
Sepasang mata Kaisar Sean kini memerah. Ada kaca-kaca tipis yang tergenang disana dan bersiap untuk tumpah membasahi wajah. Seluruh tulangnya seperti di tarik paksa sampai terlepas dan terpisah-pisah. Jangan tanya lagi mengenai kondisi hatinya. Sudah remuk redam dan nyaris tak bisa lagi di kumpulkan puing-puingnya.
Pengakuan Rosemary sungguh merubah segalanya. Rosemary telah mengakui sesuatu yang sukses mematahkan Kaisar Sean begitu dalam.
Ia jatuh.
Terperosok dalam jurang penyesalan karena telah gagal menjaga dua wanita paling berharga dalam hidupnya. Alesha dan Diana.
"Kau tak punya perasaan, Levrina! Sungguh! Kau seperti tak punya hati," ucap Kaisar Sean yang penuh kekecewaan. "Apa salah Ratuku padamu? Bukankah selama ini dia selalu berbuat baik padamu? Bahkan, gelarmu, derajatmu dan harga dirimu terangkat karena belas kasihnya."
Levrina yang terduduk di hadapan singgasana Kaisar Sean hanya mampu menebalkan muka. Wanita paruh baya itu memalingkan wajahnya. Bibirnya bergetar. Hendak mengeluarkan suara tangis yang setengah mati ia tahan di tenggorokan.
Ya, apa yang salah dari seorang Alesha Belvanor? Dia gadis bangsawan berparas cantik dengan tingkah laku anggun dan berkelas. Setiap pria yang melihatnya pasti berdusta jika mengatakan tak terpana akan keindahan paras dan perilaku putri tunggal keluarga Belvanor.
Kepribadiannya supel. Ia pandai bergaul dan tak pernah risih jika harus berbaur dengan rakyat biasa bahkan dengan gelandangan dan pengemis sekalipun. Hampir di setiap sudut kerajaan, nama Alesha Belvanor harum sebagai pejuang nasib rakyat tertinggal.
Lantas, pertanyaan itu di tanyakan sekali lagi. Kenapa Levrina Malvius tega membunuh Alesha Belvanor yang bahkan dengan kerelaan hati menerima Levrina sebagai bagian dari keluarga Belvanor yang terpandang?
Jawabannya?
Karena Alesha terlalu sempurna.
Saking sempurnanya, Levrina yang telah terangkat derajatnya dan sudah mampu membeli pakaian dan perhiasan mewah masih terus menjadi bayangan di belakang Alesha. Ia tak pernah benar-benar dianggap. Para bangsawan bahkan memperlakukan dia dan Alesha dengan berbeda. Bagi mereka, Alesha adalah malaikat sementara Levrina tak lebih dari sekadar serangga pengganggu yang terus menempel pada saudari tirinya.
"Aku membencinya," teriak Levrina sesenggukan. Tangannya terkepal erat. Dadanya terasa semakin sesak kala Kaisar Sean menatapnya penuh benci.
"Apa salah istriku, Levrina?" balas Kaisar Sean tak kalah keras. "Apa salahnya sampai kau begitu membencinya, hah? Apa?"
"Karena Yang Mulia mencintainya," sergah Levrina dengan cepat yang sukses membuat Kaisar Sean lemas di tempatnya.
"Apa Yang Mulia ingat? Yang Mulia lebih dulu bertemu dengan saya dibanding dia. Tapi, kenapa Yang Mulia lebih memilih Alesha dibanding saya? Apa yang Alesha miliki sehingga Yang Mulia lebih tertarik dengannya dibanding saya? Apa?"
Pertanyaan itu sebenarnya hanya terlontar sia-sia. Karena, tanpa perlu di jawab Kaisar Sean pun, Levrina sudah tahu jawabannya. Ia hanya berusaha mencari pelampiasan. Mencoba melemparkan kesalahan agar sakit dan penyesalan itu bisa sedikit berkurang. Sayangnya, ia gagal.
Hatinya tetap sesak dan sakit karena tumpukan dosa masa lalu yang kini menagih untuk dibalaskan. Sejatinya, karma yang berusaha dia hindari dengan membuat Diana tumbuh tanpa kekuatan sihir telah benar-benar datang. Dan, Levrina tahu bahwa tak ada jalan lagi untuk menghindar.
"Jangan jadikan aku sebagai alasan, Levrina!" sangkal Kaisar Sean. "Kau bukan membenci Alesha karena aku lebih memilihnya. Kau hanya berusaha mencari alasan untuk menutupi sifat aslimu yang begitu haus akan kekuasaan dan pengakuan. Akui saja!"
Levrina tak menjawab. Sebaliknya, ia berdecih demi menyangkal tuduhan Kaisar Sean. Sementara, pria tua itu tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu, kini dia beralih kepada pelayan yang selama ini dia percayakan untuk mengasuh dan membesarkan putrinya selama 24 tahun.
"Rose, angkat kepalamu!" titah Kaisar Sean kepada Rosemary.
Pelayan wanita yang seumur hidup tak pernah menikah itu menuruti keinginan Tuan-nya. Wajah yang sembap karena air mata itu masih berusaha mengembangkan senyum tulus saat netranya tak sengaja bersirobok dengan netra kehijauan milik Diana.
Kaisar Sean tertunduk dalam. Walau bagaimanapun, pantang baginya menangis di depan siapapun.
