Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Sihir gelap terlarang



"Uhuk!" Lagi, untuk kesekian kalinya, Damian batuk parah sambil memuntahkan darah yang tak sedikit. Keadaan itu sudah berusaha ia tutupi namun akhirnya ketahuan juga oleh sang putra semata wayangnya.


"Ayah harus segera berobat," pinta Alarick dengan cemas. Darah yang keluar dari mulut Ayahnya ia bersihkan menggunakan kain.


"Sudah terlambat, Rick!" geleng Damian. "Sihir gelap ini sudah terlanjur memakan sebagian cahaya kehidupan Ayah. Tidak ada lagi yang bisa menyingkirkannya dari tubuh Ayah bahkan penyihir tingkat tinggi sekalipun."


Alarick Bennet seketika tertegun mendengar pernyataan Ayahnya. Ia tak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya jika sang Ayah benar-benar mati akibat sihir gelap itu. Baru saja mereka bisa bersatu setelah semua badai yang berhasil mereka lalui. Akan tetapi, mengapa harus terpisah lagi? Apalagi, kali ini yang memisahkan mereka adalah maut. Sesuatu yang tak mungkin bisa di hindari sampai kapan pun.


"Ratu...," lirih Alarick.


"Ratu?" Ayahnya mengulang kata itu dengan tatapan heran.


"Ya." Alarick mengangguk. "Yang Mulia Ratu pasti bisa membantu Ayah. Aku yakin," imbuhnya penuh semangat.


Sang Ayah tersenyum. Pria itu menekan dadanya yang masih terasa sakit. Selalu seperti itu jika sihir gelap dalam tubuhnya tiba-tiba bereaksi dan menciptakan kesakitan yang teramat luar biasa.


"Yang Mulia Ratu masih belum ahli menggunakan kelebihannya. Kita tak bisa mengambil resiko, Rick." Bijak Damian berkata.


"Tapi, Ayah...,"


"Jangan," geleng Damian. "Rahasiakan ini dari semua orang terutama Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Ratu. Mereka tak boleh tahu," pintanya kepada sang putra.


Alarick menundukkan kepala. Pria bersurai ikal itu menggigit bibir bawahnya. Ia menggenggam erat tangan sang Ayah dengan mata berkaca-kaca. Kepalanya mengangguk ragu mengiyakan permintaan sang Ayah.


Keesokan harinya, Alarick memutuskan untuk melanggar permintaan sang Ayah. Lelaki berusia 30 tahun itu melangkah menuju ke kediaman sang sepupu untuk meminta pertolongan. Walau sang Ayah telah melarang, namun sebagai seorang putra yang berbakti, Alarick tak mungkin berpangku tangan sementara Ayahnya tengah sekarat dari hari ke hari.


"Ada apa, Rick?" tanya Ashlan saat sang sepupu terlihat ragu untuk mendekat.


"Saya boleh berbicara sesuatu kepada Yang Mulia?" Alarick balik bertanya.


Ashlan menganggukkan kepala. Sementara, Diana yang sedang fokus memeriksa beberapa catatan penting langsung menghentikan aktivitasnya.


"Bicaralah!" ujar Ashlan mempersilahkan.


Alarick mengangguk. Beberapa kali, ia tampak meneguk ludahnya sendiri. Kepalanya terus tertunduk menekuri lantai yang ia pijak. Dan, aksinya tersebut sontak membuat Ashlan menjadi curiga.


"Ada apa, Rick? Ada masalah?" tegur Ashlan lagi.


Yang ditegur langsung tersentak dan mengangkat kepalanya. Matanya yang memerah kini tak mampu lagi ia sembunyikan dihadapan sang sepupu dan juga saudara iparnya.


"Rick, bicaralah! Ada apa?"


BRUK!!


Alarick menjatuhkan bobotnya dan bersimpuh ke lantai. Ia menundukkan kepala sembari berkata, "Tolong selamatkan Ayahku, Ratu...," pintanya dengan suara bergetar.


Diana sontak membulatkan matanya. Sementara, Ashlan hanya menatap sang istri dengan tatapan bingung. Ada apa sebenarnya?


"Bangunlah, Rick!" Ashlan mengangkat kedua bahu Alarick agar pria itu kembali berdiri. "Katakan, ada apa sebenarnya?"


"Ayahku...," Alarick turut memegang kedua lengan Ashlan. "Dia sekarat, Ash...," ucapnya diiringi dengan lelehan air mata.


"Sekarat?" tanya Ashlan dengan alis berkerut.


"Dia terkena sihir gelap terlarang, Ash... Dan, belakangan ini kondisinya semakin memburuk karena hal itu."


Ashlan tertegun sesaat. Pikirannya mulai menciptakan beberapa alasan mengapa sang Paman bisa terkena sihir gelap terlarang tersebut. Setahunya, sihir gelap terlarang memang memiliki kekuatan yang luar biasa namun mampu memberi kerugian yang besar pula terhadap penggunanya dan juga seseorang yang terkena serangan dari sihir itu sendiri.


Lantas, yang manakah Pamannya berada? Si pengguna atau si korban serangan?


