Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Kilas masa lalu



"*O-obatnya... Berikan obat itu padaku, Nyonya!" pinta Rosemary kepada Duchess Levrina.


"Kau ingin obat ini?" tanya Duchess Levrina angkuh seraya memainkan botol obat berisi cairan berwarna bening tersebut.


Mata Rosemary tak henti-hentinya mengikuti pergerakan tangan Duchess Levrina. Dia terlalu takut andai obat yang di timang-timang itu akan jatuh dan isinya terbuang percuma.


"Tolong berikan obat itu pada saya, Nyonya! Saya mohon!" pinta Rosemary mengiba. Bahkan, kini dia rela berlutut dan memegang ujung kaki Duchess Levrina sambil meneteskan air mata.


"Untuk siapa kau berikan obat langka ini, Rosemary? Apakah kekasihmu yang saat ini sedang sekarat di penjara?" tanya Duchess Levrina penasaran.


Ya,obat yang tak sengaja dia temukan di saku Rosemary itu tergolong obat langka. Obat yang peredarannya sebenarnya di larang di lingkungan kerajaan karena memiliki efek samping yang lumayan buruk. Obat itu bisa menyembuhkan segala macam penyakit namun jika tubuh orang yang meminumnya tak cukup kuat menahan efek sakitnya, maka bisa merubahnya jadi agresif lalu menyerang apapun yang dia temukan.


"I-itu...," Rosemary kelabakan menjawab. Tak mungkin dia berkata jujur dihadapan Duchess Levrina. Apalagi, kekasihnya di penjara karena melakukan hal yang sangat buruk. Membunuh seorang balita berusia 5 tahun.


Seharusnya, kekasih Rosemary memang dibiarkan sekarat sampai mati untuk menebus perbuatan kejinya itu. Namun, Rosemary yang terlanjur cinta mati dan sengaja menutup mata terhadap kesalahan sang kekasih justru berusaha mencarikan obat agar sang kekasih bisa sembuh lalu melarikan diri. Dengan begitu, Rosemary bisa menyusul setelah mengundurkan diri secara resmi dari kerajaan. Lalu, mereka bisa hidup bahagia berdua di suatu negeri antah berantah dan membina keluarga kecil mereka dengan uang gaji Rosemary yang selama ini di tabung dan nyaris tak pernah ia pergunakan.


Sayangnya, rencana itu terhambat karena Rosemary ketahuan mengendap-endap hendak menuju penjara oleh Duchess Levrina. Wanita itu langsung menaruh curiga dan menggeledah Rosemary. Kemudian, obat itu pun berpindah ke tangan Duchess Levrina sebelum Rosemary sempat memberinya untuk sang kekasih.


"Jawab jujur, Rosemary!"


"Maafkan saya, Nyonya! Tolong ampuni kesalahan saya!"


Mendengar ucapan Rosemary, Duchess Levrina lalu menyeringai licik karena baru saja menemukan ide cemerlang di kepalanya.


"Obat ini akan ku kembalikan padamu, tapi dengan satu syarat!"


Rosemary sontak mengangkat kepalanya.


"Apa yang Anda inginkan?" tanyanya penuh curiga.


"Sebelumnya, aku ingin tanya, dimana kau membeli obat langka ini?"


Rosemary memalingkan wajahnya. Tak mungkin dia berterus terang mengatakan dimana dia membeli obat tersebut. Karena memang dia tak membelinya melainkan di beri oleh seseorang.


"Baiklah, jika kau tak ingin menjawab, tak apa! Tapi, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku!"


Perasaan pelayan muda itu mulai tak enak. Dia yakin bahwa Duchess Levrina pasti menginginkan sesuatu yang tidak murah darinya.


"Apa itu, Nyonya?" tanyanya dengan gugup.


"Pesankan aku racun yang bisa membunuh seseorang tanpa bisa terdeteksi oleh tabib maupun para penyihir hebat sekalipun."


Mata Rosemary langsung terbelalak kaget mendengar permintaan Duchess Levrina. Sebuah pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Untuk siapa, Duchess Levrina menginginkan obat semacam itu?


"Hal seperti itu, tak pernah ada, Nyonya!" ucapnya sambil menundukkan kepala.


Duchess Levrina tersenyum lalu mengangkat dagu Rosemary hingga pelayan wanita itu berdiri ketakutan di hadapannya.


"Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau masih keturunan keluarga Blanc? Keluarga penyihir gelap yang di bantai karena suka membuat ramuan obat yang merugikan banyak orang?"


