
"Apa masih jauh?" tanya Diana gelisah sembari melongokkan kepalanya melalui jendela kereta kudanya.
"Sekitar 2 jam lagi, kita mungkin akan segera sampai," jawab pengawal yang menaiki kuda di samping keretanya.
Jawaban dari pengawal itu sama sekali tak membuat hati Diana merasa puas. Dua jam, menurutnya waktu yang terlalu lama. Sementara, fajar sepertinya sebentar lagi akan menyingsing.
"Bagaimana ini?" gumam Diana frustasi. Dia memejamkan mata sejenak. Menghela napas besar sembari menyandarkan punggungnya di sandaran bangku yang sama sekali tak mampu mengusir gundah gulananya.
"Hentikan kereta kudanya!" pekik Diana tiba-tiba. Pintu kereta ia ketuk dengan keras agar kusir yang mengendalikan laju kereta kuda lekas melaksanakan apa yang dia perintahkan.
Sontak, rombongan berhenti dengan tatapan bingung. Seorang Ksatria yang dipercaya mendampinginya segera turun dari kudanya setelah melihat Diana juga turun dari kereta dengan langkah tergesa.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya pria berambut gondrong berwarna blonde tersebut.
"Mana kuda tercepat yang kita miliki untuk saat ini?" Diana balik bertanya.
Ksatria Jax menunjuk ragu ke kuda yang ia tunggangi. Seekor kuda hitam yang terlihat gagah dengan empat kaki yang panjang dan kuat.
"Baiklah! Kalau begitu, aku akan menunggangi kudamu, Jax! Kau, pakai kuda yang lain dan minta 4 anak buahmu yang lain untuk mengikutiku!"
"Anda ingin berkuda menuju istana, Yang Mulia?" tanya Jax dengan mata melebar.
"Iya,"angguk Diana yakin. Dengan tangkas, wanita itu berhasil menaiki kuda hitam milik Jax dan menatap pria berambut blonde tersebut tanpa ragu. "Jika tetap menaiki kereta kuda, waktu di perjalanan akan lebih lama."
"Tapi, itu berbahaya, Yang Mulia!"
"Tidak ada waktu untuk mencemaskan aku, Jax!" sergah Diana. "Kerajaan Barat sedang membutuhkan kita."
Setelah mengatakan itu, Diana langsung melajukan kuda milik Jax dengan kecepatan tinggi. Jax yang melihat itu segera merebut salah satu kuda milik bawahannya dan meminta 4 orang untuk mengikutinya mengejar sang Ratu .
Sementara, kereta kuda dan beberapa pengawal lain terpaksa tertinggal jauh di belakang. Laju kereta kuda memang tak bisa cepat.
"Melaju lebih cepat, anak baik!" teriak Diana kepada kudanya sambil memainkan tali kekang yang terikat di leher hewan gagah itu.
Berjarak 5 meter dibelakang, ada Jax dan 4 Ksatria lain yang mengikuti dengan kecepatan yang tak kalah cepat. Selain untuk memastikan Diana tak akan kenapa-kenapa, mereka juga secepatnya ingin sampai di kerajaan Barat dan menyaksikan sendiri hal yang membuat Ratu mereka seperti tak tenang dan terus gelisah. Jika benar terjadi perang, maka mereka akan dengan sangat bangga ikut terlibat didalamnya.
*
"Menyingkir, Rick!" teriak Damian memperingatkan putranya.
Namun, bukannya mengikuti perintah sang Ayah, Alarick tetap berdiri gagah di depan Ashlan dengan tatapan tajam menatap sang Ayah. Sebagai seorang Ksatria pribadi milik sang Kaisar, Alarick tak ubahnya pedang yang akan bertarung demi melindungi tuannya. Dan, sebelum pedang itu patah, maka tak ada yang boleh menyentuh tubuh sang Tuan barang seinci saja. Termasuk pula Ayahnya.
"Serang aku jika memang Ayah mampu!" tantang Alarick dengan nada sinis.
"Rick!" Ashlan yang kesusahan berdiri sambil memegang bagian dadanya berusaha membuat Alarick menyingkir. Ia tak ingin sepupunya itu menjadi korban kejahatan ayah kandungnya.
"Jangan memintaku untuk menyingkir, Yang Mulia!" ucap Alarick. "Setidaknya, tolong percayai saya sekali ini saja."
"Rick...,"
"Saya tahu Yang Mulia tidak pernah bisa mempercayai saya seratus persen. Tapi, saya memang tak akan pernah mengkhianati Yang Mulia. Saya akan terus berdiri di sisi Yang Mulia sampai akhir, sekalipun Yang Mulia mungkin tetap akan meragukan pengabdian saya," kata Alarick dengan senyum miris.
"Rick... Bukan itu maksudku!"
