
"Di?" panggil Kepala koki.
Diana yang sedang melamun sambil terus memotong daun bawang didepannya langsung tersentak dan menoleh dengan cepat. Ia menyeka kelopak matanya dengan punggung tangan lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Ya, Chef?"
Kepala koki menghela napas panjang. Ia menggeleng prihatin melihat kondisi Diana yang sejak terbangun dari koma tak lagi ceria seperti dulu. Entah apa yang sudah di alami Diana sebelumnya sehingga membuat gadis periang itu harus kehilangan pendar cahayanya hanya dalam waktu sebentar saja.
"Sebenarnya, kau kenapa? Cerita padaku, atau pada temanmu yang lain. Jangan seperti ini, Di!" ucap Kepala koki lembut.
"Tidak apa-apa, Chef. Saya baik-baik saja."
"Sebenarnya, di hari kau menemui kekasihmu, apa yang terjadi?" tanya Kepala koki menginterogasi. Pria tua itu berpikiran bahwa mungkin saja Gerald adalah sumber masalah yang menjadikan salah satu anak buah terbaiknya jadi pemurung seperti sekarang.
Kembali diingatkan dengan kejadian yang sebenarnya sudah Diana lupakan, ia hanya bisa tersenyum miris. "Hari itu dia ketahuan berselingkuh dengan Vanya. Kami bertengkar hebat dan akhirnya saya memutuskan untuk membatalkan pernikahan."
Tak hanya Kepala koki yang terkejut. Teman-teman Diana yang lain yang tak sengaja mendengar percakapan mereka juga ikut terkejut.
"Vanya yang kau tampung di rumahmu?" tanya Katy, seorang wanita single parent yang juga bekerja di dapur bersama Diana dan yang lainnya.
"Iya!" angguk Diana dengan sedikit meringis.
Bukan apa-apa, Katy dulu sudah pernah memperingatkan Diana jauh-jauh hari untuk tidak menerima Vanya menumpang di rumahnya apapun alasannya. Katy juga meminta Diana untuk membatasi keakraban antara Vanya dan Gerald. Wanita 32 tahun yang sudah berpengalaman di tikung sahabat sendiri itu berulangkali memperingatkan Diana namun hasilnya nihil. Diana terlalu percaya pada Vanya dan Gerald dan malah mengabaikan peringatan Katy yang kini menjadi kenyataan.
"Sudah ku peringatkan sejak dulu tapi kau malah tidak mau mendengar. Sekarang, terbukti kan?" sungut Katy.
"Iya, Kak. Maaf!" ujar Diana penuh penyesalan. Ya, dia menyesal telah mengabaikan nasihat Katy. Tapi anehnya, dia merasa tak terluka sama sekali ketika dipaksa harus membahas pengkhianatan Gerald dan Vanya lagi. Diana bercerita dengan perasaan datar. Biasa-biasa saja seolah dia dan dua pengkhianat itu tak pernah memiliki kedekatan khusus.
"Sudahlah! Tak perlu di bahas lagi. Hanya saja, apa kau harus terpuruk begini hanya karena dua pengkhianat itu? "
Diana menggeleng.
"Kalau begitu, kau harus bangkit. Tunjukkan pada mereka bahwa kau baik-baik saja dan malah lebih bahagia setelah terlepas dari mereka," ujar Katy memberi semangat.
"Iya, Kak! Terimakasih!"
Diana menghela napas panjang setelah teman-temannya kembali bubar dan fokus ke pekerjaan masing-masing. Hari semakin beranjak siang. Suasana di restoran juga semakin ramai. Jam makan siang benar-benar waktu paling sibuk hingga nyaris membuat bagian dapur dan pelayanan kewalahan karena membludaknya jumlah pengunjung.
"Di, kau bisa membantu Andrew membuat seporsi Cornish pasty? Dia sedikit kewalahan di bagian sana," kata Kepala koki sembari menunjuk ke arah Andrew yang tampak kerepotan menguleni adonan.
Ketika Diana menatap ke arahnya, Andrew langsung memasang tampang memelas sembari memamerkan kedua tangannya yang penuh dengan adonan tepung sembari mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah!" angguk Diana setuju.
Sebenarnya, membuat Cornish pasty tidaklah sulit. Apalagi, isian dan kulitnya sudah di sediakan Andrew sejak tadi pagi. Diana hanya perlu membentuk adonan lalu memberinya isian berupa daging sapi, rutabaga dan bawang Bombay. Ya, Cornish pasty adalah sejenis pastel yang merupakan warisan kuliner yang sudah ada sejak lama.
"Jangan hanya menonton TV saja, Gust!" tegur Kepala koki kepada salah satu anak buahnya.
August menghela napas kecewa. Tadi, dia sedang fokus menyaksikan berita tentang seorang pewaris tunggal konglomerat terkenal yang baru saja bangun dari koma pasca mengalami kecelakaan 6 bulan yang lalu. Pangeran pewaris harta triliunan itu dikabarkan sudah tak lagi memiliki harapan hidup namun mendadak sadar setelah tim dokter hendak membuka seluruh alat bantu yang selama ini menopang hidupnya. Belum sempat wajahnya di ekspos berita, Kepala koki sudah mematikan saluran televisi dan mengantongi remotnya.
"Padahal aku penasaran, setampan apa dia," gumam August kecewa.
