
"Jadi, selama ini yang telah menghancurkan keluargaku adalah pamanku sendiri?" tanya Ashlan sambil tertawa miris. Matanya sudah memerah. Kaca-kaca tipis tampak membayang namun tak kunjung tumpah.
Damian mencebik mendengar pertanyaan keponakannya. "Ingatanmu sudah pulih sepenuhnya? Baguslah!" angguk Damian. "Jadi, aku tidak perlu lagi berakting menjadi orang baik di hadapanmu. Tapi, tahukah kau kenapa Ayah dan Ibumu ku bunuh?"
Sebelah alis Damian terangkat naik. Bibirnya menyeringai serta tatapan matanya nyalang menghunus ke Ashlan.
"Ayahmu itu tak pantas menjadi pemimpin. Dia terlalu baik. Menjajah kerajaan lain saja dia tak mau. Bagaimana mungkin kita akan maju jika tak memperluas daerah kekuasaan, hah?" Damian meludah. "Dan, Ibumu? Kau tahu bahwa dia wanita yang naif. Sok sekali mendukung keputusan Ayahmu dan malah menentang pendapatku. Jadi, jangan salahkan aku jika aku merencanakan membunuh mereka."
Ashlan kembali tertawa sumbang. Dia tak ubahnya singa yang sedang kesakitan namun masih berusaha melawan dengan sisa tenaga yang dia punya.
"Kau dengar, Leon? Dia yang membunuh orangtua kita dan menyebabkan kita terpisah. Apa kau masih mau berdiri di pihak orang sekejam itu dan malah menyerang adikmu sendiri?" tanya Ashlan kepada lelaki yang ia sangka adalah kakak kandungnya.
"Paman sudah mengambil langkah yang tepat. Menurutku, tak ada yang salah."
Mata Ashlan seketika membeliak tak terima. Bagaimana mungkin saudaranya sendiri bisa mengatakan hal seperti itu? Apakah otaknya sudah di cuci oleh Damian selama ini?
"Kau menganggap membunuh Ayah dan Ibu kita adalah langkah yang tepat? Apa kau sudah tidak waras?" teriak Ashlan murka. Ia benar-benar tak mengenali lagi sosok yang berdiri di hadapannya kini. Pria itu bukan lagi sosok kakaknya yang dulu. Leon baginya telah banyak berubah. Seperti orang yang berbeda meski fisik serupa.
"Jangan mendikte tentang apapun keputusan yang ku ambil dalam hidupku, Ash! Kau bukan siapa-siapa," sergah Leon dengan mata melebar.
"Kau menganggap aku bukan siapa-siapa lagi? Benarkah?" Ashlan menyeringai. "Kalau begitu, bersiaplah! Mulai detik ini, akan ku perlakukan kau layaknya orang asing sesuai permintaanmu sendiri!"
Leon terkesiap saat Ashlan menyerangnya secara tiba-tiba. Pria itu reflek melangkah mundur dan berlindung di belakang tubuh Damian.
Sementara, Damian dengan sigap menangkis serangan sihir Ashlan hingga membuat Ashlan melangkah mundur beberapa langkah karena perlawanan sihir Damian cukup kuat dan tak main-main.
"Hati-hati, Yang Mulia! Dia memakai sihir hitam," peringat Fionn dengan tatapan awas menatap Damian.
Mendengar itu, Damian hanya tersenyum miring. Tak masalah andai semua orang tahu rahasianya kini. Itu tak jadi soal lagi. Setelah berhasil mengelabui Ashlan dengan menjadikan Duke Hendrick sebagai kambing hitam yang harus di korbankan, dia telah berhasil mencapai tujuannya masuk ke dalam istana yaitu mendapatkan pengobatan dari Diana agar sihir gelap didalam tubuhnya tidak serta merta melahap jiwanya sedikit demi sedikit.
Kabar baiknya, kini Damian benar-benar merasa telah sembuh total. Kekuatan gelap itu bisa dia tekan berkat bantuan Diana. Dan, tak ada lagi alasan baginya untuk bersandiwara lebih lama lagi. Masa untuknya berkuasa telah tiba.
"Bersiaplah untuk mati, Ash! Kekuatan sihirmu bukan apa-apa jika harus melawan sihir gelapku!" ucap Damian pongah.