"Tidak apa, Yang Mulia! Saya mengerti! Wajar jika Yang Mulia tidak mempercayai saya karena Ayah saya adalah penjahat yang selama ini Yang Mulia cari-cari."
Mata Ashlan berkaca-kaca melihat kehancuran di wajah sepupunya. Dia menyesal telah meragukan Alarick. Dia menyesal karena menganggap Alarick mungkin saja lebih memilih berpihak pada Ayahnya dibanding dirinya. Nyatanya, ternyata sang sepupu lebih berpihak disisinya meski Ashlan telah meragukan Alarick berulang kali.
"Menyingkir, Anak bodoh!" Karena kesal melihat sang putra yang terus berdiri bak perisai untuk Ashlan, Damian lalu menyerang Alarick dan membantingnya keras ke tembok gerbang istana.
Walaupun menggunakan sihir gelap, tapi yang dilakukan Damian tidaklah separah yang telah ia perbuat kepada Fionn. Setidaknya, dia tak memasukkan racun ke dalam tubuh Alarick seperti yang ia lakukan kepada Fionn. Alarick murni kesakitan karena dibanting keras dan punggungnya mungkin saja mengalami patah tulang.
"Kenapa membunuhmu harus sesulit ini, Ash? Bahkan, putraku sendiri saja berusaha menghalangi aku," gerutu Damian yang kembali menyerang Ashlan dengan kekuatan sihirnya.
Ashlan berhasil menghindar dan melayangkan serangan balik. Namun, karena kondisinya sudah lumayan parah, serangannya tak tepat sasaran dan malah membuat Damian semakin naik pitam.
"Kau benar-benar menyebalkan!"
"Paman jauh lebih menyebalkan!" sinis Ashlan sembari tertawa sumbang.
"Anak kurang ajar!" Damian kembali mengumpulkan kekuatan sihirnya. Bersiap menyerang Ashlan dan berharap serangan terakhir ini akan membuat sang keponakan berhenti berbicara untuk selamanya.
Wush!!!
Serangan sihir Damian melaju dengan kecepatan kilat. Mata Ashlan sontak membulat. Dengan sisa tenaga yang ada, dia berusaha menahan serangan tersebut.
BRAKK!
"Apa yang terjadi?" gumam Ashlan kebingungan. Dia pun tak tahu apa yang sedang dia alami. Sakit didadanya perlahan berkurang. Dan, tubuhnya terasa terisi oleh luapan kekuatan asing yang begitu kuat.
"Pa-Paman?" lirih Leon palsu panik. Lelaki itu berdiri kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Ia terus melangkah mundur untuk menghindari sesuatu yang merayap di bawah kakinya.
"Apa ini, Paman?" teriaknya lagi dengan ketakutan. Wajahnya mulai pias. Terlebih lagi, ketika satu per satu penyihir yang telah di lumpuhkan oleh Damian tadi malah bangkit satu persatu usai sinar kehijauan yang merayap seperti sulur pohon itu menyerap ke dalam tubuh mereka.
"Uhuukkk!" Damian memuntahkan darah hitam yang kental ke telapak tangannya. Seketika, seluruh tubuh pria itu bergetar. "Ba-bagaimana mungkin? Bukannya aku sudah sembuh?"
"Ratu?" Ashlan yang menyadari bahwa Ratunya adalah dalang dibalik kembalinya kekuatan sihirnya secara penuh dan berkali-kali lipat lekas tersenyum. Terdengar suara derap langkah kaki kuda yang masih berjarak ratusan meter darinya yang semakin membuat dia yakin.
"Lihat tubuh Ratu!" ucap salah seorang anak buah Jax kala melihat wanita yang menunggangi kuda di depan mereka terlihat memancarkan sinar kehijauan dari seluruh tubuhnya. Rambut yang awalnya berwarna kecoklatan berubah menjadi putih dan bersinar terang. Bahkan, tanah yang dipijaki oleh kuda yang di tunggangi Diana ikut bercahaya sesaat. Memberi penerangan bagi mereka dalam menembus hutan terlarang yang menjadi satu-satunya jalan pintas tercepat untuk sampai di kerajaan Barat.
Makhluk mistis dalam hutan itu tak terlihat. Ilusi yang biasanya mampu membuat orang-orang tersesat juga tak menunjukkan tanda-tanda kemunculan. Malah, pohon-pohon terlihat merunduk kala Diana melewati mereka. Rumput-rumput liar yang menghalangi jalan bergeser dari tempatnya. Jax dan yang lain sungguh takjub akan pengalaman itu. Baru kali ini,mereka melihat sisi lain dari hutan terlarang yang selama ini terkenal menyeramkan.
*
"Bersiaplah untuk menebus kesalahanmu, Paman!" ucap Ashlan.
