Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Sebelum perang



Beberapa jam sebelumnya....


"Ada yang ingin saya sampaikan, Yang Mulia!" ucap Rosemary dengan tatapan penuh harap.


Diana mengalihkan pandangannya sesaat. Berusaha menebalkan hati agar tak lagi memiliki rasa iba terhadap Rosemary. Lalu, setelah perasaan mulai bisa di kontrol, ia pun mendekatkan tubuhnya ke tubuh Rosemary. Bersiap mendengar sesuatu yang ingin di katakan wanita paruh baya yang pernah menjadi malaikat tanpa sayap untuknya. Setidaknya, sampai Diana tahu bahwa Rosemary turut andil dalam perjalanan hidupnya yang penuh derita tanpa kehadiran sang Ibu.


"Kerajaan Barat akan di serang pemberontak dini hari nanti," bisik Rosemary.


"Apa maksud Bibi?" tanya Diana dengan alis bertaut.


Di tatapnya wajah Rosemary yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Berusaha mencari jejak lelucon yang sayangnya sama sekali tak dapat ia temukan.


"Bibi jujur, Yang Mulia!" jawab Rosemary dengan kepala tertunduk. Setetes bening meluncur bebas turun ke pipinya yang mulai di penuhi kerutan halus.


"Lucas...," Ia menarik napas panjang. "Lelaki yang dulu telah ku tolong dan membuat aku lupa segalanya sekaligus menjadi alasan utama kenapa aku menuruti permintaan Duchess Levrina, telah bersekongkol dengan orang dalam di istana kerajaan Barat untuk merebut tahta."


Diana terhenyak. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Bagaimana mungkin mantan kekasih Bibi ingin merebut tahta milik Ashlan. Dia sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan suamiku. Terlebih lagi, siapa orang yang dengan bodohnya mau mendukung orang asing untuk mengambil alih negaranya?" Diana menggeleng dengan senyum masam. Ucapan Rosemary terlalu mengada-ada baginya.


"Dia bukan orang asing, Yang Mulia," sergah Rosemary cepat. "Setidaknya, tubuh yang dia miliki adalah benar milik keluara kerajaan. Jadi, merupakan hal mudah jika dia mampu mengumpulkan sekutu didalam istana," imbuhnya dengan bersungguh-sungguh.


"Maksud Bibi?" lirih Diana.


Rosemary tertunduk kembali. Penyesalan sungguh mendekapnya dengan erat. Enggan melepaskan sebelum Rosemary benar-benar mengungkapkan semua rahasia yang selama ini ia ketahui dan disimpan sendiri.


"Sekali lagi, maafkan Bibi, Yang Mulia!" Rosemary menggenggam tangan Diana. "Sebenarnya, setelah meminum ramuan sihir yang ku berikan padanya, Lucas tiba-tiba mendapatkan kekuatan sihir yang aneh. Dengan kekuatan sihir itulah, dia mampu bersembunyi dan tak pernah bisa di temukan oleh siapapun."


"Kekuatan sihir seperti apa?"


Rosemary meneguk ludahnya kasar. "Bisa memindahkan jiwanya ke tubuh orang yang sudah mati."


"Lalu, apa hubungannya antara kekuatan aneh Lucas dengan rencananya merebut tahta kerajaan Barat?"


Rosemary menatap Diana dengan sendu. "Karena, tubuh terakhir yang dia gunakan untuk bersembunyi adalah tubuh kakak kandung Kaisar Ashlan. Pangeran Leon."


Diana merasa tak mampu berbuat apapun. Pengakuan Rosemary kembali menguak fakta baru yang sama sekali berada di luar nalar Diana. Bagaimana mungkin? Hal itu terus terngiang di dalam benak Diana.


"Anda harus segera kembali ke kerajaan Barat, Yang Mulia! Suami Anda membutuhkan Anda. Dia tak mungkin bertahan sendiri untuk melawan kekuatan hitam milik penyihir gelap."


"Bibi tahu siapa sekutu Lucas didalam istana?"


Rosemary menggeleng.


"Yang Bibi tahu, orang itu adalah penyihir dengan kekuatan sihir terlarang. Dia yang selama ini menyembunyikan Lucas dan menyusun rencana sejak lama."


"Bibi tahu darimana semua ini?"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya lagi, Yang Mulia! Lihatlah! Matahari sebentar lagi akan mulai tenggelam. Anda harus segera memperingatkan Kaisar Ashlan tentang penyerangan ini."


