
"Ayo kita pergi!" kata Paul seraya menarik kerah baju putranya. Sang istri yang tampak kebingungan hanya pasrah mengikuti dari belakang sembari menyeret dua koper milik mereka. Diana mengikuti sampai pintu depan, lalu menutup pintu rapat-rapat setelah ketiga orang itu keluar dari halaman rumahnya.
Setelah kepergian ketiga orang itu dari rumahnya, Diana kembali menghempaskan tubuh lelahnya di atas pembaringan. Gadis itu meringkuk sendirian sambil menjatuhkan air mata. Tatapannya kosong menatap keluar jendela sembari membayangkan wajah tampan yang meski sudah berusaha ia enyahkan dari ingatan, namun rasanya tak pernah bisa.
"Apa kau benar-benar nyata atau hanya sekadar bunga tidur, Ash?" Diana bergumam. "Tapi, andai kau hanya sekedar bunga tidur, kenapa perasaanku untukmu justru terasa nyata? Kenapa cinta ini nyata jika sosokmu hanya ilusi? Kenapa kau menyiksaku jika datang hanya sekadar singgah dalam mimpi? Kenapa?" tanya Diana yang memukul bantal sebagai pelampiasan rasa sakitnya.
Pagi menjelang, Diana memulai aktivitas seperti biasa. Bangun, merapikan tempat tidur, membersihkan rumah, kemudian mandi dan bersiap untuk ke restoran. Ia jarang sarapan dirumah. Lebih seringnya, ia makan di restoran dengan membawa bekal yang biasa dia beli di tengah perjalanan. Diana jarang memasak jika itu untuk dirinya sendiri. Entah kenapa, ia merasa malas memakan masakannya sendiri walaupun menurut orang-orang, masakannya sangatlah enak.
"Kau?" Diana terkesiap begitu melihat sosok lelaki yang paling dia benci kini telah berdiri di depan pintu.
"Mau apa lagi kau kemari?" tanya Diana dengan tangan bersedekap di depan dada.
"A-aku ingin bicara sebentar, Di! Apa kau ada waktu?" tanya Gerald.
"Tidak ada," sahut Diana ketus seraya menutup pintu dan menguncinya dari luar.
"Ayolah, Di! Hanya sebentar!" pinta Gerald memelas.
"Apa lagi yang ingin kau bahas, hah? Bukannya hubungan kita sudah berakhir?" Diana memasukkan kunci rumahnya ke dalam tas lalu menatap Gerald dengan penuh kekesalan.
Ya, kesal. Bukan lagi marah karena terluka ataupun kecewa. Semua rasa itu sudah menguap dari diri Diana. Baginya, Gerald bukan lagi seseorang yang masuk dalam list penting hidupnya.
"Di, maafkan aku!" ucap Gerald penuh penyesalan.
"Ya, aku maafkan!" sahut Diana santai.
"Benarkah?" Mata Gerald seketika berbinar.
"Kapan aku pernah berbohong? Aku tidak seperti kau," sindir Diana yang langsung membuat Gerald tertohok.
"Kalau begitu, bisakah kita kembali seperti dulu dan melanjutkan rencana pernikahan yang tinggal selangkah lagi, Di?"
"A-Apa?" Mulut Diana menganga lebar mendengar penuturan Gerald.
"Iya, Sayang! Kita bisa kembali dan merajut mimpi kita yang sempat tertunda. Kali ini, tanpa bayang-bayang Vanya atau wanita manapun lagi, Di! Aku janji."
"Lalu Vanya?"
Gerald menghela napas kasar mendengar nama wanita itu. "Dia sudah pergi setelah membawa kabur uangku!"
Sedetik,
Dua detik,
Lalu tiga detik,
"Buahahahahahah...," Diana tertawa keras mendengar pengakuan Gerald.
Melihat Diana tertawa, mata Gerald langsung mendelik. Dan, hal itu membuat Diana cukup peka lalu menghapus jejak air mata yang masih tertinggal saking kerasnya dia tertawa.
"Maaf, maafkan aku!" ucap Diana.
"Jadi, bagaimana? Kau mau 'kan kembali padaku? Pokoknya, hari ini juga aku akan meminta Ayah dan Ibuku untuk kemari dan menginap di rumahmu sampai acara pernikahan kita selesai. Tenang saja! Setelah kita menikah, aku akan menjadi suami yang setia dan tinggal di rumah saja agar tidak berani selingkuh lagi, Sayang!" ucap Gerald panjang lebar dengan rasa percaya dirinya yang setinggi satelit palapa dan menembus ribuan mil kedalaman samudra Pasifik.
"Aku sudah di pecat dari pekerjaanku, Di! Dan, uang pesangonku dibawa kabur oleh Vanya." Gerald menjelaskan tanpa rasa bersalah. "Andai aku tahu bahwa perempuan ular itu hanya memanfaatkan uangku, mana mungkin aku tergoda dan malah mengkhianati wanita sebaik dirimu, Di!"
