai kapan dia akan memelototi aku seperti itu?" tanya Diana berbisik kepada suaminya.
Ashlan berusaha menahan tawa. Aih! Sudah bisa ia pastikan bahwa jiwa tempramen Diana terpancing karena ulah guru barunya.
"Dia memang seperti itu. Terima saja," jawab Ashlan balas berbisik.
Diana berdecak kesal. Lagi, ia memberitahu sesuatu kepada sang suami. "Apa tidak ada orang lain yang bisa melatihku selain dia? Aku bahkan belum pernah mengobrol lebih dekat dengannya."
"Yang bisa melatih Ratu mungkin banyak. Tapi, yang bisa membuat kekuatan fisik Ratu meningkat cepat, ku yakin hanya dia," ujar Ashlan sambil menatap pria yang masih menatap istrinya dengan tatapan ragu sekaligus meremehkan.
Diana memutar bola matanya malas. Berdiri hampir 20 menit memang bukan masalah. Saat dulu dia menjadi koki di restoran, ia bahkan sering berdiri tanpa duduk sama sekali sepanjang hari. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah pandangan sang guru di tambah pandangan para ksatria lain yang juga kebetulan berlatih di tempat yang sama.
Tak tahan lagi, akhirnya Diana memutuskan untuk menegur calon gurunya. "Sampai kapan kita akan berdiri begini, Tuan Fionn?" tanyanya dengan senyum terpaksa.
Fionn sedikit tersentak mendengar pertanyaan Diana. Lelaki itu sempat melamunkan banyak hal perihal kenapa Diana ingin di latih olehnya. Padahal, selama ini Fionn tak pernah suka melatih wanita. Baginya, wanita itu makhluk yang lemah. Secara fisik, tak akan kuat menahan tempaan keras di arena latihan apalagi di medan perang.
"Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia! Tapi, bolehkah saya bertanya satu hal kepada Anda?"
"Tentang apa?"
"Kenapa Anda ingin berlatih bela diri?" tanya Fionn dengan wajah serius.
"Jelas untuk melindungi diriku sendiri," jawab Diana enteng.
"Lalu, kenapa harus datang kepada saya? Anda bisa meminta Ksatria lain untuk mengajari Anda," ujar Fionn datar dan dingin.
Diana memutar bola matanya malas. Kenapa pula, si makhluk ini terlalu kepedean.
"Bukan saya yang ingin. Tapi, dia." Diana menunjuk Ashlan yang berada disebelahnya dengan dagu.
Fionn menarik nafas dalam. Sepertinya, pria itu sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Jadi, ini semua usulan Yang Mulia Kaisar?" tanya Fionn. kepada Ashlan.
Yang ditanya langsung mengangguk.
"Maaf, Yang Mulia! Tapi, sepertinya saya tidak bisa mengajari Yang Mulia Ratu." Fionn membungkukkan badan ketika meminta maaf.
"Kenapa?" tanya Ashlan terkesiap.
Fionn menatap Diana sambil menggelengkan kepala. "Anda tahu sendiri seberapa keras cara pelatihan saya. Saya takut, Yang Mulia Ratu tak akan sanggup dan malah jatuh sakit nantinya."
Mendengar penjelasan Fionn yang terkesan meremehkan dirinya, mata Diana seketika mendelik. Wanita itu jelas tak terima pada penilaian sepihak Fionn. Belum menguji apa-apa, tetapi Fionn sudah menarik kesimpulan sendiri. Padahal, selama ini Diana menganggap Fionn sebagai sosok yang keren karena jarang bicara tapi tangkas dalam bertindak. Namun, ternyata, Fionn tak lebih menyebalkan dari netizen julid yang suka mencemooh lewat sosial media. Hanya bisa berkomentar, seolah ia yang paling mengenal sosok yang mereka komentari.
"Maaf, jika saya menyinggung perasaan Yang Mulia Ratu," kata pria itu sembari menundukkan kepala.
Ingin rasanya tinju Diana mendarat di wajah pria sombong itu. Namun, sebisa mungkin ia menahan diri. Ia melirik ke sebelahnya. Meminta pembelaan kepada lelaki yang justru hanya tertawa melihat dia diremehkan seperti ini.
"Beri Ratu kesempatan, Fionn!" bujuk Ashlan kepada pemimpin Ksatria bayangan tersebut.
"Tapi...,"
"Begini saja!" Ashlan memotong pembicaraan Fionn. "Bagaimana jika kau menguji Ratu terlebih dahulu? Jika dia lulus, maka kau harus menerimanya. Sebaliknya, jika tidak, maka apa boleh buat?" Ashlan mengendikkan bahunya. "Itu artinya, aku harus mencari guru yang lain dan tidak akan lagi mendesakmu."
