Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Mengulang malam



"Pizza datang!" teriak Erick sumringah yang kini tengah berlari memasuki halaman sambil menenteng sebuah kantongan berisi pizza dari restoran cepat saji terkenal.


Diana bertepuk tangan riang melihat kedatangan Erick. Sementara, Ashlan justru menekuk mukanya dan melotot horor ke arah Erick yang kini dengan santai menaiki undakan tangga teras rumah Diana.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Ashlan dengan bibir tanpa suara.


Erick perlahan memelankan langkahnya. Sang ajudan menggaruk kepala yang tak gatal sembari mengendikkan bahunya. Ia hanya meringis dengan wajah yang mengisyaratkan permintaan maaf kepada sang atasan. Mana dia tahu kalau Ashlan ternyata masih betah berduaan dengan Diana. Yang Erik tahu, dia disuruh membeli Pizza, berarti Ashlan dan Diana memang sedang lapar.


"Wah! Baunya harum sekali, Rick!" kata Diana yang dengan sigap merebut Pizza dari tangan Erick dan buru-buru membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ayo, masuk!" ajaknya pada dua orang pria tampan itu.


Ashlan dan Erick melangkah bersamaan. Namun, begitu hendak melewati pintu masuk, Ashlan sengaja menyenggol bahu Erick karena masih kesal pada pria berambut ikal itu.


"Lain kali, kau harus lebih bisa memahami kode yang ku berikan, Rick!" bisiknya.


"Mana saya tahu, Tuan muda!" jawab Erick dengan tampang tanpa rasa bersalah.


Keduanya lalu duduk di sofa minimalis yang ada di ruang tamu. Sementara, Diana terlebih dulu menuju dapur untuk mengambil tiga kaleng soda dari dalam lemari pendingin dan membawanya menuju tempat dua orang lelaki itu sedang menunggu.


"Selamat makan!" ucap Diana seraya menggigit potongan pizza yang masih hangat dengan lelehan Mozarella yang menggiurkan.


Melihat sang pujaan hati yang makan dengan lahap, kedua sudut bibir Ashlan tertarik ke atas. Membentuk senyuman manis yang menambah kesan paripurna pada wajah tampan tanpa celahnya.


"Kenapa kalian tidak makan?" tanya Diana yang mulai menyadari bahwa tak ada yang memakan pizza didepannya selain dirinya sendiri.


Ashlan sedang fokus menatapnya nyaris tak berkedip. Sementara, Erick yang duduk di sofa tunggal, sebelah kanan Ashlan nampak fokus pada layar MacBook yang berada di tangannya.


"Saya kenyang," jawab Erick yang sekilas melemparkan senyum sebelum fokus kembali pada layar MacBook-nya.


Pandangan Diana kemudian beralih pada sang pujaan hati yang masih tak bosan menatap ke arahnya.


"Aku juga masih kenyang," jawab Ashlan. Tangan kirinya membelai pucuk kepala Diana.


Hanya dengan satu perlakuan manis seperti itu dari Ashlan, Diana langsung tersipu malu. Seolah ada kembang api yang meledak di dada, ia tak mampu menepis euforia yang semakin menjadi karena ulah Ashlan.


Setelah merasa kenyang, Diana pun pamit untuk ke kamar sebentar. Gadis itu ingin membersihkan wajah dan berganti pakaian. Sengaja tak ingin mandi, karena tak mau Ashlan dan Erick menunggunya terlalu lama.


Selesai mencuci muka dan berganti pakaian dengan dress rumahan semata kaki dengan kancing di bagian depan, Diana lalu mematut wajahnya di depan cermin rias. Penuh sukacita ia mengoleskan skincare rutin yang kini mulai ia tekuni semenjak bangun dari koma. Bisa dibilang, kini Diana jauh lebih menikmati hidup ketimbang dulu.


Tok! Tok! Tok!


Diana tersentak dan sigap menoleh ke arah pintu yang sedari tadi memang terbuka. Tepat disana, seorang pria tampan dengan kemeja putih sedang bersandar menyamping di daun pintu dengan senyuman lebarnya.


"Boleh aku masuk?" tanya Ashlan yang sebenarnya bertanya hanya untuk prioritas saja. Pasalnya, seiring pertanyaan itu meluncur, kaki jenjangnya sudah terlebih dulu melangkah masuk dan langsung merebahkan tubuh jangkungnya di ranjang kecil milik Diana.


"Kenapa kau bisa disini, Ash? Mana Erick?" tanya Diana.


"Erick ada dibawah. Sedang sibuk mengecek beberapa laporan yang dikirim via email oleh Ayse."


"Ayse?"