Damian berusaha bangkit. Kondisinya kembali sekarat seperti ketika ia pertama kali datang ke istana. Namun, ia berusaha menyembunyikan hal tersebut di hadapan Ashlan dan Alarick. Setidaknya, dia harus mengalahkan Ashlan walaupun dengan resiko bahwa kekuatan gelap didalam tubuhnya akan benar-benar memakan habis jiwanya.
"Coba saja jika kau bisa, Ash!"
Pertarungan kembali berlangsung sengit. Baik Damian maupun Ashlan mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik mereka. Namun, kali ini Ashlan terlihat jauh lebih unggul. Damian berulangkali terkena serangan hingga tubuhnya benar-benar seperti rusak parah.
"Tak akan ku biarkan kau untuk menang, Ash!" Dengan sisa tenaga terakhir, Damian mengeluarkan seluruh kekuatan yang ia punya. Hal itu lumayan membuat Ashlan kewalahan menahan serangan itu. Bahkan, dengan bantuan Alarick sekalipun, masih saja membuat Ashlan kepayahan.
"Coba lebih kuat, Yang Mulia!" ucap Alarick dengan gigi bergemelatuk.
Ashlan mengangguk. Bersama-sama mereka membentuk perisai untuk menghalangi serangan sihir hitam milik Damian.
"Mati saja kalian berdua!" teriak Damian yang semakin tak peduli andai setelah ini dia akan benar-benar mati karena jiwanya yang semakin termakan habis oleh kekuatannya sendiri.
BRAK!!
Damian terlempar dan jatuh berguling di tanah lapang. Tubuhnya baru berhenti berguling ketika ia menabrak sebuah pohon ek tua yang tumbuh di sana.
Tak lama berselang, beberapa ekor kuda berhenti tak jauh dari Ashlan dan Alarick. Lekas, Diana yang telah membantu dari kejauhan turun dan menghampiri suaminya.
"Yang Mulia baik-baik saja?" tanyanya sembari meraba-raba tubuh bagian atas sang suami.
"Berkat Ratu, kondisiku sudah lebih membaik!"
Diana menghela napas lega. Ia tersenyum menatap Alarick yang juga balas tersenyum ke arahnya. Lalu, pandangannya beralih pada Damian yang tampak sekarat tak jauh dari mereka.
"Bagaimana kondisi Paman? Sepertinya semakin parah, ya?" tanyanya basa-basi.
"Di-am K-Kau!" balas Damian ketus sembari menahan sakit.
"Paman tahu? Aku sebenarnya tak pernah benar-benar menyembuhkan Paman!"
Damian terperangah mendengar ucapan Diana. Apa maksudnya?
"Aku hanya menyegel kekuatan gelap yang Paman miliki selama ini. Karena jujur, sejak awal aku tidak pernah mempercayai Paman. Aku lebih mempercayai instingku sendiri yang selalu merasa takut jika berdekatan dengan Paman." Diana menghela napas panjang. "Dan, tadi, aku baru saja membuka segel itu kembali sehingga sihir gelap itu kembali memakan jiwa Paman!!"
"Rupanya, Sang Ratu licik juga! Hahaha!" Damian terkekeh sembari mengelap darah yang kembali keluar dari mulutnya.
Tubuh pria tua itu benar-benar telah rusak. Dan, sebenarnya dia juga tahu bahwa ajalnya sebentar lagi akan datang. Daripada harus mati dengan cara di biarkan sekarat seperti ini, ia lebih memilih untuk di bunuh saja. Makanya ia tetap berusaha memprovokasi Diana maupun Ashlan.
SRING!!
Entah sejak kapan Ashlan melangkah, tahu-tahu lelaki bersurai perak itu sudah berada dihadapan Damian yang terduduk sambil bersandar di bawah pohon ek tua. Sebilah pedang terletak tepat di leher Damian. Namun, Damian sama sekali tak gentar. Sebaliknya, dia makin tertawa.
"Kau ingin membunuhku? Bunuh saja!" kata Damian menantang.
Gigi Ashlan bergemelatuk mendengar ucapan Damian. Ekor matanya melirik Alarick yang melangkah mendekati mereka. Ada rasa tak tega melihat Alarick jika dia membunuh Damian di hadapan sepupunya itu. Terlebih lagi, Alarick tak mampu menahan laju air mata yang mendesak keluar. Hal tersebut membuat Ashlan sungguh merasa serba salah.
"Bunuh aku, Ashlan!" teriak Damian lantang.
Ashlan masih bergeming. Tangannya bergetar ragu karena ada perasaan Alarick yang harus dia jaga. Melihat keraguan Ashlan, Damian mengambil kesempatan untuk diam-diam menciptakan bola hitam demi menyerang Ashlan.
"Tidakk!!"
Seiring teriakan itu, darah muncrat dan membuat Ashlan sontak menjatuhkan pedangnya.