Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Cinta yang berbalas



"Ale hanya Kakak bagiku. Tidak lebih!" terang Diana tanpa di minta. Namun, entah kenapa, dia merasa tetap harus meluruskan hal tersebut kepada Ashlan.


Lelaki yang baru saja selesai melepas topeng penutup wajah tampannya, hanya tersenyum tipis menanggapi. Namun, sepasang netra abu-abu miliknya jelas menyiratkan ketidakpuasan terhadap penjelasan Diana. Sambil melepaskan baju yang ia kenakan, ia pun berkata, "Mungkin Ratu menganggapnya hanya sebatas Kakak. Tapi, apa Ratu pernah bertanya kepada Ksatria Martinez, apa arti Ratu baginya?"


Diana mendadak kesulitan untuk menelan ludah. Di satu sisi,dia terkejut karena Ashlan menanyakan tentang perasaan Ksatria Martinez dari sudut pandang lelaki itu kepadanya. Dan, yang kedua karena melihat otot-otot keras Ashlan yang kini telah bebas dari kain penutup dan tampak begitu indah untuk di pandang.


Meski sudah terbiasa melihat tubuh bagian atas seorang pria, namun tetap saja Diana merasakan ada sesuatu yang berbeda jika yang dipandangnya adalah milik suaminya sendiri. Berbeda dari tubuh bagian atas lelaki yang biasa ia lihat jika sedang bermain di pantai saat libur kerja dulu, tubuh Ashlan terlihat jauh lebih menggoda. Walaupun, dahi Diana terkadang mengernyit karena otaknya dipenuhi sejuta tanya mengenai bekas luka yang bertebaran di tubuh indah suaminya yang bagaikan pahatan dewa Yunani tersebut.


"Me-memangnya, Ksatria Martinez akan memiliki perasaan apa padaku? Cinta? Jangan bercanda, Yang Mulia!" Diana menghela tangannya ke udara sambil tertawa untuk mengurai ketegangan dirinya sendiri. "Saya hanya perempuan biasa. Bagaimana mungkin dia memiliki perasaan lebih terhadap saya," imbuhnya percaya diri.


Ashlan berdiri memaku sambil terus memperhatikan Diana yang tertawa lepas. Setelah tawa sang istri reda, lelaki itu pun mulai melangkah mendekat. Tiba dihadapan sang istri, Ashlan mulai membungkukkan badannya. Mengurung tubuh mungil sang istri dengan kedua lengannya yang bertumpu di kedua sisi pegangan kursi yang Diana duduki. Wajahnya perlahan mendekati wajah Diana. Dan, reflek sang wanita langsung memundurkan wajahnya karena merasa gugup.


"Y-Yang Mulia mau apa?" tanya Diana sambil memalingkan wajah. Untuk terus memundurkan kepala demi menghindar sudah tak mungkin lagi. Kepala bagian belakangnya sudah mentok menabrak sandaran kursi dibelakangnya.


"Siapa bilang bahwa Ratu hanya wanita biasa?" bisik Ashlan di telinga wanita itu.


Jantung Diana mulai berdetak tak karuan. Ia bahkan menutup mata dan mengatupkan bibir karena terlalu malu kepada Ashlan. Pastilah, lelaki itu sudah mendengar bagaimana respon si jantung tak tahu diri yang malah makin cepat berdentum didalam dada. Sungguh! Diana malu sekali hingga pipinya memerah.


"Pipi Ratu memerah. Apa Ratu sedang malu?" Ashlan menyentuh pipi Diana. "Atau gugup?" imbuhnya lagi. Ia berusaha menahan senyum karena berhasil menggoda Ratunya sendiri.


Diana semakin dibuat tak berkutik. Rasanya ingin menghilang saja ke dasar laut karena terlalu tak kuasa menanggung malu. Kenapa harus ketahuan, sih?


"Ratu sangat sempurna bagiku. Sebaliknya, aku yang justru memiliki banyak kekurangan." Si pemilik surai perak memecah keheningan dengan tatapan sendu tak percaya diri.


"Siapa bilang bahwa Yang Mulia banyak kekurangan?" protes Diana tanpa sadar. Wajahnya yang tiba-tiba menoleh kini semakin bertambah dekat dengan wajah tampan milik suaminya.


Kali ini, Diana seakan terpatri hingga bergerak pun rasanya semakin sulit. Mata bernetra abu-abu itu berhasil menghipnotis penuh tubuhnya. Lagi, ia menelan ludah dengan payah kala hidung Ashlan sengaja di gesekkan dengan hidungnya.


"Aku hanya lelaki sebatang kara yang kematiannya banyak diinginkan oleh orang lain, Ratu!" lirih Ashlan sembari menumpukan dahinya di dahi Diana. Kelopak matanya terpejam. Deru nafas yang menyesakkan berembus hangat mengenai wajah Diana melalui mulutnya.


"Dan, dengan egoisnya aku malah memaksa Ratu masuk ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah Ratu inginkan. Maaf! Aku sungguh minta maaf karena telah merenggut kebahagiaan Ratu."