"Sekretarisku," jawab Ashlan yang membetulkan posisi tidurnya menghadap langit-langit kamar.


Diana menggigit bibir bawahnya mendengar pengakuan Ashlan. Dari segi nama, pastilah wanita itu merupakan keturunan Turki yang terkenal dengan paras cantiknya. Ada sedikit perasaan tak nyaman yang menggelayut di relung hati. Rasa yang didefinisikan oleh sebagian orang sebagai rasa cemburu.


"Dia pasti cantik," ucap Diana yang kembali melanjutkan mengoleskan krim malam di wajahnya.


"Ya. Dia memang cantik," ujar Ashlan mengiyakan.


Deg!


Diana langsung menoleh ke arah sang pujaan hati. Jantungnya berdenyut nyeri kala Ashlan dengan terang-terangan memuji perempuan lain tepat di hadapannya.


"Selain itu, dia juga Ibu dan Istri yang baik bagi Anak dan suaminya," imbuh Ashlan.


Mata Diana langsung melebar. "Dia sudah menikah?" tanyanya memastikan.


"Iya."


Tanpa sadar, Diana mengembuskan napas lega. Setidaknya, drama Sekretaris yang jatuh cinta kepada bosnya sendiri dan rela menjadi orang ketiga tak akan ada dalam kamus percintaannya bersama Ashlan. Semoga saja.


"Ratu cemburu?"


Mendengar pertanyaan Ashlan, Diana langsung salah tingkah.


"Tidak," jawabnya tegas.


Ashlan tertawa melihat ekspresi wajah Diana yang sebenarnya tidak bisa menyembunyikan kebohongan.


Diana menurut walau agak ragu untuk mendekat. Biar bagaimanapun, dia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria apalagi itu didalam kamar tidur. Bagaimana kalau tiba-tiba mereka tak mampu mengontrol perasaan dan malah kebablasan?


"Jangan takut begitu, Ratu! Memangnya, ini pertama kali kita seranjang, hm?"


"Bukannya ini memang baru pertama kali?" Diana balik bertanya seraya mendaratkan bokongnya di tepi ranjang.


Ashlan langsung menarik lengan Diana dan memaksa gadis itu berbaring di dekatnya. Ia pun memeluk erat tubuh wanita itu seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Diana.


"Aku merindukan saat-saat ini, Ratu!" lirih Ashlan yang seketika membuat bulu kuduk Diana meremang. Terlebih lagi, tangan Ashlan sedang mengelus perutnya naik turun dengan lembut.


"Aku harap, bayi kita akan segera berada didalam sini secepatnya," lirih pria itu lagi.


Lidah Diana terasa kelu saat ini. Ia berbaring bak manekin yang tak bisa bergerak sama sekali. Bernapas pun rasanya terasa sangat sulit. Apalagi, perlahan tangan Ashlan yang semula hanya mengelus perut mulai merangkak pelan menuju ke bagian atas.


Deg!


Diana kembali harus menahan napas ketika tangan Ashlan mulai membuka kancing dress-nya satu per satu. Meski logika ingin menepis kasar tangan nakal itu, namun seluruh persendian di tubuh Diana malah seolah mati rasa. Yang ia lakukan hanya menggigit bibir bawah menahan rasa gugup.


"Ash!" lirih Diana yang berusaha mengumpulkan kewarasannya kembali. Tangannya terulur menahan tangan Ashlan yang telah berhasil membuka tiga kancing teratas dress-nya. Tatapan matanya seolah mengiba pada lelaki itu.


Cup!


Bukannya berhenti, Ashlan malah mengecup bibir ranum Diana sebelum berbisik pelan di telinga Diana.


"Ratu sudah menjadi istriku. Terlepas di mana kita pernah menikah, kau sudah sah menjadi milikku dibelahan dunia manapun, Ratu!"


"Ta-tapi...,"


"Jangan menolakku, Ratu! Karena Ratu tak pernah tahu, seberapa keras aku sudah mencoba menahan diri namun nyatanya aku tetap gagal," bisik Ashlan lagi.


Diana meneguk salivanya. Jantungnya semakin berpacu dengan cepat. Seiring dengan rangsangan yang diberikan Ashlan lewat gigitan pelan disertai kecupan di area leher dan belakang telinga, pada akhirnya Diana hanya bisa pasrah dan menuruti permainan dari lelaki itu.


"Berjanjilah bahwa Ratu akan selalu bersamaku!" kata Ashlan di sela kegiatannya memberi tanda merah di area dada Diana yang sudah terekspos setengah dihadapannya.


"Ya," jawab Diana asal. Otaknya tak bisa merespon apa-apa. Godaan demi godaan yang diberikan Ashlan nyaris melumpuhkan seluruh sel saraf otaknya.


