Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Imbalan untuk Verona



"Ratu...," panggil Ksatria Bennett saat memasuki ruangan. Sesaat, sepasang tungkai panjangnya seolah di paku pada lantai dibawahnya kala menyaksikan pemandangan yang tersuguh di depan mata.


Tampak, Ashlan sedang tertidur lelap di pangkuan Diana. Dan, yang membuat dada Ksatria Bennett sesak adalah tangan Diana mengelus rambut lebat berwarna perak sang sepupu dengan sangat lembut. Katakanlah, Ksatria Bennett memang lancang. Ia terlalu tak tahu diri dengan membiarkan rasa yang awalnya sebatas kagum berkembang menjadi suka. Lalu, setelah suka mulai semakin tumbuh, Ksatria Bennett membiarkan lagi perasaan itu merambat dan malah tak bisa lagi ia kendalikan untuk saat ini. Ya, sepertinya lelaki itu mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Diana tak lagi sama. Ia benar-benar mencintai wanita yang tak seharusnya ia cintai.


"Sudah datang?" Diana tersenyum lega melihat kehadiran sepupu suaminya.


Ksatria Bennett kembali mengatur ekspresi wajahnya. Kecewa mesti ia buang jauh-jauh. Ia tahu bahwa ia juga mencintai sang Ratu. Sama seperti Ashlan. Namun, Ksatria Bennett memilih mundur selangkah agar memberi ruang kepada yang lebih berhak dan pantas untuk memperjuangkan cinta wanita itu yakni sang sepupu. Ia memilih memendam perasaannya untuk diri sendiri. Biarkan, hanya dia dan Tuhan yang tahu akan perasaan itu.


"Maaf jika saya terlambat datang. Tamu di aula masih lumayan banyak. Jadi, saya harus memberi pengertian kepada mereka terlebih dahulu kalau sang Kaisar sedang tidak dapat ditemui karena sakit."


"Tidak apa-apa. Saya mengerti," ucap Diana.


"Bagaimana keadaan Yang Mulia Kaisar?" tanya Ksatria Bennett seraya mendekat. Denyut nadi sang Kaisar ia periksa. Pun, dengan suhu tubuhnya. Setelah memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, lelaki berambut ikal itu menghela nafas lega. Setidaknya, Ashlan benar-benar tak sadarkan diri murni karena mabuk. Bukan karena adanya campur tangan sihir terlarang.


"Mungkin, Yang Mulia minum kebanyakan. Lihat saja botol-botol itu," jawab Diana sembari menunjuk botol-botol bekas minuman yang tergeletak di atas meja dengan dagunya.


"Tidak biasanya Kaisar mabuk seperti ini," lirih Ksatria Bennett. Ia memandangi wajah Ashlan yang damai dalam tidurnya. Ekspresi yang jelas kontras ketika lelaki itu terjaga.


Diana mengernyitkan alis. "Apa Yang Mulia ada masalah?" tanyanya penasaran.


Ksatria Bennett menggeleng. Senyum sengaja ia ukir di wajahnya demi menyamarkan beban yang terasa semakin berat. Bagaimana tidak? Hubungan baiknya dengan Ashlan kini begitu rentan. Andai sang Ayah tak mampu membuktikan bahwa ia tak terlibat dalam kematian orangtua dan saudara Ashlan, maka selesailah sudah hubungan persaudaraan mereka. Dan, itu sangat mengganggu pikiran Ksatria Bennett.


"Hanya masalah biasa," ucapnya menutupi masalah yang sebenarnya.


Setelah itu, Ksatria Bennett lalu menggendong Ashlan yang terlelap di punggungnya menuju ke kamar yang di tempati sang sepupu bersama istrinya. Diana dengan senang hati menemani meski Ksatria Bennett sudah mengatakan bahwa ia bisa sendiri membawa Ashlan. Namun, wanita itu bersikeras ikut. Ia ingin memastikan sang suami beristirahat nyaman sebelum kembali ke aula untuk menutup pesta.


"Kalian benar-benar saudara yang kompak," puji Diana.


Ksatria Bennett tersenyum simpul. Dalam hati ia membenarkan perkataan Diana.


"Apa masalah diantara kalian sudah selesai?"


Tampak ada keterkejutan di wajah Ksatria Bennett. Dan, karena menyadari hal itu, Diana pun kembali melanjutkan perkataannya, "Aku tahu jika kalian sedang ada masalah. Meski, aku tak tahu kenapa dan sebesar apa masalahnya, tapi aku senang kalian bisa bersama-sama lagi seperti ini."


Mendengar ucapan Diana, Ksatria Bennett menunduk. Mata merah adalah hal yang ingin ia sembunyikan. Jelas, hatinya mencelos mendengar penuturan Diana. 'Bisa bersama-sama lagi?' Sayangnya, kebersamaan mereka memiliki batas waktu.


"Kau jadi jauh lebih pendiam, Rick!"


Ksatria Bennett menanggapi tersenyum.


"Apa masalah kalian benar-benar rumit?" Diana masih mencoba menggali.


Dan, sepupu dari suaminya tersebut tak memberi jawaban.


*


"Bagaimana?" tanya Duchess Levrina kepada sang putri.


Lady Verona mendengkus sebal. Ekspresi wajahnya sudah cukup mewakili apa yang terjadi namun sang Ibu sepertinya masih tidak peka.


"Diana datang mengacaukan segalanya," jawabnya dengan bibir mengerucut.