Tak menunggu waktu lama lagi, Diana segera berlari mencari keberadaan Ksatria Martinez. Entah kenapa, hanya pria itu yang Diana pikirkan saat sedang dalam pikiran kalut seperti ini. Ia yakin, Alejandro pasti memiliki sesuatu untuk membantunya.


"Mau kemana, Di?" tanya Kaisar Sean saat melihat sang putri berlari dengan panik.


Diana tak menggubris perkataan Kaisar Sean. Sebaliknya, ia malah meminta beberapa orang pengawal untuk mengikutinya menuju ke puncak gunung.


Sementara, Rosemary mulai berjalan menuju ke tiang gantungan. Kilas masa lalu tentang semua hal yang telah ia lalui berkelabat dengan jelas dalam ingatan. Wanita paruh baya itu menatap langit jingga dengan penuh rasa sesal. Satu pikiran terbersit dalam benaknya.


Andai dia tak salah mencintai lelaki, apakah hidupnya akan berakhir dengan indah?


Padahal, impian Rosemary begitu sederhana. Hanya hidup bersama dengan suami dan anak-anaknya dalam kesederhanaan. Lantas, kenapa garis hidupnya harus sepahit ini?


Dulu, saat ia tahu bahwa Lucas ternyata bisa hidup normal setelah meminum ramuan pemberiannya, ia datang kepada sang Kakak untuk menanyakan dampak lain atas efek samping obat tersebut. Dan, saudaranya tersebut mengatakan bahwa Lucas harus rutin mengonsumsi ramuan yang sama, setidaknya sebulan dua kali agar tubuhnya tidak membusuk. Jika tidak, maka dia harus berpindah ke tubuh orang lain agar dia bisa menghindari kematian. Sementara, tubuh lamanya akan mengalami pembusukan secara alami dan perlahan rusak hingga tak bisa ia tempati lagi. Dan, otomatis Lucas harus mencari tubuh yang baru lagi.


Selang beberapa saat dengan kondisi yang sama, tiba-tiba Lucas mendapatkan tubuh seorang bocah kecil yang sekarat di tengah hutan. Tanpa pikir panjang, dia pun memindahkan jiwanya ke tubuh anak kecil tersebut. Merasa telah berhasil, Lucas tertawa senang. Setidaknya, untuk ke sekian kali, ia terbebas dari malaikat kematian.


Namun, mendadak muncul seorang pria berjubah hitam yang mendekatinya. Pria itu menawarkan kerja sama kepada Lucas dan membiarkannya tetap menjadi penghuni tubuh anak lelaki tersebut. Lucas awalnya tak setuju. Namun, karena tawaran si pria asing sangat menggiurkan baginya yaitu posisi sebagai Kaisar, maka Lucas pun memutuskan tunduk dan patuh dengan catatan si pria berjubah hitam wajib membuatkan dia ramuan agar tubuh yang dihuninya sekarang tak akan bernasib sama dengan tubuh-tubuhnya yang terdahulu.


Pria berjubah hitam menyanggupi. Asal, Lucas harus tetap ingat posisinya dan tak pernah membangkang apapun perkataannya.


Dan, jika kalian bertanya darimana Rosemary tahu semua itu? Jawabannya adalah karena dia dipaksa Lucas untuk melayani pria itu seperti pembantu selama belasan tahun. Dia yang bertugas membersihkan rumah tua tempat Lucas berada. Dia juga yang bertugas berbelanja semua kebutuhan untuk Lucas. Hal itu ia lakukan selama masih menjadi pengasuh Diana sampai suatu hari menghilang setelah Ashlan menduduki kerajaan lalu kembali datang setelah dia tahu bahwa Alejandro sedang mencarinya atas permintaan Diana.


Hal itu tak ia ceritakan pada Diana. Rosemary hanya tak ingin Diana semakin membencinya. Itu saja.


"Yang Mulia, ada apa?" tanya Alejandro kepada Diana.


Tanpa berusaha menetralkan napasnya, Diana segera membeberkan semua cerita Rosemary kepada Alejandro.


"Aku butuh bantuanmu, Ale!"


Alejandro berpikir sesaat lalu berkata, "ikut aku!"


Diana patuh mengikuti langkah Alejandro yang sedikit terburu-buru. Tiba di pinggir tebing yang curam, pria itu mengeluarkan sebuah peluit dari sakunya kemudian meniup peluit yang suaranya tak dapat didengar Indra pendengaran manusia itu.


Selang beberapa saat, seekor burung elang yang gagah terbang menghampiri mereka dan langsung bertengger di sebuah pohon tepat di atas kepala Diana.


"Apa ini?" tanya Diana tak mengerti.


