
Baik Diana maupun Ashlan sama-sama terdiam melihat kedatangan Vanya yang tiba-tiba. Ada keterkejutan di mata Diana kala melihat penampilan Vanya yang begitu berantakan. Langkahnya bahkan terlihat pincang dengan pakaian yang robek dibagian bahu dan di atas lutut.
"Di...," lirih Vanya yang mencoba mendekat untuk memeluk Diana.
"Berhenti disitu!" cegah Diana yang tak mau Vanya menyentuh tubuhnya barang seinci pun. Andai hanya merebut Gerald, mungkin masih mampu Diana maafkan walau tak mungkin melupakan. Namun, dengan tindakan meracuninya, sengaja ingin membunuh Diana secara pelan-pelan, sungguh tak mampu Diana maafkan sampai kapan pun.
"Di...," panggil Vanya sekali lagi. Air matanya sudah deras meluncur melewati pipi putih yang tak lagi mulus. Terdapat lebam di bagian kiri hingga tampak membengkak lumayan parah. Bibir bawahnya pecah. Seperti bekas pukulan. Pun dengan sekitaran mata kanannya. Lebam hitam memenuhi lingkar mata perempuan hamil itu.
"Untuk apa lagi kau kemari?" tanya Diana dingin. Kedua tangannya terkepal erat menahan emosi yang menggelegak dalam dirinya.
"Aku dianiaya Gerald, Di! Lelaki gila itu nyaris membunuh ku dan anakku," ucap Vanya terisak.
Perempuan hamil itu terus mengusap perutnya yang sudah membesar. Jika orang tak kenal dengan rupa asli Vanya, tentu akan langsung menaruh iba melihat wajah polos yang kini dibalut dengan luka nyaris sekujur tubuh itu.
"Lalu, kenapa kau malah kemari? Kenapa bukan ke kantor polisi?"
Seketika Vanya tersentak mendengar penuturan Diana. Tak ada lagi simpati, ataupun empati. Sosok gadis yang dulu selalu memprioritaskannya sebagai sahabat terbaik kini telah menghilang bak ditelan bumi.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Di?" tanya Vanya tak percaya.
"Lalu, aku harus bicara seperti apa?" balas Diana seraya bersedekap.
Ashlan sedari tadi hanya diam. Walau sesekali, tak mampu ia pungkiri bahwa ada rindu yang menelusup tiba-tiba kala melihat ke arah perut Vanya. Dulu, dia dan Diana juga pernah hampir memiliki anak. Walau pada kenyataannya, hal itu tak kesampaian karena takdir yang seolah mempermainkan mereka dengan begitu senangnya.
"Tolong beri aku tumpangan, Di!" Tiba-tiba saja, Vanya sudah meraih tangan Diana dan menggenggamnya erat.
"Apa maksudmu dengan tumpangan?" Diana menarik kasar tangannya hingga Vanya terbelalak kaget.
"I-izinkan aku tinggal di rumahmu lagi, Di. Aku tak mungkin kembali lagi ke rumah Gerald karena dia sudah mengusirku dari sana," ucap Vanya memohon.
"Memangnya, kau diusir karena apa?"
Vanya tertunduk diam seraya mengelus perut buncitnya kembali.
"Jawab, Vanya!" bentak Diana.
"Ka-karena Gerald akhirnya tahu kalau anak yang didalam perutku ini bukan anaknya," sahut Vanya seraya memejamkan mata.
Diana tersenyum sinis mendengar perkataan Vanya. Jujur, dia sangat senang karena tahu bahwa Gerald akhirnya mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.
"Lalu, jika bukan anak Gerald, lantas itu anak siapa?"
Vanya diam lagi. Rasanya malu jika harus mengumbar aib kepada sahabat yang sudah ia hancurkan kebahagiaannya.
"Tidak tahu," ujarnya mencicit setelah beberapa saat hanya diam.
Diana terhenyak mendengar penuturan Vanya. Sementara, Ashlan hanya mengangkat sebelah alisnya menanggapi pengakuan Vanya. Ashlan sebenarnya sudah bisa menebak hanya dengan melihat penampilan Vanya yang datang dengan baju yang seolah kekurangan bahan. Padahal, kondisinya sedang hamil besar. Namun, wanita itu masih tak segan mengenakan dres ketat berwarna maroon dengan belahan dada rendah serta panjang yang berada jauh diatas lutut. Bahkan, dalam keadaan pakaian yang koyak sekalipun, wanita itu tak berinisiatif menutupi bagian dada dan pahanya yang terekspos didepan Ashlan. Vanya seolah sudah terbiasa memamerkan tubuhnya dihadapan lelaki sehingga Ashlan tak heran lagi jika mendengar bahwa wanita itu tak tahu siapa ayah biologis dari bayi yang tengah di kandungnya.
