Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Aku dan mantanmu



Hari yang dijalani Diana perlahan mulai tenang tanpa gangguan dari Gerald maupun Vanya. Entah kemana dua orang itu, Diana memilih enggan untuk mencari tahu. Semoga saja, mereka tak akan pernah kembali untuk mengusik kehidupan Diana lagi. Karena jujur, kini Diana merasa telah sampai pada tahap paling bahagia dalam hidupnya.


Sejak makam malam bersama Ashlan dan Peter hari itu, Diana mulai terbiasa dengan banyaknya kejutan tak terduga yang selalu diberikan Ashlan setiap waktu. Bahkan, meski lelaki itu tengah berada di Birmingham atau di kota manapun, kejutannya terkadang tetap menghampiri Diana. Ashlan bilang, kejutan-kejutan manis itu adalah bukti bahwa tak sedetikpun dalam kehidupan Ashlan tanpa memikirkan Diana.


"Hati-hati, Di!" ucap Katy sembari melambaikan tangan ke arah Diana yang sudah lebih dulu berpamitan untuk pulang. Sementara, dirinya sendiri masih menunggu August yang sedang membuang sampah di area belakang.


Malam ini Diana pulang sambil bersenandung riang. Sejam yang lalu, ia baru saja memperoleh kabar bahwa besok Ashlan akan datang mengunjunginya lagi sekaligus ingin mengajaknya berlibur ke suatu tempat. Tentu Diana merasa tak sabar menjemput hari esok.


"Ceria sekali senyummu, Di!" tegur seseorang, tepat ketika Diana baru saja membuka pagar rumahnya.


Gadis cantik dengan rambut diikat tinggi itu menoleh. Ia menghela napas seraya menguatkan hati dan pikiran untuk meredam emosi yang mungkin akan terpancing lagi malam ini. Diana pikir, Gerald sudah benar-benar pergi. Namun, nyatanya pria itu kembali lagi dan lagi tanpa merasa jera.


"Mau apa lagi kemari?" tanya Diana.


Gerald menatap Diana dengan wajah lesu. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang terakhir kali Diana lihat. Rambutnya mulai tumbuh panjang dan dibiarkan berantakan begitu saja. Belum lagi, jambang mulai memenuhi garis rahangnya hingga semakin membuat Gerald tampak kacau bak gelandangan.


"Kau bahagia setelah berpisah denganku, Di?" lirih pria itu dengan mata berkaca. Ia merasa sakit hati karena melihat Diana yang semakin bertambah cantik setelah berpisah dengannya.


Tentu saja lebih cantik karena kini Diana bisa menggunakan uang gajinya untuk perawatan tanpa perlu memikirkan membantu Gerald menutupi hutang dan membayar biaya sekolah adik pria itu.


Diana mengangguk tersenyum. "Tentu saja. Bahkan jauh lebih bahagia dari yang kau duga," jawabnya.


"Apa lelaki itu benar-benar bisa menggeser posisiku dari dalam hatimu?"


"Kau tahu darimana tentang dia?" selidik Diana dengan mata menyipit. Dalam hatinya, ia curiga kalau Gerald mungkin saja memata-matai hidupnya selama ini.


"Dari Vanya. Saat dia datang ke pemakaman Ayah dua hari yang lalu, dia menceritakannya."


Gerald tertunduk dalam. Sekuat yang ia bisa, ia tak ingin menumpahkan air mata yang justru akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan dimata perempuan yang dulu pernah begitu mencintainya setulus hati namun ia abaikan begitu saja. Dia sadar sepenuhnya bahwa dulu matanya terlalu buta untuk melihat kebahagiaan sejati di masa depan. Ia memilih membuang Diana dan mengundang Vanya masuk ke dalam hidupnya yang justru malah membawa petaka yang seolah tak berkesudahan.


Dimulai dari kepergoknya mereka oleh Diana hari itu, kemudian berlanjut dengan pemecatan dirinya, lalu terusir dari tempat tinggalnya dan terakhir malah menikahi perempuan yang ternyata malah hamil dengan pria lain. Hidup Gerald benar-benar terasa hancur. Apalagi, diagnosa penyakit kelamin yang ditularkan Vanya ternyata tak main-main.


Gonore. Salah satu penyakit kelamin dengan penularan tercepat telah menghuni tubuh Gerald saat ini. Mirisnya, ia tak mampu melakukan pengobatan karena sang Ayah, satu-satunya tulang punggung dalam keluarganya baru saja mengalami serangan jantung mendadak akibat terlalu sering begadang karena tuntutan pekerjaan hingga mengakibatkan kematian.


Keluarga Gerald kini benar-benar berantakan. Ibunya terlihat seperti orang linglung setelah kematian sang suami. Sementara, adik Gerald entah menghilang kemana. Remaja tanggung yang terjerat pergaulan bebas karena tak lagi bersekolah itu telah memutuskan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Ibu maupun Kakaknya.


"Ayahmu meninggal?" tanya Diana terkesiap.


Gerald mengangguk. Kali ini, air mata yang ia bendung benar-benar tak bisa dia tampung lagi.


"Hidupku berantakan sejak kau memutuskan meninggalkan aku, Di!" aku Gerald sambil terisak. Ia benar-benar berada di titik terendah saat ini.


"Itu semua bukannya pilihanmu, Gerald?"