Tak berselang lama, kegiatan Ashlan memberi sengatan demi sengatan di tubuhnya terhenti. Diana segera melayangkan protes melalui tatapan matanya. Namun, Ashlan hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.


"Pintunya belum di tutup, Ratu! Kau ingin Erick menyaksikan siaran langsung kita?" tanyanya yang sontak membuat pipi Diana memerah.


Ashlan segera bangkit dan turun dari ranjang untuk menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu, ia kembali berjalan menuju ke tempat tidur dengan tergesa-gesa.


"Sekarang, bisa kita lanjutkan?" tanya Ashlan yang sengaja menggoda Diana.


Diana tak menjawab. Kali ini, dia yang menarik Ashlan dan menempatkan tubuh pria itu tepat di bawahnya.


"Wah! Ratuku ternyata mulai nakal!" ucap Ashlan yang setelahnya langsung bungkam karena ciuman yang didaratkan Diana tepat dibibirnya.


*


Silau mentari yang menelisik melalui jendela kamar membuat kenyamanan tidur Diana terganggu. Wanita berambut kecoklatan tersebut mengerang kesal sembari memalingkan wajah ke arah lain. Namun, belum sempat ia kembali masuk ke alam mimpi, suara alarm dari ponselnya mau tak mau memaksa ia untuk membuka mata.


"Jam tujuh?" lirihnya seraya menghempaskan kembali benda persegi panjang tersebut di bawah bantal.


Selang beberapa detik, ingatan manis tentang kejadian semalam membuat senyum terbit di bibirnya. Ia pun mengulurkan tangan untuk memeriksa sisi tempat tidur di sebelahnya. Namun, tak di rasakannya ada penumpang lain selain dirinya di atas pembaringan sempit itu.


"Ash?" panggilnya seraya memaksakan tubuh yang terasa remuk sisa aktivitas semalam untuk bangkit.


Hening. Tak ada jawaban.


Diana lalu berinisiatif menuju ke kamar mandi untuk mengecek. Kosong. Tak ada siapapun disana. Namun, tatapan matanya tiba-tiba tertuju pada sarapan yang ternyata sudah berada di atas nakas dengan sebuah kertas kecil berwarna biru muda yang terlipat dan di tindih segelas susu hangat.


Diana gegas mengambil kertas tersebut. Ia membukanya dan membaca pesan yang terdapat didalam sana.


"Maaf karena aku pergi tanpa berpamitan, Ratu! Aku hanya tak tega membangunkanmu yang terlihat begitu lelah. Tenang saja! Setelah kau sarapan, silahkan lanjutkan kembali tidurmu dengan nyaman. Aku sudah berbicara pada Kepala koki bahwa kau libur hari ini. Jadi, nikmati waktumu untuk beristirahat. Satu lagi, aku pagi ini mendadak harus terbang ke Dubai untuk menangani beberapa masalah proyek pembangunan hotel kita disana. Mungkin akan memakan waktu agak lama. Bisa dua Minggu, atau bahkan lebih dari sebulan. Aku pun tak bisa memastikan. Tapi, aku berjanji. Setelah aku kembali, kita akan segera menikah ulang dan hidup bahagia bersama. Oh iya, aku punya hadiah yang semalam lupa ku berikan padamu. Ku rasa, kau pasti sudah melihatnya 'kan? Apa kau suka? Ku rasa jawabannya pasti iya. Kalung itu memang terlihat indah jika berada di leher pemiliknya sahnya.'


Diana menghela napas panjang. Rasanya sedih jika harus berpisah dengan Ashlan dalam waktu lama. Namun, ia bisa apa? Ia sadar bahwa pria yang bersamanya sekarang bukan lagi pria pemalas seperti Gerald. Ashlan sosok pria yang jelas berbanding terbalik dengan pribadi Gerald. Pria yang kini membersamainya merupakan sosok pekerja keras, bertanggungjawab dan jelas penyayang.


"Kalung ini?" Diana terkejut kala melihat kalung apa yang melingkar di leher jenjangnya saat ini.


"Bagaimana bisa?" gumamnya tak percaya seraya memeriksa lebih detail lagi kalung yang dikenakannya saat ini.


Tiba-tiba, ia teringat akan buku novel yang pernah ia letakkan di atas nakas. Namun, sekarang novel itu sudah tidak ada. Sekalipun Diana sudah mencarinya sampai ke kolong tempat tidur, namun buku tersebut benar-benar tak ada lagi didalam kamarnya.


"Darimana Ashlan mendapatkan kalung ini dan dimana buku novel itu?" tanya Diana dalam hati sembari mengelus permata Jadeite yang menjadi mata kalungnya.