
"Le-pas!" geram Vanya yang terus berusaha melepaskan diri dari cekalan pelayan yang tadi menggagalkan aksinya. Sebenarnya, dia mulai bekerja di salah satu perusahaan catering yang cukup terkenal pasca melahirkan dan bayinya meninggal akibat keracunan air ketuban.
Manager dari perusahaan catering tersebut merupakan kawan lamanya. Bertemu tak sengaja di rumah sakit saat ia kesulitan membayar biaya tagihan, Vanya dengan lihainya menampilkan tangis kepalsuan demi menarik simpati temannya tersebut. Dan, ternyata berhasil! Selain di bantu melunasi biaya rumah sakit, ia juga di beri pekerjaan yang akhirnya malah mengantarnya untuk bertemu sahabat yang sudah membuangnya.
"Aku benci kau, Di! Kenapa hanya kau yang bahagia sementara aku tidak?" geram Vanya dalam hati sebelum aksi hendak menikam Diana gagal akibat ulah pelayan yang kini masih menyeretnya paksa entah mau kemana.
"Kau tuli? Ku bilang, lepas!" ucap Vanya dengan nada meninggi.
Tiba di parkiran, wanita muda yang menyeretnya itu berhenti melangkah dan menghempaskan tubuh Vanya begitu saja. Vanya jatuh akibat dorongan pelayan itu. Kedua telapak tangannya terasa perih akibat menopang tubuhnya saat jatuh. Sementara, pelayan itu hanya tersenyum miring dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap nyalang Vanya.
"Apa maumu, hah?" teriak Vanya kesal. Ia berusaha berdiri, namun pelayan itu malah mendorongnya kembali.
"Akh!" Vanya memekik kesakitan saat jatuh untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa hatimu begitu busuk, Nona muda?"
Deg!
Netra Vanya membulat ketika gendang telinganya menangkap suara pelayan itu. Rasanya aneh. Usia pelayan tersebut kemungkinan lebih muda darinya. Tapi, kenapa suaranya terdengar seperti nenek-nenek?
"A-Apa urusanmu?" sergah Vanya yang mencoba tetap galak meski perasaannya sudah tak enak.
Pelayan itu tertawa. Gesturnya mulai menyerupai nenek-nenek yang berjalan dengan sedikit bungkuk. Hal aneh yang semakin membuat Vanya merasakan tanda bahaya.
"Tobatlah, Nona! Jika kau masih berbuat jahat kepada sang Ratu, maka kesialan mu tak akan pernah berhenti. Apa kau lupa janjimu saat reinkarnasi dulu, Verona?"
Vanya terkesiap. Nama itu terasa tak asing namun ia tak dapat mengingat apapun.
"Siapa Verona? Aku bukan dia. Namaku, Vanya!" ucap si pemilik wajah polos yang sebenarnya bertabiat ular.
Pelayan itu menggeleng lalu tertawa lagi. Pelan, ia mendekati Vanya kemudian mengarahkan telapak tangannya ke kepala perempuan itu.
"Jika kau lupa siapa dirimu, maka akan ku bantu kau untuk mengingatnya!"
"Ma-mau apa kau?" tanya Vanya seraya beringsut mundur dengan ketakutan.
Pelayan itu tak menjawab. Ia terus mendekati Vanya yang tiba-tiba merasa tak bisa bergerak dan hanya bisa pasrah saat telapak tangan si pelayan menempel sempurna di atas kepalanya.
"Ingatlah cara matimu yang terdahulu, Verona! Jika kau tak sadar juga, maka tak akan ada kesempatan lagi untukmu memperbaikinya lagi dikehidupan berikutnya," ucapnya.
"Akh!!!" Vanya berteriak histeris. Tubuhnya bagai di sayat ribuan pisau yang menyisakan perih di sekujur tubuh. Air matanya jatuh berderai. Napasnya seolah habis saat lehernya merasakan tebasan yang seperti memisahkan antara kepala dan raganya.
"Nikmati penderitaanmu, Nak! Karena, mimpi buruk itu akan selalu datang dalam tidurmu selama kau belum juga menepati janjimu padaku untuk berubah!"
Vanya ditinggalkan sendirian meraung dan berguling-guling di lantai parkiran. Sakit saat meregang nyawa dahulu seperti terulang. Entah berapa lama ia meringis kesakitan tanpa seorangpun yang peduli. Saat kondisinya di rasa sudah lebih baik, ia bangkit dengan tertatih dan pergi dari sana dengan rasa sakit yang masih membekas.
*
6 tahun kemudian...
"Jangan lari-lari, Sofia!" teriak Diana yang agak kewalahan mengejar putrinya.
Ia berhenti sejenak. Mengambil napas sebelum menyusul Sofia yang semakin aktif bermain dan sedang berlari memutari air mancur yang terdapat di taman tersebut.
"Ibu, ayo kejar lagi! Ayo, tangkap aku, Bu!" teriak gadis itu riang.