Teman-teman yang lain langsung menyorakinya. Dia hanya mencebik kesal kemudian tenggelam kembali dalam pekerjaannya.
*
Sepulang bekerja, Diana merebahkan tubuh lelahnya diatas pembaringan. Rasanya seluruh tulang di tubuhnya hampir terlepas karena ramainya restoran semenjak dia kembali bekerja. Padahal, kata teman-teman, saat Diana koma di rumah sakit, suasana resto begitu sepi. Tak ayal, terkadang mereka tutup lebih cepat sehingga Kepala Chef memiliki waktu luang untuk menjenguk Diana di rumah sakit.
Belum sempat matanya terpejam, suara bel membuat Diana menggerutu kesal. Dengan langkah malas, mau tak mau ia harus turun untuk menemui tamunya atau suara berisik dari bel yang terus di tekan tak akan pernah berhenti.
"Hai, Sayang! Apa kabar?" Ibu Gerald langsung menghambur memeluk Diana tanpa rasa sungkan.
Diana mematung. Ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Hal itu langsung di manfaatkan oleh Ibu dan Ayah Gerald untuk segera masuk sambil menenteng koper mereka. Pun, dengan Gerald. Lelaki tak tahu diri itu juga ikut-ikutan masuk tanpa di persilahkan.
"Dasar laki-laki tak ada harga diri!" sungut Diana kesal.
Dengan tampang di tekuk, Diana mau tak mau juga ikut masuk dan duduk di sofa tunggal. Dia ogah berdekatan dengan Gerald maupun kedua orangtuanya.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Diana sedikit ketus. Entah kenapa, melihat tampang Gerald dengan gigi ompong di bagian depan membuatnya begitu kesal.
"Kenapa pertanyaanmu begitu ketus, Nak? Kau tak suka kami datang berkunjung?" Ella, Ibu Gerald bertanya dengan memasang tampang sedih.
Diana menarik napas panjang. Diliriknya Gerald yang langsung tertunduk begitu mata mereka bersirobok. Dari sini, Diana sudah bisa menyimpulkan bahwa Gerald belum mengatakan apa-apa kepada kedua orangtuanya terkait hubungan mereka yang sudah berakhir.
"Ngomong-ngomong, dimana Vanya? Biasanya gadis cantik itu selalu menyambut ramah jika Ibu kemari," imbuh Ella seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Apa Gerald tidak mengatakan apa-apa kepada Bibi?"
"Di? Kau memanggil Ibu dengan sebutan Bibi sekarang?" tanya Ella dengan mata melebar. Tak percaya bahwa panggilan 'Ibu' yang selalu di sematkan Diana kini sudah berganti. Dia pun menatap Gerald dengan curiga. Firasatnya mulai tak enak kala sang anak lelaki justru membuang muka ke arah lain.
"Apa ada yang salah?"
Ella menggeleng. Buru-buru wanita berusia 55 tahun itu memaksakan senyum agar dapat mengambil hati calon menantunya kembali.
"Pernikahan kalian sebentar lagi akan terlaksana. Apa kau sudah punya uangnya untuk membayar katering dan gedung pernikahan kalian, Sayang?"
Mendengar kata pernikahan, alis Diana langsung berkerut. Kepalanya mendadak pening saat tahu bahwa ternyata kedatangan kedua orangtua Gerald ternyata hanya untuk meminta uang padanya.
"Kenapa Bibi memintanya padaku? Apa Gerald belum bilang kalau mempelai wanitanya sudah ganti?" tanya Diana.
"Maksudnya apa, Di?" tanya Ella sembari melirik ke arah sang putra yang semakin tertunduk.
"Bukan aku yang akan menikah dengan putra Bibi. Tapi... Vanya."
"Ma-mana mungkin? Apa-apaan ini? Kau sedang mengerjai kami, Di? Begitu?" tanya Ella dengan napas yang mendadak sesak.
"Terserah Bibi jika tak percaya. Tapi, yang jelas pernikahan kami sudah batal. Dan, aku harap, mulai sekarang jangan lagi kalian datang kemari dan mengacaukan hidupku!"
Diana berdiri. Ia berniat beristirahat di lantai atas segera setelah tiga tamu tak diundang itu angkat kaki dari rumahnya.
"Mana bisa di batalkan begitu saja!" ucap Paul, Ayah Gerald yang sedari tadi hanya diam dengan suara tinggi.
"Tentu saja bisa," sergah Diana.
"Kau ingin mempermalukan kami?" Paul berdiri. Menantang tatapan datar Diana dengan amarah yang menyala-nyala.
"Mempermalukan?" Diana tertawa remeh. "Memangnya, Paman tidak tahu kalau putra Paman tersayang itu sudah tidur dengan sahabat baikku sendiri? Bukan hanya itu, dia juga rela membiayai selingkuhannya itu dan membiarkan aku yang setengah mati bekerja keras untuk melunasi hutang-hutangnya. Apa itu adil bagiku?"
"Benar begitu, Gerald?" Kini, Paul berbalik menatap tajam putranya yang masih duduk di sofa.
Gerald tak menjawab. Namun, sikap bungkamnya itu justru malah membuat semua orang memperoleh jawabannya.
BuGH!
Tiba-tiba satu pukulan keras mendarat di pipi Gerald.
"Anak kurang ajar! Tak tahu diuntung kau!" umpat sang Ayah yang sudah murka luar biasa.