"Apa kau tahu sebesar apa rasa penyesalanku akibat ulahmu, Rose?" Kaisar Sean menjeda ucapannya untuk menarik napas dalam. "Aku menelantarkannya. Membiarkan dia tumbuh tanpa kasih sayang dariku sedikitpun. Apa kau tahu betapa inginnya aku mengulang setiap momen pertumbuhan Diana sejak dia dilahirkan? Aku ingin mengulang momen dimana aku menggendongnya untuk pertama kali. Aku ingin mengulang momen di mana ketika dia mulai belajar berdiri kemudian dia terjatuh, aku ada disisinya yang dengan sigap menangkap tubuh mungilnya."
Para petinggi kerajaan yang hadir sebagai saksi, beberapa pelayan yang bersiap siaga, serta beberapa Ksatria ikut tertunduk mendengar curahan hati Kaisar Sean.
"Aku ingin mengulang momen dimana ketika dia pertama kali belajar berbicara, namaku yang akan dia sebut pertama kali." Kaisar Sean kembali mengambil jeda. "Aku ingin ada ketika dia pertama kali mulai belajar tentang dunia. Aku ingin ada pertama kali ketika dia mulai jatuh cinta dan mau berbagi kisah. Tapi, kau tahu, Rose? Semuanya tak bisa terulang. Semuanya tak bisa kembali ke awal. Padahal, andai bisa mengulang, hal yang paling pertama yang ingin ku perbaiki adalah dengan tidak berangkat berperang dan meninggalkan Alesha bersama manusia-manusia kejam seperti kalian!"
Tangan Kaisar Sean terkepal erat. Emosinya membuncah. Namun, gadis kecilnya yang telah tumbuh dewasa tanpa dirinya langsung menggenggam tangan tersebut. Mengelusnya seraya tersenyum mentransfer kekuatan.
"Ayah baik-baik saja?"
"Tentu," angguk Kaisar Sean.
"Baiklah!" putus Kaisar Sean kemudian. "Levrina Malvius dan Rosemary White! Karena kejahatan besar yang telah kalian lakukan bersama yaitu melenyapkan nyawa Yang Mulia Ratu Alesha Belvanor, maka dengan ini, kalian akan ku hukum dengan cara yang berbeda sesuai kadar kejahatan kalian. Kau, Rosemary White!" Ia beralih terlebih dulu kepada Rosemary.
Yang disebut namanya langsung menyiapkan diri dan berusaha duduk dengan tegak. Ia tahu hari ini akan tiba. Namun, selama apapun ia bersiap, yang namanya kematian tetap menjadi momok yang menakutkan baginya.
"Karena kau terbukti membantu Levrina menyembunyikan kejahatannya bertahun-tahun, menjadi kaki tangan Levrina mendapatkan ramuan sihir terlarang untuk mencelakai Ratu dan membuat Putri mahkota kehilangan kekuatannya, maka dengan ini aku menjatuhkan hukuman gantung bagimu! Tak hanya itu, setelah kau mati, jasadmu akan dikubur tanpa nisan dan tak ada satu orang pun yang akan tahu dimana kau dikubur."
DEGH!
Setetes bening jatuh dari mata Rosemary yang tertutup setelah mendengar putusannya. Pun, dengan Diana. Ia tak menyangka bahwa Ayahnya akan menguburkan jasad orang yang telah merawatnya sedari kecil itu tanpa nisan dan tempatnya tak boleh di ketahui.
"Saya baik-baik saja, Yang Mulia! Sekali lagi, maaf!" ucap Rosemary tanpa suara ketika Diana menatapnya dengan iba.
"Untuk kau Levrina!" Kaisar Sean beralih kepada saudari tiri istrinya. "Karena kejahatanmu yang terbukti sebagai otak dari pembunuhan berencana terhadap Ratu Alesha serta pembantaian pelayan, penjaga bahkan tabib istana malam itu, juga karena telah menyiksa fisik dan psikis putri mahkota selama bertahun-tahun, kau ku jatuhi hukuman mati dengan cara tubuhmu akan di kubur di tanah hingga sebatas leher selama 7 hari 7 malam tanpa makanan dan minuman sama sekali di tengah hutan. Selain itu, rambutmu akan diikat dengan jebakan 100 pedang diatas kepalamu yang jika seluruh rambut mu patah atau tercabut dari kulit kepala, maka pedang tersebut akan jatuh dan mengenaimu. Aku pastikan, jika itu terjadi, maka kau akan langsung mati di tempat. Tapi, andai selama 7 hari itu kau masih hidup, maka di hari ke 8, kau akan di paksa meminum racun hingga tewas."
"Aku tidak mau!" sergah Levrina yang tiba-tiba berusaha berdiri namun pundaknya di tekan oleh dua penjaga yang berdiri di sisi kanan-kirinya.
"Tolong, jangan terlalu kejam menyiksaku, Yang Mulia! Bunuh saja aku dengan cepat, tapi jangan siksa aku seperti itu. Aku tidak mau! Tidak...," teriaknya tak mau menyerah.
"Duke Hendrick otak dari semuanya, Yang Mulia. Saya hanya kaki tangan, percayalah! Bahkan, Anda sendiri tahu seberapa lamban otak saya dalam berpikir."
Diana tersenyum kecut. Mungkin, Levrina sengaja menyebut nama Duke Hendrick dengan harapan akan terselamatkan. Sayangnya, itu tak akan membantu sama sekali.
"Duke Hendrick sudah mati, Bibi!" ucap Diana yang langsung membuat tangis Levrina berhenti. Sebagai ganti, kini wanita paruh baya itu langsung lemas dan tergugu. Pandangan matanya kosong menatap Diana yang terlihat tak berbohong sama sekali.
"Ke-kenapa? Kenapa dia mati?"
"Sama sepertimu, dia menuai hasil dari kejahatannya sendiri."