Mulut Diana terbuka lebar mendengar ucapan Gerald. Astaga! Darimana Gerald bisa memperoleh rasa tak tahu malu sebesar ini. Bahkan, ucapannya seolah-olah tak pernah melukai Diana sama sekali.
"Jadi, kau mau apa, Gerald?" tanya Diana yang sengaja memancing pria itu.
"Tentu saja kembali melanjutkan pernikahan denganmu dan hidup bahagia didalam rumahmu ini," tunjuk Gerald ke arah pintu rumah Diana yang terkunci.
"Jadi, kau ingin tinggal dirumah ini bersamaku?"
"Tentu saja," angguk Gerald. "Kita suami istri. Mau dimana lagi aku akan tinggal jika bukan dirumah istriku yang cantik ini," tukas Gerald sembari membingkai wajah Diana dengan kedua telapak tangannya
"Lepas!" tampik Diana. "Siapa juga yang mau menampung benalu lagi? Sudah cukup aku menghabiskan waktuku sia-sia dengan menghidupi lelaki brengsek sepertimu, Gerald! Sekarang, tidak akan pernah lagi. Aku tak akan pernah mau kembali ke masa lalu yang hanya membuatku jadi wanita bodoh tanpa otak yang mau-maunya saja membayarkan hutangmu dan membuatku kelelahan karena lembur setiap hari."
"Di? Kau tega membuangku?" tanya Gerald dengan mata berkaca-kaca.
Emosi Diana membuncah diubun-ubun. Rasanya seperti ada gunung berapi yang hendak meletus tepat diatas kepalanya saat ini. Lihatlah tampang menyebalkan lelaki ompong dihadapannya. Gerald berlagak seperti korban teraniaya padahal dirinya adalah pelaku yang sebenarnya. Munafik.
"Sebelum aku membuangmu, kau yang sudah membuangku lebih dulu, Gerald!" ucap Diana yang berusaha mengatur emosinya agar tak meledak.
"Aku tak pernah membuangmu!" sangkal Gerald.
"Dengan berselingkuh bersama Vanya, bagiku sudah cukup menjadi alasan bahwa kau telah membuangku, Gerald!"
"Tapi, aku tak pernah bermaksud seperti itu, Di! Aku dan Vanya hanya bermain-main," ucap Gerald lagi.
"Kalau aku yang bermain-main seperti itu dengan lelaki lain, apa kau tidak akan marah?"
Gerald mendengkus. Ia memalingkan muka karena tak mau menjawab pertanyaan yang sudah jelas apa jawabannya. Tentu saja, dia akan marah besar jika Diana sungguh bermain-main dengan lelaki lain. Mana sudi dia menerima 'bekas' sementara dirinya sendiri belum pernah mencicipi rasa dari kekasihnya itu.
"Sudah jelas, bukan? Kau saja tak mau, apalagi aku!" ucap Diana dengan seringai miring.
"Lalu, bagaimana dengan hutang-hutangku? Siapa yang akan membayarnya lagi, Di? Lalu, biaya sekolah adikku bagaimana? Siapa yang akan melunasi tunggakannya jika kau tidak mau kembali lagi padaku? Sementara, kau tahu bahwa aku sudah tidak bekerja. Kau tega! Kau jahat padaku dan keluargaku, Di!" teriak Gerald.
BUGH!
Gerald jatuh terduduk setelah pusakanya memperoleh tendangan maut dari Diana. Gadis itu hanya berusaha menarik napas panjang agar emosinya tidak sampai membuat dia harus membunuh orang pagi ini.
"Masih mau bicara omong kosong atau pulang?" Diana memberi pilihan kepada lelaki yang masih meringis menahan ngilu di area sensitifnya. Wajahnya bahkan sudah memerah dengan urat-urat di dahi dan di leher yang terlihat jelas.
"Pu-pulang!" ringis Gerald menahan sakit.
"Kalau begitu, cepat pergi dari sini!" usir Diana. "Kau kira ini tempat layanan pengaduan masyarakat, hah? Kenapa pula hutang-hutangmu dan biaya sekolah adikmu, aku yang harus menanggung? Memangnya, kalian siapa, hah? Sana pergi ke kantor walikota atau pusat tenaga kerja! Adukan masalahmu disana dan bukannya di rumahku. Kau mengerti?"
Gerald tak berucap apapun. Lelaki itu lari terbirit-birit setelah Diana bersiap melemparkan pot bunga yang ia ambil dari pinggiran teras.
"Sana! Lari yang jauh! Kalau perlu, sampai ke kutub Utara agar kau dimakan beruang!" teriak Diana mengiringi langkah terbirit-birit Gerald keluar dari halaman rumahnya.
"Entah kenapa, aku bisa jatuh cinta pada manusia ajaib sepertinya di masa lalu," gumam Diana seraya menggelengkan kepala.