"Ingat penyerangan waktu Yang Mulia masih kecil?" Alarick menyadarkan lamunan Ashlan. "Ayahku sempat bertarung dengan mereka dan akhirnya terkena serangan sihir gelap itu. Yang Mulia juga pasti masih mengingat kejadian itu," imbuh Alarick yang tahu bahwa sepupunya pasti menaruh curiga terhadap Ayahnya.


Ashlan diam seribu bahasa. Tentu ia masih mengingat tragedi naas itu. Tragedi yang telah membuatnya kehilangan keluarga hingga harus hidup dalam kesendirian sebelum Diana akhirnya datang dan mengakhiri masa-masa suram itu.


"Dimana Paman sekarang?"


"Di paviliun tempatku tinggal," jawab Alarick.


"Bantulah saya, Ratu!" pinta Alarick mengiba.


Diana masih enggan bersuara. Ia bingung. Antara iba dan rasa takutnya sendiri, Diana masih gamang memilih.


"Diana masih pemula, Rick! Kita sama-sama tahu batas kekuatannya. Mustahil dia mampu menyembuhkan penyakit Ayahmu yang sudah berpuluh tahun lamanya. Apalagi, sisa sihir gelap itu pasti masih ada." Ashlan mewakili sang istri untuk mengambil keputusan.


Alarick merasa sangat frustasi. Bagaimana ini?


"Tak bisakah Yang Mulia Ratu mencoba?"


"Rick, jangan gila!" tegur Ashlan dengan suara tinggi. "Kau tahu sendiri resiko melawan sihir gelap itu. Dan, kau ingin membiarkan Diana menempuh resiko tersebut?"


Alarick berjalan mundur beberapa langkah. Tatapan matanya terlihat kosong. Harapannya pupus sudah. Tiba-tiba, seseorang berjalan menerobos masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat begitu tegang dengan nafas tersengal akibat berlari dengan cepat menuju ke tempat itu.


"Ada apa?" tanya Alarick dengan perasaan tak enak.


"Ayah Anda kembali muntah darah. Sepertinya, kondisi beliau jauh lebih parah dari sebelumnya," jawab pria itu.


Alarick tanpa aba-aba langsung berlari dengan cepat kembali ke kediamannya. Ashlan dan Diana juga ikut serta untuk melihat kondisi Damian.


"Ayah...," panggil Alarick panik.


Di atas pembaringan, sang Ayah terlihat memuntahkan darah yang tidak sedikit. Tubuhnya mengejang, dengan mata yang membulat dan melihat ke atas. Dua orang anak buah Fionn tampak memegang kedua lengan sang Ayah yang terlihat kaku.


"Kondisi beliau semakin parah. Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu pria itu.


Alarick bungkam. Ia pun tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu.


"Paman?" Diana membungkam mulutnya ketika melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Tempat tidur bersprei putih itu sudah penuh dengan cairan berwarna merah. Jangan tanya bagaimana kondisi pakaian Damian. Tentu jauh lebih mengenaskan dari nasib sprei tersebut.


"Tolong Ayahku, Yang Mulia... Sekali ini saja," pinta Alarick sambil berlutut di bawah kaki Diana.


Melihat tingkah Alarick, wanita bersurai kecoklatan dengan bola mata hijau itu reflek memundurkan langkahnya.


"Apa yang kau lakukan, Rick?" pekiknya.


"Tolong! Saya mohon!" pinta Alarick sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Ashlan menggelengkan kepala ke arah Diana. Jelas, ia tak setuju dengan permintaan dari sepupunya sendiri. Walau rasa khawatirnya terhadap sang Paman tak jauh beda dengan Alarick, namun Ashlan juga tak mungkin membuat istrinya sendiri menghadapi resiko yang besar.


"Baiklah! Akan ku coba...," kata Diana yang tak tega melihat Alarick mengiba seperti itu padanya.


"Ratu...," Ashlan menggelengkan kepalanya.


"Tak apa. Biar ku coba," ucap Diana menenangkan kecemasan sang suami.


"Ini berbahaya, Ratu!" peringat Ashlan sambil menahan pergelangan tangan sang istri.


Diana tersenyum kecil. "Biarkan aku mencoba," bujuknya dengan tatapan penuh harap.


Ashlan mendengkus frustasi. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti keinginan sang istri.


Diana kemudian mendekati tubuh Damian yang masih di pegang oleh dua orang pria kuat. Tangan wanita itu terulur menyentuh dahi Damian. Perlahan, Diana mulai memejamkan mata. Mencoba menyalurkan energinya untuk menyembuhkan Damian walau ia sendiri pun merasa agak ragu.


Sedetik


Dua detik


Tiga detik


Dan... Wushhhh...


Diana mendadak terpental ke belakang secara tiba-tiba. Sihir gelap dalam tubuh Damian jelas memberi perlawanan yang sengit. Ashlan yang melihat kejadian itu sontak melompat dengan cepat. Tubuh Diana yang terpental berhasil di tangkapnya sehingga tubuhnya lah yang menghantam dinding kamar milik Alarick. Sementara, Diana yang berada dalam pelukannya sudah tak sadarkan diri.