
"Nona boleh keluar. Anda bebas sekarang juga," ucap seorang petugas polisi sambil membuka pintu jeruji besi tempat dimana Diana terkurung.
Diana menatap bingung petugas tersebut. Namun, meski begitu ia tetap menuruti permintaan sang petugas untuk gegas keluar dari sana.
"Apa Gerald mencabut tuntutannya?" tanya Diana di sela perjalanan.
"Tidak," geleng sang petugas.
"Lalu, kenapa Anda mengatakan kalau saya sudah bebas?" tanya Diana lagi.
"Anda memang sudah bebas," ucap sang polisi. "Seseorang sudah memberikan jaminan agar Anda bisa keluar hari ini juga," imbuhnya dengan senyum ramah.
Tak hanya petugas yang mendampinginya itu yang nampak begitu ramah kepada Diana. Beberapa petugas polisi lain yang kebetulan berpapasan dengannya juga memberikan gestur seolah mereka begitu menghargai Diana. Mereka tersenyum, bahkan beberapa ada yang mengangguk hormat ke arahnya. Entah Diana yang kegeeran, atau memang sesuatu yang aneh sekali lagi ia alami.
"Loh, Di? Mau kemana kau?" sentak Gerald yang datang dengan tangan kiri yang diperban karena patah serta wajah babak belur dan perban yang menempel di ujung pelipisnya.
"Pulang," jawab Diana tak acuh.
Sekarang Diana memang sedang berada dihalaman kantor polisi. Ia berniat memesan taksi online untuk lekas kembali dan beristirahat di rumah setelah hampir 4 jam ia mendekam di balik jeruji besi karena laporan Gerald.
"Pu-pulang? Bukannya kau sedang dipenjara? Aku bahkan belum berniat untuk membebaskan mu sebelum kau memenuhi tuntutan yang aku mau. Tapi, kenapa para polisi itu sudah membebaskanmu lebih dulu, hah? Kau menyuap mereka, Di?" Gerald menarik lengan Diana dengan satu tangannya yang masih normal. " Dengan apa kau menyuap mereka? Apa dengan tubuhmu? Dasar perempuan murahan!"
PLAK!
Tanpa sadar, Diana menampar keras pipi Gerald. Sorot matanya penuh kebencian. Tubuhnya bahkan serasa nyaris meledak mendengar tuduhan Gerald yang sudah benar-benar keterlaluan.
"Jangan pernah samakan aku dengan istri phelacurmu itu, Gerald!" ucap Diana penuh penekanan dengan telunjuk yang menuding wajah Gerald.
Secepat mungkin, Diana melangkah meninggalkan Gerald. Wanita itu tak ingin berlama-lama mendengar ucapan ngawur sang mantan yang mungkin saja akan kembali memancingnya untuk menganiaya lelaki itu lagi. Syukur-syukur, jika Diana tak sampai kelepasan membunuh Gerald dengan sekali serangan. Apa lelaki itu tak tahu bahwa seorang atlet bela diri mampu membunuh orang biasa hanya dengan satu pukulan telak di area vital? Apa lagi, beberapa gerakan mematikan yang pernah diajarkan Fionn nyatanya tetap melekat di diri Diana meski sudah tak lagi hidup dalam dunia fantasi.
"Jangan menghindar, Di! Aku tahu kau hanya berusaha untuk menutupi semua kejelekanmu padaku, kan? Mengaku saja bahwa kau menyuap para polisi itu dengan tubuhmu!" kejar Gerald yang seolah tak menyerah memprovokasi Diana.
Langkah gadis cantik dengan rambut diikat tinggi itu berhenti. Ia kembali menoleh. Menatap geram kepada lelaki yang entah kenapa pernah begitu ia gilai.
"Sebenarnya, kau mau apa lagi, Gerald? Bukankah hubungan kita sudah lama berakhir? Kenapa kau masih terus mengejarku dan mempersulit hidupku? Apa kau lupa jika dirumah, ada Vanya yang sedang menunggumu dalam keadaan hamil besar?" Nada bicara sengaja Diana perlembut. Barangkali, Gerald bisa lebih paham jika diajak bicara layaknya berbicara dengan Cody, anak lelaki Katy yang baru berusia 4 tahun.
"Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu, Di!" lirihnya. "Aku bahkan sengaja melaporkanmu ke polisi dengan harapan bahwa kau akan terbebas setelah menerima syarat yang ingin aku ajukan hari ini. Aku hanya ingin kita kembali. Memulai semuanya lagi dari awal seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita.Tapi kenapa kau terlalu sulit melupakan semua kesalahanku dan kembali lagi, Di? Kenapa? Apa penyesalan dan kehancuran hidupku tak cukup untuk mengobati luka hatimu?"
Diana tersenyum getir. Begitu mudahnya Gerald mengucap untuk kembali seperti semula. Seolah-olah, perasaan Diana bukanlah apa-apa yang harus dipertimbangkan dan dihargai pendapatnya. Diana di tuntut untuk memaafkan dan melupakan, sementara Gerald tak pernah bersungguh-sungguh meminta maaf tulus dan malah terus memaksakan kehendak terhadap Diana.
"Luka hatiku sudah sembuh, Gerald! Tapi, sayangnya, seseorang yang berhasil menyembuhkan luka itu, juga diam-diam sudah mencuri hatiku."
"Apa maksudmu, Di?" tanya Gerald bergetar. Tangan kanannya terkepal erat.
"Aku sudah jatuh cinta pada lelaki lain. Dan, orang itu bukan dirimu lagi, Gerald!"
"Semudah itu kau melupakan aku, Di? Melupakan semua perjuangan dan impian kita?"
Diana menggeleng. "Kau tidak pernah berjuang, Gerald! Hanya aku yang selama ini berjuang sendirian. Hanya aku yang selalu datang ketika kau butuh dan hanya aku yang selalu wajib mengerti keadaanmu sementara kau tidak!"
"Lalu, menurutmu pria itu jauh lebih baik?"
Diana tersenyum. "Tentu saja. Dia yang selalu berlari ke arahku dalam keadaan apapun, Gerald! Dia tak pernah membiarkan aku terluka apalagi menangis."
"Apa dia yang mengeluarkanmu dari penjara?"
Diana terdiam. Ia tahu bahwa mustahil lelaki itu yang akan membebaskannya dari jeruji besi. Andai lelaki itu memang benar berada didunia yang sama dengannya, mustahil ia tak akan menemuinya.
"Itu bukan urusanmu, Gerald. Dan, satu lagi. Aku harap, kau jangan pernah lagi mencari masalah denganku. Jika kau masih nekat, maka jangan salahkan aku jika aku benar-benar akan membunuhmu!" ancam Diana tak main-main.
Gerald meneguk salivanya kasar. Ancaman Diana cukup membuat lutut pria itu bergetar. Ingatan mengenai betapa sakitnya tangan kirinya yang dihantam dengan satu pukulan hingga menyebabkan tulangnya patah masih berkelebat dengan jelas di otak Gerald.
Setelah memberi ancaman yang cukup membuat nyali Gerald ciut, Diana akhirnya melanjutkan pulang ke rumah. Sampai di rumah, ia langsung merebahkan diri di atas tempat tidur sampai benar-benar terlelap. Buku novel yang telah membawanya ke dunia paralel masih terletak di atas nakas. Setiap hari, Diana selalu mencoba membuka lembaran buku tersebut dan berharap kembali tersedot ke dunia dimana Ashlan berada. Sayangnya, buku tersebut masih terlihat sama. Hanya berisi lembaran kosong tanpa rangkaian aksara.
"Maaf karena aku membuatmu bersedih, gadis baik!" lirih seorang wanita tua yang tiba-tiba sudah berada didalam kamar Diana dan menatap punggung gadis yang tertidur membelakanginya.
"Mulai sekarang, berbahagialah. Novel ini kembali ku ambil!" ucapnya seraya meraih Novel yang terletak diatas nakas sebelum tubuhnya berubah menjadi ratusan kupu-kupu yang terbang bersamaan keluar dari jendela kamar yang terbuka. Setelah kupu-kupu terakhir melewati bingkai jendela, tiba-tiba jendela tersebut kemudian tertutup sendiri dengan pelan. Selimut yang belum sempat Diana kenakan sebelum tidur, bergerak dan menutupi tubuh gadis yang meringkuk kedinginan itu sampai sebatas leher.
"Mimpi indah, anakku! Cucuku!" suara itu berbisik pelan ditelinga Diana.