"Tolong bantu aku sekali lagi, Di! Hanya aku yang aku miliki saat ini," lirih Vanya.
"Maaf, Vanya! Tapi, aku tidak bisa," geleng Diana.
"Kenapa? Apa kau masih marah karena aku merebut Gerald darimu? Iya?" teriak Vanya histeris. "Jika iya, maka sekarang kau sudah bebas jika ingin bersamanya. Aku tak akan menghalangi lagi. Tapi, ku mohon, maafkan aku dan izinkan aku tinggal dirumahmu lagi, Di!" mohon Vanya dengan sangat tak tahu malu.
"Sama sekali bukan itu alasannya, Vanya!" geleng Diana.
"Lalu apa?"
Diana menarik napas dalam. "Bagaimana mungkin aku akan menyimpan pembunuh di rumahku sendiri, Vanya?" ucap Diana sedikit geram.
"Tapi, kau kan tidak mati. Apa susahnya jika kita melupakan masa lalu dan memulai persahabatan kita dari awal lagi, Di? Tolong, jangan egois! Pikirkan juga keselamatan bayiku jika kau tidak mau menerima aku dirumahmu lagi," kata Vanya.
Diana tertawa sumbang dengan kepala yang mendongak menatap langit malam. Entah sampai kapan,takdir buruk akan terus memayungi hidupnya.
"Saat kau menyuntikkan racun itu padaku, apa kau juga memikirkan keselamatan ku waktu itu?" tanya Diana yang langsung membungkam telak mulut Vanya.
"Tidak 'kan?" imbuh Diana yang kini menatap Vanya dengan nyalang. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Wajah panik Vanya yang sedang meremas gaun ketatnya merupakan pemandangan yang asyik untuk dinikmati Diana.
Reflek, ia memegang perutnya sendiri. Kenangan akan kehamilan yang dulu begitu dia dan Ashlan elu-elukan kini hanya tinggal kenangan. Bagai sebuah mimpi, harapan itu pupus seiring takdir yang menggiringnya kembali ke alam nyata.
"Di... Ku mohon jangan begini," ujar Vanya panik.
"Pergilah!" usir Diana sekali lagi.
"Tidak, Di! Aku mau disini!" tolak Vanya.
"Pergilah, Nona!" sergah Ashlan yang jengah melihat tingkah Vanya. "Tunanganku sudah mengusirmu baik-baik. Jangan sampai, gara-gara keras kepalamu itu, anak buahku yang harus turun tangan untuk menyeretmu pergi dari tempat ini."
"Ka-kau siapa?" tanya Vanya yang baru sadar bahwa ada sesosok pria tampan yang sejak tadi memperhatikan mereka.
"Aku tunangan Diana." Ashlan menjawab dengan nada datar.
Vanya beralih menatap Diana dengan tatapan tak percaya. Apalagi, penampilan Diana dan Ashlan tampak jauh berbanding terbalik. Diana dengan pakaian biasanya yang tak bermerk plus wajah polos tanpa make-up sementara Ashlan dengan pakaian necis dan bermerk serta mobil mewah dan wajah yang memperlihatkan bahwa ia sering melakukan perawatan walaupun dia seorang laki-laki.
Jengah di perhatikan seperti itu, Ashlan kembali bersuara. "Apa yang kau lihat sedari tadi?" tanyanya sedikit ketus.
"Ba-bagaimana mungkin pria setampan dan sekaya Anda, mau dengan wanita seperti dia?" tanya Vanya pada Ashlan sembari menunjuk ke arah Diana.
Diana langsung mendelik tak terima. Enak saja! Dipikirnya, apa Diana itu tak cantik?
"Lalu, menurutmu aku lebih pantas dengan siapa? Kau?" tanya Ashlan dengan senyum tipis.
Vanya tampak malu-malu. Entah hilang kemana kesedihan dan air mata yang ia jual tadi ketika mengiba kepada Diana untuk diberi tempat tinggal. Semuanya seolah menguap begitu saja setelah mendengar pertanyaan Ashlan yang baginya sedang menawarkan harapan setinggi puncak gunung Himalaya.
