
PRANG!!!
Suara keramik pecah membentur dinding terdengar memekakkan telinga. Dua orang perempuan beda generasi tampak sedang bersembunyi dibelakang sofa sambil berpelukan. Keduanya sama-sama ketakutan. Tubuh mereka bergetar hebat kala suara keramik-keramik mahal itu berhamburan setelah bertabrakan dengan dinding dan lantai.
"Sialan! Anak itu ternyata sudah berani menunjukkan taring kepada orang yang selama ini sudah merawatnya," geram Duke Hendrick usai ia lelah melampiaskan amarahnya kepada benda mati berharga miliknya.
"Levrina!" panggilnya dengan suara menggelegar.
Duchess Levrina meneguk ludahnya kasar. Wanita paruh baya itu keluar dari tempat persembunyiannya sambil memasang sikap waspada. Jika suaminya sudah semarah ini, maka dipastikan bahwa tubuhnya pasti akan mendapatkan luka baru.
"Ada apa, Suamiku?" tanyanya dengan nada bergetar.
Duke Hendrick berbalik. Mata lelaki tua itu tampak berkilat penuh amarah. Nafasnya memburu seperti banteng yang baru saja menemukan sasaran seruduk. Tanpa tedeng aling-aling, lelaki itu langsung menghampiri sang istri. Menarik rambut yang digelung indah itu hingga menjadi kusut berantakan. Satu buah tamparan kembali ia berikan ke pipi wanita yang sudah lama ia nikahi itu.
"Dasar perempuan rendahan! Berani sekali kau menipuku selama ini, hah?"
Duchess Levrina meringis sembari menahan perih di pipi serta sakit di kulit kepala. Jambakan Duke Hendrick masih belum dilepas. Malah, justru semakin menguat saat ia melihat istrinya itu menangis. Ya, fakta yang Diana ungkapkan beberapa saat lalu sukses membangkitkan jiwa iblis Duke Hendrick.
"Am-pun!!" Hanya kata itu yang mampu Duchess Levrina ucapkan.
Bukannya senang mendengar sang istri memohon ampun, Duke Hendrick malah semakin emosi. Dia pun memberi tonjokan keras pada hidung perempuan yang telah memberinya dua orang anak itu.
Verona yang menyaksikan dari jarak yang begitu dekat langsung memekik saat melihat ibunya terjungkal ke lantai. Hidungnya mengeluarkan darah segar namun Ayahnya tampak masih belum juga puas.
Duke Hendrick kembali memberi tendangan keras ke perut istrinya hingga wanita paruh baya itu langsung meringkuk memegangi perutnya.
"Ibu...," teriak Verona sambil menghampiri sang Ibu. Gadis itu memeluk tubuh kesakitan Duchess Levrina.
"Kau perempuan rendahan yang begitu lancang, Levrina! Berani sekali kau menipuku dengan mengaku sebagai keturunan bangsawan murni. Ternyata, derajatmu tak lebih dari seorang budak. Cuih!" Duke Hendrick meludah dan mengenai pergelangan tangan Duchess Levrina.
"Aku tidak menyangka bahwa aku di tipu mentah-mentah oleh wanita rendahan sepertimu!" imbuh Duke Hendrick.
Hati Duchess Levrina sangat terluka mendengar umpatan kasar yang diperolehnya dari mulut suaminya sendiri. Bagaimana bisa lelaki yang telah ia bersamai selama puluhan tahun itu tega merendahkan bahkan meludahinya hanya karena tahu bahwa status mereka tidaklah setara. Bukankah sejak dulu Duke Hendrick selalu mengatakan mencintai dirinya apa adanya? Meski terkadang Duke Hendrick berlaku kasar jika sedang marah, namun sungguh! Duchess Levrina tak pernah dendam karena tahu bahwa tempramental suaminya memang sedikit tidak stabil. Tak mengapa dia disiksa selama ini. Karena setelah itu, Duke Hendrick pasti akan meminta maaf dengan tulus sambil memberinya hadiah yang mahal. Tapi, kali ini kebiasaan itu sepertinya tidak akan pernah ada lagi.
"Ayah, cukup. Aku mohon," lirih Verona yang memohon pengampunan untuk ibunya.
Duke Hendrick berdecak. "Pantas saja kau juga tak kalah dungunya dengan Ibumu, Verona. Ternyata, karena kau terlahir dari rahim seorang budak rendahan sepertinya. Bahkan, menaklukkan seorang Ashlan saja kau tidak becus! Dasar anak tidak berguna!"
Verona memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Airmatanya masih mengalir deras. Bertambah deras saat ucapan sang Ayah yang semakin hari level ketajamannya semakin terasah.
"Kenyataannya, Ashlan memang sulit di dekati, Ayah!"
"Sudah ku bilang, dekati dia dengan memanfaatkan kesepiannya. Apa kau tidak mengerti juga?"
