
"Mohon tunggu sebentar!" pinta Ksatria Martinez saat ketiganya tiba di area pribadi sang Kaisar.
Ashlan dan Diana mengangguk bersamaan. Mereka duduk di ruang tunggu seraya berpegangan tangan. Atau lebih tepatnya, Diana yang seolah enggan melepaskan tangan pria berambut perak di sampingnya.
Tak ada percakapan basa-basi. Hanya hening dalam penantian singkat yang terasa begitu panjang bagi seorang anak yang merindukan Ayahnya. Puluhan tahun berlalu tanpa perbincangan nyaman layaknya orangtua dan anak pada umumnya. Diana bahkan tak bisa menyembunyikan rasa irinya saat melihat anak lain begitu bahagia bersama kedua orangtuanya. Sementara dia? Walau dikelilingi kemewahan dan nyaris tenggelam dalam kilauan intan dan permata, tetap saja hatinya terasa kosong. Harinya sepi. Setiap saat hanya terjebak dalam kubangan rindu yang menyesakkan. Lebih sakit lagi karena ia tahu bahwa mereka terpisah bukan karena kematian. Melainkan karena keegoisan.
"Putri di persilakan masuk!" Interupsi dari Ksatria Martinez membuyarkan lamunan Diana. Gadis itu bangkit dan menarik nafas panjang. Ia menoleh pada pria di sampingnya. Berharap memperoleh sedikit penyemangat walau hanya lewat tatap mata.
"Pergilah! Aku akan menunggu disini," ucap Ashlan lembut. Ia mengecup dahi Diana sedikit lama. Berharap sang istri bisa sedikit lebih tenang.
Melihat pemandangan dihadapannya, Ksatria Martinez tampak tersenyum getir. Gadis kecil yang dulu selalu ia jaga diam-diam kini telah dewasa. Sayangnya, saat sang gadis kecil sudah pandai mencintai lawan jenis, Ksatria Martinez bukanlah tempatnya untuk menjatuhkan hati. Padahal, selama ini ia telah menunggu. Bahkan, rencananya saat ia berangkat berperang melawan pasukan perompak dulu, ia ingin meminta Diana sebagai hadiah atas jasanya. Namun, niat itu ternyata tidak terlaksana karena Ashlan memanfaatkan kepergian dirinya memberantas perompak untuk menyerang kerajaan Timur.
Ditengah kemenangan atas perompak, Ksatria Martinez juga terpaksa harus merasakan kekalahan. Tak hanya negaranya yang kalah tapi juga cintanya.
"Ayahku dimana?"
"Masuklah!" kata Ksatria Martinez dengan senyum kecil.
Diana mengangguk. Sekali lagi, gadis itu menarik nafas panjang sebelum memasuki sebuah ruangan yang baru pertama kali Diana lihat. Dan, begitu ia sampai didalam, gadis itu mematung sejenak dengan air mata yang mulai mengembun.
Sungguh! Pemandangan di hadapannya membuat ia begitu terluka. Bagaimana mungkin, Ayahnya malah terlihat lebih mencintai anak orang lain dibanding anak kandungnya sendiri? Bahkan, tanpa ada rasa sungkan, lelaki tua itu mau-mau saja menerima suapan dari gadis muda yang duduk di tepi ranjangnya.
"Ayah," lirih Diana pelan.
Kaisar Sean yang sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang serta gadis muda yang menyuapinya kompak menoleh. Tak ada ekspresi ramah menyambut kedatangan Diana. Sebaliknya, hanya wajah datar tanpa ekspresi.
Setelah beberapa detik tak ada jawaban atas panggilannya, Diana berinisiatif untuk mendekat tanpa di minta. Meski dadanya bergemuruh menahan sakit, namun gadis itu tetap berusaha untuk tersenyum. Setidaknya, Ayahnya juga harus tahu bahwa hidupnya tidaklah semenyedihkan yang terlihat dan dibicarakan orang-orang.
"Boleh tinggalkan kami berdua saja?" tanya Diana dingin pada Verona.
"Kenapa? Bicaralah! Aku tidak akan merasa terganggu meski kalian berbincang tanpa melibatkan ku," tukas Verona santai sambil meletakkan mangkuk sup di atas nakas.
"Aku hanya ingin bicara berdua dengan Ayahku, Verona!" tegas Diana dengan kilat amarah di sepasang matanya.
"Tapi...,"
Verona tersentak mendengar teriakan sang sepupu. Belum lagi, ekspresi wajah Diana sungguh membuat nyali Verona menciut. Tanpa banyak bicara lagi, Verona mendengkus sebal sembari berjalan cepat menuju pintu keluar.