"Ibu lelah, Sayang!" kata Diana yang masih terengah. Kehamilan kedua yang sudah memasuki usia tujuh bulan cukup membuatnya kesulitan bergerak apalagi jika harus lari-lari seperti permintaan putrinya itu.
"Ratu!" panggil Ashlan yang baru saja datang setelah menyelesaikan meeting virtual dengan beberapa rekan bisnisnya. Maklum, semenjak kehadiran Sofia, bisnis keluarga Arlen semakin menanjak naik dan merambah ke berbagai bidang baru.
Diana menghela napas lega. Jika Ashlan sudah datang, maka itu tandanya dia bisa beristirahat dan santai-santai lagi. Pasalnya, Sofia begitu dekat dengan Ayahnya.
"Duduklah! Biar aku yang menemani putri kita bermain," titah Ashlan sambil mengelus perut buncit Diana yang terdapat bayi kembar didalamnya. Satu kecupan tak lupa ia labuhkan di puncak kepala sang istri seperti biasa.
"Ayah!" pekik gadis dengan rambut kecoklatan dengan dua bola mata yang berbeda tersebut. Yang kiri berwarna abu-abu dan yang kanan berwarna hijau. Bentuk wajahnya sendiri lebih cenderung mirip Ayahnya. Hanya bagian hidung saja yang sedikit mirip dengan sang Ibu.
"Putri kecilku ingin bermain dengan Ayah?" tanya Ashlan seraya memeluk putrinya.
"Mau," jawab Sofia. "Ibu tak bisa di ajak bermain terlalu lama. Kasihan! Dia cepat lelah karena membawa adik bayi dalam perutnya," celoteh gadis kecil itu.
Ashlan tertawa. Dicubitnya hidung Sofia dengan gemas. "Apa Sofia sayang dengan Ibu dan adik bayi?"
Sofia mengangguk. "Tentu saja, Ayah!"
"Kalau begitu, biarkan Ibu duduk di bangku sana, ya!" kata Ashlan sambil menunjuk sebuah bangku yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tentu saja. Biar aku yang mengantar Ibu untuk duduk di sana," kata Sofia penuh semangat. Di raihnya tangan sang Ibu lalu menggandengnya menuju bangku. "Ayo, Bu!"
"Terimakasih, Sayang!"
Diana menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Sofia termasuk anak yang sangat aktif. Gadis kecil itu tak pernah bisa diam. Ada saja yang bisa ia kerjakan. Kalaupun tidak ada, Sofia memilih berlari mengitari rumah daripada tidur siang seperti anak kebanyakan. Beruntung, jika dinasehati dengan baik, Sofia selalu mendengarkan dengan baik dan sebenarnya tak pernah bertindak nakal atau merepotkan orang lain. Hanya Diana saja yang terkadang cenderung khawatir berlebihan jika Sofia terus bermain tanpa henti.
"Maaf, saya tidak sengaja. Anda tidak apa-apa?" tanya gadis itu dengan panik.
"Aku baik-baik saja! Kau sendiri bagaimana?" balas Diana setelah berhasil menyeimbangkan tubuhnya yang sempat terhuyung.
"Saya juga tidak apa-apa." Si gadis berusaha tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi!" pamitnya sopan.
Diana mengangguk dan memberi jalan pada gadis itu untuk lewat.
Tania Gilbert. Berikut nama gadis itu. Ia baru saja dipecat oleh Manager yang kebetulan adalah kekasihnya karena tak sengaja memergoki sang kekasih sedang berbuat mesum di dalam toilet dengan salah satu teman kerjanya. Karena kalap, Tania melabrak dua pengkhianat itu yang malah balas memukulinya. Beruntung, teman-teman kerja yang lain yang mendengar ribut-ribut tersebut segera menolong. Andai tidak, mungkin kondisi Tania akan lebih memprihatinkan lagi dibanding sekarang.
"Kenapa hidupku sesial ini?" lirihnya seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Selamat sore, Nak!" sapa seorang nenek tua dengan wajah tersenyum. "Apa Nenek boleh meminta sedikit air minum? Nenek haus," imbuhnya.
Tania yang tidak membawa minum langsung berdiri dan meminta Nenek itu untuk menunggu sebentar. Ia berlari kecil memasuki sebuah swalayan yang tak jauh dari tempatnya duduk tadi. Ia membeli sebotol air mineral dan juga sepotong roti untuk si Nenek lalu memberikannya setelah selesai membayar.
"Terimakasih, Nak! Padahal, Nenek hanya meminta minum," kata si Nenek sambil menerima pemberian Tania.
"Tidak apa-apa, Nek! Pasti Nenek juga belum makan, bukan?" ujar Tania dengan wajah tersenyum.
Si Nenek juga ikut tersenyum. Ia melahap roti pemberian Tania penuh sukacita. Setelah roti tersebut habis, ia lalu merogoh bungkusan kain yang dia bawa dan mengeluarkan sebuah buku novel tua dari dalam sana.