Para penyihir yang sedari tadi telah bersembunyi dan menyerang pasukan Damian dalam senyap perlahan menampakkan diri satu persatu. Mereka mengelilingi pasukan Damian sambil merapal mantra secara bersamaan. Tujuannya, untuk mengurung Damian berserta pasukannya dalam perisai sihir yang mustahil mampu mereka tembus.
"Hanya segini kemampuan kalian?" Damian tersenyum mencemooh. Perisai buatan para penyihir baginya bukan apa-apa. Hanya dalam sekali serang, perisai itu retak dan malah membuat para penyihir kerajaan terlempar dan mengalami luka parah.
"Sial!" Tangan Fionn mengepal erat. Giliran pasukan bayangan yang berada di bawah pimpinannya yang menyerang Damian dan antek-anteknya. Namun, sayang! Nasib mereka tak jauh beda dengan para penyihir. Semuanya tak mampu melawan sihir hitam milik Damian dan malah terlihat mengejang dengan urat nadi yang perlahan menghitam.
"Bagaimana, Ash? Ingin menyerah saja atau kau ingin bernasib sama seperti mereka? Tentukan sekarang!" ucap Damian memberi pilihan.
Tak sedikitpun rasa gentar yang di miliki Ashlan. Tatapan matanya masih sama. Berkobar bak api menyala-nyala tanpa mengalami redup sedikitpun walau ia tahu bahwa lawannya adalah dua orang yang bisa saja menyerangnya lewat perasaan emosional.
"Tak ada kata menyerah dalam kamusku, Paman! Seharusnya, Paman tahu itu," jawab Ashlan yang menolak tegas pilihan yang di berikan Damian. "Aku tidak akan menyerah dan aku juga tak akan mati."
"Percaya diri sekali!" cibir Leon dengan bibir tersenyum miring.
"Diam saja, Leon! Lelaki yang hanya mampu bersembunyi di bawah ketika Pamannya yang licik, tak perlu sok ikut campur!"
"Kau merendahkan aku, Ash?" teriak Leon tak terima.
"Tersinggung, hah?" tantang Ashlan. "Sikap seperti itu ingin menjadi Kaisar? Apa kau tidak sadar diri, Leon?"
"Sialan!" Leon hendak maju menyerang Ashlan. Namun, Damian menahan tubuhnya dan memberi isyarat melalui gelengan kepala. Damian tahu, Ashlan sengaja memprovokasi Leon agar pria itu terpancing emosi.
"Dengan senang hati, Paman!" sambut Ashlan dengan senyuman lebar.
Pertarungan dua jenis sihir yang bertolak belakang terjadi dengan sengit. Keduanya menyerang dengan kecepatan dan ketajaman sihir. Kilatan hitam dan putih terlihat menyeramkan. Gemuruh akibat pergesekan dua kekuatan yang berbeda terdengar seperti petir menyambar yang bersahut-sahutan. Hingga pada akhirnya, Ashlan jatuh tersungkur setelah dirinya mendapatkan serangan dari udara yang dilakukan oleh Damian. Sihir gelap itu menyerangnya tepat di jantungnya.
"Bersiaplah menghadapi kematianmu, Ash!" seringai Damian yang saat ini sedang menginjak dada Ashlan dengan kaki kanannya.
Tangannya bersiap memberi serangan terakhir namun terhenti seketika di udara ketika teriakan Fionn membuat perhatiannya teralih.
"Tunggu! Jika Anda membunuh Yang Mulia Kaisar, maka Tuan Leon juga akan ku bunuh!" ancam Fionn yang ternyata memanfaatkan momen pertarungan Damian dengan Ashlan untuk melumpuhkan Leon.
Walau Lucas yang berada didalam tubuh Leon termasuk terlatih dalam bela diri dan memiliki cukup kekuatan sihir karena efek ramuan yang pernah diberikan oleh Rosemary, tetap saja ia tak mampu menandingi Fionn yang telah memiliki bakat sihir sejak lahir dan di tempa dengan kekuatan bela diri sejak usia 5 tahun. Kekuatan mereka cukup jomplang. Bahkan, beberapa bangsawan yang berusaha membantu Leon atau Lucas juga ikut mendapatkan serangan fatal dari Fionn.