Setetes bening lolos dari netra yang masih terpejam. Diana yang menyaksikan itu sungguh merasa iba. Dengan kedua tangannya, ia mengusap pipi milik sang suami. Membersihkan cairan bening yang meluncur bebas membasahi pipi putih lelaki itu.


"Yang Mulia tidak pernah merenggut kebahagiaan saya. Bahkan, kebahagiaan yang Yang Mulia katakan baru bisa saya rasakan ketika menikah dengan Yang Mulia."


Ashlan tersenyum kecil. Kedua telapak tangan Diana ia raih lalu membawanya dalam dekapan kecil di dada bidangnya.


"Jangan berusaha menghiburku, Ratu. Karena, sekalipun Ratu berbohong, aku akan tetap percaya dan semakin mencintai Ratu. Tapi, bagaimana seandainya suatu hari nanti, perasaan cinta ini malah mencelakakan Ratu?" Netra keabuan Ashlan semakin berembun. Kepalanya menggeleng lirih. "Demi apapun, Ratu! Jika sampai itu terjadi, maka aku lebih baik membunuh diriku sendiri."


"Apa itu artinya, Ratu mulai mencintai saya?"


Terdiam sesaat, hanya sepasang mata hijau Diana yang memberi tahu segalanya. Namun, Ashlan tetap saja tidak merasa yakin jika bukan mulut Diana sendiri yang memberitahunya secara langsung. Ashlan hanya takut terlalu berharap apalagi salah sangka yang justru akan berbuah petaka.


Petaka bagi hati yang terlanjur menjunjung asa namun sayangnya harus kembali patah.


"Apa harus saya jawab? Bukannya Yang Mulia bisa menilai sendiri? Apakah mata saya belum cukup untuk memberitahu kebenaran?" Diana menaikkan kedua alisnya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.


Untuk sepersekian detik, Ashlan mencoba mencerna segalanya. Ia mulai meragukan indra pendengarannya sendiri yang selama ini berfungsi baik-baik saja. Ia takut salah dengar. Ia takut hatinya hanya mengharap angan-angan semu.


"Kenapa Yang Mulia diam? Apa Yang Mulia tidak senang jika saya juga mulai mencintai Yang Mulia?" cicit Diana sedikit malu.


Kali ini, lelaki itu mulai yakin bahwa pendengarannya berfungsi baik-baik saja. Tanpa pikir panjang lagi, ia memeluk tubuh sang istri dengan erat. Mengecup pucuk kepalanya berkali-kali sambil tertawa bahagia.


"Terimakasih," lirih Ashlan setelah puas memeluk tubuh istrinya. Saat ini mereka sedang berada di atas pembaringan dengan posisi Ashlan yang sedang berbaring di atas paha sang istri yang duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengelus surai peraknya yang indah.


"Ratu...," panggil Ashlan tanpa memutus kontak mata mereka.


"Hmm?"


"Apa sekarang kita bisa melakukan 'itu'?"


"I-itu? Itu apa?" tanya Diana gugup. Rasanya Diana mendadak 'de javu' dengan permintaan Ashlan barusan. Pasalnya, lelaki itu juga pernah berucap yang sama saat mabuk beberapa waktu yang lalu.


"Apa Ratu benar-benar tidak mengerti?" tanya Ashlan dengan serius.


Diana menggeleng cepat. Berpura-pura tidak tahu memang lebih baik. Ia terlalu malu untuk menjawab pertanyaan Ashlan secara terus terang. Apalagi, jujur ia tidak siap jika Ashlan akan meminta haknya sebagai suami. Helllo.... Si Gerald sableng saja belum pernah menyentuhnya. Masa ' harus bersama Ashlan? Meski mereka sudah terikat sebagai suami-istri, namun tetap saja Diana merasa malu. Dia juga terlampau khawatir terhadap tubuhnya di dunia nyata. Apakah jika melakukan 'itu' di dunia ini akan berdampak juga pada tubuhnya yang di sana? Bagaimana andai tubuhnya yang di sana hamil tetapi tak memiliki suami ataupun lelaki yang akan bertanggungjawab?


Meski sudah terlanjur nyaman di dunia yang sekarang, tetap saja Diana turut mengkhawatirkan kondisi tubuhnya di dunia sana. Apakah tubuhnya baik-baik saja? Adakah jiwa lain yang menghuninya seperti yang ia lakukan pada tubuh Diana Emerald? Atau, apakah jangan-jangan tubuhnya yang disana sudah mati?


"Ratu?" panggilan Ashlan memecah lamunan perempuan itu.


"Mendekatlah!" pinta Ashlan seraya memberi isyarat melalui gerakan tangannya.


Diana menurut. Kepalanya ia tundukkan agar Ashlan yang berbaring di pangkuannya bisa leluasa membisikkan sesuatu.


"A-apa?" Wajah Diana pucat nyaris tak memiliki darah. Ajakan yang baru saja Ashlan bisikkan sungguh membuatnya semakin tidak tahu harus berbuat apa.