
Sebelum pulang ke kerajaan Barat, Diana memutuskan untuk menemui Duchess Levrina terlebih dulu. Ia ingin melihat bagaimana kondisi sang Bibi setelah dilemparkan ke penjara oleh sang Ayah. Selain itu, Diana juga harus melihat apakah Duchess Levrina bisa merenungkan kesalahannya atau justru malah semakin menjadi.
"Untuk apa kau kemari, hah?" hardik Verona saat melihat Diana datang ke penjara bawah tanah tempat Ibunya di kurung. Gadis itu baru saja memberi air minum untuk sang Ibu yang terdengar meraung kesakitan. Telunjuk kanannya terlihat buntung. Dibalut dengan kain seadanya hingga darah masih mengucur meski tak terlalu banyak.
"Apa salah jika aku mengunjungi tahanan di negaraku sendiri?" tanya Diana tanpa terprovokasi sama sekali.
Disini, Diana banyak belajar akan hal baru. Terutama, tentang pengendalian emosi. Tak ada yang bisa ia dapatkan jika bertingkah bar-bar seperti saat dia menghajar Gerald dan Vanya di dunia aslinya. Ia harus bersikap tenang. Menunjukkan jati diri sebagai penguasa yang anggun namun berkepribadian tak tertebak. Seperti yang lain, Diana mau tak mau harus memakai topeng untuk menyembunyikan warna aslinya. Karena, dalam rimba yang didominasi oleh kebanyakan predator, menyerang dalam senyap dengan perhitungan yang matang adalah pemenangnya.
"Mau apa lagi kau, hah? Belum puas membuatku kehilangan jari?" Duchess Levrina ikut menghardik.
"Kenapa Bibi selalu sesinis ini padaku? Apa yang membuatmu begitu dendam padaku, Bibi?" Diana berjongkok di sebelah Verona. Bertanya dengan suara yang tetap tenang namun penuh penekanan.
Levrina mendengkus. Tak sudi ia menatap wajah sang keponakan yang begitu ia benci. Wajah Diana selalu membuatnya mengingat adik tiri yang telah ia lenyapkan. Seorang adik yang bernasib mujur dengan keberuntungan yang selalu menaunginya. Bahkan, ketika sang adik mati pun, Levrina tak pernah memperoleh keberuntungan yang sama walau seujung kuku. Bahkan, cinta Kaisar Sean tetap utuh untuk sang adik walau jasadnya sudah dikandung tanah selama puluhan tahun.
"Jika kau kemari untuk menertawakan aku, maka tertawalah! Kau memang sudah menang, Diana!" cetus Levrina penuh amarah.
Diana menyeringai. "Apa menurut Bibi, hanya dengan di penjara beberapa hari dan kehilangan satu jari telunjuk, itu sudah cukup untuk menebus dosa-dosa Bibi?"
"Dosa?" Levrina mendengkus. "Apa dosaku kepada anak sial sepertimu, hah? Justru, kaulah yang berdosa! Kau anak penuh dosa karena membunuh Ibu kandungmu sendiri!" tuding Levrina menggebu-gebu.
Diana tertawa mendengar ucapan Levrina. Hal itu membuat Levrina dan Verona saling berpandangan heran. Keduanya tak bisa memungkiri bahwa tawa Diana berhasil membuat sisi terdalam dari rasa takut mereka mulai mengirimkan sinyal bahaya.
"Aku membunuh Ibu kandungku?" Diana menatap Levrina dengan mata melebar. "Benarkah?" Wajahnya ia dekatkan ke arah jeruji yang membatasinya dengan Levrina.
PRANG!!!
Jeruji besi tersebut berbunyi nyaring karena pukulan Diana yang terisi sedikit energi sihir. Suaranya cukup memekakkan telinga. Levrina bersama putrinya bahkan beringsut menjauh dan menutupi kuping mereka dengan kedua tangan.
"Kau bilang aku membunuh Ibuku?" Diana tertawa lagi. "Bukannya Bibi yang telah membunuh Ibuku dengan memberinya racun?" tanya Diana dengan suara rendah.
Levrina beringsut menjauh. Ia menggeser posisinya hingga membentur tembok penjara. Sebisa mungkin ia menjaga jarak dari Diana yang auranya semakin terasa berbeda dari hari ke hari. Entah sejak kapan, keponakan yang ia anggap anak buangan tanpa kelebihan menjelma menjadi wanita yang merubah seluruh tatanan yang selama ini berjalan sesuai skenarionya bersama Duke Hendrick.
"Jangan asal tuduh, Di!" sanggah Levrina.
"Bibi pikir, aku tidak tahu? Bibi pikir, bangkai yang Bibi tutupi akan selamanya terkubur dan tidak akan pernah muncul ke permukaan?"
"Apa maksudmu, Di?" Bergetar, Levrina berusaha menyangkal segala tuduhan.