"Apa Ayah tidak merasa bersalah sedikitpun terhadapku?"
Lelaki tua berwajah pucat itu tak menggubris ucapan sang putri. Namun, percayalah! Hatinya tergores mendengar nada suara Diana yang menyiratkan luka. Ia bahkan enggan menatap wajah sang Putri. Sungguh! Ia tak sanggup.
"Kenapa Ayah tega pada putri kandung Ayah sementara pada putri orang lain, Ayah begitu baik?" Diana berucap dengan airmata yang kini turun membasahi pipi putihnya. "Sebenarnya, salahku dimana?" imbuhnya dengan suara bergetar.
Kaisar Sean bergeming. Ia masih memalingkan wajahnya sambil berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Ayo jawab, Ayah! Salahku dimana?" desak Diana.
"Jika Ayah menyalahkanku atas kematian Ibu, kenapa Ayah tidak bunuh aku saja waktu itu? Kenapa Ayah harus membiarkanku hidup tapi hanya untuk di terlantarkan bahkan di asingkan? Apa menurut Ayah aku hanya seonggok boneka? Apa Ayah pikir, aku tidak punya perasaan?" Diana mengusap air matanya.
"Ayah...," panggilnya putus asa. Hatinya benar-benar porak-poranda saat menyadari bahwa bahkan untuk sekadar menatap putrinya sendiri, pria tua itu seakan tak sudi.
"Apa Ayah pikir, aku juga tidak terluka atas kematian Ibu? Andai bisa memilih, lebih baik aku saja yang mati daripada Ibu. Dengan begitu, setidaknya Ayah tidak akan sesedih ini sampai sekarang."
Mendengar penuturan putrinya, Kaisar Sean tak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Ia sadar bahwa selama ini ia telah berlaku egois dan zalim kepada putrinya sendiri. Padahal, benar yang dikatakan Diana. Gadis kecilnya tak salah apa-apa. Ia tak pernah meminta dilahirkan sementara Ibunya malah meninggal. Walaupun, ia pasti tahu betul bahwa istrinya tentu akan mengorbankan apapun termasuk dirinya demi sang putri.
"Jika Ayah memang tidak menginginkan aku, tidak apa-apa. Tapi, setidaknya, jangan mengatakan rindu walau hanya sebatas tulisan tangan. Apa Ayah tahu bagaimana dampaknya bagi aku yang sudah bersusah payah menerima kenyataan? Semuanya kembali ke titik awal, Ayah."
"Diamlah!" Kaisar Sean membentak dengan mata terpejam. Dan, Diana terlihat begitu syok atas bentakan sang Ayah.
"Ayah tega membentak anak Ayah sendiri sementara terhadap anak orang lain, Ayah bisa tersenyum? Kenapa Ayah terlalu kejam? Kenapa Ayah tidak bisa tersenyum padaku seperti Ayah tersenyum pada Verona? Kenapa?" desak Diana yang tangisnya semakin menjadi.
"Ayah bahkan membuang ku ke negeri orang lain...," Nada suara Diana mulai melemah. "Apa Ayah tahu bagaimana takutnya aku saat itu? Apa Ayah tahu bagaimana perjuanganku agar bisa tetap bernafas sampai detik ini?" Ia kembali mengambil jeda untuk sesaat. "Kata orang, cinta pertama setiap anak perempuan adalah Ayah mereka. Dan, itu memang benar. Ayah adalah cinta pertamaku sekaligus orang pertama yang juga mematahkan hatiku. Jika Ayah memang begitu membenciku, maka mulai sekarang anggap saja aku sudah mati. Ini adalah pertama dan terakhir kali aku mengunjungi Ayah. Ku harap, Ayah akan bahagia bersama anak baru Ayah."
Diana mulai melangkah mundur. Setelah beberapa saat, gadis itu lekas berbalik dan berlari menghambur keluar dari dalam kamar itu. Tampak, Kaisar Sean terperanjat. Lelaki tua itu berusaha untuk bangkit dari tempat tidur namun yang ada dirinya malah jatuh tersungkur karena masih belum pulih betul. Bahkan, bisa dibilang sakitnya makin bertambah parah.
"Tidak begitu, Nak! Kau salah sangka." Tangis Kaisar Sean pecah seiring tubuhnya yang kini benar-benar jatuh terbaring diatas lantai yang dingin. Tangannya masih terulur dan mengambang diudara. Berharap, sang putri akan kembali dan meraih jemari tuanya yang selama ini juga tak kalah merindukan sentuhan hangat dari sang anak.
"Aku hanya merasa bersalah... Aku hanya tidak sanggup melihatmu karena merasa bersalah," ucap Kaisar Sean dengan suara parau sebelum kehilangan kesadaran.