Dengan tingkah centil, Vanya menyampirkan rambutnya ke belakang telinga sembari tersenyum malu-malu ke arah Ashlan. Diana yang menyaksikan langsung bergidik geli. Apa Vanya tak sadar bahwa penampilannya sekarang benar-benar mirip hantu seram?
"Saya memang cantik. Dan, segera setelah bayi ini lahir, saya rasa tubuh saya juga akan kembali indah seperti dulu. Memang, Anda tak akan rugi jika menginginkan saya menjadi pendamping Anda di masa depan." Vanya berucap penuh percaya diri yang sontak di sambut tawa oleh pria berambut ikal yang masih betah duduk didalam mobil dan mengintip drama Diana dan Vanya sedari tadi dengan menurunkan sedikit saja kaca jendela mobilnya.
"Hei, Nona! Apa kau tak sadar diri? Dengan wajah bengkak begitu, kau masih percaya diri bahwa kau cantik?" Erik kembali tertawa. "Lalu, apa kabar dengan anak tak jelas didalam perutmu? Kau pikir, Tuan mudaku sudi membiayai anak hasil garapan ladang berkelompok milikmu? Heh! Jangan mimpi!"
Vanya mengepalkan tangan mendengar penghinaan yang dilontarkan Erick padanya. Dadanya bahkan kembang kempis berusaha meredam kemarahan dan rasa malu yang muncul bersamaan.
"Kau dengar apa kata Erick, bukan?" tanya Ashlan. "Kau bukan tipeku, Nona!"
Vanya menghentakkan kakinya dengan kesal. Diliriknya Diana yang benar-benar tak peduli lagi pada nasibnya. Dengan amarah yang tertampung didalam dada, Vanya lekas berbalik dan hendak pergi dari sana.
"Tunggu saja, Di! Suatu hari aku akan merebut lelaki itu darimu. Dan, jika bukan aku, maka akan ku pastikan bahwa masih ada Vanya yang lain yang akan merebut kebahagiaanmu di masa depan. Ingat itu!" ancam Vanya menggebu-gebu.
Tanpa berpikir panjang, Diana lekas mengejar Vanya dan menahan pergelangan tangan mantan sahabatnya itu. Sebuah tamparan keras ia hadiahkan kepada Vanya.
"Silahkan jika kau bisa merebutnya! Tapi ingat, aku bukan lagi Diana yang dulu. Sekali saja kau berani menampakkan wajah dihadapanku maupun dihadapan kekasihku, maka nyawamu yang akan jadi taruhannya," ancam Diana sambil mencengkram erat rahang Vanya.
"Sakit, Di!" ringis Vanya.
Diana langsung mendorong tubuh Vanya. Beruntung, wanita hamil itu tak sampai jatuh. Lalu, Diana kemudian merogoh tasnya. Mengambil setengah dari lembaran dollar, bonusnya dari kepala koki karena telah menarik pelanggan beraroma uang seperti Ashlan ke restoran mereka dan melemparkannya tepat di wajah Vanya.
"Pakai uang itu untuk memperoleh tempat yang layak untuk beberapa hari ke depan. Dan, pastikan kau mencari pekerjaan atau pulang saja ke kota asalmu. Sebenci-bencinya aku padamu, setidaknya aku masih punya hati untuk tidak membuat bayi didalam perutmu itu menjadi ikut tersiksa karena ulah jahat Ibunya."
Vanya kembali menangis. Dipungutinya lembaran dollar yang berserak di tanah. Walau harga dirinya terluka, namun ia juga tak bisa menolak pemberian Diana karena dia memang benar-benar butuh. Setelah itu, ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
"Kenapa Ratu memberinya uang?"
Pertanyaan itu menyentak Diana dari lamunan panjang.
"Aku hanya kasihan pada bayi didalam perutnya. Walau bagaimanapun, bayi itu tak bersalah. Dan... melihatnya hamil seperti itu, membuatku juga ingat bahwa kita juga pernah hampir memiliki seorang bayi."
Ashlan memeluk Diana dari arah belakang. Tangan besar itu mengelus perut rata Diana dengan lembut.
"Masih banyak waktu untuk membuatnya lagi, Ratu!"
Seketika, jantung Diana berdetak tak karuan. Apa-apaan ini?
"Mau sekarang, atau bagaimana?" bisik Ashlan tepat di telinga Diana. "Rumahmu, kosong 'kan?"