"A-Anda tahu darimana?"


Duchess Levrina menghela tangannya ke udara. "Kau tak perlu tahu."


"Jangan katakan pada siapapun mengenai asal-usul saya, Nyonya! Jujur, saya hanya anak angkat keluarga Blanc. Saya sama sekali tidak tahu menahu mengenai praktik ramuan sihir mereka."


Duchess Levrina menyeringai. "Sayangnya, tidak akan ada yang percaya pada kata-katamu. Sebaliknya, mereka hanya akan percaya pada apa yang aku katakan, Rose!"


Rosemary terdiam sambil meremas kedua tangannya. Dia merasa kebingungan sekaligus takut saat ini.


"Jadi, bagaimana? Kau ingin bekerja sama atau tidak?" tawar Duchess Levrina.


Berpikir sejenak, Rosemary akhirnya mengangguk walau ragu-ragu. Dia tak tahu siapa yang akan di lenyapkan Duchess Levrina. Namun, baginya itu tak jadi soal asal latar belakangnya tetap menjadi rahasia serta kekasihnya bisa sembuh dari sakit.


*


"Ini obatnya, Nyonya!" ucap Rosemary seraya menyerahkan botol kecil berisi cairan berwarna putih susu kepada Duchess Levrina.


Ditengoknya kanan-kiri untuk memastikan tak ada siapapun yang melihat aksinya. Sementara, Duchess Levrina tampak tersenyum sumringah menerima obat itu lalu mengelusnya penuh sayang seolah obat itu adalah benda yang sangat berharga yang pernah dia miliki seumur hidup.


"Kerja bagus, Rose! Kau memang bisa diandalkan!"


"Tapi, untuk siapa Nyonya memesan obat itu?" tanya Rosemary yang penasaran.


Seketika, mata Duchess Levrina mendelik galak. "Itu bukan urusanmu, Rose!" jawabnya dengan nada tinggi.


Tepat tengah malam, sang Ratu tiba-tiba mengeluh kesakitan dan berteriak memanggil para pelayan. Sontak, kehebohan terjadi di tengah malam buta. Semua orang yang sudah terlanjur terlelap langsung terbangun dan bergegas menghampiri sang Ratu yang mengerang sakit sendirian di dalam kamar.


"Sepertinya, Yang Mulia hendak melahirkan. Rose, panggil Duchess Levrina kemari. Dan Miya, panggil segera tabib untuk membantu persalinan Yang Mulia!"


Dua orang yang di tunjuk oleh kepala pelayan langsung berpencar menunaikan tugas masing-masing.


"Alesha sudah ingin melahirkan?" tanya Duchess Levrina terkejut.


Rosemary mengangguk. "Kita harus bergegas ke sana, Nyonya!"


"Baiklah! Kau duluan saja! Segera aku akan menyusul bersama suamiku!" kata Duchess Levrina setelah tertegun beberapa saat.


Ketika Duchess Levrina sampai di kamar sang Ratu, wanita itu langsung menghampiri sang adik untuk memberinya semangat. Ia terus menggenggam tangan sang adik yang tampak kelelahan berjuang tanpa sosok suami yang mendampingi. Namun, perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Seorang bayi perempuan cantik terlahir dengan mata hijau yang begitu memikat hati.


"Minum ini agar tenagamu lekas pulih, Adikku!" kata Duchess Levrina sambil mengangkat sedikit kepala Alesha agar mudah meminum ramuan yang ia berikan.


"Terima kasih, Kakak! Kau sangat baik!" balas Alesha dengan senyum di wajah lelahnya.


"Tentu saja, Ratu! Kita ini kan saudara!" Duchess Levrina menyeringai dengan perasaan tak sabar untuk melihat sang adik sekarat.


Tak berselang lama, tiba-tiba Ratu Alesha mengeluh kesakitan lagi. Darah segar mengucur dari sela pahanya dengan deras. Tabib wanita yang membantunya melahirkan langsung panik dan berusaha memberi ramuan agar pendarahan itu berhenti. Sayangnya, semua usaha yang dilakukan tak mempan. Ratu Alesha meninggal bahkan sebelum sempat menggendong putrinya cantiknya.


"Di-Diana... Beri dia nama Di-a-na!" lirih Ratu Alesha sebelum mengembuskan napas terakhir kepada semua orang.