"Sudah," jawab Verona nyaris berteriak. Disudutkan terus menerus untuk sesuatu yang memang di luar kuasanya membuat wanita itu kian frustasi. "Segala cara sudah kulakukan, Ayah. Tapi, tetap saja Ashlan tidak pernah mau melirikku semenjak lamarannya di tolak."
"Itu karena kau bodoh! Kenapa pula kau menolak lamarannya waktu itu, hah?"
"Itu karena aku hanya mencintai L...,"
Verona tertunduk dalam tangisnya. Sejujurnya, dia lelah hidup seperti ini selama puluhan tahun. Hidupnya bukanlah miliknya. Hidupnya milik Ayahnya. Pun, dengan hidup sang Ibu dan Kakak lelakinya yang sampai sekarang belum juga kembali setelah di kirim ke Benua Tran dua bulan yang lalu. Mereka seperti tawanan di rumah megah keluarga Duke. Dan, Ayahnya adalah monster mengerikan yang menjadi tokoh utama dibalik penawanan itu.
"Jika dengan cara biasa kau tidak bisa menaklukkan Ashlan, maka lakukan dengan cara yang lain. Kalau perlu, serahkan dirimu kepadanya," ucap Duke Hendrick sambil mencengkram dagu putrinya.
"Maksud Ayah?"
"Tidurlah dengannya. Jebak dia dengan cara apapun. Jika masih gagal, maka bersiaplah menjadi cacat, Anak Budak!"
Setelah itu Duke Hendrick berlalu keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Verona dan Duchess Levrina yang masih begitu syok dengan perkataan terakhirnya.
*
"Hati-hati, Ratu!" kata Ashlan yang berjalan dibelakang Diana. Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju kembali ke istana.
Hari sudah gelap. Karena berada didalam hutan dengan pohon-pohon besar yang mendominasi, maka cahaya pun sudah mulai nyaris tak terlihat walau senja sepenuhnya belum berakhir.
Suara binatang malam mulai terdengar riuh. Diana yang sebenarnya sedikit ngeri masih mencoba mempertahankan wibawanya. Tadi, saat Ashlan memintanya untuk membuka hati, Diana tidak memberikan jawaban apapun. Gadis dengan rambut kecoklatan serta mata hijau yang indah itu memilih bungkam. Dia sejujurnya tak memiliki jawaban untuk permintaan Ashlan tersebut. Syukurnya, Ashlan tidak menuntut Diana untuk menjawab meski wajahnya jelas menyiratkan bahwa ia butuh jawaban.
"Akh!" Karena tak dapat melihat dengan benar dalam kegelapan, Diana tersandung akar pohon dan nyaris terjerembab. Untungnya, lelaki yang sedari tadi waspada dibelakangnya sigap memeluk kedua pinggangnya hingga kecelakaan itu tidak benar-benar terjadi.
Jantung Diana seperti diajak uji nyali ketika punggung kecilnya bersentuhan langsung dengan dada bidang Ashlan yang terasa keras. Nafas wanita itu tercekat. Terlebih lagi, kedua tangan besar milik sang Kaisar kejam melingkar sempurna memenuhi perutnya yang rata.
"Ratu baik-baik saja?" tanya Ashlan khawatir.
Diana segera menggeleng. Berusaha mengembalikan kesadaran yang sempat teralihkan karena sibuk memikirkan bagaimana rasanya memegang otot-otot milik pria di belakangnya.
"Aih! Apa yang kau pikirkan, Di?"
"Tidak apa-apa," jawab Diana cepat sambil melepaskan kedua lengan Ashlan dari perutnya. Tanpa berpikir apapun lagi saking paniknya, Diana kembali hendak melangkah. Namun...
"Akh...," Ia meringis. Kaki yang tadi terantuk akar pohon terasa sangat sakit.
"Kenapa? Kaki Ratu terkilir?" tanya Ashlan yang sigap berjongkok untuk memeriksa kaki Diana. Meski gelap, namun penglihatan lelaki itu bisa dibilang masih berfungsi normal. Maklum, ia sudah terlatih melihat dalam gelap dengan bantuan energi sihir yang dialirkan ke mata.
"Kaki Ratu kelihatan memar. Jika dipaksa terus berjalan, akan menjadi bengkak nantinya," ucapnya.
"Lalu, bagaimana aku akan pulang?" ringis Diana yang khawatir sekaligus menahan sakit.
Ashlan berpikir sesaat. Lalu, ia pun meminta sesuatu yang kembali membuat Diana tercengang.
"Naiklah ke punggung saya, Ratu!" pintanya sambil berjongkok didepan Diana lagi.
"Ta-tapi?"
Ashlan menoleh ke belakang. Lelaki yang ketampanannya harus di sembunyikan itu tersenyum manis. Sangat manis hingga Diana kembali merasakan jantungnya kembali berdegup kencang.
"Naiklah! Atau kita akan menjadi santapan binatang buas karena terlalu lama berada disini!"