"Ya, aku tahu!" angguk Gerald. "Aku memang salah. Aku bodoh! Aku dungu!" ucapnya sambil memukuli kepalanya sendiri.


Diana hanya diam menyaksikan. Merasa tak ada hak untuk menaruh iba apalagi menghibur pria yang kini tak ada lagi kaitan dengannya.


"Untuk terakhir kalinya aku bertanya, apa aku benar-benar sudah tak memiliki tempat di hatimu?"


"Maaf! Sayangnya memang sudah tidak ada."


Hancur. Gerald meraung sambil terduduk di depan pagar rumah sang mantan. Harapannya benar-benar telah pupus.


"Baiklah! Kalau begitu, aku pamit! Aku doakan semoga kau dan lelaki penggantiku akan selalu bahagia sampai kapan pun," ucap Gerald tulus setelah ia merasa sedikit lebih baik dan bangkit berdiri kembali.


"Ya, terimakasih!"


"Selamat tinggal, Di!" Gerald berusaha tersenyum sebelum melangkah menjauh meninggalkan Diana yang bahkan tak lagi mau membalas senyumnya.


"Tunggu, Gerald!" cegah Diana.


Lelaki lusuh itu berbalik. Secercah harapan muncul kembali.


"Aku harap, semoga ini pertemuan terakhir kita. Jangan pernah datang lagi mencariku karena sekarang kita telah kembali menjadi orang asing." Diana berucap sedikit keras karena Gerald sudah agak jauh. "Aku harap, kau pun akan menemukan orang baru yang akan mencintaimu dan menerimamu apa adanya."


"Terimakasih, Di!" ucap Gerald tulus.


Siluet tubuh lelaki itu menghilang di pertigaan jalan perumahan yang sudah agak sepi. Diana mendesah samar sambil menggelengkan kepala. Ada rasa sedih saat tahu bahwa Ayah Gerald yaitu Paul ternyata telah berpulang. Walau bagaimanapun, Diana pernah menganggap Paul sebagai Ayah sendiri meski pengkhianatan Gerald terpaksa harus memutus rasa itu.


"Jangan bergerak!"


Diana seketika terkesiap kala seseorang menodongnya dengan pistol dari arah belakang. Gadis itu meneguk ludahnya payah. Walau bisa beladiri, namun tetap saja dia tak bisa bertindak gegabah.


"Pizza atau burger?" tanya si penodong.


Dalam sekejap, ketakutan Diana langsung lenyap begitu saja. "Ash?" geramnya sedikit kesal.


"Eits! Jangan bergerak, Nona! Jawab dulu pertanyaanku!" kata Ashlan yang sigap menahan bahu Diana yang hendak berbalik.


Diana mendengkus. "Pizza!"


"Oke!" Ashlan mengangguk. Benda yang ia gunakan untuk menodong Diana ia lemparkan ke arah Erick yang sigap menangkap benda tersebut hanya dengan satu tangan.


"Ambil kembali korekmu, Rick!" kata Ashlan saat melemparkan benda tersebut.


Ya, itu adalah korek gas yang bentuknya menyerupai pistol sungguhan. Entah kenapa, Erick begitu suka mengoleksi benda tersebut hingga nyaris mencapai puluhan dengan model berbeda. Padahal, ia jarang merokok karena Ashlan sendiri tidak suka bau apalagi asap rokok.


"Kau dengar apa kata Ratuku, bukan?" tanya Ashlan.


"Tentu saja!" angguk Erick. "Satu porsi Pizza Mozarella akan tiba dalam 30 menit," imbuhnya.


Kemudian, Erick berlari terburu-buru menuju ke mobil yang ternyata di parkir agak jauh dari rumah Diana. Mungkin, Ashlan sengaja agar bisa memantau percakapan Diana dan Gerald.


"Katanya akan datang besok. Kenapa tiba-tiba ada disini?"


"Kenapa? Ada masalah?" Ashlan balik bertanya.


"Tidak. Hanya saja...,"


"Mentang-mentang didatangi mantan, jadi sekarang tidak ingin didatangi tunangan?" goda Ashlan setengah mencibir.


"Jadi, tadi kau melihat semuanya?"


"Tentu saja!" angguk Ashlan.


"Kenapa tidak menghampiri?"


"Tidak ingin saja," jawab Ashlan cuek.


"Kau cemburu?" tanya Diana dengan senyum mengejek.


"Hah!" Ashlan tertawa sumbang sambil membuang muka. "Aku? Cemburu?" tanyanya sembari menunjuk diri sendiri. "Bagian mananya dari mantanmu itu yang patut aku cemburui, Sayang?" ujarnya.


"Ck! Sok paling santai, padahal pasti dalam hati ketar-ketir," gumam Diana berbisik.


"Si-siapa yang ketar-ketir?" sergah Ashlan yang berusaha menyembunyikan kepanikannya.


"Tentu saja kau!" Telunjuk Diana mengacung tepat di depan hidung Ashlan.


GREP!


Ashlan sigap menggigit kecil telunjuk itu hingga sang empunya menjerit kesakitan sekaligus kaget.


"Sakit," keluh Diana sambil mengibas-ngibaskan telunjuknya.


"Apa masih mau? Katakan saja, kau ingin digigit di bagian mana lagi, Sayang?" tanya Ashlan sembari tersenyum menggoda.