Di sela histerisnya orang-orang karena pengumuman kematian sang Ratu, Duchess Levrina justru malah tersenyum di samping jasad adiknya. Tak ada yang memperhatikan itu karena semua orang berduka dan menangis karena kepulangan sang Ratu. Hanya ada satu orang yang menyadari hingga langsung terduduk lunglai di samping ranjang. Dia menutup mulutnya sambil membiarkan air mata mengalir deras karena baru menyadari kebodohannya.


"Apa yang sudah aku lakukan? Apakah ini berarti bahwa aku ikut membunuh Ratu?" batinnya.


Belum selesai rasa syok yang di alami Rosemary, tiba-tiba keributan terjadi diluar kamar. Beberapa orang berpakaian hitam dan mengenakan penutup wajah membantai seluruh orang yang ada. Rosemary yang ketakutan langsung melangkah mundur dan menutup pintu kamar Ratu Alesha. Dia berlari ke dekat jasad yang masih terbaring di atas pembaringan lalu meringkuk ketakutan di sana.


BRAK!


Pintu terbuka dan seorang lelaki masuk lalu menodongkan pedang di leher Rosemary. Kembali, Rosemary mengalami syok yang luar biasa.


"Lucas?" lirihnya.


Ya, Rosemary sangat hapal dengan sepasang mata yang menatapnya kini. Sepasang mata itu adalah milik seseorang yang begitu ia cintai hingga rela melakukan apapun demi menyelamatkan nyawanya dan membantunya kabur dari penjara. Tak di sangka, orang yang di cintanya itu malah kembali dan hendak membunuhnya seperti ini.


"Kau ingin membunuhku? Setelah semua yang ku lakukan untukmu?"


"Kau mengenaliku, Rose?" tanya pria itu tak percaya.


"Tentu saja," angguk Rosemary. "Menyesal aku telah menolong pria jahat sepertimu, Lucas!" teriaknya dengan suara bergetar.


"Maafkan aku, Rose! Tapi, aku bisa apa? Aku hanya menunaikan tugas dari orang yang membayarku. Itu saja! Jangan salahkan aku atas kebodohanmu yang terlalu mendewakan cinta." Lucas berucap seolah tanpa penyesalan.


"Licik kau, Lucas! Jahat!"


"Terserah apa katamu, Sayang! Ucapkan saja selamat tinggal pada kekasihmu ini lalu pergilah dengan tenang ke neraka!"


Kedua tangan Rosemary terkepal erat. Sedetik pun, dia tak ingin berkedip menatap Lucas yang saat ini sudah mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menebas lehernya. Rosemary bersumpah akan membalas Lucas di kehidupan selanjutnya dengan cara yang jauh lebih kejam.


"Tunggu!" cegah sebuah suara yang menghentikan laju pedang Lucas tepat ketika benda tajam itu hanya berjarak sekian inci saja dari leher Rosemary.


Rosemary dan Lucas menoleh ke sumber suara. Disana, sudah ada Duke Hendrick yang menatap mereka dengan wajah datar.


"Jangan bunuh dia!" titah Duke Hendrick.


"Bunuh saja! Aku tak peduli!" teriak Rosemary.


"Sayangnya, aku tidak mau kau mati, Rose! Kau di butuhkan untuk memastikan bayi sang Ratu hidup menderita tanpa kekuatan sihir hingga dewasa."


"Apa lagi yang kalian inginkan, hah?" Rosemary rasanya sudah tak mampu lagi berkata-kata.


"Aku ingin kau mengasuh bayi itu dan memberinya ramuan agar kekuatan sihirnya hilang untuk selama-lamanya."


"Aku tidak mau," tolak Rosemary tegas.


Duke Hendrick tersenyum. "Kalau begitu, saudara laki-lakimu yang telah menciptakan ramuan untuk membunuh sang Ratu harus mati. Bagaimana?"


Rosemary tak punya pilihan lain. Sayangnya, Duke Hendrick, Duchess Levrina bahkan Rosemary sendiri tak pernah tahu bahwa kekuatan Diana sebenarnya tidak hilang. Kekuatan luar biasa itu hanya melemah karena di cekoki ramuan penghilang kekuatan sejak masih bayi. Dan, setelah kekuatan itu kembali, Duke Hendrick dan Duchess Levrina mulai mencari keberadaan Rosemary yang langsung kabur dari kerajaan dan bersembunyi di sebuah tempat yang tak diketahui oleh siapapun karena sadar dirinya kembali terancam*.