"Lepaskan Pangeran Leon, Fionn!" hardik Damian.
Fionn bergeming. Malah, pedang yang ia tempatkan di leher Leon sudah sedikit menggores dan mengakibatkan perih tak terkira.
"Jangan memprovokasinya, Paman! Dia benar-benar akan membunuhku!" ucap Leon ketakutan.
Bukannya menurut, Damian justru tertawa. "Aku tak peduli jika dia mati atau tidak. Bunuh saja! Jika dia mati dan Ashlan juga mati, bukankah anakku yang malah akan naik tahta?"
Perkataan itu sontak membuat Leon palsu terkesiap. Kepalanya menggeleng tak percaya. Tidak! Bukan ini rencana mereka.
"Bunuh saja dia dan akan ku bunuh Ashlan!" imbuh Damian sembari hendak menyerang Ashlan lagi.
Namun, bukannya benar-benar menyerang Ashlan, ia malah dengan cepat mengarahkan sihirnya pada Fionn yang tak sempat menghindar. Dalam sekali serang, Fionn langsung mengeluarkan darah kental dari mulutnya. Pedang yang ia letakkan di leher Leon perlahan terlepas dari genggaman lalu tubuhnya jatuh berlutut sebelum akhirnya jatuh tersungkur mencium tanah.
"Fionnnn....," teriak Ashlan sambil meneteskan air mata.
Tidak! Dia tak sanggup jika harus kehilangan salah satu Ksatria terbaiknya. Fionn adalah segalanya bagi Ashlan. Sosok sahabat dan saudara yang selama ini telah mendampinginya dan selalu melaksanakan apapun perintah Ashlan tanpa pernah bertanya. Fionn mempercayainya layaknya dia juga mempercayai lelaki itu.
"Tidak!!" pekik Ashlan lagi.
Melihat Fionn yang tak lagi bergerak membuat Ashlan seperti orang kesetanan. Namun, ia juga tak mampu berbuat banyak. Lukanya juga cukup parah hingga membuatnya tak mampu berbuat apa-apa. Belum lagi, kaki Damian yang menginjaknya terasa sangat berat untuk di angkat.
"Sekarang, giliranmu! Selamat tinggal keponakan tersayang ku!" ucap Damian sembari bersiap menyerang Ashlan kembali.
Namun, belum sempat serangannya mengenai dada Ashlan, tiba-tiba Damian melangkah mundur saat seseorang jauh lebih dulu menyerangnya. Dengan penuh amarah, dia mencari-cari keberadaan orang itu dan langsung mematung saat mengetahui siapa pelakunya.
"Jadi, selama ini aku telah dibodohi oleh Ayahku sendiri?" tanya Alarick penuh dengan amarah. Di tangannya terdapat sebilah pedang yang telah ia cabut dari sarungnya.
"Rick, kau ingin melawan Ayahmu sendiri?" Damian balik bertanya. Tangannya menatap pedang yang berada ditangan kanan putra tunggalnya.
"Ya. Jika itu harus!" angguk Alarick penuh kekecewaan.
"Kau lebih membela sepupumu dibanding Ayah kandungmu?"
Alarick tersenyum miris sambil berusaha menahan tangis karena rasa kecewa yang begitu dalam. Pertama, dia kecewa karena Ayahnya benar adalah orang jahat, dan yang kedua, dia juga kecewa karena Ashlan ternyata tak mempercayainya. Buktinya, Ashlan lebih memilih mengirim Alarick ke gerbang Selatan dibanding berterus-terang mengenai semua yang kini bisa dia saksikan dengan mata kepala sendiri.
"Aku lebih membela tanah airku! Kerajaanku, rakyatku! Bagiku, Ashlan adalah pemimpin yang bijak. Jadi, aku akan berdiri di sisinya sampai akhir sekalipun musuh yang harus ku singkirkan adalah Ayahku sendiri!"
"Durhaka kau, Rick!" geram Damian dengan tangan mengepal. "Aku melakukan semua ini untukmu! Apa kau tahu?"
"Tidak, Ayah!" geleng Alarick. "Aku bukan pria tak tahu diri yang menginginkan sesuatu yang bukan milikku. Tidak seperti Ayah! Jadi, berhenti menjadikan aku alasan untuk membenarkan perilaku kejimu!"