
"Hai, Bocah kecil! Apa kau sudah hidup didalam sana?" tanya Ashlan sembari menempelkan daun telinganya pada perut Diana yang sedang duduk di kursi malas.
Ashlan sendiri tengah berjongkok dihadapan sang istri. Sesekali, tangan besarnya mengelus lembut perut sang istri yang masih rata, berharap bayi kecil yang dia impikan akan tumbuh didalam sana.
"Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?" tanya Diana sedikit terkejut. Namun, terdengar gelak kecil dari mulutnya yang menandakan bahwa dia suka dengan hal yang dilakukan Ashlan kini.
"Hanya sedang mengecek, apakah Ashlan kecil sudah ada atau belum," jawab Ashlan sembari mendongak menatap wajah cantik sang istri yang dihiasi senyum menawan.
"Memang, caranya sudah benar?"
Ashlan mengerutkan alis seraya mengerucutkan bibir. Serius sekali ia berpikir.
"Mmmmm... Sepertinya tidak, ya?" ujarnya balik bertanya.
Diana tertawa lepas. Di acaknya rambut rapi sang suami hingga berantakan kembali. Namun, bukannya menjadi jelek, level ketampanan suaminya malah terlihat meningkat. Ugh! Tidak adil. Gerutu Diana dalam hati.
"Saya pikir Anda orang yang cerdas. Ternyata...," Diana sengaja menggantung kata-katanya seraya melempar tatapan remeh.
"Ternyata apa?" tanya Ashlan. Ia memegang kedua tangan sang istri. "Apa Ratu ingin mengatai aku bodoh? Iya?" desaknya.
"Wah! Kenapa Yang Mulia bisa tahu isi pikiranku?" tanya Diana pura-pura terkejut.
Ashlan tersenyum kesal. Di gelitikinya perut sang istri hingga wanita itu tertawa keras sambil berusaha melepaskan diri dari Ashlan.
"Ampun, Yang Mulia...," ucap Diana di sela tawanya.
"Dasar gadis nakal!"
Keduanya larut dalam canda tawa yang bahagia. Ya, beberapa hari terakhir, Diana memang lebih suka menghabiskan waktu bersama Ashlan. Selain untuk memberi penghiburan kepada sang suami yang baru saja kehilangan salah satu saudara, Ksatria, bahkan keluarga, Diana juga selalu ingin berada di sisi pria itu.
Jika Ashlan sedang bekerja, Diana seringkali hanya akan duduk sepanjang waktu atau malah tertidur di ruangan kerja Ashlan. Jika Ashlan sedang mengadakan rapat, maka Diana pun dengan setia akan menunggu di luar hingga rapat selesai. Mengenai pekerjaannya sendiri? Diana selalu berusaha menyelesaikan semuanya lebih cepat agar waktunya bersama Ashlan jauh lebih banyak.
"Ratu, apa kita selamanya akan selalu seperti ini?" tanya Ashlan yang sedang menatap langit-langit kamar mereka.
Ya, setelah adegan bercanda tadi, akhirnya mereka kembali berlabuh di atas pembaringan dan melakukan hubungan suami istri. Tentu, dengan Diana yang kali ini lebih agresif. Entah kenapa, akhir-akhir ini Diana memang seperti kecanduan Ashlan.
"Maksud, Yang Mulia?" Diana melingkarkan tangannya di perut sixpack sang suami.
Ashlan menunduk sedikit demi menatap netra kehijauan yang tampak mempesona milik Diana. Lelaki itu menyunggingkan senyum manis yang makin meningkatkan kadar ketampanannya. Andai Ashlan tak bernapas dan bersuara, mungkin saja Diana akan mengira bahwa lelaki bersurai perak dengan netra abu-abu itu pastilah pahatan patung dewa Yunani.
"Aku hanya takut, jika kebahagiaan yang ku rasakan ini tak akan bertahan lama," lirih Ashlan pelan.
"Kenapa harus takut, hm? Bukankah kebahagiaan ini tercipta karena kita sendiri yang menciptakannya? Lalu, kenapa harus takut berakhir jika Yang Mulia sendiri tidak mau mengakhirinya?"
"Begitukah?"
"Tentu saja," angguk Diana. "Selama Yang Mulia terus mencintaiku dan aku juga terus mencintai Yang Mulia, maka kebahagiaan ini pasti akan terus bertahan."
"Bagaimana jika ada orang yang...,"
"Sstt..," Diana menempelkan telunjuknya di bibir sang suami. "Jangan terlalu memikirkan banyak hal. Cukup jalani hal yang sekarang kita jalani saja. Perkara nanti, biarkan itu kita hadapi nanti. Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi dan malah membuat Yang Mulia tidak menikmati kebahagiaan yang saat ini sudah kita miliki."
Ashlan meraih telunjuk Diana. Di taruhnya telapak tangan mungil itu di atas dadanya. Tepat, dimana tempat jantungnya berdetak.