"Namanya Ben. Dia burung cerdas yang bisa mengantarkan pesan apapun kepada siapapun. Sekarang, tulislah sebuah surat untuk Kaisar Ashlan. Karena, jika Yang Mulia harus pulang ke Barat sekarang, waktunya pun tak akan cukup."


"Apa dia bisa di andalkan?"


Alejandro tersenyum. "Tentu saja, Yang Mulia! Ben burung yang terlatih!"


Tanpa pikir panjang lagi, Diana segera menuliskan surat untuk sang suami. Beruntung, Alejandro memang selalu membawa kertas dan pena kemanapun dia pergi demi mengantisipasi hal-hal tak terduga seperti ini. Terbiasa berperang dan terjebak di daerah berbahaya selama berhari-hari, membuat Ale terbiasa menulis surat dan meminta Ben untuk mengirimkan kepada pasukan terdekat yang bisa membantunya.


"Tapi, bagaimana caranya dia bisa tahu akan kepada siapa surat ini harus diberikan?" tanya Diana.


"Biarkan dia mengendus bau Anda!"


Dan, tanpa di komando, Ben langsung terbang dan hinggap di bahu Diana. Hal itu membuat Diana sedikit meringis mengingat cakar Ben yang cukup tajam menancap di bahunya.


"Kemarilah, Ben!" pinta Alejandro. Surat yang selesai digulung Diana segera ia ikatkan ke kaki Ben yang sudah kembali hingga di dahan pohon yang rendah.


"Sekarang, berangkatlah!" perintah Alejandro sembari menepuk kepala Ben.


Lalu, elang berukuran besar itu pun terbang dengan gagah menyusuri tebing yang curam. Ia menghilang di antara kabut sore yang mulai agak pekat di bawah tebing. Dia terus terbang dengan gagah. Kepakan sayapnya yang lebar membuat binatang terbang yang lain segera menyingkir dan membiarkannya terbang tanpa hambatan hingga tiba di tempat tujuan.


Dok dok dok!


Pintu perpustakaan diketuk dari luar. Pria tampan bersurai perak yang sedang serius membaca buku sontak menoleh dan mengerutkan alis setelah melihat pemandangan tak lazim di luar jendela.


Seekor elang berukuran cukup besar sudah bertengger disana. Membenturkan paruhnya berkali-kali ke kaca jendela sampai Ashlan akhirnya membuka jendela itu dan membiarkannya masuk.


Ashlan melihat kertas yang terikat di kaki elang tersebut. Sedikit hati-hati, ia pun melepaskan surat itu dari kaki si elang kemudian membawanya kembali ke dekat jendela.


"Suratnya sudah ku terima. Sekarang, pulanglah! Terimakasih!" ucap Ashlan yang langsung di sambut dengan kepakan sayap Ben yang kembali mengudara dengan bebas.


Selesai membaca surat itu, Ashlan diam sebentar kemudian memanggil Fionn untuk datang.


"Ungsikan seluruh rakyat keluar dari kota. Lalu, siapkan banyak pasukan untuk berjaga-jaga mulai malam ini!"


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Fionn.


Ashlan menoleh. Mata indahnya menatap Fionn dengan serius. "Dini hari nanti, kita akan di serang!"


Fionn tak berkata apa-apa lagi. Segera ia bergegas pergi dari sana dan melakukan titah dari rajanya.


"Jangan lupa!" Ashlan membuat Fionn kembali berbalik. "Rahasiakan semuanya dari Alarick!"


Fionn kembali mengangguk.


Sementara, di tempat lain, Diana tak bisa tenang dalam perjalanannya kembali ke kerajaan Barat. Alejandro dan Ayahnya sudah mengajukan diri untuk membantu langsung. Namun, Diana menolak. Ia tak ingin mengambil resiko besar dengan membiarkan kerajaan Timur kosong tanpa kedua orang hebat itu. Kali ini, Diana ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Bawa buku mantra sihir ini, Nak! Baca saja dan tak perlu kau hapalkan. Secara alamiah, mantra-mantra itu akan terserap sendiri dalam kepalamu," ucap Kaisar Sean ketika Diana hendak menaiki kereta kuda.


"Buku apa ini?" tanya Diana tak mengerti.


"Buku warisan nenek moyangmu yang memiliki sihir yang serupa denganmu. Semua mantra didalam buku itu bisa memperkuat kekuatan sihir dan menjadikan kekuatannya berpuluh kali lipat lebih hebat."


"Kenapa Ayah baru memberikannya sekarang?"


Kaisar Sean tersenyum. "Karena kau pun baru siap sekarang!"