"Pada siapa Bibi membeli racun yang diminumkan pada Ibuku setelah melahirkan aku?"
Mata Levrina semakin melebar. Keringat dingin membasahi dahinya. Bibir yang sudah pucat karena menahan sakit dan kehilangan darah yang lumayan banyak semakin bertambah pucat. Namun, meski dalam kondisi sememprihatinkan itu, Diana tak ingin berbelas kasih sedikitpun.
"Apa-apaan kau!"
Bzztt....
Levrina tertarik tiba-tiba ke arah Diana. Lehernya kini berada dalam cekikan wanita itu. Tanpa rasa bersalah sama sekali, Diana membiarkan Levrina menggelepar dan berusaha memukuli tangan Diana agar cekikannya bisa terlepas atau sedikit saja melonggar.
"Kau bisa membunuh Ibuku, Di!" Verona berusaha membantu sang Ibu. Namun...
BRUGH!!
Tubuhnya terpelanting sejauh satu meter hanya dengan sedikit helaan tangan dari Diana. Verona meringis. Tubuhnya kesakitan karena membentur jeruji besi yang terletak di ujung ruangan.
"Ve-ro-na," panggil Levrina susah payah.
"Apa Bibi sudah tidak sabar untuk menemui Ibuku? Adik Bibi yang katanya begitu Bibi sayangi saat ini juga?" tanya Diana.
"Kalau begitu, bicara yang jujur! Dimana Bibi mendapatkan racun itu? Katakan!"
Levrina memberi isyarat agar Diana mau melepaskan cekikannya terlebih dulu. Dan, Diana pun menuruti permintaan Levrina dengan senang hati.
"Kau ingin mem...,"
"Jawab saja!" potong Diana.
Levrina mengangguk ketakutan. "Di toko obat Master Dien. Ada pelayan yang mengarahkan Bibi kesana."
"Siapa pelayan itu?"
"Bibi Rosemary. Pengasuhmu!"
Deg!
Diana merasa baru saja mendapat hantaman godam tepat di ulu hatinya. Satu nama itu berhasil mengguncang seluruh dunianya. Bibi Rosemary? Benarkah wanita itu juga terlibat dalam kematian Ibunya?
"Jangan bohong, Bibi!"
"Untuk apa aku berbohong?" jawab Duchess Levrina yang terbatuk beberapa kali.
******
Para pelayan saling berpandangan dengan tatapan kebingungan karena merasakan atmosfer yang semakin dingin dari waktu ke waktu. Tak ada yang berani untuk mengeluarkan suara. Bahkan, untuk bernafas dengan lebih kencang saja, mereka tak ada yang berani.
Duduk di hadapan mereka sepasang menantu dan mertua yang hanya saling bersitatap selama hampir 40 menit. Tak ada percakapan. Namun, sorot mata mereka seolah mampu melumpuhkan lawan masing-masing hanya lewat tatapan tanpa berkedip.
"Jangan kau pikir kau bisa menguasai putriku!" ucap Kaisar Sean pada akhirnya.
Para pelayan langsung bernafas lega. Raut tegang di wajah mereka mulai sedikit berkurang.
"Diana istriku! Tentu saja dia milikku!" Dengan percaya diri Ashlan menjawab.
BRAK!!
Kaisar Sean menggebrak meja dengan keras. Para pelayan langsung menahan nafas secara bersamaan. Dalam hati mereka merapalkan doa agar ada seseorang yang akan datang untuk menyelamatkan mereka dalam situasi genting ini.
"Hanya karena kau menikahinya secara paksa, kau pikir Diana sudah benar-benar kau miliki, hah?"
Ashlan tersenyum. "Ayah mertua cemburu?"
Wajah Kaisar Sean sontak memerah. Pria tua itu mendadak salah tingkah.
"A-Ayah mertua? Berani kau memanggilku begitu?"
"Tentu saja. Ayah mertua adalah Ayah kandung istriku. Meski perlakuan Ayah mertua selama ini kejam terhadap istriku, tapi... bisa ku maafkan karena rasa cintaku terhadap putrimu," jawab Ashlan enteng.
"K-Kau...," Kaisar Sean kehabisan kata-kata. Entah mimpi apa dia, sehingga bisa memiliki menantu seperti Ashlan. Musuh bebuyutan yang begitu dibenci namun malah menjadi menantu yang terpaksa harus ia sayangi.
"Jangan marah-marah, Ayah mertua. Jika sakitmu kambuh, istriku pasti akan sedih."
"Hei, jangan mengolokku, Manusia licik!"
"Ini bukan mengolok Ayah mertua, tapi per-ha-ti-an." Ashlan menopang dagunya dengan tangan. "Tidak bisakah Ayah mertua menerima kenyataan saja? Sebenci-bencinya Ayah mertua terhadapku, aku adalah lelaki yang dicintai oleh putrimu satu-satunya."