"Ratu tahu? Sejak Ratu hadir dalam hidupku, warna pelangi yang dulunya abu-abu kini kembali berwarna. Terimakasih!"
"Terimakasih juga karena sudah mencintaiku dan tidak membunuhku untuk kedua kalinya," balas Diana dalam hati.
"Apa Yang Mulia ada?"
Mulanie yang sedang asyik membaca buku di depan pintu kamar sang Kaisar sedikit terkesiap dengan kehadiran sosok pria yang entah muncul darimana.
"Ksatria Bennett?" lirih Mulanie dengan mata memicing. Mencoba memastikan bahwa pria berambut ikal panjang yang dikuncir dengan jambang yang memenuhi rahangnya adalah benar sepupu sang Kaisar.
"Ya, ini aku," jawab Ksatria Bennett.
Mulanie terlihat takjub melihat penampilan Ksatria Bennett yang sekarang. Menurutnya, pria itu kini terlihat sangat berbeda. Penampilannya terlalu asing bagi Mulanie yang terbiasa melihatnya dengan penampilan rapi dan bersih.
"Hai! Aku sedang bicara denganmu!" tegur Alarick seraya melambaikan tangan didepan wajah Mulanie.
"Eh.. Hah?" Mulanie menggelengkan kepala. Otaknya masih berusaha mengumpulkan fokus yang sempat terpecah. "A-Ada apa?" tanyanya.
Alarick menghela napas. "Aku tanya, apa Yang Mulia Kaisar ada didalam atau tidak?"
"Ada. Tapi, Yang Mulia sedang tak ingin diganggu," jawab Mulanie.
"Kenapa?" tanya Alarick cemas. "Apa Yang Mulia sakit? Atau Yang Mulia masih berduka atas kematian Fionn?" cecarnya sehingga membuat Mulanie melangkah mundur.
"Bu-bukan seperti itu," sanggah Mulanie.
"Lalu? Ada apa? Katakan dengan jelas kepadaku!" tuntut Alarick tak sabaran seraya memegang kedua bahu Mulanie.
Deg!
Jantung Mulanie mulai merespon tak wajar. Tatapan mata tajam yang menghunus ke arahnya di tambah jarak yang begitu dekat membuat gadis itu merasakan sesuatu yang agak berbeda. Jujur saja, ini kali pertama Mulanie dekat dengan seorang pria seperti ini.
"To-tolong mundur sedikit!" sentak Mulanie gugup. Ia mendorong dada bidang Alarick hingga pria itu melangkah mundur. Wajahnya mulai memerah. Sebisa mungkin, ia berusaha menghindari tatapan Alarick demi menyembunyikan kepanikannya.
"Maaf! Aku tidak bermaksud!" Sadar akan perbuatannya yang terlalu lancang menyentuh tubuh seorang gadis, Alarick lekas meminta maaf.
"Yang Mulia Kaisar sedang tidur siang bersama Yang Mulia Ratu didalam. Beliau berpesan agar jangan ada yang menganggu," terang Mulanie dengan jemari yang saling bertaut.
Alarick mengangguk mengerti. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya kala menyadari bahwa saat ini Mulanie sedang salah tingkah.
Astaga! Lucu sekali. Apa jangan-jangan Mulanie belum pernah dekat atau berpacaran dengan lawan jenis? Jika iya, kemana saja Mulanie selama ini hingga harus terasing dari dunia percintaan padahal usianya sudah menginjak usia 24 tahun. Usia yang sama dengan sang Ratu yang bahkan kini sudah menikah.
"Baiklah! Nanti aku akan kembali lagi," ucap Alarick setelah berusaha menyembunyikan senyumnya di hadapan Mulanie.
"Oh iya, Lanie?" Alarick kembali berbalik setelah melangkah beberapa meter.
"Ya?" Mulanie kembali mengangkat wajahnya.
"Kapan-kapan, ingin jalan-jalan denganku?"
"Eh?"Mulanie kebingungan.
"Baiklah jika kau setuju! Setelah semua pekerjaanku selesai, kita akan jalan-jalan berdua."
"Tu-tunggu!" teriak Mulanie. Namun, yang ia dapat hanya lambaian tangan dan senyuman lebar khas Alarick Bennett yang biasanya terlihat. Lelaki itu terus melangkah pergi tanpa menghiraukan rasa keberatan Mulanie.
"Kapan aku setuju?" cebik Mulanie setengah kesal sambil menghentakkan kakinya.
"Kenapa kalian tertawa? Memangnya ada yang lucu?" hardik Mulanie kesal kepada beberapa pelayan dan pengawal yang melihat adegan tadi. Dia pun segera pergi untuk mengambil secangkir teh demi mengusir rasa aneh yang ditimbulkan oleh sepupu orang nomor satu di negaranya itu.