Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Eksekusi Duke Hendrick



Duke Hendrick terkesiap saat mendengar langkah kaki memasuki ruang bawah tanah tempatnya di penjara. Pria tua itu mulai berkeringat dingin. Dia melangkah mundur dan merapatkan tubuhnya di sudut penjara sambil meremas rambutnya dengan kuat.


"Apa sudah waktunya? Apa aku akan mati hari ini?" gumamnya gelisah.


Tak berselang lama, pemilik langkah kaki itu akhirnya tiba dihadapan Duke Hendrick. Terdapat Fionn dan lima bawahannya yang menatap datar ke arah Duke Hendrick. Begitu Fionn memberi kode dengan menoleh ke arah salah satu anak buahnya, sang anak buah langsung menganggukkan kepala lalu bergerak membuka gembok penjara.


"Mau apa kalian, hah?" tanya Duke Hendrick gusar.


"Sudah waktunya Anda di eksekusi, Tuan Duke!" jawab Fionn datar.


Tenggorokan Duke Hendrick semakin terasa kering mendengar pengakuan Fionn. Akhirnya, hal yang beberapa hari ini selalu mengusiknya dan tak bisa membuat tidurnya tenang akhirnya datang juga.


"Tidak! Jangan bawa aku! Aku tidak mau," teriak Duke Hendrick histeris sambil berusaha menghalau dua anak buah Fionn yang ingin mengikatnya dengan tali sihir.


Fionn hanya tersenyum miring menanggapi penolakan Duke Hendrick. Pria itu terlihat sangat puas melihat Duke Hendrick yang selalu angkuh dan sombong sebentar lagi akan benar-benar tamat.


"Simpan tangisanmu untuk di neraka nanti, Tuan Duke!"


"Jangan! Aku bilang jangan bawa aku!" Duke Hendrick seperti orang kesetanan. Dia mengamuk dan berusaha melepaskan diri walau hal itu tak akan mungkin bisa berhasil.


Tali sihir yang digunakan adalah buatan Penyihir agung. Dibuat dengan mantra berlapis agar orang yang di jerat dengan tali tersebut tak dapat mengeluarkan kekuatan sihirnya.


"Br*ngsek kalian! Berani-beraninya kalian melakukan ini terhadapku!" umpat pria tua itu untuk ke sekian kali.


Tiba di alun-alun kota, Duke Hendrick didorong begitu saja sehingga jatuh tepat di bawah kaki Ashlan yang duduk di atas kursi kebesarannya. Pria tua itu mendongak. Walau kondisinya terlihat begitu memprihatinkan, namun matanya masih saja menatap Ashlan dengan sengit.


"Kau akan membalas perbuatanmu hari ini dengan sangat mahal, Ash!" lirih Duke Hendrick dengan seringai di sudut bibirnya yang pecah-pecah. Tubuhnya yang jauh terlihat kurus dari yang terakhir Ashlan lihat nampak gemetaran. Mungkin karena kelaparan atau malah ketakutan. Atau, bisa jadi karena dua-duanya.


"Justru, kaulah yang akan membayar perbuatanmu dengan sangat mahal hari ini, Duke Hendrick!" balas Ashlan.


"Kurang ajar! Anak tak tahu di untung. Aku yang membesarkan dan mendidikmu selama ini. Tapi, ini balasan yang kau berikan atas budi baikku?" teriak Duke Hendrick tak terima.


Alarick yang mendengar caci maki Duke Hendrick kepada sepupunya mendelik tak terima. Dia tak rela Ashlan di perlakukan seperti itu oleh Duke Hendrick dihadapan rakyat kota Bern yang datang menyaksikan.


"Jaga mulut Anda, Duke!" Alarick hendak maju memberi pukulan ke wajah pria tua itu, namun langkahnya terhenti karena Ashlan mencegahnya melalui isyarat tangan.


Duke Hendrick menyeringai mendengar ucapan Ashlan. Sementara, pekikan histeris orang-orang yang mendengarnya mulai menimbulkan keramaian di alun-alun kota.


"Kau pikir kau sudah menang?" tanya Duke Hendrick sinis. "Sama sekali belum, Ash! Aku hanyalah ekor. Sedangkan, kepalanya masih jauh untuk bisa kau temukan," aku Duke Hendrick yang merasa tak perlu menutupi perannya lagi dalam kejahatan terselubung yang selama ini dia lakukan.