"Anak sial itu lagi?" Mata Duchess Levrina melotot. "Tapi, bagaimana bisa perempuan itu menemukan kalian?"


"Entahlah!" Verona menggeleng. "Mungkin ada yang melapor. Padahal, Ashlan sudah hampir menyentuhku tadi," imbuhnya jelas berbohong.


Ya, mana mungkin dia mau mengaku bahwa Ashlan sebenarnya sama sekali tak tertarik kepadanya? Bahkan, andai tak memakai sehelai benang pun, di mata lelaki itu, Verona hanya seonggok bangkai menjijikkan.


"Memang anak sialan itu selalu saja menghancurkan keinginan kita."


"Bu, bagaimana jika Ayah tahu kalau aku gagal?" Verona mendadak ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika Duke Hendrick tahu bahwa misi mereka benar-benar gagal total.


"Lebih baik kita berbohong saja."


"Tapi, Bu...,"


"Apa kau ingin dipukuli lagi oleh Ayahmu?"


Verona menggeleng.


"Kalau begitu, turuti perkataan Ibu. Katakan saja, kalau kau dan Ashlan sudah berhasil tidur bersama. Kau mengerti?"


"Tapi, Bu?" Verona masih ragu.


"Lakukan saja!" desak Duchess Levrina pada putrinya.


Meski firasat tak enak mulai membayangi Verona, namun gadis itu tetap menganggukkan kepalanya. Dia percaya kepada sang Ibu.


"Kita pulang!" Entah muncul darimana, Duke Hendrick tiba-tiba datang dan mengajak mereka untuk segera pulang.


Verona dan Ibunya saling berpandangan sesaat sebelum mengikuti langkah kaki Duke Hendrick yang sudah lebih dulu melangkah keluar aula. Jangan tanya bagaimana perasaan Ibu dan anak itu sekarang. Keduanya bagai tikus dalam jebakan saat menangkap air muka Duke Hendrick yang tegang luar biasa.


Sampai di rumah, Verona langsung mendapatkan tamparan keras hingga ia jatuh terduduk diatas sofa. Sang Ibu memekik kaget. Sementara, si pelaku penamparan hanya bersikap biasa.


"A-Ayah, ada apa?" tanya Verona dengan suara bergetar.


"Bagaimana dengan misimu?" tanya Duke Hendrick.


Verona meneguk ludahnya kasar. Ia berusaha tersenyum di sela kabut ketakutan yang makin membesar. "Be-Berhasil," jawabnya berbohong.


Duke Hendrick mendekat. Dibelainya rambut panjang sang putri dengan penuh kelembutan. Namun, bukannya senang ataupun bahagia, Verona justru merasakan ketakutan yang teramat. Bulu kuduknya bahkan merinding dan dari telapak tangan serta dahinya keluar keringat dingin.


"Dasar anak bodoh!"


Plak!


Satu tamparan yang jauh lebih keras kembali di layangkan Duke Hendrick. Tak hanya itu, ia bahkan menarik rambut panjang Verona kemudian menyeret putrinya itu ke dalam kamar mandi. Di sana, Verona di guyur air dingin berkali-kali. Bahkan, saking murkanya Duke Hendrick, ia dengan sangat sadar mencelupkan kepala Verona ke dalam bak hingga gadis itu nyaris pingsan karena tak diberi jeda untuk mengambil nafas.


"Hentikan, suamiku! Kau ingin membunuh putri kandungmu sendiri?" pekik Duchess Levrina yang tak tahan melihat penderitaan putrinya.


Duke Hendrick menoleh ke arah pintu kamar mandi. Disana, terdapat istrinya yang sedang menutup mulut dengan satu tangannya sementara tangan yang lain berusaha mencengkram kuat pegangan pintu kamar mandi agar mampu tetap berdiri meski tak tegak.


"Ambil anak tak berguna ini!" kata Duke Hendrick seraya mendorong tubuh lemah Verona ke arah Duchess Levrina.


Wanita paruh baya itu segera menangkap tubuh putrinya. Ia menangis sesenggukan melihat Verona yang membuka mulutnya lebar-lebar untuk menghirup udara. Beberapa kali, gadis itu juga terbatuk karena sempat menelan air. Matanya merah, serta tubuhnya basah kuyup.


"Berani sekali kau berbohong padaku, hah?" ucap Duke Hendrick dengan nada rendah namun sarat kemarahan. Ia menginjak betis Verona dengan keras hingga gadis itu kembali meringis karena sakit. Air matanya bahkan sudah keluar karena betisnya benar-benar seperti ingin diremukkan oleh Ayahnya sendiri.


"Ampun, Ayah!" ringis Verona putus asa.


"Bukankah sudah kubilang bahwa kau harus menaklukkan Ashlan bagaimanapun caranya?"


Verona mengangguk sembari berusaha mengangkat kaki sang Ayah yang masih kuat menginjak betisnya.


"A-ampuun...,"


"Kau tahu apa konsekuensi untuk orang-orang tak berguna di hidupku, Verona?"


Mata gadis itu membulat sempurna. Seringai menakutkan di wajah sang Ayah sukses membuat gadis itu nyaris tak percaya bahwa ia adalah anak kandung dari lelaki sejahat itu.


"Aku lebih suka melenyapkan mereka daripada menampungnya hidup tapi tak memberi manfaat," bisiknya tepat di telinga sang putri.