"Ini untukmu sebagai hadiah pengganti roti dan air minum yang kau berikan," kata si Nenek.
"Tidak usah, Nek! Saya ikhlas," tolak Tania tak enak.
Si Nenek bersikeras menyerahkan novel tua bersampul hijau mengkilap tersebut ke tangan Tania. Dan, gadis itu mau tak mau harus menerimanya daripada membuat si Nenek malah jadi kecewa.
"Sekali lagi, novelku menemukan pemiliknya. Bacalah sampai benar-benar selesai dan kau akan menemukan solusi dari segala kesulitanmu, Nak! Kau mengerti?" Si Nenek berdiri. Bersiap beranjak meninggalkan Tania yang masih kebingungan.
"Novelnya terlihat sangat bagus dan antik. Apa tidak apa-apa, jika saya memilikinya?" tanya Tania memastikan.
"Itu milikmu. Jelas tidak apa-apa!"
Tania menatap lekat buku tebal itu. Matanya seolah tersihir dengan keindahan sampul buku tersebut. Saat mendongak hendak mengucap terimakasih, ternyata si nenek sudah hilang entah kemana. Tak mau ambil pusing, Tania akhirnya memutuskan pulang dan membaca buku itu hingga sampai tengah malam di dalam kamarnya.
Keesokan harinya, Tania dibangunkan oleh suara beberapa orang yang terdengar begitu sibuk mengatur sesuatu. Sambil mengucek matanya, ia bangkit dan menatap orang-orang dengan bingung yang juga balas menatapnya dengan tatapan entah. Selang beberapa detik, terdengar teriakan dari beberapa orang yang reflek membuat Tania juga ikut berteriak.
"Ahh.... Hantu!" teriak seorang wanita yang diikuti teriakan yang sama oleh yang lainnya.
Hanya ada seorang perempuan paruh baya yang nampak tertegun beberapa saat sebelum akhirnya meminta salah seorang perempuan muda untuk memanggil orang yang mereka sebut 'Tuan'.
"Panggil Tuan Duke Gaston kemari! Katakan padanya bahwa Duchess Tania hidup kembali. Cepat!"
Tania yang masih panik berusaha untuk berdiri. Ia kembali berteriak saat menyadari bahwa ternyata dirinya sedari tadi tertidur di peti mati. Tapi, bagaimana bisa?
"Tania...," panggil seseorang dengan wajah pucat.
"Si-siapa kau?" tanya Tania ketakutan. Kedua tangannya mencengkram erat kedua sisi peti mati tempatnya berbaring tadi.
Pria itu gegas menghampiri Tania dan memeluk gadis itu dengan erat sambil menangis. Namun, entah kenapa Tania merasa tidak nyaman sama sekali dalam pelukan pria itu.
"Kau tidak mengenaliku, Tania? Ini aku, Gaston Adolf. Suamimu!" kata pria itu.
DEGH!
Gaston Adolf? Pria itu adalah sosok suami kejam yang membunuh istrinya sendiri dengan racun mematikan demi menguasai harta istrinya yang bernama Tania Amber Gregson. Tapi, bagaimana bisa Tania si kasir di restoran ayam goreng malah ada di dalam cerita yang ia baca tuntas semalam? Rasanya mustahil.
"Kakak ipar?"
Tania menoleh. Glek! Salivanya dengan susah payah ia telan saat seorang pria lain datang dan memanggilnya dengan suara khas yang membuat darahnya berdesir. Sosok pria tampan berkulit kecoklatan dengan alis tegas dan tubuh atletis. Dialah Galen Adolf. Adik kandung Gaston Adolf, suami Tania Amber sekaligus selingkuhan dari wanita itu.
"Apa-apaan ini?" jerit Tania dalam hati.
Ia menampar pipinya berkali-kali agar bisa terbangun dari mimpi buruk itu. Namun, berapa kali pun ia mencoba, tetap saja gagal. Dirinya tak kunjung bangun dan malah terus terlibat dengan dua orang pria yang tak pernah ia bayangkan akan ia temui.
"Kenapa aku bisa berada disini? Kenapa aku malah terjebak dengan suami gila tukang siksa seperti dia dan adik ipar yang merangkap jadi selingkuhan?" lirih Tania lagi dalam hati. "Sekarang, aku harus bagaimana?"
~*Benar-benar, End!
Hai readers setia!
Terimakasih telah mengikuti cerita ini sampai benar-benar berakhir. Mohon maaf jika Endingnya atau keseluruhan ceritanya masih jauh dari kata sempurna. Thor masih akan terus belajar untuk memperbaiki tulisan agar bisa dinikmati dengan nyaman oleh kalian.
Akhir kata, terimakasih dan mohon maaf untuk segala kekurangan yang ada di Novel ini. See you di karya yang akan datang.
Bye...
Love you all*.