"Dan, tentang putraku? Ya, benar aku memang membunuhnya. Bahkan, dengan kedua tanganku sendiri tanpa bantuan siapapun."


Riuh mulai terdengar kembali. Umpatan dan caci maki yang ditujukan untuk Duke Hendrick terdengar memenuhi alun-alun.


"Tapi, kau sama sekali keliru dengan alasannya, Ash! Bukan karena dia menentang kejahatan ku makanya aku membunuhnya. Tapi, karena anak itu jauh lebih berbahaya dari yang semua orang duga. Dia iblis. Psikopat sejati yang malah mencintai adik kandungnya sendiri." Duke Hendrick menyeringai. "Demi menyelamatkan putriku dari kebuasan kakaknya, maka lebih baik ku lenyapkan saja putraku." Ada secarik kepedihan yang tersirat di kalimat terakhir Duke Hendrick.


Terus terang, Duke Hendrick begitu menyayangi Verona. Hanya saja, karena sang putri terlalu sering membela sang Ibu, maka Duke Hendrick seringkali lepas kontrol dan malah ikut-ikutan menyiksa Verona yang sebenarnya tidak bersalah. Bukan salah gadis itu jika dia mewarisi sifat gegabah dan kebodohan Ibunya.


"Bawa dia ke tiang gantungan!" titah Ashlan kepada dua algojo yang berbadan besar.


Keduanya mengangguk dan melaksanakan perintah dengan cepat. Duke Hendrick yang di seret hanya menatap Ashlan dengan mata memerah. Bibirnya tersenyum dan mengucapkan sebuah kalimat untuk terakhir kali.


"Ingat, Ash! Kematianku bukanlah sebuah akhir. Kematianku justru merupakan awal dari segala kehancuran yang sebentar lagi akan datang. Bersiaplah! Bersiaplah!" teriak Duke Hendrick lantang seraya tertawa.


Beberapa orang terlihat memalingkan muka ketika Duke Hendrick mulai meregang nyawa di tiang gantungan. Para Ibu menutupi mata anak-anak mereka dengan telapak tangan. Sebagian kerabat Duke Hendrick yang datang berteriak histeris sambil menyumpahi Ashlan karena marah. Sementara, para bangsawan yang selama ini berpihak di kubu Duke Hendrick diam bergeming dan tak bereaksi apa-apa.


Setelah Duke Hendrick benar-benar tak bergerak lagi, jasadnya di turunkan dan dibaringkan di tanah. Ashlan menatap jasad dengan mata terbuka serta lidah menjulur itu dengan datar. Tak ada rasa kasihan ataupun iba atas kematian lelaki itu. Ashlan tahu bahwa harga yang kini di bayar Duke Hendrick atas segala kejahatannya memang sudah sepadan.


"Siapapun yang melakukan tindak kejahatan dan merugikan rakyat akan mendapatkan hukuman yang setimpal seperti Duke Hendrick. Tak peduli rakyat jelata atau bangsawan sekelas Duke Hendrick sekalipun, semuanya sama di mata hukum!" ujar Ashlan memberi pengumuman.


"Izinkan kami membawa pulang jasad Duke Hendrick, Yang Mulia! Biar bagaimanapun, beliau adalah pemimpin keluarga kami," pinta seorang pria muda yang merupakan keponakan dari Duke Hendrick.


Ashlan tak menjawab. Ia hanya mengangguk lalu meninggalkan tempat itu tanpa berbalik lagi.


"Terimakasih, Yang Mulia!" ucap pemuda itu dengan senang. Harus dia akui, walau kejahatan Duke Hendrick terbilang berat, namun Ashlan sepertinya masih menaruh sedikit penghargaan terhadap lelaki itu. Mungkin, karena Ashlan tahu kalau sejahat apapun Duke Hendrick, beliau merupakan kepala keluarga yang bertanggung jawab atas keluarganya.


"Langkah selanjutnya, apalagi Yang Mulia?" tanya Alarick yang membersamai langkah Ashlan.


"Langkah selanjutnya? Tentu saja menemukan kepala yang asli."