"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Fionn bingung.
"Terserah padamu. Ratu akan mengikuti semua tantangan yang kau berikan," jawab Ashlan sembari melirik sang istri yang menatapnya penuh tanya.
"Baiklah!" Diana tersentak mendengar persetujuan Fionn yang terdengar sangat cepat. Gesit juga cara berpikirnya, puji Diana dalam hati.
"Saya akan memberi Yang Mulia Ratu tantangan untuk menyerang saya. Jika Ratu berhasil mendaratkan satu pukulan saja di tubuh saya, maka Ratu akan resmi menjadi murid saya. Bagaimana?"
"Hanya itu?" tanya Diana remeh.
Fionn menggeleng. " Ada lagi. Dilarang menggunakan sihir dan senjata apapun. Dan, waktu Yang Mulia akan memiliki batas. Lihat jam pasir disana?" Telunjuknya mengarah pada jam pasir yang terletak di atas meja. "Batas waktu habis bertepatan dengan pasir terakhir yang akan terjatuh."
Diana meneguk ludahnya dengan susah payah. Jelas, perempuan dengan rambut yang di kuncir kuda itu sudah mulai bisa membaca situasi. Pertarungan tak akan berlangsung mudah. Apalagi, lawannya adalah pemilik seni beladiri tingkat tinggi.
"Baik. Aku setuju!" angguk Diana penuh semangat.
Riuh tepuk tangan para Ksatria terdengar sangat heboh. Semuanya menyemangati Diana yang kini telah memasuki arena pertarungan dengan tangan kosong. Begitu, jam pasir dibalik dan waktu mulai berjalan, Diana tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia menyerang Fionn tanpa ragu walau menyentuh tubuh Fionn saja ia tak mampu.
"Apa begini caranya menghadapi pemula?" protes Diana saat waktu mulai berjalan setengah. Tenaganya nyaris habis. Sementara, Ashlan yang berdiri di barisan penonton hanya diam mengamati. Walau, di sepasang matanya jelas dipenuhi pengharapan akan kemenangan sang istri yang teramat besar.
"Sampai kapan Yang Mulia akan terus menyerang menggunakan kaki?" tanya Fionn yang mulai mengerti arah pergerakan Diana. Sejak awal, Diana hanya selalu mengandalkan tubuh bagian bawah untuk menyerang. Sementara, tubuh bagian atasnya sama sekali tidak dimanfaatkan.
"Jangan mengajakku bicara, Tuan Fionn! Tenagaku nyaris habis," ucap Diana sedikit tersengal.
"Kalau begitu, menyerah saja! Waktu juga sudah hampir habis. Tidak ada lagi harapan, Yang Mulia!" kata Fionn menyeringai menang.
Tanpa diduga, saat Fionn menoleh melihat waktu yang tersisa, hal itu di manfaatkan Diana untuk menyerang kembali. Kakinya bersiap menendang. Namun, Fionn yang sudah terlatih langsung bisa mengantisipasi. Begitu tangannya hendak menangkis tendangan dari Diana, tiba-tiba saja wanita itu malah menekuk lututnya ke arah dalam dan melajukan tinju yang cepat ke hidung Fionn.
Pria yang tak siap menerima perubahan serangan itu langsung mundur beberapa langkah. Ia menggeleng. Kepalanya lumayan pusing akibat serangan tadi. Belum sempat, penglihatannya kembali normal, Diana sudah melompat menerjang Fionn. Lutut Diana mendarat kembali di wajah Fionn sementara kedua tangannya memegang kepala bagian belakang pria itu agar tak bisa menghindari serangan. Alhasil, tepat ketika waktu benar-benar habis, Fionn jatuh terduduk dengan wajah syok.
"Tidak pingsan rupanya," ucap Diana sambil berkacak pinggang sembari mengatur ritme nafasnya yang cepat.
Suasana hening. Tak ada sorakan atau apapun. Semuanya terpana pada peristiwa yang terjadi dihadapan mereka.
Sementara, Diana melangkah mendekati Fionn yang masih terduduk. Perempuan itu tersenyum lalu berkata,"Bahkan, andai tersisa satu butir pasir lagi yang akan terjatuh, segala kemungkinan bisa saja terjadi, Tuan Fionn! Jangan mudah meremehkan apalagi menilai seseorang hanya dari gender dan penampakan fisiknya. Camkan itu!"